Half Brother

Half Brother
BAB 1 Pertemuan



“Kakak pikir aku tidak kesulitan? Bagaimana bisa merawat satu anak lagi! Kami sudah punya dua anak dan sekarang aku sedang hamil tua."


“Terus kau mau aku yang mengurusnya? Janda dengan dua anak.”


Barra meremas celana dengan kedua tangan, jantungnya berdegup kencang mendengar pertengkaran kedua tantenya. Anak laki-laki berusia 8 tahun itu baru saja kehilangan ayah. Ditinggal sendirian tanpa seorang pun dipihaknya.


“Jangan menyalahkanku! Lagi pula ke mana perginya ibu anak itu? Dia bahkan tidak terlihat di hari pemakaman suaminya.”


“Hah berhenti membahasnya, bikin pusing. Lebih baik sekarang kita mulai pembagian warisan.”


Anak laki-laki tersebut terdiam di sudut, menunduk menahan tangis. Ruangan yang diisi keluarga inti dan seorang pengurus aset keluarga.


Di tengah perseteruan mengenai warisan, seorang perempuan berusia 20 tahun memasuki ruangan. Orang-orang yang ada di dalam secara otomatis melihat ke arahnya.


“Mau apa kau kemari!” Tante tertua menatap dengan sinis.


“Saya yang memanggilnya,” Jelas seorang yang mengurus aset warisan keluarga, “Silahkan duduk Nona Kinan.”


Pembahasan pun kembali berjalan. Dua tante menunjukkan ketidaksetujuannya atas hasil keputusan warisan tersebut.


Mereka tidak terima Kinan mendapat bagian yang cukup banyak, sebab dia hanyalah anak dari mantan istri kakaknya. Ditambah lagi mereka harus berbagi dengan Barra dan ibunya.


“Kalau begitu berikan saja bagian anak itu dan ibunya pada kami,” Tante termuda menunjuk ke arah Barra yang berdiri di sudut.


“Aku setuju, dia masih terlalu muda untuk mengurus uang dan ibunya tidak tahu ke mana,” Tante tertua menyetujui argumen adiknya.


"Mohon maaf saya tidak bisa mengubahnya," Jawab Pengurus tersebut.


“Hah ... Tante apa kalian tidak punya hati?” Kinan menatap tajam keduanya.


“Serakah sekali, bahkan ingin merenggut permen dari mulut anak kecil,” Kinan tertawa sinis seraya memalingkan muka.


“Beraninya kamu-” Tante termuda menaikkan suara. Belum selesai bicara, Kinan dengan cepat memotongnya.


“Tante ... sudah cukup! Berhenti marah-marah, pikirkan kondisi bayi Tente."


Tante termuda diam seraya mengelus perutnya. Kinan mendekati Barra. Tangannya mengelus puncak kepala seraya tersenyum. Kini Barra dapat melihat wajah Kinan dengan jelas.


“Silahkan ambil bagianku dan biar Kinan yang mengurus anak ini. Sebagai gantinya, jangan sentuh warisan bagian mereka!”


......................


Suara gedoran pintu yang semakin nyaring seolah menggambarkan perasaan orang yang mengetuknya.


“Kak!”


“Kakak!”


Sayup-sayup Kinan mendengar suara laki-laki memanggilnya dengan sebutan kakak. Pacuan detak jantung menggebu-gebu, keringat dingin bercucuran, dan suara napas yang tak beraturan seolah tengah berlari kencang. Kinan terbangun dari tidurnya.


“Mimpi itu lagi,” gumam Kinan.


Kinan membuka pintu kamar. Seorang laki-laki dengan rambut berantakan dan ekspresi paniknya menatap Kinan dari atas ke bawah, depan belakang.


Setelah memastikan tidak ada yang salah dengan kakaknya, laki-laki itu menghembuskan napas lega. Kinan terkekeh dengan tingkahnya.


“Hah kakak, enak sekali malah tertawa. Kakak tidak tahu betapa paniknya aku menunggumu membuka pintu,” keluhnya dengan wajah cemberut.


“Maaf, namanya juga orang tidur”


“Mimpi apa sampai teriak-teriak? Aku kira ada maling.”


