
Sesaat sebelum Tuan Kota itu ingin memenggal tangan kirinya dentuman samar tiba-tiba terdengar dari langit, disertai dengan awan yang mulai terlihat menghitam mengelilingi area lapangan itu, dan tampak kilatan-kilatan kecil menyelimuti awan hitam tersebut. Semua orang tercengang akan fenomena yang tidak terduga di langit. Mereka tidak menyangka kalau langit yang tadi terlihat cerah sekali sekarang berubah menjadi gelap pekat, disusul angin yang berhembus kencang pertanda seperti akan terjadi malapetaka.
Selang beberapa detik sesuatu yang bercahaya muncul dari balik awan hitam itu melesat turun ke bawah dengan kecepatan melebihi kecepatan cahaya dan menghantam sebuah gunung besar di sana. Hantaman tersebut membuat sebagian pepohonan terbakar dan menghasilkan gumpalan asap yang sangat tebal di udara.
"Ada apa ini? " Mereka semua yang menyaksikan kebingungan.
Sebelum suara hantaman itu terdengar sampai ke telinga mereka. Sesuatu yang bercahaya tiba-tiba melesat begitu cepat dari balik gunung menuju kerumunan orang-orang yang sedang berkumpul. Menghempaskan semua yang dilaluinya termasuk Tuan Kota beserta sekerumunan orang orang yang berada di sana, dan berhenti di salah satu pemuda yang tengah merintih kesakitan menahan rasa sakit karena kehilangan tangannya.
"Ahh… cahaya apa ini?! "
Cahaya putih menyelimuti hampir seluruh area lapangan menyilaukan mata seseorang yang melihatnya. Mata mereka tidak bisa melihat jelas apa yang sedang terjadi di depannya karena terhalang oleh cahaya aneh ini. Cahaya itu bertahan lumayan lama sampai akhirnya perlahan memudar dan terlihat seorang pemuda yang tadi terkapar kesakitan melayang tanpa sadar di udara.
Mereka tercengang seperti baru pertama kali melihat hal seperti ini. Ditambah mereka tidak bisa percaya saat melihat dengan jelas tangan yang tadi dipenggal oleh Tuan Kota itu sekarang kembali terpasang rapih ke Pemuda tersebut .
"Tidak mungkin… "
Semuanya tercengang ketika mengetahui tangan itu bukan milik Don. Karena tangan aslinya terlihat masih tergeletak di tanah dan masih terus-terusan mengeluarkan darah segar.
Tangan kanannya tiba-tiba kembali memancarkan cahaya aneh yang menyilaukan, dan secara perlahan kembali menyusut kemudian lenyap seutuhnya bersamaan dengan Don yang tidak lagi melayang di udara.
Don berdiri dengan tatapan kosong seperti orang tidak sadar. Dia tidak sedikit pun terkejut ketika melihat tangan kanannya utuh kembali. Don meneliti setiap segi tangannya dengan tatapan kosong dan tampak sebuah besi putih melingkari lengannya.
Semua orang yang berada di situ masih terdiam berusaha mencerna keadaan di sekitarnya yang terasa semakin dingin dan mencekam. Tuan Kota masih membelalakan matanya karena tidak percaya saat melihat dengan langsung tangan pemuda itu telah kembali seutuhnya. Dia bisa merasakan aura yang terpancar dari mata kosongnya begitu menakutkan. Namun dia tidak mau terlihat ketakutan dan kembali melancarkan serangan untuk membunuh pemuda tersebut.
Tuan Kota itu merubah tangannya menjadi sebuah Bor'an yang besar lalu melepaskannya ke arah Don. Drettt! Bor'an yang berputar sangat cepat tidak disangka ditahan oleh Don hanya dengan satu telunjuknya. Tuan Kota begitu terkejut saat tahu Don bisa menghentikan serangannya itu hanya dengan satu telunjuk.
"Mustahil dia bisa menghentikan seranganku hanya dengan satu telunjuk. " gumamnya tidak percaya.
Tuan Kota itu mundur menjauhi Don untuk mencari jarak terlebih dahulu, dan kembali merubah tangannya membentuk sebuah palu besar kemudian meloncat tinggi ke udara lalu menghantamkannya ke kepala Don. Mereka yang dekat dengan hantaman itu tersibak bersih terkena gelombang serangan tersebut. Lagi-lagi Don menghentikan serangannya itu hanya dengan satu telunjuk. Tuan Kota itu kembali terkejut, semua prajurit sudah bersiap siaga membantunya.
Kali ini Don menggenggam tangan Tuan Kota itu dengan erat menggunakan tangan kirinya, tidak mau melepaskannya meski dia berusaha untuk lepas. Krek! Suara tulang patah terdengar saat Don menggenggam keras tangannya yang besar itu. Tuan Kota itu terjatuh kesakitan sambil memegangi tangannya, dan hanya dengan satu jentikan Don menghempaskannya begitu saja mengenai kursi tempatnya tadi terduduk.
Para prajurit satu persatu mulai beraksi membuat semua orang menjadi panik berusaha melarikan diri. Tembakan demi tembakan dilepaskan mengarah ke arah Don, akan tetapi peluru-peluru tersebut tidak sampai mengenainya dan malah menyerang balik mereka saat Don menggerakkan satu tangannya. Semua Prajurit yang menembakinya tewas terkena senjata makan tuannya sendiri.
