
“Bidadari cantik Ayah kemana? Sini Ayah peluk.”
“Cerdasnya kesayangan Mama. Selalu bikin Mama bangga.”
Cantik dan cerdas. Kinan tumbuh dengan cinta orang tuanya.
Panggilan sayang, pelukan hangat, usapan lembut, dan kata-kata manis. Keluarga harmonis, begitulah katanya.
Keluarga.
Apa artinya keluarga?
Gelar yang terbentuk dari pernikahan.
Mereka yang memiliki hubungan darah.
Mereka yang saling mencintai dan berbagi kasih sayang.
Atau ...
Tempat teraman untukmu pulang.
Bagi Kinan kecil ... Keluarga adalah rumah yang ada ayah dan mama di dalamnya.
Namun ...
Bagaimana jika di rumah itu hanya tersisa Kinan seorang?
......................
Sepuluh tahun, usia Kinan kala itu. Setengah berlari menggenggam piala dengan jemari lentik, menuju rumah. Senyum yang merekah terbayang wajah bangga orang tuanya.
Namun yang Kinan dapat setelah membuka gagang pintu hanya luka.
“Vina percayalah! Sungguh aku tidak pernah menemuinya lagi!” Jidan menahan tubuh istrinya yang mencoba melukai diri sendiri.
“Bohong! Kau tidak mencintaiku! Kau masih mencintai perempuan itu!” Berontaknya.
DEG. Dada Kinan terasa sesak. Sakit, sangat sakit hingga sulit menarik napas. Piala lepas dari genggaman, menggelinding di lantai.
Tangan Kinan memukul-mukul dadanya, tenggorokan tercekat, bulir-bulir air jatuh mengaburkan pandangan.
“A ... Ayah sakit ... Dada Kinan sa ... kit.”
“Maa ... Mama ... Tolong Kinan. Sakit ... Maa ... .”
Kinan merintih, namun keduanya tidak juga bergeming. Seolah ada sekat yang memisahkan mereka.
“Haaa!” Kinan terbangun. Keringat dingin membasahi tubuhnya.
Masih di malam yang sama. Setelah perdebatan dengan adiknya, Kinan masuk ke dalam kamar dan segera tidur.
Esok hari senin, Kinan harus kembali bekerja. Namun rasanya Kinan ingin mengurung diri di kamar seharian.
Mimpi yang kadang masih membayanginya. Kinan meniup ke kiri tiga kali dan membaca ta’awudz tiga kali. Meminta perlindungan kepada Allah.
(Ta'awudz)
اعوذ بالله من الشيطا ن الرجيم
(Aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk)
Pandangan Kinan sendu, perasaannya sangat buruk saat ini.
Jarum jam menunjukkan pukul 04.02 dini hari. Kinan keluar dari kamar ingin mengambil wudhu. Melewati ruang makan, Kinan bertemu dengan Barra.
Hening menyelimuti keduanya. Barra yang tengah bersantap sahur, terus memasukkan makanan ke mulut tanpa bicara.
Bukannya tidak mau menyapa kakaknya. Barra hanya tidak tahu harus bersikap seperti apa.
Kinan kembali ke kamarnya.
Mendirikan tiga rakaat shalat witir, lalu larut dalam do’a yang dia panjatkan. Kinan mengeluarkan semua rasa sesak dalam dadanya, hingga tak tersisa.
Terus waktu berlalu hingga Barra dan Kinan berpisah. Mereka pergi untuk menjalani rutinitas masing-masing.
Satu-satunya percakapan antara keduanya hanya saling menjawab salam.
......................
“Barra,” panggil Ceshy dari depan pintu kelas yang terbuka. Menampilkan senyum termanisnya.
Siswi kelas XI IPA 2 itu memang sangat percaya diri dan keras kepala. Ceshy datang seorang diri ke kelas XI IPS 1, di mana Barra dan teman-temannya berada.
Baru jam pelajaran ke empat dimulai. Namun karena guru-guru ada rapat, mereka diminta belajar mandiri.