“Ah ... bukan hal penting ... Emm ... Kau belum tidur?” tanya Kinan mengalihkan pembicaraan.


“Enggak. Barra habis makan tadi, hehe.”


Kinan mengangkat alisnya. Dia melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 03.19 dini hari.


“Kamu mau puasa?” tanya Kinan diiringi anggukan cepat oleh Barra. Kinan tersenyum.


“Siapa?” tanya Kinan dengan memain-mainkan alisnya ke atas ke bawah.


“Hah? Siapa apanya?” tanya Barra bingung.


“Nama gadis yang kau suka!”


Seketika wajah Barra memerah. Lekas dia menutupnya dengan kedua tangan. Senyum Kinan semakin melebar, seolah telah menemukan titik lemah dari rapatnya baju besi.


Tidak heran, adiknya Barra sudah berumur 17 tahun. Remaja yang tengah mengalami masa pubertasnya.


“A ... apa sih kak. A ... aku cuma mau puasa sunnah senin kamis!” jawabnya sedikit menaikkan nada suara di akhir berusaha menutupi kegugupannya.


Puasa menjadi pilihan bagi Barra ketika dia mulai merasa tertarik dengan lawan jenis. Sebab menikah di kondisinya sekarang tidak memungkinkan.


Kinan yang mengajari adiknya untuk bersikap demikian. Kinan tidak ingin hidup adiknya rusak dengan maraknya pergaulan bebas dan kenakalan remaja.


“Ada yang merah tapi bukan tomat, apa hayo? ... Muka Barra hahaha,” ledek Kinan.


“Kakak!” Teriak Barra.


Di tengah aksi menggoda adiknya, Kinan teringat hal yang penting. “Eeh sebentar ... bukannya besok hari minggu? Kita sudah ada janji mau ketemu ibumu,” jelas Kinan dengan raut wajah serius.


Semburat merah wajah Barra berubah drastis seketika perasaannya tidak nyaman. Seakan tersengat listrik. Senyumnya memudar. Beralih dengan ekspresi dingin.


“Yah, mau bagaimana lagi. Barra mau puasa jadi tidak bisa makan siang bersama.”


Kinan mengerutkan dahi menyadari sikap yang ditunjukan adiknya. Dia menghela napas berat sebelum berkata, “Tidak bisa! Kamu sudah janji sama Kakak. Ini juga bukan pertama kalinya kamu minta dibatalkan bertemu. Pokoknya kali ini harus. Titik!” Kinan menutup pintu kamarnya.


“ ... dan besok hari minggu bukan senin!” teriak Kinan.


Belum sempat Barra membalas perkataan kakaknya. Entah bagaimana jika membahas topik ini Kinan jauh lebih sensitif dan keras kepala.


......................


Sejak pertama kali duduk di kursi belakang mobil, Barra terus cemberut. Bila Kinan mengajaknya mengobrol dia hanya membalas satu dua kata dengan malas.


Kinan menggelengkan kepala menghadapi tingkah adiknya. Tadi pagi pun Barra sudah membuat bermacam-macam ulah untuk membatalkan janji pertemuannya.


Mereka sampai di sebuah rumah makan. Barra mengikuti langkah kaki kakaknya dari belakang menuju meja yang telah dipesan sebelumnya.


Setelah duduk Kinan langsung bicara, “Bersikap sopan, jangan menaikkan nada suaramu lebih tinggi darinya. Hah ... dan berhenti cemberut!” Kinan menghembuskan napas kasar.


Barra hanya diam saja mendengar nasehat kakaknya. Dia masih setia memasang wajah cemberutnya.


Tidak lama dari kejauhan datang seorang ibu. Pakaiannya lusuh, membawa tas besar, dan wajah keriput tanpa riasan.


“Permisi ... ini benar Nak Kinan?”


Keduanya menoleh.


Kinan berdiri dari tempat duduk. “ Bu Laras?” tanya Kinan memastikan. Mereka belum pernah bertemu hanya saling berkomunikasi lewat pesan sebelumnya. Ibu itu mengangguk.


Kinan tersenyum seraya mempersilahkan perempuan tersebut duduk. Barra mengerutkan dahi dan memalingkan wajahnya.


