
Gagang pintu bergerak turun ke bawah diiringi suara decitan. Barra masuk seraya mengucap salam.
Sajadah yang terselip di pundak, baju koko, peci, serta celana kain yang digunakan. Bau harum yang khas tercium menandakan kedatangannya.
Jawaban salam terdengar dari arah ruang makan. Mata Barra seketika berbinar melihat makanan kesukaannya tersaji di meja.
Lekas-lekas dia meletakkan sajadah dan peci lalu duduk di meja. Malam usai sholat magrib waktu yang biasa bagi kakak beradik menyantap makanan.
Tanpa banyak bicara keduanya menyantap makanan hingga habis. Barra membantu mencuci piring serta membersihkan meja.
Masih tersisa cukup waktu sebelum azan isya berkumandang, Kinan mengajak adiknya bicara di ruang keluarga. Kinan memastikan perasaan adiknya dalam kondisi baik sebelum membahas topik sensitif.
Kinan menyodorkan amplop putih yang diberikan ibunya Barra. “Apa ini?” tanya Barra.
“Kau buka dulu,” jawab Kinan. Barra membuka isi amplop. Setumpuk uang ratusan ribu dan selembar surat. Barra terdiam melihat nama ibunya di sepucuk kertas itu.
Barra membaca surat yang dipenuhi permintaan maaf berulang kali. Tidak ada penjelasan tentang alasan ibunya meninggalkan Barra. Lalu isi surat berakhir dengan doa agar Barra selalu sehat dan bahagia.
Barra meremas surat, pandangannya seolah sedang berada di tempat lain. Tidak mengerti apa yang sedang dia rasakan. Kecewa, rindu, marah, atau sedih.
Kinan menyentuh punggung tangan adiknya. Pandangan Barra beralih menatap Kinan. “Apa yang Kakak ingin Barra lakukan?”
“Bukankah kau sudah tahu jawabannya?” Kinan tersenyum tipis. Barra menyeringit mengalihkan pandangan.
“Kakak mengerti kau perlu waktu untuk menerima semuanya. Namun Kakak harap Barra tetap berbakti pada Beliau. Bukankah itu yang Nabi kita ajarkan?” jelas Kinan begitu lembut.
“Bagaimana ... bagaimana dengan perasaan Kakak? Apa Kakak tidak membencinya? Gara-gara aku dan ibu ... .”Barra masih tidak percaya diri. Dia ingin diyakinkan bahwa Kinan tidak membencinya.
Kinan diam sebentar, “Dulu ... Kakak pernah bertengkar dengan seorang teman, lalu saudaranya datang dan membelanya. Kakak iri sekali. Jadi Kakak ingin seorang adik, tapi kondisi mama tidak memungkinkan untuk hamil lagi.”
Barra mendengarkan dengan seksama. Kinan mengingat-ngingat memori lama yang cukup membekas baginya.
“Kakak sangat sedih saat itu, ayah bilang ke Kakak. Berdoa yang banyak, minta sama Allah. Kamu pasti gak akan kecewa.” Terlihat bercak kesedihan di bola matanya.
Kinan mencubit pipi adiknya dengan kedua tangan, “Lalu adik kecil ini tiba-tiba saja muncul.”
Kinan tersenyum, “Tidak ada alasan untuk membenci tapi ada banyak alasan untuk bersyukur.”
“Kakak gak perlu khawatir. Barra bakal lawan siapa pun yang berani menggaggu Kakak!”
Kinan tertawa kecil.
Barra begitu tersentuh dengan perkataan Kinan. Kuat-kuat dia tahan air mata agar tidak jatuh, malu dilihat kakaknya. Bergegas Barra pamit ke mesjid untuk sholat isya bahkan sebelum azan berkumandang.
Sejak itu, Barra mulai bertukar pesan singkat dengan ibunya. Nomor yang dia dapat dari Kinan. Barra juga mulai menata hati untuk menerima dan memaafkan. Meski tidak bertemu, Barra kini menyebut ibunya dalam doa.
......................
Barra dibuat pusing oleh Kinan yang sedari tadi mondar mandir di pagi hari. Dering telepon dari ponsel dan banyaknya berkas-berkas tengah menyibukkan Kinan.
Barra meminta kakaknya untuk setidaknya meminum gelas berisi susu sebelum pergi, tapi Kinan sangat buru-buru hingga tak menyentuh sarapannya.
“Kebiasaan buruk Kakak, selalu mengabaikan kesehatannya sendiri,” keluh Barra, bersiap pergi ke sekolah.
Berjalan menuju pintu keluar, tidak sengaja Barra menyenggol meja di ruang tamu hingga map berisi berkas dan flashdisk terjatuh.
Barra menepuk jidat menyadari barang penting milik kakaknya tertinggal. Barra menelepon namun panggilan terus tidak diangkat dan berada di panggilan lain.
