
Don berlari meninggalkan kota memasuki hutan di tengah hujan yang mengguyur deras, menerobos setiap pepohonan yang menjadi tumbang saat di lewatinya. Dia berhenti berlari saat dirinya kembali tersadar disusul dengan rasa sakit di tangannya yang kembali muncul membuatnya berteriak sangat kencang di tengah hutan.
Burung-burung bercekakan terbang karena takut mendengar teriakannya, serangga-serangga kecil bersembunyi di balik pepohonan, bahkan hewan buas yang menyadari kehadiran Don langsung menjauh tidak berani mendekatinya lebih memilih untuk kabur.
Derasnya hujan mengalahkan teriakan Don. Teriakannya perlahan mengecil seiring berjalannya waktu dan rasa sakitnya juga sedikit demi sedikit mulai menghilang. Don terkapar tidak sadarkan diri sampai akhirnya berhenti bersuara.
Hujan turun begitu lamanya terselimuti awan hitam hingga malam hari.
Di mana aku?
Di ruangan yang penuh kegelapan Don membuka matanya. Pandangannya tidak bisa melihat apa-apa selain kegelapan yang menutupi visualnya. Dirinya seakan tertarik ke dasar ruangan yang begitu dalam, sebelum akhirnya dia menemukan secercah cahaya di ruangan tersebut. Don berusaha meraih secercah cahaya yang terus menerus menjauh ketika ia menggapainya sampai akhirnya berhasil, sekarang dia berada di ruangan yang tidak lagi gelap.
Sekarang di mana aku?
Don terjatuh di ruangan tersebut. Ruangan tempat Don kini berdiri begitu kosong, tidak ada benda ataupun orang sama sekali di dalamnya selain warna putih yang melingkupi keseluruhannya.
Don terus-menerus melangkah mencari jalan keluar dari ruangan itu. Sampai kemudian akhirnya menyerah karena tidak menemukan pintu atau apapun yang bisa membuatnya keluar dari ruangan tersebut.
Don terbaring letih sambil mengatur nafasnya menyadari usaha yang ia lakukan itu sia-sia. Dia menghadapkan tangan yang terasa begitu asing baginya ke langit.
"Tangan ini sepertinya bukan tanganku… " gumamnya menyadari ada sesuatu yang aneh dalam tangan tersebut.
"Benar, itu bukan tanganmu..."
"Iyah, ini bukan tanganku—"
"Eh, tunggu! Siapa yang barusan berbicara! " Don bangkit mencari asal suara yang ia dengar.
"Siapa di sana?! Hei! Jawab aku!! " Don melihat sekelilingnya namun tidak bisa menemukan orang tersebut.
"Hei! Siapa it—"
Plakk! Tangannya tiba-tiba bergerak sendiri menampar dirinya, membuatnya tersungkur sekaligus tersadar dari tidurnya.
Semburat pagi menerpa wajah Don membangunkan ia dari tidur panjangnya . Pandangan Don masih terasa pusing sekali ketika mencoba membangkitkan tubuhnya dan melihat keadaan sekelilingnya. Mengingat kejadian barusan membuatnya tidak mengerti, apakah itu hanya mimpi atau benar-benar kenyataan. Dia menyentuh pipinya yang terasa sakit setelah secara tidak sadar menampar dirinya sendiri. Dan ia menyimpulkan kalau barusan benar-benar nyata meski ia masih belum mengerti dengan apa yang terjadi.
Setelah bangkit Don membersihkan jubahnya yang kotor sambil meregangkan tubuhnya.
"Hei kau, Manusia!!" suara cempreng terdengar di kuping Don. Dia kebingungan ketika mencari tahu sumber suara itu.
"Aku di sini, Bedebah! " Sebuah kerikil terlempar tepat mengenai kepalanya. "Aww!!" Don melihat ke asal arah kerikil itu terlempar.
"Siapa di situ?!" Don masih belum menemukan pelaku tersebut.
"Aku di sini sialan! " sebuah kerikil sekali lagi mengenai kepalanya. Don terkejut saat melihat pelaku tersebut.
"Kau siapa, Cebol!!" Don menunjuk dengan kesal pelaku yang melemparkan kerikil itu . Pelaku tersebut berlari mendekati Don dan mendaratkan satu tendangan mengenai wajahnya.
"Hiyatt!! " Don mengernyitkan matanya.
Pluk, "Heh?" tendangan tersebut sama sekali tidak berasa meski membuatnya sedikit terkejut disaat melihat serangan dadakan darinya. Don merasa kalau tendangannya itu seperti sebuah kapas yang mengenai wajahnya.
"Cebol, Cebol! Aku mempunyai nama sialan! Namaku Hachi, aku adalah si penjaga hutan ini!" Makhluk kecil aneh berbentuk hewan yang bisa berdiri layaknya seorang manusia memperkenalkan diri setelah menendang wajah Don. Makhluk tersebut terlihat mirip seperti boneka, tetapi juga terlihat seperti robot.
"Hah?! Aku belum pernah melihat makhluk aneh sepertimu! " Don menunjuk makhluk aneh itu tidak menutupi keterkejutannya.
"Tentu saja karena aku adalah seorang boneka hidup! "
"Hah? boneka hidup? " Don mengerutkan dahinya tidak mengerti apa yang diucapkannya. Selama ini dia sama sekali belum pernah mendengar yang namanya boneka hidup.
