
Don bersama Hachi akhirnya bisa keluar dari hutan. Mereka bisa bernafas lega setelah merasa sesak karena terus-terusan menghirup asap dari kobaran api yang terus menjalar hampir keseluruh hutan di gunung tersebut.
Hutan yang telah terbakar membuat warga yang menyaksikannya mulai bertanya-tanya dengan apa yang sedang terjadi. Mereka bisa menyaksikan kobaran api hampir melahap sebagian gunung yang ada di sana.
Para prajurit kota yang bertugas untuk menangkap Don akhirnya tersadar ketika api mulai terasa panas dan segera mengambil tindakan untuk memadamkan api dengan alat seadanya.
Mereka juga memberitakukan kejadian itu ke seluruh prajurit kota lainnya untuk meminta bala bantuan memadamkan api tersebut. Semuanya segera bergegas demi membantu mereka memadamkan api dengan membawa berpuluh-puluh unit pemadam kebakaran dan helikopter untuk mengevakuasi para prajurit kota yang masih terjebak.
Langit mulai terlihat menghitam malam pun tiba. Malam hari begitu panjang karena kobaran api masih terus merambat menerangi seluruh kota. Para prajurit masih bersusah payah memadamkan api dan mengevakuasi mereka yang terluka. Hanya sedikit dari mereka yang tewas dari kejadian tersebut.
Kejadian besar tersebut dengan cepat sampai ke telinga para pemimpin kota lainnya. Pemimpin tertinggi yang mendengarnya pun langsung memutuskan untuk mengadakan rapat penting mengenai hal tersebut, sekaligus membahas tentang pemimpin kota R yang telah tiada.
Di sebuah ruangan khusus tempat para Tuan Kota berkumpul, lebih tepatnya di kediaman pemimpin kota H yang berada di tengah kota, mereka mendiskusikan sesuatu mengenai masalah tewasnya pemimpin kota R dan kemunculan seorang pengguna Quirk yang berhasil kabur dari para prajurit kota dan membakar sebagian hutan yang berada di sana.
Di meja yang berjejer panjang hampir semuanya berkumpul, ada sebagian yang tidak menghadiri rapat penting tersebut dengan berbagai alasan. Kurang lebih hanya ada 10 Tuan Kota yang hadir. Diantara mereka yang tidak hadir diwakili oleh perwakilannya masing-masing.
"Cih! Sepertinya banyak yang tidak hadir kali ini. Terutama si ilmuwan gila itu! " kata salah satu pemimpin kota H bernama Albert yang mempunyai perawakan sangar dengan kumis yang melingkar di ujung bibirnya.
"Orang itu pasti masih sibuk dengan eksperimen gilanya. " Tuan Kota lainnya yang menduduki kota Q sekaligus adik dari pemimpin kota H bernama Bernard ikut berdecak kesal. Orang yang mereka maksud adalah seorang Tuan Kota yang memimpin kota E yang setiap ada rapat penting selalu memilih untuk diwakilkan.
"Hahahah, benar Tuan, seperti biasa dia sedang meneliti sesuatu yang menarik. " Perwakilan pemimpin kota E yang ternyata seorang perempuan berparas cantik mencoba mencairkan suasana.
"Berisik… Kau selalu saja membelanya seperti itu setiap kali aku menyindirnya," ucap Albert dengan nada malas tidak mau lagi membahas orang tersebut.
"Si Tua Bangka itu juga tidak hadir sepertinya. Padahal aku ingin berbicara sesuatu dengannya. " Yeager, seorang pemimpin Kota B yang menduduki dua orang terkuat di negara ini berbicara dengan nada riang.
Terlepas dari kekuatannya yang menakutkan, sifat Yeager lebih terlihat seperti anak kecil yang suka berbicara seenaknya ketika
bertingkah. Tua Bangka yang dia maksud adalah kakeknya yang telah berusia 65 tahun, sedangkan dia masih berusia 20 tahun. Kakeknya merupakan salah satu pemimpin yang memimpin kota G.
