God Hand

God Hand
Pemimpin yang Tiran



Wanita Tua itu kembali mendekat, bersiap menerima pukulan yang mungkin sekali pukulan lagi bisa membuatnya meregang nyawa.


"Hah…? Kau masih hidup, yah." Tuan Kota itu menaikan alisnya tidak percaya. Dia mendekatinya, menjenggut rambut yang tertutupi oleh tudung merahnya, membuatnya berdiri tegak lalu melepaskannya. Dengan tubuhnya yang babak belur seperti itu dia masih sempoyongan untuk berdiri.


"Hahaha…! Kau adalah salah satu orang yang beruntung karena masih hidup setelah menerima pukulanku, Wanita Peot. " Tuan Kota tertawa sambil menunjuk Wanita Tua itu dengan penuh kesombongan.


"Tuan… apakah Tuan bisa mengabulkan permintaanku…?" Lirih Wanita tua itu masih bisa bersuara.


"Tentu saja!"


"Benarkah? " Wanita Tua itu tersenyum lemas saat tahu ada harapan baginya.


"Iyah… Aku bahkan akan memberikanmu apresiasi yang sangat tinggi… dengan cara menumbuhmu!! "


Tiba-tiba tangan Tuan Kota itu berubah membentuk sebuah pedang, menunjukan Quirk yang selama ini ia miliki di dalam dirinya ke semua orang yang sedang menyaksikan. Semuanya mengernyit takut mencoba menahan ngeri karena tahu Wanita Tua itu akan mati di tangannya.


Syut…


Tringg!! Tangan yang membentuk pedang itu tertahan oleh sebuah belati kecil dari seorang pemuda yang melesat dengan sangat cepat melewati sekeruman penjaga dan orang-orang yang ada di situ.


"Cih!! Siapa kau? Berani-beraninya menahan seranganku! " Tuan Kota itu terkejut saat melihat kehadirannya. Dia melepaskan Quirk-nya dan melompat mundur menjauhi pemuda itu.


Sial! tubuhku tiba-tiba bergerak sendiri.


"Aku tanya siapa kau?! " teriak Tuan Kota itu.


"Maaf Tuan, bisakah kau tidak berbuat semena-mena terhadap rakyat Mu." Don menunduk menyembunyikan wajahnya di balik tudung jubahnya.


"Wow…! berani sekali kau menasihatiku. Kau tahu sedang berhadapan dengan siapa?! "


"Tidak! Aku tidak tahu siapa dirimu. Yang aku tahu kau itu hanyalah salah satu dari pemimpin T*lol! yang hanya berani menindas mereka yang lemah," ucap Don sambil tertawa kecil.


Hahaha, sepertinya kata-kata barusan akan menjadi kata-kata terakhir dalam hidupku. Semoga saja masih ada keberuntungan yang memihakku. Ayah… Ibu… maafkan aku, karena aku akan pergi duluan sebelum kalian.


Semua prajurit mengacungkan senjatanya ke arah Don. Pedang dan senapan tertuju padanya. Kerumunan massa yang berkumpul menjadi panik, mereka merunduk sambil memegangi kepalanya karena takut terkena peluru dari para prajurit yang sudah siap dilontarkan.


Wanita Tua yang berada di dekat Don terjatuh lemas tidak mampu berucap apa-apa ketika mengetahui dirinya masih hidup setelah melihat detik-detik kematian di depannya, dan akhirnya dia pun tidak sadarkan diri—pingsan. Tuan Kota itu menyeringai, tidak menyangka ada seseorang yang berani berkata demikian secara langsung di hadapannya.


"Berhenti!!" teriak Tuan Kota itu menyuruh para prajurit untuk menurunkan senjatanya. Mereka menurutinya. Semua yang ada di situ masih merunduk ketakutan.


"Hei Anak Muda, siapa namamu? Dan dari mana asalmu? " Dia mendekat dua langkah mendekati pemuda misterius itu sambil menengadahkan kepalanya dengan sombong. Jaraknya tidak terlalu jauh dari pemuda tersebut.


"Namaku, Don El Queire. Tidak penting dari mana asalku." Don masih memegang belatinya bersiap siaga menerima serangan dari Tuan Kota itu.


"Sebelum aku membunuhmu, bisakah kau menunjukkan wajahmu terlebih dahulu ?" Dia mendekat dua langkah lagi. Don mundur dua langkah bersiaga.


"Baiklah, aku akan memperlihatkan wajahku, wajah orang yang akan membunuhmu."


Don membuka tudungnya memperlihatkan wajah sombongnya,"sekaligus wajah terakhir yang bisa kau lihat sebelum kematianmu! " Don tersenyum lebar.


Tuan Kota itu melihat wajahnya dari jarak yang lumayan dekat. Terlihat warna putih menghiasi rambutnya, dengan wajah yang sekilas tampan dan ada sedikit goresan kecil yang tertutupi plesteran di pipinya, disertai syal merah yang menutupi lehernya membuat seorang wanita yang melihatnya bisa terdiam untuk sejenak.


Don membuka syal merahnya, sekalian memperlihatkan tanda sialan yang selama ini melekat di lehernya, yang tentunya akan membuat mata Tuan Kota itu membulat hebat saat mengetahui tanda itu ada di lehernya.


"Berani-beraninya penduduk kelas rendahan sepertimu ada di kota ku!" teriaknya menunjuk Don dengan penuh amarah.


"Hah? Kota mu? Jangan berlaga seolah-olah kau telah berjasa di kota ini. Kerjamu hanya menindas rakyat saja, jadi kau tidak pantas untuk memimpin kota ini, apalagi mengaku-ngaku sebagai pemimpin di kota ini." ucap Don dengan senyuman percaya diri. Ucapannya membuat Tuan Kota itu semakin marah besar. Dia mendengus kesal tidak bisa menahan emosinya.