Para prajurit yang menggunakan pedang tidak tinggal diam. Semuanya mengaktifkan pedang lasernya masing-masing dan menyerang Don secara serentak. Tapi sayang sehebat-hebatnya senjata tersebut masih tetap tidak bisa melukai Don. Mereka terpental jauh ke udara saat pedang tersebut menghantam area sekitar Don.
Tuan Kota yang tadi terpental kembali bangkit dengan dipenuhi amarah yang begitu besar terhadap Don. Dia mengeluarkan seluruh Quirk yang ia miliki. Tubuhnya membesar tiga kali lipat, kedua tangannya juga mengepal sangat besar melebihi sebuah mobil , dia loncat dari tempat itu mendekati Don dalam satu kali hentakan. Retakan tanah terukir saat Tuan Kota itu mendarat di depannya, namun Don masih terlihat tenang dengan tatapan kosongnya.
"Makhluk rendahan sepertimu bagaimana bisa terpilih untuk mempunyai kekuatan seperti itu!!"
Tuan Kota itu melontarkan beribu-ribu pukulan beruntun ke arah Don. Don terlihat begitu tenang saat menghindari satu persatu pukulannya tersebut. Tuan Kota itu semakin kesal pukulannya semakin bertambah cepat namun Don masih bisa menghindarinya tanpa susah payah. Sampai akhirnya pukulan tersebut diberhentikan oleh Don dengan cara menepis satu tangannya lalu memegang satu telunjuknya kemudian dipelintirkan dan menghempaskan tubuhnya ke tanah.
"Ahh… sial! "
Sekarang giliran Tuan Kota itu yang terbaring tak berdaya. Dia terus-menerus mengumpat kesal dalam hatinya karena harus mengalami kekalahan yang begitu telak. Tubuhnya menyusut kembali normal seperti biasanya .
Don celingukan menatap sekelilingnya dengan tatapan kosong seperti orang kebingungan, dan kembali menatap Tuan Kota yang tergeletak di bawah kakinya. Don menjambak rambutnya, mengangkatnya tinggi-tinggi, melihat wajahnya yang babak belur dipenuhi darah dengan tatapan kosong. Cuih, Tuan Kota itu masih berani meludahi wajah Don meski dia tidak bereaksi sama sekali bahkan untuk berkedip sekalipun.
"Cepat habisi aku… "
Don terlihat kebingungan seperti tidak mengerti apa yang diucapkannya. Namun tanpa disangka Don menuruti permintaannya itu. Dia mengepalkan tangan kanannya dan menghantamkan sebuah pukulan telak tepat mengenai titik vitalnya. Pukulan tersebut menembus area jantung dan membuatnya berlubang. Darah segar keluar dari mulut Tuan Kota itu mengenai wajah Don.
Don tersadar dari tatapan kosongnya saat Tuan Kota itu menghembuskan nafas terakhir dan tergeletak ke tanah setelah memuntahkan banyak darah mengenai wajahnya.
"Ada apa ini…?" Don terlihat kebingungan tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi barusan. Dia menyeka wajahnya yang penuh darah dan melihat keadaan sekelilingnya.
"Ahh!! " Don terjatuh, terkejut saat melihat banyak sekali prajurit yang berlumuran darah terbaring di sekelilingnya. Pandangannya terhenti saat melihat Tuan Kota itu terbaring tak bernyawa di depannya.
Don tidak mengerti dengan kondisinya tersebut. Dia melihat kedua tangannya setelah teringat kejadian tadi mengingat dirinya merintih kesakitan kehilangan tangan kanannya. Dia tidak percaya dengan tangan yang kini telah terpasang kembali meski terlihat bukan seperti tangan miliknya. Dia bisa melihat sebuah besi aneh melingkari lengannya.
Saat Don telah mengingat semua kejadian tadi walau tidak mengerti dengan kejadian barusan dia pun berdiri berjalan mendekati Wanita Tua yang masih tidak sadarkan diri. Karena tujuannya tidak lain hanya ingin menolong Wanita Tua itu. Dia mengambil beberapa uang yang bergeletakkan untuk diberikan ke Wanita Tua itu dan mencoba mengangkatnya untuk segera pergi meninggalkan lapangan tersebut.
Namun ketika dia ingin mengangkat Wanita Tua itu rasa sakit di tangannya seketika membuatnya terhenti. Don merintih kesakitan sembari memegangi tangan kanannya yang sekilas mengeluarkan cahaya yang mengerjap-ngerjap.
"Aghghh!! Ada apa— "
Sebelum teriakannya terhenti tatapan Don tiba-tiba kembali menjadi kosong, kembali seperti orang yang kebingungan. Dia memandang ke arah Wanita Tua yang terbaring di bawahnya tanpa bisa bisa berkata apa-apa. Padahal dia ingin membantunya.
Selepas beberapa detik menatap Wanita Tua itu suara alarm kota terdengar keras beresonansi di udara. Don melesat pergi meninggalkan kota dan Wanita Tua itu ke arah hutan. Dia berlari begitu cepatnya mengalahkan beberapa mobil yang dilewatinya, bersamaan dengan hujan yang turun sangat lebat membanjiri area lapangan yang bersimbah darah.