
Don akhirnya berhasil memasuki kota T dengan selamat dan terus melangkah menyusuri kota tersebut. Berlarian di setiap atap perumahan yang ada di sana sambil mengamati keadaan kota.
"Kau benar-benar cerdik, Don. " Hachi merasa kagum setelah melihat siasat yang dilakukannya tadi.
"Tentu saja Cebol, kau harus belajar banyak dariku. " Don tertawa Mendengar Hachi memujinya.
"Berhenti terus-terusan memanggilku Cebol! Bukankah aku sudah memanggil namamu dengan benar! " Hachi berteriak di dekat telinga Don, membuatnya mengernyit ketika mendengarnya.
"Hahahah, maaf-maaf, soalnya aku lupa siapa namamu. Chi… Chi… oh iya Chibi!" Keadaan di kota tadi membuat Don terus-terusan serius, tidak sempat mengingat hal-hal sepele seperti nama orang yang selama ini ada di pundaknya itu.
"Hachi, Bodoh! " Hachi berteriak kesal.
"Oh iya, Chibi! " Don membalas teriakan Hachi yang berdengung di telinganya.
"Hachi! "
"Hah?! "
"Hachi!!! Hachi!!! Hachi!!! "
"Oh, ok… Chibi!"
"Ahh!! Terserah kau lah mau memanggilku seperti apa!!" Hachi yang kesal akhirnya menyerah dan kembali bersembunyi.
"Hahahah, kau kenapa Chibi? Hei! " Don tertawa puas melihat Hachi yang merajuk dibuatnya.
Don menghentikan langkahnya di suatu tempat. Sekarang dia bersama Hachi sedang berada di tempat tertinggi di kota T. Mereka Mencoba melepas penat terlebih dahulu sebelum melanjutkan pelariannya itu, terduduk di atas penampungan air sambil menikmati semilir angin yang terus berhembus.
Di tempat paling tinggi di kota ini mereka bisa melihat dengan jelas orang-orang yang ada di bawah. Terlihat lautan manusia
tengah berkumpul di suatu tempat di pusat kota dan sedang melakukan aktivitasnya masing-masing. Prajurit yang Don amati di sana tidak terlalu membuatnya resah. Dia masih bisa mengatasi mereka satu persatu.
Ketika rasa kesalnya telah hilang, Hachi keluar dari balik jubah Don untuk sekedar melihat orang-orang yang ada di bawah, memikirkan kembali apa yang akan dilakukan Don selanjutnya.
"Don, kenapa kau bisa tahu orang di kota tadi akan mencuri?" Teringat kejadian tersebut membuat Hachi penasaran, dia pun bertanya.
"Hahaha, tentu saja, karena aku juga sama sepertinya. Kau tahu bagaimana seorang penduduk kelas rendahan sepertiku bisa bertahan di kota ini. " Don tertawa sambil berleha-leha, untuk kali ini dia bangga sekali memberitahukan pekerjaannya.
"Aku bisa bertahan di kota ini selama beberapa tahun dengan berbuat hal yang sama seperti orang tadi. Mencuri merupakan pekerjaan utamaku, aku bisa tahu dia akan melakukan aksinya karena dia bertingkah sama sepertiku ketika ingin mencuri. " Don menjelaskan dengan rasa bangga.
"Kau benar-benar lucu, Don. Baru kali ini aku mendengar seorang pencuri dengan bangganya memberitahukan pekerjaannya. " Di atas pundaknya Hachi tersenyum menatap Don.
"Aku benar-benar tidak bisa mengetahui apakah kau orang baik atau bukan dilihat dari tindakanmu selama ini." Hachi mengingat kembali kejadian-kejadian di hutan kemarin.
"Huh…" Don membuang nafas menikmati angin yang terasa nyaman.
"Pemikiran yang mendasari ego mereka yang menurutnya baik pun menjadi alasan tertentu seseorang bisa berbuat jahat. Sama halnya dengan negara ini... " Hachi bisa merasakan kata-kata barusan yang ia dengar mengandung perasan yang mendalam dari hati Don, dia terpana mendengarnya.