Suasanya hening dan canggung sebentar. Kinan melontarkan basa-basi untuk mencairkan suasana.


Setelah menu pesanan datang, Kinan meminta izin pindah ke meja lain. Dia ingin memberi ruang pada ibu dan anak yang sudah lama tidak bertemu.


Kinan menikmati makanan yang dihidangkan. Sesekali dia menengok ke arah mereka. Hatinya agak gusar mencemaskan perilaku adiknya. Sembilan tahun bukan waktu yang singkat bagi Barra berpisah dengan ibunya.


“Saat ayah meninggal, Anda di mana!” Suara nyaring itu berhasil menarik perhatian pengunjung.


Kinan mengenali sekali suara barusan. Bergegas dia menghampiri sumber suara.


Barra menggebrak meja dengan keras. “Anda datang kesini hanya ingin menanyakan warisan? Kenapa? Uang Anda habis?” Barra kembali berujar.


Perempuan itu menunduk malu tanpa menjawab sepatah kata pun. Dia menggigit bibir bawahnya hingga berdarah.


“Benar-benar memalukan!” tukas Barra.


“Jangan temui aku lagi! Gak ada gunanya bersikap seperti Ibu. Anda sudah terlambat!”Amarah Barra menggebu-gebu.


Perempuan paruh baya di depannya gemetaran menahan tangis. Barra memalingkan muka tak peduli.


“Barra minta maaf!” Perintah Kinan yang langsung mengelus lengan ibunya Barra untuk menenangkannya.


“Berhenti membelanya, Kak! Orang tidak tahu diri itu tidak pantas dikasihani!”


“Barra hentikan!”


“Gara-gara dia keluarga Kakak jadi hancur. Dia hanya-“ Plakk, sebuah tamparan berhasil mendarat di pipi Barra.


Daripada rasa perih di pipi, Barra malah sangat terkejut melihat kakaknya. Kinan menampakan sosok yang tidak pernah dia tunjukan pada adiknya, semarah apa pun Kinan. Barra terdiam sebentar dan suasana hening.


Syukurnya hari itu tidak banyak pengunjung sehingga keributan dapat dihindari. Tangan kinan gemetar setelah mendaratkan tamparan di pipi adiknya.


Kinan bukan orang yang ringan tangan. Dia termasuk orang yang sangat sabar bahkan dalam kondisi tertekan. Barra berjalan meninggalkan tempat duduk menuju pintu keluar tanpa menoleh.


“Barra!” panggil Kinan. Dia tidak menghiraukannya.


Kinan mendekati ibunya Barra. Meminta maaf sekaligus memintanya menunggu sebentar. Dia akan berusaha membawa Barra kembali untuk meminta maaf. Ibu Barra mengangguk sambil menunduk tidak sanggup menatap lawan bicaranya.


Kinan berlari mengejar adiknya sampai di depan rumah makan. Kinan terus melontarkan kata-kata membujuk agar kembali menemui ibunya. Namun Barra tidak juga luluh.


“Barra Kakak minta maaf ... .” ucap Kinan dengan suara bergetar.


Barra berhenti. Dia menghembuskan napas kasar. Hanya dengan mendengar suara kakaknya, Barra sudah tahu jika kakaknya sudah menangis.


Baginya lebih baik dipukul puluhan kali daripada melihat air mata jatuh dipipi kakaknya. Dia paling tidak sanggup kalau kakaknya bersedih.


Barra membuang egonya. Berbalik menatap Kinan. Benar saja, hidung kinan memerah dan matanya sembab. Barra menghapus air mata dengan lembut dan hati-hati.



“Lebih baik Kakak pukul aku tapi jangan menangis ... bedaknya jadi luntur, kan” ucapnya.


“Iih gak lucu!” Kinan menepis tangan adiknya.


Barra tertawa kecil, berhasil menghentikan tangis kakaknya. Kinan yang kehilangan momentum, terdiam mencoba menyusun kata agar adiknya mau meminta maaf pada ibunya.


Barra tahu dengan jelas apa yang sedang dipikirkan kakaknya. “Ayo balik!” Barra menggenggam tangan Kinan berjalan masuk ke rumah makan.


