
Part 1
"Hallo ...Assalammualaikum Mas, kamu lagi dimana?" Ucap Putri di telepon, sedang berbicara dengan suaminya disebrang sana.
"Walaikumsalam ...Mas lagi dijalan nih, mau kembali ke hotel. Mas habis meeting bersama klien dari PT. Persada." Jawab Rizki diseberang sana sambil menyetir.
"Ooh, Kamu sudah makan Mas?"
"Sudah tadi bareng klien"
"Kamu kapan pulang Mas? Mas bilang hanya 4 hari, ini sudah seminggu loh Mas ko belum pulang." rajuk Putri
"Maaf ya Put, Mas belum bisa pulang. Urusan disini belum selesai, daripada bulak balik lagi nanti lebih baik Mas selesaikan semuanya.sabar ya sayang, insya allah 2 hari lagi Mas pulang."
"Cepat pulang ya Papa, dede kangen sama Papa." Ucap Putri menirukan suara anak kecil
"Haah ...Maksud kamu -?"
"Aku hamil Mas ..."
"Ka-kamu hamil sayang?"
"Iya Mas, aku hamil 9 minggu."
"Sebenarnya aku ingin memberi kejutan kepada Mas, saat Mas pulang nanti. Tapi aku udah nggak sabar ingin memberitahu Mas kabar yang bahagia ini."
"Kamu benar hamil kan sayang? kamu nggak lagi bohongi aku kan, agar aku cepat pulang."
"Ck, tega sekali kamu Mas. Buat apa aku bohongi kamu Mas."
"Oke oke, maaf sayang. maafkan Mas ya? Mas hanya kaget mendengar kabar bahagia ini."
"Iya Mas, tidak apa-apa."
"Alhamdulillah akhirnya kamu hamil sayang, terimakasih sayang, Mas bahagia sekali. Mas janji Mas akan cepat menyelesaikan pekerjaan Mas disini, Mas jadi nggak sabar buat menjenguk anak kita."
Disaat hari yang membahagiakan untuk Rizki dan Putri, tanpa diketahui hari itu adalah hari yang menyakitkan untuk Putri.
Disebuah tikungan jalan ada sebuah truk yang melaju sangat kencang. Rizki yang sedang berbincang dengan Putri sambil tertawa bahagia saat mengetahui sang istri sedang mengandung membuat fokus Rizki sedikit teralihkan. Hingga kecelakaan pun tak dapat dihindarkan.
Tin ...Tin ...Tiiinnnnn
Brraaaakkkk
"Put- "
"Mas ..."
"Mas ..."
"Hallo Mas,"
"Kamu kenapa Mas?"
Tut tut tut
Satu jam pun berlalu. Putri yang sedang mengkhawatirkan suaminya, berjalan kesana kemari tanpa arah didalam kamarnya sambil menelepon suaminya yang tak kunjung diangkat. Hingga dering ponselnya berbunyi, Putri pun langsung sigap menggeser tombol hijau keatas yang terdapat pada layar ponselnya.
"Hallo Selamat siang, bisa berbicara dengan Ibu Putri?" Ucap seorang diseberang sana
"Iya ...dengan saya sendiri."
"Kami dari pihak rumah sakit Harapan, ingin memberi tau Ibu. Bahwa Bapak atas nama Rizki mengalami kecelakaan."
Deg
Airmata Putri pun langsung mengalir dipipinya saat mengetahui suaminya mengalami kecelakaan. Kekhawatiran Putri terjawab saat menerima telepon saat ini.
"Hallo ..."
"Hallo, Bu Putri!"
"I-iya sus,"
"Baiklah, Harap Ibu Putri kerumah sakit Harapan segera. Karena kondisi pasien dalam keadaan kritis."
"Ba-baik Sus, terimakasih."
"Ma, Pa ...hiks," Terdengar suara isakan dari Putri yang sedari tadi tidak berhenti menangis membuat suara Putri tercekat.
Mama dan Papa mertua Putri pun kaget saat melihat menantunya menangis tersedu-sedu.
"Kamu kenapa menangis Put?" Tanya Mama Sinta, Mama mertua Putri.
"Ma, Pa hiks .."
"Mas Rizki Ma hiks."
" Rizki kenapa Put?" Tanya Mama Sinta penasaran
"Mas Rizki kecelakaan Ma ...hiks hiks."
"APA!!!" Teriak Mama Sinta dengan mata terbelalak, saat mendengar anaknya mengalami kecelakaan.
Mama Sinta, Papa Arsad dan Putri pun langsung menuju kerumah sakit tempat rizki dirawat. Sesampainya dirumah sakit Harapan, Mama Sinta, Papa Arsad dan Putri pun langsung menuju bagian informasi.
"Selamat siang Pak, ada yang bisa saya bantu?" Ucap seorang petugas bagian informasi.
"Selamat siang, pasien kecelakaan atas nama rizki, Sus, ada dimana ya?" Tanya Pak Arsad
"Ooh, pasien kecelakaan atas nama rizki ada di ruang IGD Pak. Lurus, nanti belok kanan ya Pak."
"Baik Sus, terimakasih."
"Sama-sama Pak."
*****
Sesampainya diruang IGD, Papa Arsad, Mama Sinta dan Putri menunggu seorang dokter atau suster keluar dari ruangan tersebut. Putri yang gelisah memikirkan keadaan sang suami, membuat Putri bulak-balik didepan pintu ruang IGD.
Ceklek
Suara pintu dibuka
Seorang dokter keluar dari ruangan tersebut dengan wajah yang tertunduk. Papa Arsad dan Mama Sinta yang melihat seorang dokter keluar dari ruangan tersebut, pun langsung berdiri dari tempat duduk yang beliau duduki tadi bersama Mama Sinta. Dan langsung menghampiri dokter tersebut, untuk menanyakan keadaan anaknya. Begitu pun Putri, langsung menghampiri dokter tersebut.
"Dokter, bagaimana keadaan rizki anak saya Dok?" Tanya Mama Sinta
"Bagaimana kondisi suami saya Dok?" Tanya Putri ikut menanyakan keadaan suaminya
"Dengan keluarga pak rizki?" Tanya dokter tersebut
"Iya dok, kami keluarganya. Bagaimana keadaan anak saya dok?" Tanya Papa Arsad
Dengan wajah yang tertunduk dan sedih, dokter tersebut dengan berat hati menyampaikan berita duka.
"Maaf, pasien tidak dapat diselamatkan. Karena pasien mendapatkan benturan dikepala yang cukup keras hingga membuat kepala pasien mengalami pendarahan."
"Apa? Tidak mungkin dokter. Suami saya tidak mungkin meninggal kan dok? Dokter pasti bercanda kan?" Ucap Putri, syok, Putri langsung jatuh terduduk saat mendengar perkataan dokter tersebut.
"Tolong selamatkan anak saya dok!" Mohon Mama Sinta kepada dokter, sambil menggenggam tangan dokter.
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin nyonya, namun tuhan berkehendak lain."
"Tidak, anak kita tidak meninggal kan Pa?" teriak Mama Sinta
"Ma, tenangkan dirimu Ma." ucap Papa Arsad
"Kami Permisi dulu. