
Don bersama Hachi berlari meninggalkan kota R menuju kota S di tengah malam yang masih bergemuruh oleh mereka yang bersusah payah memadamkan api.
Karena penjagaan yang tak begitu ketat Don berhasil keluar dari kota itu tanpa harus sembunyi-sembunyi. Secara sebagian prajurit yang ada di sana hampir semuanya dikerahkan untuk membantu mereka memadamkan api. Don pun akhirnya bisa melewati penjaga gerbang tanpa harus bersusah payah .
Dengan kekuatan yang terfokuskan pada kakinya Don bisa berlari lebih cepat dari biasanya. Dia bersama Hachi yang ada di pundaknya berlari sambil menapaki atap rumah di kota S yang setiap perumahannya saling berdempetan sehingga Don bisa berjalan di atasnya. Sesekali ia melompat dari atap rumah ke atap rumah satunya .
"Don, sekarang kita mau ke mana lagi? " Hachi yang tidak tahu arah tujuan Don bertanya. Don masih berlari sambil mengamati sekitarnya .
"Keluar dari kota ini sejauh mungkin! " jawab Don sambil meneliti setiap sudut mengawasi para penjaga.
Setelah semalaman berlari dari kota R menuju kota S akhirnya mereka sampai di perbatasan kota T. Dengan kelihaiannya mengelabui penjaga atau prajurit yang ada di sana Don bisa selamat tanpa sedikitpun ada masalah.
Hachi yang mempunyai kemampuan untuk menyusutkan tubuhnya bisa bersembunyi di balik kerah jubah Don. Mereka kini tengah bersembunyi di perbatasan Kota T dan hendak keluar dari kota tersebut. Namun setelah melihat penjagaan yang entah kenapa semakin ketat Don mengurungkan niatnya karena takut akan membahayakan dirinya.
"Cih, kenapa mereka jadi sebanyak ini! " Don melihat banyak sekali prajurit di perbatasan tersebut.
Dia tidak menyangka kalau malam yang hampir pagi ini akan ada banyak sekali prajurit yang berpatroli. Apalagi ketika mendengar dari kesaksian warga kalau mereka sedang mencari seseorang yang kabur dari kota ini yang tidak lain adalah Don.
Don bersama Hachi akhirnya memutuskan untuk bersembunyi terlebih dahulu dan melepas penat sebelum melanjutkan perjalanannya. Sebelum mereka bersembunyi Don menyadari kalau tanda di lehernya akan membuat masalah keesokan harinya. Karena malam begitu gelap orang-orang yang dilalui Don tadi tidak bisa melihat jelas bahkan tidak memperhatikan tanda yang ada di lehernya itu.
Oleh karena itu sekarang Don mencari syal atau apapun itu terlebih dahulu untuk menutupi lehernya sebelum bersembunyi. Di tengah pencariannya Don menemukan sebuah syal merah yang secara kebetulan menggantung di jemuran warga. Dia pun mengambilnya dan segera bersembunyi.
Mereka bersembunyi di sebuah gubuk yang terbengkalai di sudut kota. Para prajurit tidak mengira kalau Don bersama Hachi akan ada di sana karena telah beberapa kali memeriksanya dan tidak menemukan satu orangpun yang tinggal di gubuk tersebut.
"Sepertinya mereka sedang mencariku. " Don menyandarkan tubuhnya sambil membuang nafas berat.
"Untuk sekarang kita istirahat dulu di sini..."
"Don, apa kau ada cara untuk keluar dari tempat ini? " Hachi keluar dari kerah jubahnya dan bertanya.
"Harusnya aku yang bertanya seperti itu."
"Memangnya kenapa? "
"Karena semua sudut di kota ini telah terkunci. Sepertinya besok penjagaannya akan jauh lebih ketat dari yang sekarang. "
"Jadi sekarang kita harus bagaimana? "
"Kita istirahat saja dulu…" Hachi terdiam tidak lagi bertanya ketika melihat mata Don terlihat sudah begitu lelah sampai akhirnya menutup.
Selepas Don tertidur, Hachi keluar dari gubuk tersebut untuk melihat kondisi di luar sambil berpikir mencari cara agar bisa lolos dari pengawasan mereka besok. Seluruh prajurit terlihat masih mengitari setiap sudut kota untuk mencari Don hingga terbit fajar.
Siangnya Hachi kembali ke gubuk dan segera membangunkan Don.
"Don, bangun, Don!! " Hachi berteriak sambil memukulinya berusaha membuatnya terbangun.
Di sebuah atap perumahan Don memantau para penjaga, mencari cara agar bisa melewati mereka.
