
“Jangan lupa habbatussaudanya juga di minum.”
“Iya ... iya. Sudah sana berangkat.” Kinan mendorong punggung Barra menuju pintu.
Barra jadi lebih cerewet dari sebelumnya. Bukan hanya jam makan, buah-buahan, vitamin, jam tidur, dan bahkan jadwal olahraga.
Barra atur sangat ketat, sampai Kinan pusing dibuatnya. Barra tidak akan beranjak pergi sebelum melihat Kinan menghabiskan makanan, kecuali saat sedang berpuasa.
“Barra beli pisang kemarin. Habiskan hari ini, ya.” Kepala Barra muncul dari balik pintu.
“Astagfirullah!” Kinan kaget.
“ Ya Allah ... Barraaa” Kinan frustasi. Bergegas Barra pergi tanpa lupa mengucap salam.
Sikap Barra memang berlebihan, tapi dia tidak bisa berhenti khawatir. Tidak ingin kejadian buruk terulang lagi, saat dia harus melihat Kinan sakit.
Hari rabu dan jum’at adalah jadwal latihan rutin tim basket SMA Nusa. Selama satu pekan Barra absen latihan, dia terus saja menempel pada kakaknya.
Sudah berulang kali Kinan bilang, kalau dirinya sudah sehat. Tetap saja Barra tak percaya.
Hari ini Kinan berhasil memaksa Barra pergi latihan. Setelah pelatih dan teman-teman Barra mengabari Kinan, jika sekitar satu bulan lagi ada turnamen basket nasional.
Mereka harus berlatih untuk mempersiapkan diri.
......................
Dentuman bola basket menyentuh lantai, diiringi suara decitan sepatu tim basket SMA Nusa menghiasi lapangan.
Mereka tengah sibuk latihan persiapan untuk mengikuti turnamen basket nasional tingkat SMA. Saat ini pertandingan latihan sesama anggota tim sedang berlangsung.
“Defensive rebound!” Ubay berhasil mengambil alih bola basket yang gagal masuk ring dari lawan.
Ubay mengoper bola (chest passing) ke arah Barra yang posisinya bebas tanpa penjagaan.
Namun bola berhasil direbut (steal) pemain lawan dan langsung menembak bola (shooting) hingga berhasil mencetak poin.
“Fokus!” Rion menepuk pundak Barra yang satu tim dengannya.
Pertandingan sudah memasuki kuarter ke empat dengan skor 63 : 68, tim Barra masih ketinggalan poin.
Tim Barra melakukan serangan balik (offense). Tim lawan membentuk posisi pertahanan (man to man defense).
Barra yang sedang menggiring bola (dribbling) berhadapan dengan Galang dari tim lawan. Galang mencoba merebut bola (steal).
Rion yang berhasil lepas dari penjagaan meminta Barra mengoper (passing) padanya. Bukannya mengoper, Barra malah menembakan bola ke arah ring dan bola berhasil di (block out).
“Hah,” Rion menyibak rambutnya dengan kesal.
“Defense!” teriak Ubay melihat bola yang kini dikuasai tim lawan.
Suara peluit berbunyi, tanda pergantian pemain. Amar mengganti Barra dengan pemain cadangan. Pertandingan kembali berlanjut.
Tidak biasanya Barra bermain seperti itu. Bahkan Qais yang duduk di kursi penonton pun menyadarinya.
“Qai, kenapa Barra gak ikut main?”
Qais tersentak mendengar suara yang tiba-tiba muncul di sampingnya. Seorang perempuan yang sangat mirip dengannya. Ceshy saudara kembar Qais.
“Sejak kapan kamu di sini?” tanya Qais.
“Jawab dulu pertanyaanku,” rengeknya.
“Malas main dia, ada kamu sih!”
“Yeee iri, ya? Kasihan gak ada yang suka. Jelek sih.”
“Sadar diri! Muka hasil copy paste juga.”
Ceshy menjambak rambut Qais, sedang dia hanya bisa meringis. Setelah puas, dengan seenaknya Ceshy menitipkan kue buatannya untuk Barra.
Meski kecewa tidak sempat melihat Barra bertanding, dia tetap harus segera pergi les.
“Pastikan Barra yang terima!” ancamnya pada Qais. Kembarannya hanya bisa menghembuskan napas kasar.
Panasnya suasana pertandingan atau riuhnya sorakkan, seakan berlalu begitu saja. Biasanya bermain basket membuat Barra lupa sejenak dari masalah.
Kali ini berbeda, masalah membuatnya lupa dengan sekitar.
“Whoooo ... .” Suara teriakkan tim lawan, berhasil memenangkan pertandingan.