Tentu hanya segelintir siswa ambisius yang belajar, sisanya sibuk dengan kegiatan sendiri.
Kelas sangat ribut, sehingga suara Ceshy tidak terlalu terdengar. Orang pertama yang menghampirinya Rion.
“Ada apa?” tanya Rion.
“Aku, kan panggilnya Barra. Kenapa malah kamu yang kesini?” tutur Ceshy kecewa.
Rion menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Melihat kotak bekal yang dibawa Ceshy Rion kembali berkata, “Itu buatku saja.”
“Gak mau! Aku bikin ini khusus buat Barra.”
Rion menyerngitkan dahi. “Percuma, dia gak akan makan. Barra lagi pua-”
“Kalau lapar beli saja di kantin. Panggilkan Barra dong!” Ceshy memotong ucapan Rion.
“Betul Tuan Putri. Barra gak akan makan. Kalau Rion gak boleh, buatku saja.” Farisi tiba-tiba muncul merangkul Rion yang langsung ditepisnya.
“Barraaa!” panggil Ceshy.
“Sssttt, jangan berisik. Barra lagi sibuk, menunggu balasan pesan dari cewek. Mending balik ke kelasmu,” celetuk Ubay menghampiri seraya menutup telinga.
“Minggir!” Ceshy yang kesal, menerobos masuk menuju tempat duduk Barra.
Barra terus memandangi layar ponselnya. Pesan yang berstatus dibaca dan beberapa panggilan yang tidak dijawab. Qais yang duduk di samping, sibuk dengan buku yang dia baca.
“Barra. Kamu lagi lihat apa sampai gak dengar aku panggil?” keluhnya.
Qais dan Barra menoleh secara bersamaan. Ekspresi gadis itu, antara kecewa dan kesal. Qais menatap tajam ke arah ketiga temannya.
Tebaknya, mereka sudah mengganggu kembarannya. Ubay dan Farisi mengalihkan pandangan tak berani.
“Maaf, aku lagi-”
“Jadi benar, kamu lagi chatting sama cewek. Barra jahat! Katanya gak bakal pacaran!” ucap Ceshy dengan nada tinggi.
“Eh? tapi-” lagi-lagi ucapan Barra dipotong.
“Terus itu alasan kamu gak mau makan bekal buatanku?”
Qais membekap mulut kembarannya, sebelum membuat masalah makin besar. Perkataannya tadi saja sudah memancing perhatian anak-anak lain.
“Makanya kalau orang bicara dengarkan sampai selesai,” nasehat Qais. Ceshy mencoba melepas sekapan tangannya.
“Pertama, Barra chatting sama ibunya. Kedua, dia lagi puasa. Jelas?” Setelah Ceshy mengangguk barulah Qais melepasnya.
“Barra maaf, Ceshy salah paham.” Nada suaranya kembali rendah.
“Iya gapapa.”
Setelah pamit dan meninggalkan bekalnya untuk Qais. Ceshy menatap tajam penuh amarah ke arah Farisi, Rion, dan Ubay. Lalu kembali ke kelasnya.
“Seram,” bisik Ubay.
“Mirip saudara kembarnya,” balas Farisi.
Qais memijat-mijat pelipisnya pusing. “Maaf Barra. Padahal kamu lagi banyak pikiran.”
“Bukan salahmu. Sudah lupakan saja,” jawab Barra.
Qais mendatangi ketiga temannya. Matanya seolah berapi-api, membuat Ubay dan Farisi bergidik ngeri. Hanya Rion yang masih tetap tenang.
“Sudah ku bilang. Jangan ganggu adikku!”
“A ... Ampun Qing,” jawab Farisi.
“Kami minta maaf,” ucap mereka beriringan.
......................
Barra berjalan menuju gerbang sekolah, hendak menuju parkiran motor. Namun dia melihat mobil Kinan terparkir di sisi jalan.
Barra mengetuk kaca mobil. Kacanya turun, memperlihatkan Kinan di dalamnya.
“Naik,” perintah Kinan.