Barra mematikan panggilan dan beralih mengetik pesan di grup. Dia mengabari kalau dirinya mungkin akan datang terlambat dan meminta temannya untuk bersiap bila dia membutuhkan bantuan nantinya.
Barra menyalakan kunci motor, melaju dengan kecepatan tinggi menuju kantor kakaknya. Bangunan bertingkat menjulang tinggi tepat berada di depannya.
Barra memasuki lobi, berjalan menuju meja resepsionis untuk memberitahukan tujuannya. Dia diminta menunggu sebentar.
Seorang pria dengan setelan jas coklat ditemani beberapa pegawai, baru keluar dari lift. Langkahnya terhenti ketika pandangannya menangkap sosok anak berseragam putih abu-abu. Dia berbalik arah menuju posisi anak itu.
“Padi-pagi sudah bolos! Mau sampai kapan kau jadi benalu!” Kata-kata kasar yang ditujukkan untuk Barra.
Barra mengepalkan tangan menahan marah, “Selamat pagi Kak Hardi.”
Hardi adalah kakak sepupu Kinan, anak dari paman yang waktu itu mampir di depan rumah. Perusahaan tempat Kinan bekerja juga milik paman, kakak tertua dari keluarga mamanya Kinan.
Seperti yang terlihat, mereka membenci Barra. Hanya saja Kinan bersikeras merawat adiknya sehingga mau tidak mau mereka harus menerima keberadaannya.
Pria itu hanya membalas dengan tatapan tidak suka.
“Di sini bukan tempat penitipan anak terlantar! Pergilah!”
“Maaf sudah mengganggu. Barra cuma mau mengantarkan barang Kakak yang tertinggal,” Barra masih menahan diri mencoba tetap bersikap sopan.
Hardi merebut dengan kasar berkas dari tangan Barra seraya merengut, “Biar aku yang berikan.”
Barra diam mematung.
“Kenapa masih di sini? Cepat pergi sana!” usirnya.
Barra menurut saja tanpa melawan. Bukan satu dua kali, Barra menerima perlakuan tidak mengenakan hati. Sejak pertama Kinan memperkenalkan dirinya pada keluarga mamanya, Barra sudah mendapat penolakkan.
......................
Usai memarkir motor, Barra mengambil jalan memutar menuju pagar samping sekolah. Notif pesan grup sudah tertimbun. Isi pesan grup ricuh sibuk membahas strategi penyelamatan Al Barra.
Ya, hampir satu jam pelajaran berlalu, Barra belum berada di kelas. Mereka tidak akan heboh jika hari ini bukan mata pelajaran matematika pak Damar. Guru sekaligus wakil kepala sekolah yang sangat disiplin.
Pesan baru masuk di layar ponsel Barra.
“Woy Bro! Posisi di mana?” tanya Ubay.
“Pagar samping,” balas Barra.
Suara siulan dari dalam pagar memberikan sinyal posisi yang aman bagi Barra untuk memanjat masuk. Barra melempar tasnya disambut oleh Ubay yang sudah bersiap di sana.
Selagi Barra berada di atas, Ubay mengambil posisi agar Barra bisa turun dengan menginjak bahunya.
“Hah ... Thanks,” ucap Barra seraya memberi salam tinju.
“Bakso sama es teh,” balas Ubay.
“Deal.”
Mereka kembali mengendap-ngendap menyisiri jalan sepi menuju ruang kelas. Di pos selanjutnya tempat piket guru. Ubay memberi tanda pada Farisi. Sementara Farisi mengalihkan perhatian guru di meja piket, mereka berhasil lewat.
Barra mengelus dada lega. Perjalanan mereka menuju kelas semakin dekat. Ubay dan Barra bersembunyi di samping dinding. Kini pos terakhir melawan big bos.
Terlihat dari kejauhan Qais mengobrol dengan pak Damar yang berdiri di samping pintu kelas, membelakangi posisi Ubay dan Barra.
“Gila ... gila. Q(K)ing kita bahas apa sampai bisa menghipnotis Pak Damar? Respect!” Ubay menggeleng-gelengkan kepala seraya berdecak kagum.
“Bay. Bahasnya nanti. Ini gimana caranya kita masuk?”
“Tenang Bro, Pak Damar kalau lagi diskusi sama Qing dunia serasa milik berdua. Pakai bahasa alien mereka.”
“Lah itu sih kita yang terlewat pintar, makanya gak ngerti!” celetuk Barra.
Barra memukul pundak Ubay memintanya cepat berjalan maju. Hanya tinggal beberapa langkah sampai mereka berhasil masuk. Kerah baju keduanya ditarik dari belakang.
“Ekhem ... mau ke mana kalian?”
