
Don memeluk erat Hachi berusaha sekuat tenaga lari dari para prajurit itu sambil menghindari beberapa peluru yang mengarah ke arahnya.
"Merunduk!" Salah satu peluru hampir mengenai kepalanya dan Hachi berhasil memberi tahunya.
Hachi melepaskan diri dari pelukannya dan berdiri di pundaknya.
"Ke kiri! Kanan! Di atasmu! " Hachi memberi arahan agar peluru-peluru itu tidak mengenainya. Memang benar peluru-peluru itu nyaris saja mengenainya dan malah mengenai batang pohon yang ada di depannya. Berkat Hachi Don tidak kesulitan menghindari tembakan tersebut.
"Thank's, Cebol. " Don tersenyum sambil terus berlari melewati berbagai macam haluan yang ada di sana.
"Kau yang di sana segera tutup jalan keluarnya. Bakar arah jalan dia keluar! " suruh komandan yang memimpin para prajurit ini melalui telepon khusus miliknya.
"Siap komandan! " Salah satu prajurit yang dekat dengan jalan keluar itu segera bergegas memblokade jalan tersebut. Mereka membakar jalan keluarnya satu persatu. Api segera berkobar merambat ke berbagai pepohonan yang ada di sana.
"Sial, tidak ada jalan keluar, bagaimana ini! " Don bisa melihat seluruh jalan keluar di hutan ini telah diblokade. Dia berlarian ke segala arah mencoba mencari celah jalan keluar dari hutan ini.
"Di sana! "Hachi melihat ada sedikit celah di hutan ini yang bisa membuatnya keluar. Don segera bergegas menuju arah tersebut.
Tembakan masih terus dilontarkan, kobaran api terus-menerus menjalar ke berbagai arah. Nafas Don mulai tersengal setelah menghirup asap yang semakin menggumpal menutupi area pandangnya. Satu-satunya jalan keluar dari hutan ini sedikit lagi tertutupi oleh api yang terus menjalar.
Don berlari sekuat tenaga berusaha sampai sebelum jalan keluar satu-satunya itu tertutup. Namun ketika Don hampir sampai menuju jalan keluarnya di tengah langkahnya tanpa sadar Hachi terkait sebuah ranting pohon dan tersangkut di sana. Don yang menyadarinya langsung berusaha melepaskannya.
"Jangan pedulikan aku! Lari saja terus! "
"Berisik! Aku harus menolongmu terlebih dulu!"
"Bodoh! Jalan keluarnya sedikit lagi tertutup cepat keluar dari hutan ini! " Don masih bersikeras melepaskan ranting pohon yang mengait telinganya hingga akhirnya terlepas. Tapi sayang jalan keluarnya kini telah tertutup rapih oleh kobaran api yang begitu besar.
"Jalan keluarnya… "
Harapannya untuk keluar dari hutan ini telah tiada. Don bersama Hachi kebingungan ketika ingin memilih langkah selanjutnya untuk bisa mengatasi masalah ini.
"Bagaimana sekarang?! " Don terus-menerus mengatur nafasnya yang mulai begitu sesak.
"Tidak ada pilihan lain kau harus melawannya!"
Prajurit yang mengejarnya berhasil sampai di sana. Para prajurit itu mengacungkan senjatanya bersiap siaga untuk menembak. Don yang menyadari kehadiran mereka tidak bisa melakukan apa-apa karena semua jalan keluar yang ada di hutan ini telah terblokade.
"Jangan bergerak! Lebih baik kau menyerah saja! " salah satu prajurit berteriak sambil bersiap menarik pelatuknya. Mereka perlahan mendekati Don mencoba meringkusnya. Don tidak bergerak sama sekali setelah mengangkat kedua tangannya menyerah.
"Hei, Cebol, kau pergi sembunyi dulu biar aku yang mengurusnya." Don melirik Hachi yang bersembunyi di bawah kakinya
"Kau yakin bisa mengalahkan semuanya? " Hachi yang bersembunyi di bawah kakinya bertanya.
"Kau bisa melihatnya nanti. "
Hachi mengangguk menurutinya, dia menyusutkan tubuhnya lebih kecil lagi dan segera berlari mencari tempat bersembunyi. Don mengerutkan dahinya saat melihat kemampuannya yang bisa menyusutkan tubuhnya lebih kecil lagi.
Tidak salah kalau dia diciptakan sebagai alat pengumpul informasi.
Don tersenyum melihatnya.
Salah satu prajurit yang menyadarinya langsung menembak namun Hachi berhasil menghindarinya dengan gesit karena tubuhnya yang kecil dan meninggalkan mereka.
Prajurit yang penasaran dengan hewan kecil itu mencoba mengejarnya namun digagalkan oleh Don. Don berlari ke arahnya dan mendaratkan satu tendangan telak mengenai wajahnya. Prajurit yang tidak menyadari serang dadakan yang begitu cepat dari Don terhempas terkena tendangannya sampai tidak sadar diri.
Ternyata bukan kekuatan tanganku juga yang meningkat sepertinya seluruh tubuhku juga. Jika aku memusatkan kekuatan ini di salah satu tubuhku, aku bisa bergerak secepat itu.
Gumam Don dalam hati tidak menyangka akan kekuatannya.
Prajurit yang melihat salah satu temannya terkapar tidak sadarkan diri segera menembaki Don, pajurit yang lainnya ikut menembaki. Seluruh tembakan yang mengarah ke arah Don berhasil di tangkis satu persatu oleh tangannya.
Ohh, sepertinya besi ini juga bisa berguna ternyata.