“Tapi Kak, Barra bawa motor.”
Kinan menyodorkan telapak tangannya, membuat gerakan meminta kunci motor. Barra memberikannya pada Kinan.
Lalu dia memanggil Ubay yang baru keluar bersama Farisi. Mereka menghampiri Kinan dan Barra.
“Assalamualaikum kak Kinan.” Cepat saja Farisi berceloteh.
“Waalaikumussalam.”
Farisi merasakan aura menyeramkan sedang menatap ke arahnya. Seolah melarangnya berbuat macam-macam pada Kinan.
“Ubay, bisa minta tolong? Antarkan motor Barra ke rumah.” Kinan menyerahkan kunci beserta beberapa lembar uang.
Ubay tersenyum lebar dengan mata berbinar.
“Siap Bos! Senang berbisnis dengan Anda.”
......................
Barra masih memandangi layar ponsel. Setiap kali ada notif pesan masuk, cepat Barra memeriksanya.
Tadi malam Barra mengirim pesan pada ibunya. Dia ingin memastikan kebenaran yang tantenya katakan. Namun masih belum ada balasan, telepon Barra juga tidak diangkat.
Barra yang tenggelam dalam lamunan tidak sadar, sampai mobil Kinan berhenti. Mereka sampai di sebuah panti asuhan.
Kinan meminta Barra membawa barang dalam bagasi mobil. Semakin dekat dengan bangunan, anak-anak kecil bergerombol mendekati mereka.
Seorang ibu paruh baya menyambut mereka. Kinan mengobrol dengan pengurus panti. Barra masih dikerumuni anak-anak yang penasaran dengan apa yang Barra bawa.
“Sisanya, tolong bagikan ke mereka ya,” ucap Kinan seraya mengambil beberapa barang dari pegangan Barra.
Anak-anak berebutan mengambil bingkisan snack hingga Barra kewalahan. Ada yang bertengkar tidak mau kalah, ada yang menangis. Barra berusaha menenangkan mereka.
“Aku yang ambil duluan!"
“Adik ambil yang ini ya.” Barra mencoba menengahi.
“Aku mau yang itu! Ini gak ada coklatnya. Huaaaaa ... ”
Ketika Barra kerepotan menangani situasi. Seorang perempuan seumuran dengannya, memanggil kedua anak yang sedang bertengkar itu.
Mereka berlari ke arahnya meninggalkan Barra. Sekejap mata Barra memalingkan pandangannya.
Perempuan itu mendengarkan penjelasan keduanya. Lalu menasehati mereka dan membagi coklat menjadi dua. Keduanya berhenti rewel dan berbaikan.
“Kamu mengenalnya?”
“Astagfirullah!” Barra kaget. Tanpa dia sadari Kinan sudah ada di sampingnya.
“Kakak, sejak kapan ada di situ?”
Kinan tersenyum. “Kamu puasa loh,” goda Kinan.
Wajah Barra memerah, malu. “Apa sih Kak. Iya Barra kenal, dia teman sekelas Barra.”
“Siapa namanya?” tanya Kinan.
“Raihanah.”
Selama disana, Barra menemani anak-anak bermain. Dia juga diminta membantu segala jenis pertukangan.
Ba’da shalat ashar mereka pamit diiringi tangisan anak-anak yang tak ingin berpisah.
......................
Barra terkapar di sofa ruang tamu. Badannya serasa remuk, ingin sekali dia minum air. Kinan duduk di sisi lain.
“Barra minta maaf. Kalau Kakak masih marah ceramahi saja sepuasnya. Tapi ini berlebihan.”
Kinan tertawa kecil.
“Kakak tidak mengira kalau anak-anak sangat menyukaimu. Sampai kamu kehabisan tenaga menemani mereka.”
“Resiko orang ganteng,” celetuk Barra.
“Tapi rasanya, lelah hilang ketika mendengar tawa mereka," tutur Kinan.
“Barra tahu? Setiap kali melihat mereka Kakak tersadar, betapa banyak rahmat yang telah Allah beri,” sambung Kinan.
