
“Dipikir berapa kali pun, rasanya masih ada yang ganjil. Apalagi ucapan terakhir itu,” ucap Qais.
Barra menceritakan pembicaraannya dengan Kinan lewat telepon pada Qais.
“Yah, aku setuju. Tapi percuma memaksa, dia akan tetap bungkam.”
“Bagaimana dengan ibumu?”
“Belum ada kabar. Apa ku hubungi saja orang bermana Jaya itu?”
“Jangan! Bisa saja itu jebakan!” Suara Qais setengah berteriak.
“Tapi kalau begini terus, tidak akan ada kemajuan.” Barra mengacak-ngacak rambutnya.
“Tenanglah. Soal itu, aku punya ide bagus.”
Qais menjelaskan rencananya pada Barra malam itu. Mereka setuju untuk menjalankan misi mereka besok sepulang sekolah.
......................
Ya, rencananya begitu. Tapi sekarang Barra malah bersama Sufyan di sebuah restoran. Tanpa kabar, mendadak Sufyan menunggu Barra di depan gerbang sekolah. Hingga akhirnya di sini mereka berada.
Sufyan mengelap mulutnya usai menyantap makanan di meja. “Jadi sudah ketemu cara membujuk kakakmu?”
Tanpa basa basi, Sufyan melontarkan kata-katanya. Barra menunduk merasakan tekanan yang besar di sekitarnya.
“Masih Barra cari Paman. Sekarang-“
“Hmmm ... Memang tidak bisa diharapkan.” Sufyan mendengus kesal.
“Tiga bulan, batas waktu yang kamu punya.”
Mata Barra membulat mendengarnya. Tertegun. “Tapi itu terlalu-“
“Saya sudah cukup toleransi,” ucapan yang terdengar dingin keluar dari mulut Sufyan.
Barra terdiam.
“Saya anggap kamu sudah setuju.” Matanya melirik ke arah Barra yang mematung.
“Pikirkan baik-baik apa yang harus kau lakukan setelah ini.” Sufyan pergi lebih dulu meninggalkan Barra.
......................
Di waktu yang bersamaan pada tempat yang berbeda, Kinan berjalan menuju meja makan yang telah direservasi. Restoran ternama favorit pamannya, Sufyan.
Beberapa jam yang lalu, Kinan mendapat pesan dari Sufyan untuk makan bersama di sana. Namun yang Kinan temui bukan pamannya tapi Hardi.
“Kak Hardi? Kenapa ada di sini?” Kinan masih berdiri di depan meja yang terisi makanan.
“Kinan, sudah lama tidak melihatmu. Duduk dulu. Kamu pasti sudah lapar, kan.” Hardi tersenyum senang bertemu Kinan.
Raut wajah Kinan berubah tidak tenang. Dia masih saja berdiri. “Di mana paman?”
“Ayah sedang sibuk, jadi aku yang gantikan. Kenapa kamu masih berdiri di sana? Duduklah, nanti makanannya dingin.”
“Apa paman ada titip pesan?”
Hardi meletakkan sendoknya dengan cukup keras. “Haah Kinan. Kamu tahu seberapa sulitnya aku menemuimu! Kamu bahkan memblokir semua kontakku.”
“Ck, aku tidak suka bicara begini padamu. Sekarang duduklah.” Nada suara Hardi kembali merendah.
“Kalau tidak ada. Kinan pamit.” Setiap kata yang keluar terdengar tenang dan dingin bersamaan.
Hardi dengan cepat mengejar Kinan yang berjalan ke arah pintu keluar. Ketika tangannya hendak mencengkram tangan Kinan, seseorang lebih dulu menangkapnya.
“Apa-apaan kau! Lepas!” bentak Hardi, namun cengkraman orang itu sangat kuat.
“Akan saya lepas. Tapi setelah dia pergi,” ucap orang itu.
“Apa!” Hardi kesal dibuatnya.
......................
Di tempat parkir, Kinan melihat seorang ibu tengah asik berfoto di depan mobilnya. Kinan menghentikan langkahnya, tidak ingin mengganggu kesenangan ibu itu.
“Ibu, kenapa di situ? Katanya tadi mau ke WC.” Seorang laki-laki datang menghampiri ibu itu.
“Mobilnya bagus Zam. Sini kita foto dulu.”
“Bu kalau orangnya datang gimana?”
“Eh gakpapa. Cuma foto bukan nyuri toh. Ayo 1 ... 2 ... 3.”
Mau tidak mau, dia turuti saja permintaan ibunya. Terus saja, ibunya meminta untuk berganti gaya dan berfoto ria. Hingga laki-laki itu menyadari nomor plat mobil dan matanya menangkap sosok Kinan.
“Bu fotonya sudah dulu. Nanti kalau Hizam belikan Ibu mobil, Ibu bisa foto sepuasnya.” Tangannya dengan lembut mengelus punggung tangan ibunya.
“Ah, kamu ini. Kalau ada uang buat modal nikahmu dulu. Ibu sudah kepingin nimang cucu.” Ibu itu menepuk-menepuk pundak putranya dengan gemas.
Kinan menahan tawa mendengarnya. Bukan bermaksud menguping tapi karena jarak yang tidak jauh, ditambah suara mereka yang cukup nyaring. Kinan dapat dengan jelas mendengarnya.