Ubay memegangi lututnya kelelahan, begitu pula dengan Rion yang napasnya masih memburu.
Pemain sisanya juga kelelahan, banjir keringat. Farisi yang berada di tim lawan, terseyum bahagia.
“Aye! Aye!” Farisi meledek Ubay bergoyang ria di depannya. Sigap Ubay menjepit kepala temannya lalu menjitak keras-keras.
Farisi mencoba membalas, tapi dia kalah kuat dari Ubay.
“Semuanya kumpul!” perintah Amar.
Selagi mereka beristirahat, menyeka keringat, dan minum. Amar menjelaskan hasil evaluasi tim dan masing-masing pemain.
Barra masih saja tidak fokus, tenggelam dalam dunianya sendiri.
“Tim yang menang boleh pulang duluan. Sisa bersihkan lapangan!”
“Penghianat mau kabur kemana!” Ubay menangkap Farisi yang ingin pulang.
“Salah sendiri. Siapa suruh kalah,” ledek Farisi.
“Baru menang sekali belagu!”
Rion, Barra dan yang lain sudah mulai bekerja. Qais pun ikut membantu, selagi kedua permen karet itu sedang bertengkar.
“Kalian berhenti bertengkar! Cepat kerja!” perintah Amar.
“Lah Farisi juga Bang?”
“Ikuti aku,” seret Ubay seraya menyeringai.
“Qing tolong!” teriak Farisi melihat ke arah Qais, dibalas lambaian mengusir darinya.
Selesai membersihkan lapangan mereka terkapar. Lapangan yang kini hanya diisi Barra, Ubay, Farisi, Qais, Rion, dan Amar. Anak lainnya sudah izin pamit lebih dahulu.
“Bro! Lain kali jangan bolos latihan. Skillmu berkurang drastis,” celetuk Ubay memukul punggung Barra.
“Sorry,” jawab Barra.
“Kamu berantem sama kak Kinan?” tanya Qais.
Temannya yang satu ini tahu sekali, Barra mudah terganggu jika ada masalah dengan kakaknya.
“Enggak.”
“Kalau bukan, ngapain kau sedih begitu? Kayak mau ditinggal nikah kak Kinan saja.” celetuk Farisi, niatnya bercanda.
Melihat respon Barra yang diam saja, dia malah panik. “Gak betulan mau nikah kan?”
Barra masih diam saja. Amar yang sedang minum tersedak mendengar Kinan mau menikah. Suasana mereka berubah tegang.
“Awalnya, tapi gak jadi,” jawab Barra.
“Alhamdulillah. Hampir saja list calon istriku berkurang,” celetuk Farisi.
Diam-diam Amar juga mengelus dada lega. Barra yang menyadari sikap pelatihnya kembali berujar, “Ya tapi belum jelas sih. Biasa saja tiba-tiba kak Kinan berubah pikiran."
"Soalnya kelamaan kalau menunggu orang yang gak punya keberanian untuk melamar,” sindir Barra. Sengaja mengeraskan suaranya agar Amar mendengar. Kuping Amar terasa panas.
“Jangan bilang gitu dong Barr. Aku, kan masih sekolah,” rengek Farisi.
Ubay merangkul Farisi seraya berkata, “Far, ingat kata tukang parkir.”
“Jahat kamu Bay,” balas Farisi diiringi tawa Ubay.
“Meski begitu. Kalau sudah turun ke lapangan, kamu harus tetap profesional. Pisahkan masalah pribadi dengan pertandingan. Jangan menyusahkan tim,” Jelas Rion.
“Oke. Lain kali gak akan kejadian lagi.” Jawab Barra.
Amar menghampiri kumpulan anak muda itu. “Kalian mau sampai kapan di sini? Bubar-bubar.” Usir Amar.
“Sebentar lagi pelatih. Kami butuh istirahat,” rengek Farisi.
“Pulang atau tidur di sini?” Ancam Amar memamerkan kunci ruangan.
Mereka akhirnya ke luar dengan paksa. Rion langsung pulang paling awal. Ubay berbisik pada Farisi, mereka cekikikan tertawa lalu pamit pergi duluan pada Barra dan Qais.
“Barra tolong pegang sebentar.” Qais mengambil foto Barra memegang kue.
“Ceshy?” tanya Barra. Qais mengangguk, tangannya sibuk mengetik pesan di ponsel. Mengirim bukti pada saudara kembarnya.
“Qais kamu tahu, kan aku-” Qais memotong ucapan Barra. “Iya tahu. Bukan salahmu. Dia saja yang susah dinasehati.”
Perkataan yang Qais tunjukkan pada Ceshy. Dia tahu Barra tidak ada niat pacaran atau semacamnya.
