God Hand

God Hand
Masa lalu Hachi



Sebenarnya siapa makhluk aneh ini. Kata-katanya kasar, dan terlihat percaya diri sekali meski tubuhnya kecil. Kalau saja aku orang yang pemarah pasti dia sudah kuhancurkan berkeping-keping.


Gumam Don dalam hati sambil terus berjalan menyusuri hutan.


"Apa benar kau ini sebuah boneka? " Don mencoba membuktikan rasa penasarannya dengan menyentuh pipi Hachi yang saat ini ada di pundaknya .


"Hei, Manusia, jangan seenaknya menyentuh wajahku!" Hachi terus-terusan menghindar setiap Don ingin menyentuhnya. Don kesulitan menyentuh Hachi yang selalu berpindah dari sana ke sini dan itu mulai membuatnya kesal.


"Hah?! Bukannya kau juga tadi menendang wajahku, kenapa giliranku tidak boleh!" Don masih kesulitan menangkap Hachi yang begitu lincah hingga akhirnya menyerah.


"Tidak boleh, bagaimana kalau aku terluka? Mengingat semalam tanganmu yang telah menghancurkan semua ini! "


"Sudah kubilang kalau aku tidak bisa mengingat kejadian itu! " Don berdecak kesal.


Sambil terus berjalan Don mencoba mengingat kembali alasan kenapa dia bisa berada di sini.


Sebelum aku berada di sini aku masih ada di kota itu . Dan ketika aku di sana…


Ingatan Don mulai terlihat samar-samar, hingga akhirnya dia bisa mengingat jelas kejadian kemarin pada saat dirinya berada di kota. Di mulai ketika dirinya disiksa oleh Tuan Kota itu ketika ingin menolong seseorang, sampai dirinya kehilangan tangannya dan tersadar telah menemukan banyak mayat bergeletakkan di sekelilingnya.


Apa itu juga semua ulahku?


Ketika mengingat mayat-mayat yang bergeletakan di sana Don mencoba mencari benang merah dari kejadian tersebut. Pandangannya terarah kembali ke tangan kanannya yang ia rasa harusnya sudah terputus.


Kalau memang semua itu ulahku, tidak heran kalau semalam juga aku yang telah menghancurkan hutan ini.


"Hei, Manusia! Apa kau salah satu pemilik Quirk? " Lamunan Don terpecah, Hachi bertanya ketika melihat Don yang terus-terusan memandangi kedua tangannya.


"Yah, aku juga masih belum tahu pasti…"


"Coba kau pukul pohon kering yang ada di sana! " Hachi menunjuk pohon kering di depannya karena penasaran dengan Quirk miliknya.


"Hah? Apakah kau yakin? "


"Iyah, lagian pohon itu sudah kering. Kita bisa menanaminya lagi dengan yang baru. "


Don mengangguk menurutinya sekalian ingin mengetes kebenaran dari semua kegelisahan yang berpusat pada tangannya. Dia mendekati pohon kering yang lumayan besar itu, kemudian menarik nafas dalam-dalam dan mendaratkan satu pukulan keras ke batang pohon tersebut.


Bum!! Don bersama Hachi terkejut, mereka membelalakan mata dan mulutnya lebar-lebar saat melihat pukulan tersebut menghasilkan kekuatan yang begitu besar. Bahkan suara yang dihasilkan pukulan tersebut sampai terdengar ke kota, membuat mereka penasaran dengan apa yang sedang terjadi.


Pukulan tersebut membuat beberapa pohon di depannya hancur tak bersisa dan menjadikan sebuah jalan bagi keduanya.


"HAHHH..!?!! " Hachi tidak bisa menutupi rasa terkejutnya sedangkan Don begitu takjub saat melihatnya.


"Bagaimana bisa…" Don memperhatikan tangannya tidak percaya. Dia merasa senang sekali setelah tahu ada sebuah Quirk di dalam dirinya.