“Barra mengerti maksud Kakak.” Barra bangun dari posisinya. Duduk berhadapan dengan Kinan.
“Menurut Barra apa itu keluarga?” tanya Kinan tiba-tiba.
Barra terdiam, bingung tidak tahu cara menjelaskannya.
“Sebutan bagi mereka yang punya hubungan darah ... Mungkin,” jawabnya tidak yakin.
“Jawabanmu tidak salah. Anggota keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Mereka disebut keluarga inti.”
Barra mendengarkan dengan seksama. Kinan melanjutkan pembicaraan.
“Tapi mereka yang hanya diisi oleh anggota yang tidak lengkap seperti ibu dan anak, suami dan istri, ayah dan anak, atau kakak dan adik. Mereka juga termasuk keluarga.”
“Bahkan tante, paman, atau kakek dan nenek. Juga anggota keluarga.”
“Jadi maksud Kakak, keluarga tidak harus terdiri dari tiga anggota inti?”
“Benar. Tidak semua keluarga hadir dengan cara yang ideal menurut standar mereka.”
“Tapi mereka tetap bisa mendapat kebahagiaan.” Kinan menatap mata Barra dengan lembut.
Barra menunduk. Dia mengetahui arah pembicaraan yang Kinan bangun. Kakaknya ingin Barra mengerti, kalau dirinya sudah cukup hanya dengan kehadirannya.
“Soal yang kemarin malam ... .” Kinan menggantung kalimatnya, hingga Barra melihat ke arahnya.
“Benar apa yang ibumu katakan. Kakak yang meminta ayah menikahinya.”
Kelopak mata Barra terbuka lebar, kaget mendengar pengakuan Kinan. Tidak disangka, kakaknya mengungkit lebih dulu masalah ini.
“Bukannya Kakak bilang untuk tidak membahasnya lagi? Tapi kenapa?”
“Kakak tidak ingin kamu salah paham dan menyalahkan ibumu lagi.”
“Apa Kakak mengatakannya agar aku tidak membenci ibu?” Barra mengira Kinan berbohong padanya.
“Tidak. Jika ini bohong. Kakak pasti sudah membenci kalian sejak dulu.”
Barra merasa hatinya sedikit sakit mendengar kata benci dari Kinan. Dia menjadi yakin bahwa Kinan menjelaskan yang sebenarnya setelah melihat mata Kinan yang berkaca-kaca.
“Kenapa Kakak meminta ayah menikah?”
“Seseorang pernah bilang. Berhenti mempertahankan, jika akhirnya hanya akan saling menyakiti.” Setetes air mengalir dari mata Kinan.
“Lebih baik berpisah dengan menyimpan kenangan indah, daripada bersama mengukir kenangan buruk.” Kinan berhenti bicara.
......................
Berbulan-bulan lamanya mereka tidak bertemu. Vina terus menghalangi Jidan menemui putrinya, sejak mereka meninggalkan rumah.
Hari itu, Kinan bertemu kembali dengan ayahnya. Taman bermain yang sering mereka datangi. Sore itu Kinan duduk di kursi taman menunggu ayahnya datang.
Suasananya sedang sepi. Tidak lama, Jidan muncul menemuinya. Langsung saja Jidan memeluk putrinya erat, hingga Kinan protes sesak bernapas.
Baru Jidan melepaskannya.
“Ayah menangis?” tanya gadis kecil itu.
Jidan mengusap kasar air matanya seraya menggeleng. Kinan menggigit bibir bawahnya menahan air mata.
“Maaf, Ayah baru bisa menemuimu, sayang. Bagaimana kabarmu?”
Jidan berjongkok di hadapan Kinan seraya menggenggam kedua tangan putrinya.
Dada Kinan terasa sesak, air mata meronta ingin keluar. Kinan sedih melihat penampilan ayahnya.
Tubuhnya kurus dan tidak terawat. Padahal dulu ayahnya selalu berpenampilan rapi.
“Alhamdulillah. Kinan sehat, Ayah.”
