Father to My Son

Father to My Son
Part 6



Saat berjalan kedapur dengan putranya, Putri menatap punggung ibunya yang sedang mengolah makanan membelakangi Putri. Putri pun teringat dirinya yang dipecat hari ini. Putri tak ingin ibunya kembali bekerja seperti dulu, menjadi buruh cuci di dua tempat. Ibunya tak sekuat dulu, usianya yang saat ini sudah menginjak 50 tahun membuatnya mudah lelah. Putri pun sebenarnya tak ingin ibunya kelelahan mengurus anaknya, namun karena Putri harus bekerja mau tak mau Putri menitipkan Sakha kepada ibunya daripada diasuh oleh orang lain. Beruntung Sakha anak yang mudah diatur dan tidak rewel, membuat ibunya tidak kelelahan dalam mengurus Sakha.


"Ibu mau masak apa hari ini?" Tanya Putri saat didekat ibunya


"Ibu masak sayur sop, ikan asin sama sambal terasi. Nanti sayur sopnya Sakha bisa memakannya juga!" Sahut ibu.


"Kamu tidak bekerja, Nak? Ko tumben sudah pulang!" Tanya ibu


Putri tersenyum getir tanpa menjawab pertanyaan ibunya.


"Kenapa, Nak?" Tanya ibu kembali


"Aku dipecat, Bu." Jawab Putri, melihat kearah ibunya, sambil menghela nafasnya dengan berat.


"Ko bisa?" Ibu yang sedang mengiris bawang berhenti seketika saat mendengar Putri dipecat dari pekerjaannya.


"Kemarin tanpa sengaja Putri menabrak pengunjung restoran, Bu. Saat Putri membawa piring dan mengenai baju pengunjung tersebut." Jelasnya


Ibu tidak dapat berkata apa-apa, karena semua sudah terjadi.


"Ya sudah, tidak apa-apa. Kamu kesini mau bantu ibu memasak kan! Ini kamu yang ngulek sambalnya." Ibu mengalihkan pembicaraan saat melihat wajah anaknya yang bersedih.


"Iya, Putri mau bantu ibu masak. Sini Putri yang ulek sambalnya." Jawab Putri


Selesai memasak Putri, Ibu dan Sakha menata makanan dimeja. Kemudian mereka makan siang bersama.


****


Diruang tengah, Putri sedang menemani Sakha bermain. Putri bahagia melihat anaknya yang kini sudah bertambah besar dan pipinya yang gempi membuat sakha terlihat menggemaskan. Namun ketika Putri mengingat mendiang suaminya, raut muka Putri langsung berubah sedih. ketika itu pula Putri mengingat anaknya. Semakin besar anaknya nanti, lambat laun anaknya pasti akan menanyakan ayahnya. Putri harus menyiapkan jawaban atas hal itu. Putri pun mengingat Mama Sinta, mertuanya yang belum memaafkan dirinya, bahkan saat Putri ingin berziarah kemakam suaminya, Mama Sinta pun langsung mengusirnya dan tidak memperbolehkan Putri menginjakkan kakinya dimakam anaknya.


"Unda, Unda ..." panggil Sakha kepada Bundanya dengan menggoyangkan tangannya. Putri yang sedang melamun, tersadar dari lamunan ketika anaknya memanggil dirinya.


"Iya, Nak, ada apa?" Tanya Putri


"Unda tenapa diam?" tanya Sakha


"Tidak kenapa-napa, Nak! Sakha ingin apa?"


Sakha memainkan tangannya sambil menunduk. Sakha kembali melihat bundanya dengan mengedipkan matanya berulang kali, kemudian menundukkan kepalanya lagi. Sakha ragu untuk meminta sesuatu kepada bundanya. Putri yang gemas melihat tingkah anaknya tersebut, langsung mengangkat tubuh anaknya kemudian menaruh Sakha dipangkuannya. Putri tau dengan tingkah anaknya itu ketika menginginkan sesuatu.


"Kamu mau apa, Nak. Sakha mau minum susu?" tanyanya. Sakha menggelengkan kepalanya


"Bilang sama Bunda, kamu mau apa, Nak?" tanyanya lagi


"Hemm ..Unda, Sakha mau tobot Unda!" Jawab Sakha dengan lirih


"Sakha mau robot?" Tanya Putri, Sakha pun menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah ...hari minggu nanti kita ke mall, kita beli robot yang Sakha mau, ya!" Ujar Putri


"Benar Unda?" tanya Sakha, dengan mata yang berbinar.