"Mereka yang tidak hadir hanyalah seorang pemalas yang lebih mementingkan masalah pribadinya. " Rokie, Seorang jenius yang berhasil menjadi pemimpin kota F di usianya yang masih terbilang muda terpaut tiga tahun dari Yeager buka suara setelah dari tadi terdiam sambil memejamkan mata .
Sebagian yang berkumpul lebih memilih diam tidak mau menanggapi masalah mereka yang tidak hadir setelah Rokie berbicara demikian.
Pemimpin tertinggi yang menempati kota A yang kini berada di tengah meja tempat mereka berkumpul ikut buka suara.
"Sudahlah, selagi ada perwakilan diantara mereka setidaknya rapat ini masih bisa berjalan, 'kan? " ungkapnya dengan nada sengau dan halus namun mengandung aura intimidasi yang begitu kental di setiap perkataannya. Semuanya bisa merasakan auranya tersebut dan lebih memilih bungkam tidak berani membalasnya. Perawakannya yang halus tidak menutupi kekuatan yang ada di dalam dirinya. Senyuman yang menghiasi bibirnya hanyalah sebuah kedok untuk menutupi sifat aslinya.
Selepas para Tuan Kota itu membahas permasalahan yang tidak penting, pintu ruangan tersebut tiba-tiba terbanting keras. Seseorang yang diikat tangannya memasuki ruangan rapat tempat mereka berkumpul. Dia terjatuh di depan mereka semua yang kini menatapnya dengan berbagai macam tatapan.
"Akhirnya kau datang juga…" Pemimpin tertinggi tersenyum menatapnya. Seseorang yang memasuki ruang tersebut bergetar ketakutan saat melihat hampir seluruh Tuan Kota hadir di depannya.
"Ada apa? kenapa kau begitu takut? " ucap pemimpin tertinggi itu sekali lagi yang membuatnya semakin ketakutan tidak mampu berucap apa-apa.
"Ini Tuan, dia orangnya !" ucap salah satu prajurit yang membawanya.
"Oh… apa kau yang bertugas memimpin pasukan itu untuk menangkap pemuda yang telah membunuh pemimpin kota R? " tanya nya dengan senyuman lembut namun itu tidak terlihat seperti senyuman ketika Tuan Kota itu yang menunjukkannya.
Orang yang kini tengah terikat dan terduduk di depan semua Tuan Kota lainnya adalah seorang Komandan yang memimpin para prajurit untuk bertugas menangkap Don, namun gagal dan malah menyebabkan permasalahan yang begitu besar setelahnya.
"I... i...i yah, Tuan… " ucapannya terputus karena saking takutnya. Tuan Kota yang berada di tengah meja kembali tersenyum setelah mengangguk beberapa kali dan lanjut bertanya.
"Bisa kamu jelaskan, kenapa kamu tidak bisa menangkap satu orang itu?" Ucapannya berubah menjadi dingin begitu pula dengan tatapannya meski senyuman masih menghiasi bibirnya.
Tuan Kota lain yang mendengarnya tidak terkejut sama sekali bahkan seperti malas menanggapinya, karena mereka merasa orang tersebut masih jauh berada di atasnya. Namun diantara mereka ada juga yang menanggapinya dengan serius, mengingat kekuatannya telah membunuh salah satu pemimpin negara ini.
"Kau tahu orangnya seperti apa, dan berasal dari mana? " Salah satu Tuan Kota yang serius menanggapinya bertanya.
"Me-menurut kesaksian warga, dia berasal dari kota Z. Dan yang saya lihat usianya terlihat masih muda, dan juga ada sedikit goresan di pipinya. " Semua yang berada di situ mulai menanggapinya setelah mendengar kalau orang tersebut berasal dari kota Z.