"Don, sepertinya tidak ada cara lain selain menerobosnya. "
"Jangan konyol, itu hanya akan memperumit masalah. Kalau kita menerobosnya secara terang-terangan, penjagaan di kota berikutnya akan jauh lebih ketat lagi.
"Kau benar juga, Don. Terus bagaimana kita melewatinya? "
"Kita harus buat siasat untuk mengecoh mereka."
"Bagaimana caranya? " Don tidak menjawab dan turun dari atap rumah tersebut.
Dia memakai tudungnya dan berjalan di tengah kerumunan pasar yang berada dekat dengan gerbang tersebut, mencoba membaur dengan lautan manusia yang ada di sana yang sedang sibuk berjualan maupun berbelanja. Para prajurit yang berjaga di situ tidak menyadari Don karena dia berada di tengah keramaian orang-orang.
"Don, apa yang ingin kau lakukan...? " Hachi berbisik di balik kerah jubahnya.
"Kau bisa melihatnya nanti…" balasnya pelan.
Don segera melakukan siasatnya. Dia mengambil beberapa kerikil di jalan dan melemparkan kerikil tersebut melalui jentikan yang telah terfokuskan oleh kekuatannya. Nyatanya kerikil tersebut tidak sepenuhnya langsung Don arahkan ke prajurit yang sedang berjaga di sana, melainkan dia pantulkan melalui sebuah panci dan mengarah kearahnya.
Satu kerikil mengenai satu penjaga yang sedang berada di sisi pasar itu dan berhasil membuatnya pingsan. Penjaga satunya yang berada di depannya terkejut saat melihat temannya terjatuh tidak sadarkan diri.
Prajurit yang ada di depannya langsung melirik ke asal arah batu itu terlempar. Batu yang mengenai prajurit tersebut arahnya berlawanan dari tempat Don berada. Prajurit tersebut berteriak, membuat sekerumunan yang ada di sana berhenti .
"Hei, kalian! Siapa yang melakukan ini?! " Prajurit itu menunjuk mereka yang ada di sana, sontak beberapa temannya yang berjaga di sana menghadang mereka dan memeriksa setiap orang yang telah melakukan semua itu. Mereka mulai panik saat para prajurit yang tadi begitu tenang-tenang saja berjaga sekarang menghampirinya sambil mengacungkan senjata.
"Periksa mereka semua. kalian semua jangan ada yang bergerak! " suruh salah satu prajurit yang memimpin mereka. Semua yang ada di sana menghentikan aktivitasnya dan pasrah untuk diperiksa.
Don tersenyum sebelum melemparkan kembali kerikil dengan cara dipantulkan seperti tadi kearah yang berbeda dan mengenai prajurit lainnya yang sedang memeriksa. Salah satu temannya yang terkena lemparan tersebut terjatuh ketika hendak memeriksa, dan orang yang diperiksanya pun berteriak histeris saat melihatnya. Teriakannya itu membuat seisi pasar menoleh ke arahnya.
Prajurit yang memimpin mereka melirik kearah asal kerikil itu terlempar. Kini pandangannya jauh lebih waspada, meneliti setiap orang yang ada di pasar tersebut. Prajurit yang sedang berjaga di gerbang pun ketika mendengar salah seorang warga berteriak ikut penasaran dibuatnya.
Don melemparkan kerikil terakhir dan berhasil mengenai pemimpin mereka namun tidak membuatnya pingsan. Bersamaan dengan kerikil tersebut mengenainya Don berteriak sambil menunjuk ke salah satu arah.
"Di sana! Dia pelakunya!" Don menunjuk salah satu orang yang sedang berlari.
Orang tersebut ternyata adalah seorang pencuri yang dari tadi telah Don prediksi akan melakukan aksinya. Dan benar seperti dugaannya, orang tersebut kini berlari setelah mengambil beberapa barang curiannya.
Tanpa disadari oleh si pencuri tersebut kini dia dituduh sebagai pelaku yang telah membuat para prajurit pingsan dan dicurigai sebagai sosok yang sedang mereka cari. Sontak para prajurit yang ada di situ langsung mengejar si pencuri yang sedang berlari dekat dengan gerbang, dan para prajurit yang sedang berjaga di sana pun ikut berusaha meringkusnya.
Kini Don mempunyai peluang untuk bisa keluar dari kota tersebut . Setelah perhatian semua orang serta seluruh prajurit yang mencoba mengejarnya tertuju kepada si pencuri, akhirnya Don bisa mendekati gerbang dengan leluasa dan keluar dari kota tersebut seperti keluar dari sangkar yang terbuka.