Qais memang suka mencoba berbagai macam makanan. Dia peduli dengan cita rasa dan latar belakang sejarah makanan. Qais sering mengajak temannya pergi ke tempat makan, yang ingin dia coba.
Namun kali ini Qais hanya menjadikannya alasan, agar dia bisa mencari tahu masalah apa yang sedang Barra hadapi.
Di antara semua teman Barra, Qais adalah orang yang bisa diajak diskusi. Bicara serius dengan topik berat.
......................
Sampai di tempat tujuan. Qais memesan beberapa makanan dan minuman untuk mereka berdua. Mereka duduk sambil menunggu hidangan, Qais mendengarkan cerita Barra.
Meski topiknya lumayan berat, obrolan mereka cukup santai. Qais bahkan masih tetap fokus mendengar sambil menikmati pesanan yang datang di hadapannya.
“Sekarang aku tidak tahu harus mulai dari mana.” Barra selesai menjelaskan panjang lebar masalah Kinan.
Qais mengelap mulutnya dengan tisu. “Sebaiknya tanya dulu pendapat kakakmu. Apa yang sebenarnya yang dia inginkan."
"Kalau hanya bertindak sesuai prasangka, bisa saja masalahnya jadi tambah besar,” tambahnya.
“Aku tidak yakin kak Kinan mau jujur padaku. Dia selalu mengalihkan pembicaraan jika aku menanyakan tentang ibunya.”
Qais memijat pelipis. “Karena sudah terlanjur berjanji pada pamanmu. Kau harus menyelesaikannya.”
“Bagaimana kalau kau coba mulai mencari tahu dari keluarga terdekat. Mereka tentu mengenal sosok ibunya kak Kinan.”
“Oke, akan aku pertimbangkan.”
“Tapi Barr, aku masih sangat menyarankan, kamu mendengar pendapat kakakmu lebih dulu.”
Ketika keduanya tengah tenggelam dalam pembahasan yang serius. Farisi tiba-tiba muncul dari arah belakang Barra.
“Wah parah! Makan gak ngajak-ngajak.”
“Kenapa kau memakai seragam pelayan?” tanya Barra.
“Ah ... ini, khusus hari ini aku bantu Ubay kerja.”
Keduanya memandang tidak percaya, dengan alasan yang diberikan Farisi. “Serius! Gini-gini aku setia kawan,” ucapnya bangga.
Plakk, renyah pukulan mendarat halus di punggung Farisi. “Setia gundulmu!"
"Aku bilang kalau pemiliknya kakak cantik. Langsung tancap gas dia.” Ubay bergabung dalam pembicaraan. Farisi cengengesan.
“Kau kerja pindah kerja juga karena alasan itu?” tanya Qias.
“Ha? Ya enggak lah, ” bantah Ubay.
“Gajinya lebih banyak,” katanya setengah berbisik.
“Sering-sering mampir, Qing!” Ubay memberikan salam tinju ke arah Qais. “Oke,” balasnya.
“Kau juga, Bro.” Ubay bertukar salam tinju dengan Barra. Di jawab anggukan olehnya.
Farisi malah melambaikan tangan pada kakak pemilik tempat makan. Kakak itu melihat ke arah mereka seraya tersenyum.
Barra dan Qais hanya geleng-geleng kepala dengan tingkah teman mereka.
“Astagfirullah haram! Ayo balik kerja!” Ubay menyeret Farisi pergi.
......................
Selesai makan, Barra dan Qais bersiap untuk pulang. Namun kakak pemilik tempat makan menghampiri mereka.
“Permisi, ada yang namanya Barra?”
“Saya Kak."
“Ini, tadi ada orang yang menitipkan. Katanya untuk meja nomor 7 atas nama Barra.”
Barra menerima sebuah paket yang dibungkus plastik hitam. Perempuan itu mau beranjak pergi, Qais mencegatnya.
“Kalau boleh tanya, siapa yang menitipkan barang ini?”
“Kalau tidak salah namanya Jaya. Katanya, dia kenalan orang yang bernama Kinan.”
“Hah?” Barra dan Qais sama-sama terkejut.
“Sebenarnya orang itu agak mencurigakan. Wajahnya ditutupi masker dan topi. Kalau kalian tidak kenal sebaiknya laporkan saja ke polisi.”
Qais dan Barra saling bertukar pandangan.
“Kalau begitu, saya permisi dulu.”
“Iya kak. Terima kasih,” jawab Qais.
Mereka memutuskan untuk membuka isi paket. Sebuah piala usang bertuliskan nama Kinan Al Gifari, Juara satu SMA Haruna. Lalu secarik kertas bertulisan kata ‘Jaya’ beserta nomor telepon.