"Hah? Kota Z? Penduduk kelas rendahan seperti dia bagaimana bisa berada di sini? " Rokie berkata sambil merenungkan bagaimana caranya dia bisa berada di kota golongan atas dengan penjagaan yang selalu ketat di setiap sudutnya.
'Dia pasti orang yang mempunyai kelihaian dalam bersembunyi dan pandai membaur dengan penduduk di sekitarnya. ' gumamnya dalam hati berpikir.
"Menurut kesaksian warga juga katanya dia adalah seseorang yang telah meresahkan kota ini. Salah satu dari mereka pernah melihatnya mencuri, menipu bahkan pernah membunuh. Terakhir dia melakukan aksinya, yaitu ketika dia menipu seorang Nyonya Muda di kota Q dengan meledakan sebuah toko pakaian sebagai siasatnya. "
"Cihh! Pemimpin kota Q dan R memang tidak becus dalam menjalankan tugasnya. Kenapa orang seperti itu masih bisa berkeliaran seenaknya. " Pemimpin kota H berdecak kesal mendengarnya. Adiknya yang berasal dari kota Q ingin berkata namun tidak jadi, dan menerima hinaan dari kakaknya itu karena tidak bisa melawan dengan statusnya yang berada jauh di bawahnya.
"Siapa Nyonya Muda itu? " Yeager bertanya dengan nada polosnya.
"Euh… maaf Tuan, saya tidak tahu pasti . Tapi sepertinya dia adalah seorang Donatur kaya yang membantu pembangunan kota Q. "
"Seorang Donatur kaya…" Bernard mencoba mengingat orang tersebut karena berasal dari tempatnya.
"Kenapa Bernard? Apa kau mengenalnya? " kakaknya bertanya.
"Lupakan Nyonya Muda itu. Kita kembali ke pemuda misterius ini. " Rokie memotong pertanyaan tersebut dan mulai bertindak serius.
"Kita harus memperketat penjagaan di kota Q sampai W. Kemungkinan dia akan melewati tempat itu. Dan mungkin dia sekarang masih berkeliaran di kota S. " Rokie berpendapat setelah merenung beberapa saat.
"Benar, dia pasti sekarang ada di sana."
"Kerahkan semua prajurit yang ada di sana untuk berjaga. "
"Benar, terutama di bagian pintu masuk."
"Periksa setiap orang yang ingin keluar masuk kota! "
Semuanya mulai berpendapat, Pemimpin tertinggi yang tadi hanya menyimak memberi isyarat kepada mereka untuk berhenti berbicara dengan menaikan satu tangannya.
"Prajurit, beritahukan ke semua orang agar segera lakukan apa yang mereka katakan! " suruhnya setelah semuanya menjadi hening.
"Baik, Tuan! " seru ketiga prajurit yang mendengarnya.
"Bagaimana dengan saya, Tuan? " Komandan yang masih terikat bertanya, berharap Tuan Kota itu mau melepaskannya.
"Oh iya aku lupa. Kamu… " Pemimpin tertinggi itu menunjuknya secara perlahan sambil menyeringai sebelum akhirnya melepaskan sebuah tembakan melalui telunjuknya dan mengenai kepala Komandan yang terduduk di depannya. Komandan tersebut mati setelah kepalanya hancur tak bersisa, bahkan darahnya tidak sampai menetes ke lantai karena tembakannya tersebut . Tuan Kota lain yang melihatnya hanya bisa menghela nafas.
"Sekalian bawa mayat dia dari tempat ini. " Prajurit yang berdiri segera melaksanakan perintahnya dan keluar dari ruangan.
"Orang yang telah gagal menangkap seorang buronan dan malah membakar sebagian hutan tidak pantas untuk hidup. "
"Ok, kita lanjut ke permasalahan yang lain…"
Mereka yang berkumpul kembali melanjutkan pembahasannya mengenai permasalahan lainnya, di mulai dari hutan yang terbakar sampai masalah pemimpin di kota R.