"Ahh!! Manusia sialan! Kenapa kau menghancurkan semuanya!!! " Hachi terus-terusan memukuli dan menendang wajah Don merasa sangat kesal terhadapnya. Don tidak peduli dengan semua itu karena sekarang dia merasa senang sekali bisa menjadi salah satu orang terkuat di negara ini, dan bertekad untuk merubah kehidupan dirinya dan keluarganya.


"Yahoo!! " Don melompat kegirangan ke segala arah. Hachi yang berdiri di pundaknya mencoba menstabilkan tubuhnya.


"Hei, Manusia sialan berhenti melompat-lompat seperti itu! Hei, Bedebah! Sudah kubilang berhenti!! " Hachi tidak bisa menahannya dan terjatuh dari pundaknya . Don yang melihatnya terjatuh berhenti kegirangan.


"Heheh, maaf-maaf, Aku terlalu senang sekali melihatnya!" Don tertawa kecil.


"Kenapa kau begitu senang setelah menghancurkan pohon-pohon itu!! " Hachi menunjuk kesal pohon-pohon yang telah dihancurkan oleh Don.


"Eh… maaf aku tidak tahu kalau pukulanku malah membuat semuanya hancur! " Don tertawa tak bersalah sambil menggaruk kepalanya.


"Lihat! kau malah menambah banyak masalah. Bagaimana kita menyelesaikan semua ini! " Hachi mendengus kesal.


"Iya iyah, Aku bersalah. Aku akan bertanggung jawab. " Hachi menarik nafasnya mencoba kembali tenang dan menerima kesalahannya. Dia juga merasa bersalah karena tadi telah menyuruhnya.


"Kau harus menyelesaikan semua ini! "


"Ok Siap Bos!! " Don berlagak seperti seorang prajurit dan itu berhasil meredakan kekesalan Hachi.


Don bersama Hachi mulai menanami kembali beberapa pohon yang telah hancur. Satu persatu benih ditancapkan ke tanah. Don cekatan sekali menanam benih-benih itu meski baru pertama kali mencobanya. Dia menggali tanah dengan alat seadanya dan memasukan benih-benih itu ke dalamnya.


Dengan arahan yang diberikan oleh Hachi, Don berhasil menanami seluruh pepohonan yang ada di situ, biarpun ada sedikit cekcok diantara mereka. Setelah selesai mereka lanjut ke tempat yang lainnya tanpa beristirahat terlebih dahulu.


Waktu terus berlalu, siang berganti sore, mereka berdua akhirnya selesai menanam seluruh benih-benih pepohonan di sana. Don menghela nafas panjang sambil bersandar di bawah pohon setelah selesai menyelesaikan semua tanggung jawabnya.


Selesai melepas penat perut Don tiba-tiba berbunyi karena lapar. Dari kemarin Don sama sekali belum makan sesuap nasi pun untuk mengisi perutnya.


"Hei, Cebol, apakah ada makanan yang bisa aku makan di sini? "


"Tidak ada, cari aja sendiri " Hachi juga ikut bersandar di pohon sambil menghela nafas.


"Cari di mana? "


"Tidak tahu, cari saja sendiri. " jawab Hachi datar sambil memejamkan matanya.


Karena rasa laparnya tidak bisa ditahan lagi akhirnya Don memutuskan untuk mencarinya sendiri. Dia membangkitkan diri dan mencari buah-buahan yang bisa dimakan. Don menemukan setangkai pohon pisang yang berbuah lumayan besar, dia kemudian memetiknya dan membawanya ke tempat Hachi tadi.


"Hei, Cebol, kau sudah makan? " Don berjalan mendekati Hachi kembali bersandar di pohon dekatnya.


"Aku seorang boneka bodoh, mana bisa makan-makanan seperti itu. Dan berhenti memanggilku cebol," jawab Hachi masih memejamkan matanya.