"Untuk penduduk kelas rendahan sepertimu ternyata besar juga nyalimu untuk berbicara seperti itu!!"


"Rasakan ini!! "


Emosinya memuncak dia kembali mengeluarkan Quirknya. Tangannya mengepal besar tidak seperti tangan normal biasanya, menjulur panjang seperti karet ke arah Don, menghempaskannya dalam sekali pukulan. Don terhempas ke area kerumunan orang-orang yang masih merunduk ketakutan. Diantara mereka yang hampir terkena tubuh Don segera menghindar. Salah satu dari mereka yang melihat wajahnya terkejut. Sontak dia pun langsung berdiri dan berteriak.


"Tuan!! Orang ini salah satu pencuri yang meresahkan kota ini!! "


Tuan Kota itu melompat dari tempatnya ke tempat Don dalam sekali lompatan. Mereka yang ada di situ terkejut dan segera menjauh.


"Hahahah…! Ternyata kau yang selama ini meresahkan rakyatku. Baiklah, untuk kali ini aku akan terlihat berjasa di depan rakyatku, dengan cara membunuhmu…!" Tuan Kota itu mendekati Don sambil memutar pelan kepalanya dan membunyikan jari-jari tangannya.


"Benar, Tuan! Bunuh saja dia!! " teriak mereka antusias sekali berharap pemuda yang terkapar di depannya mati. Hanya sebagian dari mereka saja yang menatapnya dengan tatapan iba.


Don terkapar kesakitan, matanya tidak bisa melihat jelas langit yang saat ini sedang di tatapnya, suara hiruk mereka terdengar samar di telinganya . Dia tidak meyangka pukulannya akan sekuat itu meski tadi sempat menangkisnya. Tubuhnya tidak bisa bergerak, dan tanpa sadar darah segar keluar dari tepi mulut dan hidungnya.


Cih!! Sepertinya kali ini aku benar-benar akan mati. Hahahah setidaknya aku merasa puas karena telah membuatnya marah seperti itu.


"Tunggu dulu rakyatku!! Aku akan membunuhnya dengan cara yang layak! Adakah dari kalian yang mempunyai usul bagaimana caraku harus membunuhnya? " Tuan Kota itu berlagak sombong di depan rakyatnya.


"Robek saja jantungnya!!"


"Retakkan Ginjalnya!! "


"Pecahkan kepalanya!! "


"Hancurkan Tubuhnya!! "


Sorak-sorai mereka mendominasi area lapangan itu. Tidak sedikit dari mereka yang tidak setuju kalau pemuda di depannya harus dieksekusi di tempat seperti ini. Apalagi banyak orang tua renta yang bisa jantungan ketika melihatnya.


"Hahaha….! Kalian semua mempunyai usulan yang sangat bagus, aku benar-benar menyukainya. Tapi sayang aku mempunyai cara tersendiri yang pantas untuk membunuhnya! "


"Untuk seorang pencuri sepertinya aku akan memotong tangannya terlebih dahulu satu persatu. Bagaimana? apakah kalian setuju!!"


"Setuju!! "seru mereka yang antusias.


"Dimulai dari jari jemarinya!!". Dia menginjak tangan Don terlebih dahulu sebelum melepaskan Quirk-nya. Don hanya bisa merintih kesakitan. Tangan Tuan Kota itu dalam sekejap berubah bentuk menjadi sebuah kapak tajam, dan menghunuskan ke arah tangan Don yang masih terkapar tidak berdaya.


Walaupun kematian ada di depan mata, Don masih bisa tetap tersenyum dalam hatinya.


Aku layak mati dengan cara seperti ini.


Dewa... aku harap dengan cara matiku yang seperti ini bisa sedikit mengurangi dosa-dosa yang telah kuperbuat selama ini...


"Satu!" Srat! Jari jempolnya terpenggal, darah segar muncrat mengenai wajah Tuan Kota itu.


"Aghghh!!!! " Don berteriak kesakitan, tubuh dan tangannya bergetar hebat tidak tahan menahan rasa sakit itu.


"Dua! " Telunjuknya terputus disertai tawaan dari Tuan Kota dan mereka yang begitu puas saat melihat Don merintih kesakitan. Sebagian memilih untuk menutup matanya.


"Hahahah!! "


"Aghghhh!!! " Don tidak berhenti berteriak karena rasa sakit itu.


"Tiga! " Aura psycopath Tuan Kota itu membakar jiwanya.


"Aghghhh!!! " Para prajurit yang melihatnya menarik nafasnya kuat-kuat.


"Empat! " Teriakan Don semakin keras. Semua yang ada di situ menelan ludah, menahan ngeri saat melihat darah yang terus memuncrat keluar dari jari jemarinya.


"Lima! " Tuan Kota itu tertawa semakin keras mendominasi seluruh area lapangan itu. "Hahahaha!!"


"Dan ini untuk yang terakhir!! " Dia mengangkat tangan Don tinggi-tinggi dan Sret, lengannya terpotong dalam sekali tebasan.


"Aghghghhh!!!! " teriakan Don mengalahkan tawa mereka yang menertawainya, dia menggeliat kesakitan, darah terus-terusan keluar membanjiri area lapangan itu.


Tuan Kota itu mengangkat tangan yang ia penggal tinggi-tinggi, menunjukan ke semua orang yang berada di situ sambil tertawa puas. Semua yang ada di situ menatapnya dengan penuh rasa ngeri dan takut, namun ada juga yang antusias ikut tertawa melihatnya.


"Ini hukuman yang pantas untuk orang sepertimu!! Hahaha...!! "