God Hand

God Hand
Don El Quiere



Uang yang telah ku kumpulkan selama ini setidaknya cukup untuk membebaskan orang tuaku dari tempat itu.


Maafkan aku Dewa karena telah melakukan hal yang menjijikkan seperti ini. Aku sudah muak bertahan hidup di dunia yang dipenuhi kebusukan ini...


Don El Quiere seorang pemuda berusia 20 tahun yang berasal dari kota Z kini berusaha bertahan hidup di kota yang sekarang ia tinggali. Dia selalu berpindah tempat dan berusaha bertahan hidup dengan cara yang menjijikkan. Segala cara dia lakukan tanpa peduli resikonya. Seperti mencuri, menipu, membunuh, atau mencari sesuatu yang memungkinkan dirinya bisa menghasilkan uang yang besar untuk bertahan hidup, dan berharap bisa membebaskan orang tuanya dari tempat kotor itu.


Pekerjaan yang hina, tapi dia tetap mengerjakannya. Semua itu ia lakukan karena sekarang ia tidak bisa mencari pekerjaan yang layak, layaknya orang normal. Tidak satupun orang yang mau menerimanya, dengan alasan karena dia adalah seorang penduduk kelas rendahan dari kota Z.


Setiap mereka yang tinggal di situ akan di cap sebagai kriminal kota dan memiliki ciri khas berupa tanda Z di lehernya, yang berarti mereka tidak akan bisa hidup layaknya orang normal lagi. Terkecuali jika mereka bisa membayar tanggungan yang terbilang cukup besar untuk bisa keluar dari kota itu.


*~*


Don, Pemuda yang telah menipu Nyonya Muda tadi berjalan menyusuri celah-celah terpencil yang ada di kota. Dia harus cepat-cepat meninggalkan tempat ini sebelum ada seseorang yang menyadari perbuatannya.


Berpindah dari tempat satu ke tempat lain, berusaha tidak menarik perhatian orang-orang yang akan membahayakan dirinya. Dia menutupi wajahnya dengan tudung jubah hitam yang ia kenakan beserta syal merah yang menutupi lehernya. Berjalan di balik bayangan kota agar tidak ada satu orangpun yang menyadari kehadirannya.


#Kota—R


Satu hari Don berjalan di kota Q dan kini telah sampai di kota R, setelah semalam berhasil melewati penjaga di kota yang barusan ia singgahi. Jaraknya dari kota Q ke kota R saat itu tidak lumayan jauh, cukup dengan satu hari berjalan saja. Karena tidak memungkinkan kalau dirinya harus mengendarai mobil dengan penjagaan kota yang begitu ketat setiap keluar masuknya. Setiap penjaga gerbang akan memeriksa mereka terlebih dahulu sebelum masuk atau hendak keluar kota.


Selepas beristirahat sebentar siangnya Don kembali menyusuri kota Q secara sembunyi-sembunyi. Di pertengahan perjalanan dia melihat ada banyak sekali kerumunan massa sedang berkumpul di satu lapangan yang begitu besar. Don bisa melihat mereka dari celah-celah penjaga yang sedang berjaga di sana. Mereka terlihat sedang berbondong-bondong dengan keluh kesahnya membawa sekantong uang untuk membayar pajak yang biasa dilakukan setiap satu bulan sekali secara bergiliran. Semua berjajar mengantri menunggu giliran mereka.


Semua orang yang berada di situ dijaga ketat oleh para prajurit kota. Dengan mengenakan seragam khas layaknya seorang bodyguard mereka menjaga ke berbagai sudut yang ada di situ agar tidak ada satu orangpun kabur dari pengawasannya. Para prajurit yang berjaga membawa senjatanya masing-masing, seperti pedang laser dan senapan laras panjang.


Di negara ini Pedang Laser merupakan senjata umum yang sering digunakan oleh para prajurit kota dalam menjalankan tugasnya. Karena bahannya yang ringan seperti kayu serta memiliki daya serang mematikan. Cara kerja pedang tersebut terbilang cukup simpel, hanya dengan menekan tombol yang ada di ujung gagang pedang itu, maka dalam sekejap cahaya laser akan terpancar membentuk bilah pedang melalui ujung gagang tersebut. Kekuatan pedang laser tersebut bisa memotong sebuah besi dalam sekali ayunan.