"Oh, iya juga, yah. Baguslah, kalau begitu aku bisa memakannya sepuasnya. "


Don menyantap buah pisang itu seorang diri mencoba menghabiskannya tanpa sisa.


"Oh iya, kau tadi ingin memberitahuku 'kan, mengenai siapa dirimu yang sebenarnya." Sambil mengisi perut Don menanyakan kembali hal tersebut.


Hachi membuka matanya dan menjelaskan semua rasa penasarannya.


"Kau belum pernah mendengar soal boneka hidup? "


"Belum… "


"Aku adalah seorang boneka yang diciptakan untuk menjalankan misi rahasia sebelum akhirnya aku memutuskan berkhianat meninggalkan semua itu dan memilih untuk tinggal di hutan ini. " Hachi mulai menjelaskan siapa dirinya.


"Misi? Diciptakan? " Don bertanya dengan mulut yang masih dipenuhi oleh buah pisang.


"Iyah, aku tidak tahu siapa penciptaku, yang pasti dia juga merupakan salah satu pemilik Quirk yang memimpin negara ini... "


"Aku diciptakan demi menjalankan misi untuk memata-matai para pengguna Quirk lainnya untuk dijadikan bahan percobaan oleh seseorang yang menciptakanku. Berkat informasi dariku mereka berhasil ditangkap dan dijadikan bahan eksperimennya. Aku tidak tahan melihat mereka merintih kesakitan ketika penciptaku mulai melakukan aksi gilanya itu . Quirk mereka telah disegel dan mereka sama sekali tidak bisa melawan. Mereka dikurung di dalam jeruji besi tanpa sedikit pun di kasih makan. Rasa takut akan kematian terus-terusan menghantui mereka. Tidak sedikit dari mereka yang tewas dan menjadi gila karenanya. "


"Sampai akhirnya aku memilih kabur dan tinggal di hutan ini selama beberapa tahun lamanya... " Hachi menutup penjelasan mengenai siapa dirinya.


Don merasa kasihan setelah menyadari semua itu pasti menyakitkan baginya. Apalagi dia juga merasakan betapa kerasnya menjalani hidup di dunia ini. Meski dia pernah satu kali membunuh seseorang sebelum kejadian di kota, dia bisa merasakan rasa sakit ketika melihat orang yang tidak bersalah mati di depannya.


"Hahaha… ku kira kau beneran seorang penjaga hutan ini. Ternyata kau hanyalah seorang buronan yang memilih kabur dan tinggal di sini. " Don tertawa mencoba mencairkan suasana yang terasa menyedihkan.


"Hah?! Bukannya kau juga sama! Kenapa penduduk kelas rendahan sepertimu bisa ada di sini! " Hachi menunjuk Don penuh kesal membalas ejekannya.


"Hahah, Jangan samakan aku dengan boneka aneh sepertimu! "


"Apa kau bilang!!" Hachi mengepalkan tangannya geram.


"Dasar boneka aneh, dasar Cebol, blee… " Don menjulurkan lidahnya mengejek.


"Diam kau, Bedebah! Kau mau—" Mulut Hachi segera ditutupi tangan Don ketika dia mendengar suara langkah kaki yang begitu banyak dari jarak yang lumayan dekat .


"Di sana! Tadi aku mendengar ada seseorang di sana ! " Derap langkah kaki itu ternyata para prajurit yang bertugas menangkap seseorang yang telah membunuh Tuan kota yang menurut saksi warga berlari ke hutan ini.


"Diam, kita harus kabur dari tempat ini… " lirih Don bersiap siaga.


Salah satu dari mereka melihat Don yang tengah bersembunyi di balik pohon. Karena merasa akan ketahuan Don segera berlari disaat salah satu prajurit kota itu melihatnya.


"Di sana! Itu orangnya!" Prajurit kota itu langsung berteriak mengejarnya disusul dengan tembakan yang mengarah ke arah Don yang sedang berlari meninggalkan mereka.