Ibu paruh baya itu masih menunduk. Menggigit bibir bawahnya, seraya mengerik ujung kuku. Barra sebenarnya tidak enak hati, masih bergejolak amarah di hatinya. Perlahan dia mendekat pada ibu itu.


Barra mengambil tisu di meja. Dia mengarahkan tisu ke depan sang ibu. “Bibir And ... hah ... bibir Ibu berdarah,” ucapnya.


Ibu itu tersentak dari lamunan dan menoleh ke sumber suara. Diam mematung seolah tak percaya apa yang barusan dia dengar.


Sejak pertama bicara, Barra terus menggunakan kata ganti Anda bukan ibu. Bibir itu membuka perlahan tapi menutup kembali dengan ragu.


Barra masih menatap dengan dingin. Berjongkok kemudian perlahan dia mengelap darah dari bibir ibunya “Permisi sebentar.”


Tisu yang terpapar merah darah itu pun basah, sesaat Barra mendongak sehingga mata mereka bertemu. Butiran-butiran bening berjatuhan dari mata tua.


Tubuh renta gemetaran. Akhirnya air mata yang sedari tadi dia tahan-tahan keluar juga. Dadanya kembang kempis terisak-isak. Tangannya ingin sekali memeluk putra yang sudah begitu lama tidak dia temui.


Tangan kiri Barra mengepal. Perasaan rindu yang begitu dalam oleh ibunya tidak tersampaikan pada Barra.


Hanya tersisa rasa iba sedikit di hatinya. Barra menyambut tangan kanan yang sedari tadi meragu.


Dia mencium punggung tangan yang penuh keriput dan terasa kasar. “Barra minta maaf sudah bersikap tidak sopan,” ucapnya tulus.


Kinan tersenyum mengetahui ketulusan permintaan maaf adiknya. Ibu tua itu masih belum bisa membuka suara. Berharap bisa lebih lama menggenggam tangan putranya.


Barra melepaskan tangannya tanpa menatap wajah sang ibu. Lama waktu berlalu dalam keheningan, kemudian bibir itu mulai bergerak juga “Ibu minta maaf.” Sayup-sayup terdengar suara bergetar itu. Barra tak bergeming.


Ibu itu menghapus air matanya. Setelah menenangkan diri dia mohon pamit pada Kinan dan Barra. Ketika menyalami tangan Kinan ibu itu menyelipkan amplop putih, kemudian berlalu pergi.


......................


Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Barra menggigiti jari jempolnya. Gelisah sebab keheningan menyelimuti mobil yang tengah dikendarai mereka.


Kinan tidak sekalipun mengajaknya bicara, terus fokus mengendarai mobil. Hati Barra yang terasa sesak ingin sekali segera memecah keheningan ini.


Barra hendak memulai pembicaraan tapi dia takut kakaknya masih marah setelah apa yang terjadi. Padahal hidung tidak tersumbat, namun sulit sekali bernapas.


Barra memutuskan membuka kaca jendela mobil. Hembusan angin menerpa membawa terbang helaian rambut hitam milik pemuda itu.


Dia merasa lebih baik, melihat jalan di sekitar. Sejenak Barra larut dengan kedamaian hingga mobil berhenti di depan toko bunga.


“Kak bukannya kita mau pulang?” tanya Barra akhirnya memecah keheningan.


“Sepertinya kau lupa hari ini, hari apa,” jawab Kinan seraya membuka pintu mobil.


Tangan Barra memegang pelipisnya seakan berkata, aku serius mencoba mengingatnya. “Ah” Barra teringat sesuatu. Bergegas Barra menyusul kakaknya.


Kinan tengah menunggu bunga yang dia pesan. "Sudah ingat?" tanya Kinan.


Barra menggaruk belakang lehernya kikuk, “Iya,” jawabnya. Kinan menggeleng pelan. Sejujurnya Kinan menegerti kalau adiknya lupa, sejauh apa yang telah terjadi hari ini.


“Terima kasih” ucap penjual seraya tersenyum setelah menyerahkan bunga.


Keduanya kembali melanjutkan perjalanan. Sekarang Barra duduk di kursi depan tepat di samping kakaknya. Aroma bunga semerbak memenuhi seisi mobil.