"Iya, Nak."


"Horeeee ..." teriak sakha senang


"Telimakasih Unda." Sakha mencium pipi Putri. Putri pun tersenyum melihat anaknya yang begitu senang saat mendengar dirinya akan dibelikan mainan.


****


"Unda, ayo kita pulang." Ucap Sakha dengan lirih, sambil merentangkan kedua tangannya meminta digendong.


Putri yang merasa heran melihat sikap anaknya pun bertanya, " Kenapa,Nak? Ko baru sebentar disini sudah minta pulang, biasa kamu lama mainnya disini."


Sakha hanya menggelengkan kepalanya dan merentangkan kedua tangannya meminta digendong. Melihat sikap anaknya yang mendadak pendiam, Putri memutuskan pulang. Putri pun menyambut tangan sang anak, kemudian mengendongnya menuju rumah. Selama perjalanan Sakha memeluk Putri dengan tangan melingkar dileher Putri , dan kepalanya diletakkan dipundak Putri.


Sesampainya dirumah Putri ingin menurunkan Sakha dari gendongannya, namun Sakha mempererat pelukannya. Membuat Putri bingung dengan sikap anaknya tersebut.


"Ayo turun, kita sudah sampai rumah!" Ujar Putri, namun Sakha menggelengkan kepalanya.


"Kamu kenapa, Nak?" tanya Putri khawatir melihat anaknya yang tidak mau bicara, Sakha kembali menggelengkan kepalanya.


Ibu yang mendengar suara Putri dan Sakha, pun menghampiri.


"Wah ...cucu eyang sudah pulang bermain, bagaimana, senang tidak bermain ditaman?" tanya bu Lisna kepada Sakha, cucunya. Duduk disamping Putri yang menggendong putranya. Sakha hanya diam, tidak menjawab pertanyaan neneknya. Bu Lisna heran melihat sikap cucunya yang tak membalas pertanyaan, biasanya sepulang dari taman Sakha sangat antusias menceritakan dirinya saat ditaman.


"Sakha kenapa, Nak?" tanyanya kepada Putri


"Putri juga tidak tau Bu. Tadi pas Sakha sedang bermain ayunan, Sakha sedang berbicara dengan beberapa anak disana. Tapi tidak berapa lama, sakha meminta pulang dengan digendong." Jelasnya


"Duh ...cucu eyang yang tampan, Sakha kenapa? Coba sini cerita sama eyang!" Ujar bu Lisna, sambil mengelus kepala Sakha. Sakha tetap tidak melepaskan pelukannya.


"Sakha kenapa, Nak?" tanyanya lembut


Dengan suara lirihnya Sakha berkata, "Unda, papa Sakha dimana?".


Deg


Jantung Putri pun langsung berdegup kencang saat medengar pertanyaan dari anaknya. Apa yang selama ini Putri khawatirkan pun tiba.


"Papa Sakha ada dimana, Unda?" tanya kembali, karena Putri tak menjawab pertanyaannya tadi dengan wajah yang sendu.


"Kata eman-eman Sakha yang ditaman, Sakha ndak punya papa. Jadi meleka ndak mau main cama Sakha." Ucap Sakha terisak saat bercerita


Putri dan bu Lisna pun meneteskan airmatanya, saat mendengar cerita Sakha. Kenapa begitu tega kepada anaknya, hanya karena Sakha tidak memiliki ayah. Apakah orangtuanya tidak mengajarkan anaknya, untuk tidak berkata kasar.


"Nak, Sakha itu punya ayah. Tapi ayah Sakha sudah pergi ketempat yang tinggi disana. Dan ayah Sakha, melihat Sakha dari atas sana." Ucap Putri menjelaskan kepada sang anak


"Kapan papa kembali, Unda?" tanya Sakha kembali


"Ayah Sakha tidak bisa kembali sayang, ayah Sakha sudah bahagia diatas sana."


"Sakha mau ketemu papa, Unda!" rengek Sakha menangis


"Bu, bagaimana ini Bu?" Ucap Putri kepada ibunya dengan sendu


"Duh ...cucu nenek yang tampan dan pintar, nanti kita ketemu ayah Sakha ya. Tapi Sakha harus berhenti dulu nangisnya." Ucap bu Lisna, mengambil alih Sakha dari bundanya.


"Benar iang? Sakha bisa ketemu papa?" Sahut Sakha, menghentikan tangisnya dengan senyum diwajahnya.


"Iya, sayang." Ucap bu Lisna, mengelus rambut Sakha dengan lembut.