"Sudah lupakan, sekarang aku ingin bertanya, kenapa semalam kau menghancurkan hutan ini?!" pertanyaan makhluk aneh bernama Hachi itu terdengar lucu meski dia sedang marah.
"Ehh… " Don memperhatikan sekelilingnya banyak sekali pohon yang bertumbangan. Dia tidak yakin kalau itu semua adalah ulahnya.
"Maaf, aku tidak tahu… " Don mengalihkan pandangan ke tangannya mencoba mengingat kembali kejadian semalan namun dia masih tidak bisa mengingatnya.
"Aku benar-benar tidak bisa mengingat kejadian semalam! Yang aku ingat setelah aku berada di kota, tiba-tiba aku sudah ada di sini! Apa benar semua kekacauan ini aku yang melakukannya?! " Don menjelaskan sambil berteriak
"Yah, semua ini ulahmu!! Kau harus bertanggung jawab! "
"Bertanggung jawab? " Don melihat sekali lagi sekelilingnya.
"Iya kau harus bertanggung jawab! "
"Apa yang harus aku lakukan untuk bertanggung jawab? " Don menaikan alisnya.
"Kau harus menanam kembali pepohonan yang telah tumbang! "
"Bagaimana caranya? "
"Dasar manusia bodoh! Baiklah, kalau kau tidak mengetahui caranya aku akan membantumu!" Hachi mendengus dan membalikkan badannya. Dari wajah Hachi terlihat ada sedikit ketakutan setelah mengingat kejadian semalam. Don hanya tersenyum kecut menahan rasa kesahnya.
"Ikuti aku! " Don menghela nafas sebelum berjalan mengikutinya.
"Mau ke mana kita? " tanya Don tidak tahu mau ke mana Hachi akan membawanya.
"Ke rumah pohon tempatku tinggal! " jawabnya sambil terus melangkah menyusuri hutan menempuh berbagai macam halangan yang ada di sana.
"Kau, siapa namamu? Dan dari mana asalmu?" tanya Hachi dengan nada kecut setelah dari tadi terdiam.
"Oh, namaku, Don El Quiere. Aku berasal dari kota Z. Tapi sekarang aku terus berpindah tempat untuk bertahan hidup, dan berusaha mencari uang untuk membebaskan orang tuaku yang masih ada di sana. " jawab Don sambil tertawa kecil. Hachi bisa melihat ada kesedihan di balik tawanya itu.
"Kau berasal dari tempat itu? "
"Iyah…"
"Kalau kau bagaimana? Aku sepenuhnya belum mengerti saat kau bilang kalau kau adalah seorang boneka hidup. Memangnya makhluk seperti apa itu?"
"Aku akan menjawab pertanyaan itu setelah kau selesai menyelesaikan tanggung jawabmu. " Sampailah mereka di rumah pohon tempat Hachi tinggal. Don bisa melihat rumah pohon kecilnya. Jika dilihat dari luar rumahnya hanya muat untuk seorang diri, namun ketika dia berjingkat sedikit untuk melihat ke dalam, ruangannya ternyata lumayan besar dan terlihat ada berbagai macam hewan kecil di dalamnya. Hewan kecil itu keluar saat menyadari kehadiran Hachi.
Hachi tidak memperdulikan hewan tersebut dan masuk ke rumahnya melalui tangga kecil yang ada di sana.
Don menunggunya dari luar karena tubuhnya tidak muat untuk ikut masuk ke dalam. Dia bermain dengan hewan-hewan kecil tadi yang sepertinya merasa nyaman ketika Don mengelus-elusnya.
Sampai akhirnya Hachi keluar menuruni tangga rumah pohon tersebut dengan membawa beberapa benih untuk menanam kembali beberapa pohon yang telah dihancurkan oleh Don.
"Apa yang ada di kantong kecil itu? " Don melepas hewan kecil tadi dan bertanya saat melihat kantong yang dibawa oleh hachi.
"Ini benih untuk menanam kembali pohon yang telah kau hancurkan!" jawabnya dengan nada yang masih sedikit kesal.
"Oh… jadi kapan kita menanam kembali pohon-pohon itu? " Don tertawa kecil menanggapinya.
"Besok, ya sekarang lah, Bodoh! " Don menggaruk kepala sambil tersenyum ketika mendengar suara cemprengnya .
"Yaudah ayo, tunggu apa lagi…" Don berinisiatif maju duluan ke tempat yang dipenuhi pohon tumbang tadi.
"Dasar manusia bodoh! " Hachi loncat ke pundak Don dan berdiri santai di sana. Dia bisa percaya kalau Don berasal dari kota Z setelah melihat tanda tersebut di lehernya.
"Hei, Cebol, kenapa kau berdiri di pundakku?" Don bertanya kesal meski tidak keberatan sama sekali saat Hachi berdiri di pundaknya.
"Sudah jalan saja, aku malas kalau berjalan! " jawab hachi sambil menendang pipinya. Don berusaha menahan kesalnya dan lanjut berjalan.
Sebenarnya siapa makhluk aneh ini. Kata-katanya kasar, dan terlihat percaya diri sekali meski tubuhnya kecil. Kalau saja aku orang yang pemarah pasti dia sudah kuhancurkan berkeping-keping.
Gumam Don dalam hati sambil terus menyusuri hutan.