Sontak Ubay dan Barra menoleh ke belakang. Amar, guru olahraga sekaligus pelatih tim basket sekolah berhasil menangkap keduanya.
"Pelatih. Anu ... mau masuk ke kelas, " jawab Ubay cengengesan.
Farisi yang tertangkap lebih dulu berada di belakang pak Amar, hanya bisa menggaruk kepalanya.
Tentu suara pak Amar juga menarik perhatian pak Damar dan Qias. Sedang Ubay dan Barra tersenyum kikuk, Qias menatap datar teman-temannya yang tertangkap.
“Terima kasih Pak Amar. Sekarang biar Saya yang urus sisanya.”
"Baik Pak."
Ubay dan Barra menatap pak Amar penuh permohonan, tapi hanya dibalas dengan wajah tidak peduli, kemudian berlalu pergi.
“Barra, Ubay, Farisi berbaris!”
“SIAP PAK!” jawab mereka serentak, membentuk barisan sejajar.
Seketika situasinya berubah menjadi razia dadakan. Pak Damar memeriksa dengan teliti setiap bagian seragam.
“Ubay. Dasi, kaos kaki, lambang kelas. 8 poin!”
“Farisi. Sepatu. Rambutmu mau potong sendiri atau Saya yang potong?”
“Siap! Potong sendiri Pak”
“Barra ... .” Pak Damar meneliti dengan seksama. Keringat dingin bercucuran dan jantungnya berdegup kencang.
“Masuk!” ucap pak Damar lebih dulu melangkah ke ruang kelas.
Seketika tubuh mereka terasa lemas. Qias sudah duduk lebih dulu sejak pak Damar memeriksa teman-temannya.
“Bay, tasku tadi kemana?” bisik Barra.
“Ku lempar lewat jendela.”
“Hah?” suara kaget Barra menarik perhatian sebentar. Namun situasi kembali kondusif segera mereka duduk.
Beberapa waktu yang lalu dalam kondisi tertangkap, dari dalam kelas Rion memberi isyarat agar Ubay melempar tas ke arahnya.
Setidaknya mereka berhasil menyembunyikan fakta kalau Barra terlambat. Walaupun akhirnya mereka tetap dapat poin.
......................
Sepulang sekolah mereka mampir di warung bakso.
“Mang, satu mangkok lagi,” pesan Ubay usai menyeruput habis kuah bakso di mangkok keduanya.
“Oke Bos!” Tukang bakso menjawab dengan senang.
Bersaing dengan Ubay, Farisi juga memesan mangkok ke empatnya. Barra memegang kepalanya depresi dengan kerakusan dua temannya. Syukurlah Qias dan Rion tidak begitu. Mereka memilih membayar sendiri bakso yang dipesan.
"Tadi seru juga. Misi penyelundupan ilegal ke sarang musuh," kata Farisi.
"Halah! Gara-gara kau kita tertangkap. Habis aku kena tembak Komandan Damar," celetuk Ubay.
"Sorry Bro! Namanya misi dadakan wajar kalau ada kesalahan teknis," Farisi membela diri.
"Coba ulangi lagi. Kali ini pakai strategi yang matang," tambahnya.
"Bacotmu!" Ubay menjitak jidat Farisi.
Farisi meringis seraya mengusap dahinya.
“Qing tadi keren kali. Pakai jurus apa menghipnotis Komandan Damar?” tanya Ubay dengan mulut penuh hingga muncrat kuah baksonya.
Dahi Qias menyeringit, “Habiskan dulu baru bicara.” Qias sangat menyukai kebersihan.
“Ah kau Bay, macam tidak tahu saja. Qing kita ini anak Emas Komandan. Satu-satunya yang bisa mengerti bahasa Komandan Damar!” jelas Farisi dengan bangga.
“Ahahaha ... Pintar juga kau!” Ubay menyikut kepala Farisi dibawah lengannya.
“Qing yang terhormat, tolong ajarkan kami cara menaklukan Komandan,” celetuk Ubay.
“Pertama hormati Guru, barulah ilmu bisa berkah.”
“Kami akan mengikuti petuah Qing yang terhormat.” Farisi menambahkan.
Barra tidak memperhatikan pembicaraan teman-temannya. Fokusnya tertuju pada jumlah mangkok dan gelas yang kian menumpuk. Bahkan Barra sampai tidak bisa menghabiskan bakso dalam mangkoknya.
Tiba-tiba Barra menggebrak meja hingga mereka terkejut. Ubay mementalkan bakso di mulut mengenai seragam putih Qias. Dia segera mengambil tisu, berdiri seraya membersihkan seragamnya.
“Kenapa kamu?” tanya Farisi pada Barra.
“Gara-gara Bang Amar!” Ucap Barra geram. Andai saja Amar tidak menangkap mereka, Barra tidak perlu harus mentraktir bakso hingga beberapa mangkok, cukup satu mangkok per orang.