“Barr, sebaiknya simpan dulu barang ini. Jangan terpancing. Sebelum kita mengetahui niat orang itu.”
“Baiklah.” Barra setuju dengan pendapat Qais.
......................
Malam semakin larut. Barra tidak bisa tidur. Dia sangat penasaran dengan orang yang mengirim piala milik Kinan.
Banyak pertanyaan yang berputar di kepala. Barra mengambil tulisan nomor telepon dan mengetiknya di ponsel.
Teringat pesan Qais. Barra tidak jadi menelepon nomor itu dan hanya menyimpannya di kontak. Barra berbaring di kasur.
Jam menunjukkan pukul 22.38 malam. Kembali dia ambil ponselnya, kali ini Barra menelepon seseorang.
“Waalaikumussalam,” jawab orang dari seberang telepon, setelah Barra melontarkan salam.
“Apa Barra membangunkan Ibu?” tanya Barra khawatir tindakannya mengganggu.
“Ibu belum tidur. Ada apa, Nak?”
Baru kali ini Barra menelepon ibunya. Biasanya Barra hanya mengirimkan pesan singkat, sekedar menanyakan kabar sesekali.
Suara ibunya terdengar begitu gembira dan bersemangat.
“Tolong Ibu ceritakan tentang hubungan Ibu, ayah, dan mamanya kak Kinan.”
Ibunya Barra terdiam mendapat permintaan mendadak dari Barra.
“Maaf, kalau Ibu keberatan tidak usah. Ibu istirahat saja, Barra tutup teleponnya.”
“Tunggu dulu, Nak! Ibu akan ceritakan padamu.”
Laras, ibunya Barra bercerita kalau dirinya dan Jidan dulu saling mengenal saat SMA. Mereka cukup dekat sebab mengikuti ekstrakurikuler yang sama.
Keduanya saling menaruh hati diam-diam. Namun belum sempat menyatakan perasaan, Jidan pindah sekolah. Sejak saat itu mereka putus kontak.
Bertahun-tahun berlalu tanpa ada kabar. Laras sempat menikah dengan pria lain sebelum menikah dengan Jidan.
Namun pernikahan pertamanya tidak berlangsung lama. Mereka bercerai tanpa memiliki anak.
Laras membuka toko bunga dan memulai hidupnya yang baru. Kemudian tanpa di sengaja Jidan masuk ke toko itu, dan akhirnya mereka bertemu.
Tidak banyak yang dibicarakan, hanya sekedar saling bertanya kabar.Jidan juga memberitahu kalau dirinya sudah menikah dan memiliki seorang putri.
Laras hanya memberi selamat kepada teman lamanya. Terlihat jelas kebahagiaan di wajah Jidan saat menceritakan tentang putrinya, Kinan.
Jidan memilih beberapa tangkai bunga matahari dan tulip. Dia ingin memberikannya pada Kinan dan Vina istrinya.
Setelahnya mereka tidak bertemu lagi. Kurang lebih satu tahun berlalu, tiba-tiba Jidan datang menemuinya.
“Menikahlah denganku.” Kalimat pertama yang dia ucapkan, masih membekas dengan jelas di ingatan Laras.
Tentu dia tidak langsung menerimanya. Laras balik bertanya, “Apa yang sedang terjadi?”
Dahi Jidan berkerut, nampak kesedihan yang mendalam dari ekspresi wajahnya. “Aku bercerai dengan istriku.”
Bagai petir yang menyambar di siang hari, Laras sangat terkejut mendengarnya.
“Apa aku penyebabnya? Ayo kita temui istrimu. Aku akan bantu meluruskan masalahnya.”
Laras merasa sangat bersalah. Dia sama sekali tidak ingin merusak rumah tangga orang lain. Terlebih laki-laki yang pernah berada dalam hatinya.
“Sudah terlambat.” Bibir Jidan gemetar. Matanya menunduk memandang lantai.
Ketika dia mengangkat wajah, memandang lawan bicaranya. Laras melihat air mata yang berjatuhan.
“Tolong! Menikahlah denganku.” Jidan menyatakan lamaran sambil menangis.
Barra tertegun. Sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi pada ayahnya. Mendengar kisah dari Laras, malah menambah banyak pertanyaan dalam kepalanya.
“Saat itu, Ibu belum pernah bertemu dengan mamanya Kinan. Hanya sekedar mendengar namanya sekali dari cerita almarhum ayahmu.”
“Lalu kenapa Ibu mau menikah dengan ayah?”
“Karena ayahmu bilang, itu adalah permintaan putrinya.”
......................