Prajurit yang berjaga akan memberikan jalan kepada mereka yang sudah melaksanakan kewajibannya. Tidak ada satu orangpun yang pulang dengan perasaan senang. Semuanya terlihat begitu sedih, dan muak karena harus membagi 25% hasil dari jerih payah yang telah dikumpulkannya selama ini.


Sebagian dari mereka yang tidak mampu membayar pajak akan dipisahkan untuk menantikan hukuman yang akan diberikan oleh Tuan Kota. Tuan Kota ini terlihat sangat kejam dalam menindas rakyatnya. Dia tidak segan-segan akan menyiksa rakyatnya yang tidak mampu membayar pajak. Untuk pemimpin yang berada di urutan paling terakhir dia terlihat sangat jumawa sekali. Berbuat semena-mena seolah-olah dirinya mempunyai kebebasan untuk berkuasa di kota ini.


Seharusnya sebagai seorang Tuan Kota dia tidak usah repot-repot hadir untuk menyaksikan mereka yang sedang membayar pajak, seperti yang biasa dilakukan oleh Tuan Kota lainnya. Karena demi menunjukan eksistensinya kepada rakyatnya dia selalu hadir di setiap kegiatan-kegiatan seperti ini.


Saat ini dia sedang terduduk santai di kursi belakang dengan ditemani dua orang prajurit yang masing-masing berjaga di sisinya.


"Selanjutnya…"


"Selanjutnya…"


"Selanjutnya…"


Semua bergilir memberikan pajak mereka.


"Selanjutnya… selanjutnya….selanjutnya!" teriak salah satu prajurit yang bertugas mengumpulkan hasil pajak itu.


"Hei! Tua bangka! Cepat maju! " teriaknya yang kesal karena Wanita Tua di depannya tidak mau maju.


"E-euh, baik Tuan…"


"Mana penghasilanmu?!" tanya Prajurit itu dengan tatapan tajam.


"Tolong Tuan... mohon beri saya kesempatan besok. Uang ini sangat saya butuhkan untuk berobat anak saya yang sedang sakit." Seorang wanita paruh baya memakai tudung merah menundukan kepalanya memohon.


"Peduli setan dengan anakmu! Cepat bayar sini! " bentaknya tanpa ampun


"Tolong Tuan, saya mohon… "


"Cepat!! Kau tidak lihat mereka yang sedang mengantri! "


"Tapi tuan..."


Prajurit yang bertugas mengumpulkan pajak tanpa basa-basi mengambil paksa uang yang dipegang Wanita Tua itu. Namun Wanita Tua itu berusaha mempertahankannya, memohon agar dia memberinya kesempatan sekali lagi.


"Ada apa ini?" Prajurit yang berusaha mengambil paksa uang di tangan Wanita Tua itu melepaskan tangannya, dan menunduk memberi hormat ke Tuan Kota yang saat ini ada di belakangnya.


"Ada apa ini?" tanya nya sekali lagi


"Maaf Tuan, Wanita Tua ini masih bersikeras tidak mau memberikan pajaknya." Tuan Kota itu melirik ke Wanita Tua kucel yang sedang menangis mempertahankan uangnya.


"Tuan… saya mohon beri saya waktu. Saya benar-benar sangat membutuhkan uang ini untuk berobat anak saya..." Wanita Tua itu memohon.


"Hah… Apa jaminan kalau kau tidak bisa membayarnya?" ucap Tuan Kota itu menatap Wanita Tua di depannya dengan penuh rasa jijik.


"Saya siap memberikan nyawa saya, Tuan..."


Tuan Kota itu itu melangkah satu langkah mendekati Wanita Tua yang sedang memohon sambil menaikan alisnya dan tersenyum menghina. "Hah…? berapa harga nyawamu itu! " Wanita Tua itu terdiam sejenak mendengarnya.


"Saya siap melakukan apa saja, Tuan… asalkan Tuan mau memberikan saya kesempatan…" Wanita Tua itu bersujud memohon.