Mereka sampai di tempat tujuan. Sebelum turun Barra merapikan rambut dan pakaiannya. Begitu pula dengan Kinan yang merapikan kerudung dan bajunya. Keduanya pun turun, membaca doa dan memasuki lahan kuburan.


Gundukan tanah yang telah menurun dipenuhi rumput liar. Batu nisan bertuliskan Jidan Al Auzan. Mata Kinan menatap tulisan dengan penuh kerinduan.


Barra mulai mencabuti rumput liar yang ada di sana. Kinan pun ikut membersihkan makam tersebut. Keheningan kembali menyelimuti keduanya.


“Ayah maaf bulan kemarin Kinan gak datang.” Kinan diam sejenak.


“Bulan depan InsyaAllah Kinan gak akan lupa buat mampir.”


“Kak” Barra menyentuh pundak kakaknya.


“Oh iya hampir saja Kinan lupa ... Barra sudah besar, Ayah. Dia sudah bisa suka sama gadis.” Ekspresi Kinan di awal serius berubah cepat menjadi menahan tawa.


Barra yang tidak menyangka dengan tindakan itu, tak sempat menutup mulut kakaknya.


“Hah Kakak! Udah dong! Ayah jangan dengar ucapan Kakak!”


“Hahaha ... kamu ini. Ayah mana bisa dengar,” celetuk Kinan.


Mereka pun saling berpandangan. Tanpa komando keduanya membacakan doa, menabur, dan meletakkan bunga setelahnya.


Kinan berdiri dari tempatnya sedang Barra masih nyaman dengan posisinya. Barra menyentuh batu nisan yang mulai termakan usia. Mencoba mengingat-ngingat kenangan indah bersama ayahnya.


Matanya memanas, hampir dipenuhi air. Sebuah tepukan ringan di pundak membawa Barra kembali ke alam nyata.


Didapati wajah Kinan tersenyum tipis dengan pandangan yang teduh. “Ayo pulang” Lembut sekali pantulan suara itu memasuki rongga telinga Barra.


Barra balas tersenyum seraya berdiri dari posisinya. Membiarkan Kinan melangkah lebih dulu. Sehingga dia melihat sosok kakaknya dari belakang.


“Padahal tubuhnya lemah, bagaimana dia masih bisa berdiri tegap dengan kaki kurus itu? Sekali pukulan pun sudah cukup menjatuhkannya. Tapi siapa sangka? Dia juga yang berdiri tegap disaat semua orang menyerah. Hatinya begitu lapang hingga bisa menelan semuanya,” batin Barra.


......................


Mobil berhenti di depan rumah berwarna biru. Seorang pria paruh baya duduk di kursi depan rumah. Memakai setelan jas hitam rapi.


Barra sebenarnya ingin berdiam saja di dalam mobil sampai orang itu pergi tapi itu tidaklah sopan baginya. Kinan yang mengenali sosok itu segera menghampirinya.


“Assalamualaikum, Paman” Kinan mencium punggung tangannya.


“Waalaikumussalam”


“Paman sudah lama menunggu? Kenapa tidak menghubungi Kinan?”


Pandangan pria paruh baya itu terfokus pada Barra yang keluar dari mobil menuju ke arahnya. Wajahnya terlihat marah.


Tatapannya tajam dan dingin. Barra menunduk hendak memberi salam tapi langsung dia tarik tangannya secara kasar.


“Tidak perlu,” ucapnya dingin.


Kinan langsung menggenggam tangan adiknya. Seolah sedang melindunginya.


“Ck, Paman kebetulan lewat. Jadi mampir melihatmu sebentar. ”


Kinan memasang wajah seceria mungkin, “Kalau begitu Paman masuk dulu biar Kinan bikinkan kopi.”


Paman Kinan diam sebentar, kemudian melirik ke arah Barra yang masih menunduk diam. Posisinya hampir terlindung tubuh kakaknya.


“Tidak usah. Paman pulang dulu.”


Pria paruh baya itu menuju mobil dan berlalu pergi. Kinan merasakan tangan Barra dingin dan gemetaran. Dia menghembuskan napas lega. Seakan mereka baru bisa bernapas kembali.


“Ayo masuk,” ucap Kinan tersenyum ke arah adiknya.


......................