Setelah berkata demikian suara aneh yang ruapanya berasal dari perut Don terdengar. Rasa lapar yang dari kemarin Don rasakan tidak bisa lagi ia tahan. Perutnya terus-terusan mengeluarkan bunyi protes menyuruhnya untuk segera diisi.
Karena waktu yang dimiliki Don tidak terlalu banyak untuk menikmati semua itu, dia pun segera bangkit dan turun dari tempat tersebut, Hachi ikut menyusul dengan kembali bersembunyi di balik jubahnya.
Penjagaan di kota ini tidak seketat yang ada di kota tadi
Don menyisir seluruh sudut yang ada di sana, memastikan dirinya aman dari para prajurit yang mencarinya, tampak hanya ada beberapa prajurit yang sedang berjaga. Don bisa berjalan cukup tenang meski tidak sedikitpun mengurangi kewaspadaannya.
Don membaur dengan mereka yang berlalu lalang di situ, mengelabui setiap prajurit yang masih setia berjaga.
Di tengah perjalanannya dia tidak sengaja menabrak seorang anak kecil yang sedang berlari namun mencoba tidak menghiraukannya dan lanjut berjalan seolah tidak peduli dengan anak kecil tersebut.
Namun di tengah langkahnya seorang anak kecil itu terdengar berteriak memanggilnya, Don pun akhirnya berhenti dan berbalik melihatnya.
"Hei, Paman dompetmu terjatuh! " teriak anak kecil itu sambil menghampiri Don.
Don menaikan alisnya karena merasa tidak menjatuhkan dompet, bahkan sama sekali tidak mempunyainya . Hachi yang ada di balik kerah jubahnya pun diam-diam mengintip karena penasaran.
Don mengambil dompet dari anak kecil tersebut dan melihat isinya. Dia terkejut saat melihat isi di dalam dompet tersebut terdapat banyak sekali lembaran uang yang terbilang cukup besar. Baru saja Don ingin menghela nafas setelah melihat isi dompet itu, dari belakang seorang anak kecil yang lain tiba-tiba merebutnya.
"Dompet ini sepertinya milik ayahku. " Anak kecil itu tersenyum mengaku-ngaku kalau dompet tersebut adalah milik ayahnya. Anak kecil yang menemukan dompet itu pun tidak mau mempercayainya begitu saja dan kembali merebutnya. Dia langsung menyembunyikannya ke belakang.
"Paman, apakah dompet ini punyamu? " tanya anak kecil itu dengan serius.
Don menghela nafas sebelum akhirnya menjawab, "Iya dompet itu memang punyaku." Don tersenyum menatap anak kecil tersebut.
"Yakin? " Sebagai jawaban Don mengangguk pelan sambil tersenyum dan memberikan beberapa lembar uang agar membuatnya yakin.
Anak kecil itu tidak langsung memberikannya melainkan menukarkan dompet tersebut dengan dompet lainnya yang sudah ia siapkan di belakang saku celananya, dengan diselingi basa-basi untuk memperpanjang waktu. "Hei, Bocah, kau jangan seenaknya mengaku-ngaku, jelas-jelas dompet ini milik paman ini… " Anak kecil satunya lagi hanya terdiam.
Selesai menukarkannya anak kecil itu memberikan dompet tersebut kepada Don, "Ini, Paman… " Don mengambilnya, dia tersenyum menerimanya dan memeluk anak kecil itu.
Tanpa disadari oleh anak kecil itu ketika Don memeluknya dompet tersebut telah ia tukar kembali dengan yang aslinya. Don pun pergi meninggalkan mereka sambil melambaikan tangan yang menggenggam dompet.
Sampai ketika Don sudah terlihat jauh dari mereka, barulah mereka berdua bisa tertawa karena berhasil menipunya.
"Uang yang paman itu kasih ternyata lumayan juga… " Kedua anak kecil itu tertawa sambil melihat uang yang diberikan oleh Don.
Ketika ingin memasukan uangnya ke dalam dompet, anak kecil yang memegang uang itu terkejut . Dia bisa melihat kalau uang yang berisikan kertas yang harusnya ada di tangan paman tadi sekarang malah ada di tangannya. Mereka berdua berteriak kesal dan langsung berlari mencari paman tadi yang malah balik menipunya.