Mereka yang sedang menunggu semakin bergemuruh kesal karena harus lama menunggu gilirannya.


Dari kejauhan, dari balik prajurit yang sedang berjaga Don merasa kenal dengan Wanita Tua yang sedang bersujud memohon meminta belas kasih dari Tuan Kota itu. Dia ingat kalau dulu Wanita Tua itu pernah menolongnya waktu dia tidak sadarkan diri setelah dipukuli oleh kerumunan massa gara-gara ketahuan mencuri. Wanita Tua itu membawanya kerumah dan menyembuhkan luka-lukanya yang serius, yang jika segera tidak diobati akan berakibat fatal. Dia menolongnya dengan ikhlas tanpa mengharapkan sesuatu darinya. Bahkan dia memberikan bekal setelah dirinya sembuh.


Kini Don menatap Wanita Tua yang telah menolongnya dengan tatapan iba.


"Aku ingin menolongnya. Tapi bagaimana caranya? " gumamnya.


"Sial! Jika saja aku mempunyai kekuatan untuk berlari cepat, aku pasti bisa menolongnya. " Don menggigit bibirnya geram.


Wanita Tua itu masih bersujud memohon belas kasihnya. Alih-alih merasa kasihan, Tuan Kota itu malah menendang wajahnya yang sedang bersujud itu sambil tertawa.


"Harga nyawamu itu bahkan tidak cukup untuk membayar pajak ini! " ucapnya dengan penuh kesombongan.


"Tuan… saya mohon... " lirih Wanita Tua itu merintih kesakitan.


Tuan Kota itu mendekatinya lagi, menjambak kerah bajunya, mengangkatnya tinggi-tinggi.


"Aku akan menuruti keinginanmu, asalkan kau bisa bertahan dari tiga pukulanku!"


"Apakah kau siap, Wanita Peot?! "


"Baiklah Tuan… kalau itu bisa membuat anak saya sembuh... saya siap melakukannya. " ucapan Wanita Tua itu terputus karena tercekik kerah bajunya.


Tuan Kota, para prajurit, beserta semua yang ada di situ termasuk Don terkejut, saat tahu Wanita Tua itu berani menerima tawaran dan konsekuensi yang akan ia terima setelah menerima pukulan yang bahkan satu kali pukulan saja bisa membuatnya tewas.


"Ohh…! ternyata besar juga nyalimu, yahh. Baiklah kalau kau sudah siap, aku akan dengan senang hati memukul wajah peot mu itu. Dan semoga kau tidak mati setelah menerima pukulanku. "


Semua orang menarik nafasnya kuat-kuat sebelum Tuan Kota itu mengepalkan tangannya bulat-bulat. Dan Bukk!! Pukulan pertamanya membuat Wanita Tua itu terpental jauh mengenai tembok rumah. Darah segar keluar dari tepi mulutnya, dia terkapar tidak berdaya. Semua yang ada di situ termasuk Don menatapnya penuh dengan rasa iba.


"Prajurit! Lanjutkan kerjamu! Dan bawa mayat Wanita Tua itu!"


"Baik, Tuan!!"


"Tunggu, Tuan…" erengan kesakitan masih terdengar dari Wanita Tua itu, membuat semua yang ada disitu tidak percaya kalau dia masih hidup. Wanita tua itu sempoyongan mendekati Tuan Kota yang telah memukulnya.


"Tuan… Aku masih bisa bertahan… bisakah… kau menerima permintaanku… untuk menyembuhkan… anakku yang sedang sakit… tidak peduli kalau aku harus mati sekalipun..." suaranya terputus-putus masih berusaha menahan rasa sakit dari pukulan yang meninju wajahnya tadi.


"Dasar bodoh!! Kenapa Wanita Tua itu masih bersikeras untuk melakukan hal yang sia-sia seperti ini. Harusnya dia tahu kalau semua itu tidak mungkin untuk dilakukan oleh seorang badjingan seperti dia. Kau hanya cari mati saja! "


"Cihh! Kenapa disaat-saat seperti ini aku masih berharap kekuatan muncul di dalam diriku. Aku ingin menolongnya. Tidak! Aku harus menolongnya! Tapi bagaimana caranya?! " Don bergumam penuh kesal.