Namun suara Hardi yang terdengar semakin mendekat, membuat Kinan segera mencari tempat sembunyi. Mengetahui perilaku Kinan, Hizam sengaja berdiri menutupi plat mobil Kinan.
Hardi memasuki area parkir, dia tidak menemukan keberadaan Kinan. Lalu matanya bertemu dengan orang yang tadi mencengkram tangannya.
Meski kesal, Hardi hanya melemparkan tatapan tajam sebab orang itu tengah bersama seorang ibu. Dia pun pergi dengan mobilnya.
“Sudah aman.”
Kinan gemetar, jantungnya seperti mau meledak karena kaget. Namun ketika dia menoleh orang yang ada di sana adalah Hizam.
“Pak Amar?” Kinan bingung.
Amar Hizam, begitulah nama lengkap orang ini. Guru sekaligus pelatih tim basket Barra.
Hizam menggaruk tengkuknya, suasana aneh sedang terjadi di antara mereka. “Tadi-”
“Zam itu siapa? Calon mantu?” tanya ibunya yang tiba-tiba sudah ada di samping Hizam.
“Anu ... Kakaknya siswa Hizam,” Hizam salah tingkah sendiri.
Kinan menutup mulutnya dengan tangan, tak ingin tawanya terlihat. Kinan berjalan menuju mereka.
“Nama saya Kinan, Bu."
"Oh Nak Kinan."
Kinan mencium punggung tangan ibunya Hizam.
“Sudah cantik, sopan lagi. Kalau belum nikah, sama Putra Ibu mau? Walau mukanya standar, tapi dia baik.”
“Ibu sudah ya. Kinannya mau pulang.” Hizam mencegah ibunya membuatnya malu lebih jauh lagi. Telinga Hizam sudah merah padam.
“Maafkan Ibu saya sudah tidak sopan.”
“Tidak perlu minta maaf, Pak Amar. Anda punya Ibu yang penyayang.”
......................
Hari ini Barra dan Qais menjalankan rencana mereka yang sempat tertunda. Perangkap yang Qais buat sebenarnya sederhana, tingkat keberhasilannya pun 50:50.
Mereka kembali ke tempat makan Retro Yummy. Awal dari petunjuk aneh orang bernama Jaya.
Qais ingin memancing orang itu, dengan membicarakan kembali masalah Kinan di sana. Jika benar dia mengawasi mereka. Bisa saja keduanya dapat menangkap Jaya.
“Yah. Intinya kakakmu hanya ingin meluruskan kesalahpahaman, tanpa membuka fakta lain.” Qais menyandarkan kembali punggung ke kursi.
Barra mengangguk lesu.
Sengaja mereka sedikit mengeraskan suara, seraya mengedarkan pandangan ke segala arah.
“Apa ada yang terlihat mencurigakan? Qais bicara sangat pelan, seraya melirik sekeliling.
“Sepertinya kita perlu memancing sedikit lagi.” Barra bicara sama pelannya dengan Qais.
“Bagaimana dengan ibumu?”tanya Qais dengan suara yang dikeraskan.
“Masih tidak bisa dihubungi. Rasanya seperti menemui jalan buntu.” Barra menutup wajah dengan kedua tangan.
“Hei tenanglah! Kita masih punya foto ini.” Qais menunjukkan foto kiriman Barra di layar ponselnya.
Ponsel Qais beralih tangan pada Ubay dengan cepat.
“Hayo lihat apa kalian?” Ubay datang membawa pesanan kedua temannya.
Qais dan Barra belum sempat merespon tindakan spontanitas Ubay.
“Orang tuamu Barr? Foto kapan ini? Waktu nikahan yakk,” celoteh Ubay.
Dia kenal dengan orang tua Qais hingga dapat menebak itu foto orang tua Barra.
“Bay tolong kembalikan ponselku,” pinta Qais.
“Bentar Qing, coba kulihat dulu. Barra lebih mirip siapa? Hmmm... .” Ubay bolak-balik membandingkan foto dengan wajah Barra.
“Mirip ayahnya, dikit. Tapi gak mirip sama sekali dengan ibunya.”
“Wah Barr, kelahiranmu patut dipertanyakan,” ledek Ubay.
“Jelas gak mirip. Memang bukan ibunya.” Seorang laki-laki mendatangi meja Barra.
Orang itu mengenakan pakaian kasual bermerk, rambut berwarna silver, dan satu tindik di telinga kiri. Usianya kira-kira 20 tahunan awal. Tersenyum dengan satu sudut bibir terangkat.
“Halo anak selingkuhan. Akhirnya kita ketemu.” Dia melambaikan tangan ke arah Barra.
Barra mencenkram kerah baju orang itu. “Tutup mulutmu!”
“Hahaha. Lucu sekali. Ku kira akan mati kebosanan. Ternyata kau punya nyali juga.”
"Baguslah."
Barra memukul orang itu dengan keras. Qais mencoba memisahkan keduanya.
“Bay cepat bantu aku!” pinta Qais kewalahan.
Ubay yang tadinya mematung ikut memisahkan mereka.
Suasana makin bertambah ribut dengan suara dering telepon dari ponsel Qais dan Barra. Panggilan tak terjawab dari Farisi.
......................