“Alhamdulillah. Ayah senang mendengarnya.”
“Sayang, kamu jangan khawatir. Tahanlah sebentar lagi, Ayah akan membujuk mamamu pulang ke rumah. Kita akan kembali seperti dulu.”
Kinan bahagia mendengarnya, tapi ada perasaan yang mengganjal dalam hatinya. Ingin sekali Kinan mempercayai perkataan Jidan.
“Apa Ayah bahagia?”tanya Kinan tanpa menatap Jidan.
Jidan tercengang mendengar pertanyaan putrinya. “Tentu saja Ayah akan bahagia jika kita kembali bersama.”
Kinan menggeleng.
“Ayah bohong.” Kinan melepas genggaman tangan Jidan.
Mendengar perkataan putrinya, hati Jidan seperti disayat-sayat.
Kinan menangis terisak-isak. Jidan yang ingin mendekapnya tidak kuasa. Akhirnya hanya bisa ikut menangis dalam kondisi menunduk.
“Kinan, Ayah tidak pernah sekalipun selingkuh di belakang ibumu. Ayah sangat menyayangi kalian. Sungguh.” Jidan menyampaikan isi hatinya.
“Kinan percaya, kan sama Ayah?” Getir Jidan berharap putrinya masih mempercayainya.
Kinan mengangguk pelan. Jidan merasa sedikit lega dan kembali memeluk putrinya.
“Saat melihatmu lahir, Ayah merasa menjadi orang paling bahagia di dunia ini. Ayah berjanji akan terus membuat putri Ayah tersenyum bahagia.”
“Hati Ayah hancur jika melihatmu menangis. Ayah sangat menyayangimu, putriku.”
“Kinan juga. Sayang Ayah.”
Setelah kondisi keduanya tenang. Mereka duduk di kursi taman dengan mata yang bengkak dan hidung merah.
“Hahaha ... Mata Ayah seperti balon. Katanya tidak menangis ternyata Ayah cengeng tuh.”
“Memang siapa yang bikin Ayah menangis?” Jidan mencubit hidung putrinya.
“Aduh ... Ayah sakit,” keluh Kinan diringi tawa kecil Jidan.
Sejenak mereka seperti kembali ke masa lalu.
“Ayah berhentilah membujuk mama.”
Jidan menatap Kinan, tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar.
“Sama seperti Ayah, Kinan juga ingin Ayah dan mama bahagia.”
“Kinan-”
“Ayah tolong dengarkan Kinan dulu.”
“Kinan tahu Ayah itu orang yang hatinya lembut. Selalu mendahulukan kebahagian orang lain dibanding diri sendiri.”
“Tapi, Ayah juga harus bahagia. Jadi Ayah, menikahlah dengan orang yang Ayah cintai.”
Jidan berdiri dari tempat duduk. Dia kembali berjongkok di depan putrinya. Memegang tangan Kinan.
“Kinan, Ayah hanya akan bahagia jika keluarga kita kembali bersama.” Jidan menatap dalam-dalam kedua bola mata putrinya. Berusaha menunjukkan kesungguhannya.
“Kalau pun kembali. Kita tidak akan bisa seperti dulu lagi, Ayah.”
“Tidak, Ayah akan berusaha-“
“Akhirnya, Ayah harus berkorban lagi, kan.”
Jidan tidak bisa berkata-kata lagi.
“Jika Ayah ingin Kinan bahagia, maka Ayah juga harus bahagia.”
......................
Kenangan masa lalu yang melintas di benak Kinan, membuka luka lama. Tanpa menceritakan kejadian detailnya pada Barra, Kinan kembali menjelaskan alasannya.
“Kakak ingin Ayah bahagia bersama orang yang dicintainya.”
Air mata kembali jatuh dipipinya. Barra menyadari betapa menyakitkan bagi Kinan, untuk mengingat kembali kenangan itu.
“Ternyata Ayah tidak mencintai mama.”
Perkataan yang Kinan tunjukkan pada hubungan ayah dan mamanya.
......................