Don melihat tangan kanannya yang dilingkari besi sambil meregangkannya. Prajurit yang berada di situ hanya bisa terdiam tidak percaya karena seluruh tembakannya bisa tangkis hanya dengan satu tangan yang dilingkari besi.
"Kenapa? Sudah habis pelurunya? " ucap Don dengan senyuman percaya diri disaat prajurit yang mematung di situ masih terdiam tidak bisa berucap apa-apa.
Salah satu prajurit lainnya berinisiatif menyerang Don duluan mengeluarkan pedang laser yang ada di pinggangnya. Namun usahanya itu sia-sia, hanya dengan satu jentikan Don menghempaskannya dan mengenai prajurit yang lainnya.
Semuanya terbaring lemas setelah tubuhnya menghantam sebuah pohon dan batu yang ada di sana.
Ketika Don ingin meninggalkan tempat itu komandan prajurit yang memimpin mereka telah tiba dengan membawa prajurit yang lebih banyak lagi. Don menelan ludah saat melihatnya. Dia tidak menyangka mereka akan sebanyak itu.
Pemimpin mereka melihat prajurit yang bergeletakan di sana, tatapannya kemudian tertuju ke arah Don. Dia memberi komando sebelum satu persatu prajurit melepaskan pedang lasernya. Mereka semua mengitari Don tidak sedikitpun memberinya celah untuk kabur . Don mulai panik ketika mereka mengelilinginya dan melihat komandan itu begitu tajam menatapnya.
Cih, pengecut sekali mereka.
"Serang!! " suruh Komandan itu dengan lantang. Semuanya bergerak menyerang Don.
Don menghela nafas panjang, memfokuskan kekuatannya pada tangan kanannya, dan melesatkan satu pukulan ke bawah tanah. Bum!! Pukulannya itu menghasilkan retakan beserta gelombang serangan yang begitu besar, membuat semua yang mengepungnya terpental jauh terkena pepohonan dan bebatuan yang ada di sana.
Komandan mereka yang terkena gelombang tersebut dari jarak yang lumayan dekat bergeser sedikit meski dia berusaha menahannya.
Kini komandan itu yang menelan ludah saat menyaksikannya. Tatapan tajamnya sepenuhnya menghilang diganti dengan tatapan takut terhadap pemuda di depannya.
Komandan itu ceroboh sekali, harusnya dia tahu saat menerima tugas untuk menangkap orang ini. Seseorang yang telah membunuh para prajurit di kota sekaligus Tuan Kota-nya. Karena arogansinya sekarang dia berdiri ketakutan tanpa bisa berbuat apa-apa. Dia bersujud memohon belas kasih Don agar mau mengampuninya.
Don terkekeh melihat komandan mereka kini bersujud tidak tahu malu setelah apa yang diperbuatnya. Don mendekatinya dan melihat wajahnya dari jarak dekat sambil memegang dagunya menengadahkan kepalanya.
"Kau mau aku mengampunimu? "
"E-euh, Iyah… " Komandan itu mencoba tersenyum meski dirinya ketakutan.
"Kau bisa menunjukan arah jalan keluar dari hutan ini? " suara Don begitu dingin membuatnya semakin merasa takut.
"Di sana… di sana masih ada sedikit celah…" Tangan komandan itu bergetar saat menunjuk jalan keluar dari hutan ini.
"Terimakasih…" Don tersenyum sambil melepaskan tangan dari dagunya dan berdiri meninggalkannya.
"Eh, satu lagi! " baru saja komandan itu bernafas lega lagi-lagi dia kembali ketakutan saat Don kembali menghampirinya.
"I-iyah, apa...? "
"Apa kau punya uang?" tanya Don sambil tersenyum.
"E-eh, punya, Tuan…" Dia segera mengeluarkan uang di sakunya dan tanpa sadar memberikan semuanya ke Don karena saking takutnya .
"Terimakasih… " Don tersenyum lalu bergegas meninggalkan tempat itu dan pergi mencari Hachi yang saat ini tengah bersembunyi. Komandan itu mengumpat kesal dalam hatinya terhadap Don. Dia bertekad akan membalas semua perbuatannya.
Hachi tidak bersembunyi terlalu jauh dari tempat Don berada. Dia juga bisa menyaksikan langsung kejadian itu dari balik pohon tempatnya bersembunyi .
"Hei! Cebol! Di mana kau! " Hachi turun dari tempat persembunyiannya dan langsung menaiki pundak Don.
"Kenapa kau tidak menghabisi komandan mereka? "
"Yah, biarlah dia hidup. Lagian kalau aku menghabisinya kasihan keluarganya yang pasti sedang menunggunya untuk pulang. " Don tersenyum melirik Hachi yang ada di pundaknya.
"Dasar, kau terlalu naif, Don. " Don terkejut saat Hachi kali ini memanggil langsung namanya.
"Hahaha, akhirnya kau memanggil namaku juga. "
"Berisik! Cepat jalan supaya kita bisa keluar dari hutan ini, " ucap Hachi sedikit malu-malu disaat tadi dia memanggil langsung namanya .
"Yosh, pegangan yang kuat, aku akan berlari dengan cepat meninggalkan hutan ini. " Don bersiap melangkahkan kakinya untuk berlari, dan Srut! Dia berlari begitu cepat keluar hutan di tengah api yang terus menjalar ke berbagai pepohonan. Hachi memegang leher Don agar tidak terjatuh sambil terus memakinya dengan umpatan kesal.
"Ahh…! sialan!! Jangan terlalu cepat, Bedebah!" Don hanya tertawa menanggapinya.
¤~¤
**Minta dukungannya teman-teman supaya saya lebih semangat lagi buat ceritanya :)
minta like-nya, heheh:)
Terimakasih**....