“Kalau kau mau menyalahkan orang lain, salahkan kakakmu. Gara-gara dia kita yang repot!” Rion bicara dengan ketus.
Barra mencengkram kerah baju Rion “Hei! Kalau kau tidak suka padaku bilang! Jangan bawa-bawa orang lain.”
Tatapan tajam Barra dibalas Rion dengan tatapan yang sama. Suasana seketika menegang. Ketiga temannya mencoba memisahkan mereka, sebelum suasana semakin memanas. Qias membawa Rion pergi menjauh.
“Sabar Bro,” Ubay coba menenangkan Barra.
Barra mengacak rambutnya dengan kesal.
“Sebenarnya ada apa di antara kalian? Akhir-akhir ini situasinya makin buruk,” tanya Farisi.
“Tidak tahu. Dia sendiri yang terus bersikap aneh padaku.”
Ubay dan Farisi saling bertukar pandang, tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada dua temannya.
“Kau maklumi saja dia. Gak ada bagusnya bertengkar sesama teman. Apalagi kita satu tim basket,” jelas Farisi diiringi anggukkan Ubay.
“Kalian benar. Aku sudah berlebihan. Nanti aku akan minta maaf padanya."
“Nice Bro!” Ubay memberi salam tinju pada Barra.
......................
Kinan mengetuk pintu ruangan sebelum memasukinya. Paman Sufyan dan putranya Hardi telah duduk di sana. Kinan bekerja sebagai sekretaris di perusahaan pamannya.
Dia membantu pamannya mengelola perusahaan dengan sangat baik. Jika hanya ada mereka, Kinan memanggil mereka secara informal.
“Kinan duduklah,” Sufyan mempersilahkan keponakannya duduk.
“Iya Paman.”
“Kinan sekarang berapa usiamu?” tanya Sufyan.
“29 tahun.”
“Hmmm ... Paman rasa itu sudah lebih dari cukup untukmu segera menikah.”
Kinan terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar, “Tapi Paman-”
“Menikahlah dengan Hardi!” Hardi tersenyum seraya mengangguk, menyetujui perkataan ayahnya.
Kinan berdiri dari tempat duduknya. Tidak habis pikir, bagaimana bisa pamannya ingin menikahkan dia dengan kakak sepupu. Bukan hanya meminta menikah tapi juga menentukan calonnya.
“Kenapa Paman tiba-tiba-” Lagi-lagi ucapan Kinan dipotong.
“Kinan memang apa salahnya? Sebentar lagi Aku akan mengambil alih perusahaan dan kau bisa membantuku mengurusnya. Kita juga sudah saling mengenal sejak lama.”
Kinan menggigit bibir, dahinya berkerut tanda tidak setuju. Memang sejak lama Hardi menaruh perasaan suka terhadap adik sepupunya. Namun tidak berbalas. Kinan selalu menolak. Kali ini Hardi yakin lamarannya akan berhasil.
“Paman, Kinan tidak setuju!”
“Bagaimanapun juga, Kinan punya hak untuk menolak.”
“Kinan kenapa kau terus begini!” Hardi marah dengan penolakkan Kinan.
“Hardi pelankan suaramu!” tegur Sufyan.
“Paman memang terlalu terburu-buru sampai tidak memikirkan pendapatmu. Kita bisa bicarakan ini, lain kali. Sekarang kau boleh keluar.”
“Tapi Ayah-” keluh Hardi.
“Diam!” perintah Sufyan.
“Permisi.” Kinan berlalu pergi.
......................
Kinan tidak bisa fokus mengetik di depan laptop. Perkatakan paman terus berputar di kepala. Kinan menghembuskan napas kasar. Bersandar pada kursi di ruang kerja. Di rumah pun dia masih tidak bisa tenang.
“Kak, Barra bawakan kopi."
Barra masuk ke ruang kerja kakaknya. Meletakkan kopi yang dia bawa perlahan di atas meja. Barra memperhatikan wajah Kinan yang dipenuhi kegelisahan.
“Ada masalah apa?”
Kinan meminum kopi buatan adiknya, “Menurutmu Kakak kelihatan tua?”
Barra yang tiba-tiba mendapat pertanyaan mengenai usia dari perempuan secara otomatis menjawab, “Tidak! Kakak terlihat sangat muda.”
“Hemmm ... .” Kinan tidak terlihat puas dengan jawaban adiknya. Barra menggaruk belakang kepala bingung.
“Eeeh ... Anu ... apa jawaban Barra salah?”
“Bukan kok.”
“Lalu kenapa?” tanya Barra.
“Paman ingin Kakak menikah.”
“A ... apa! Me ... menikah?” Barra terkejut.
......................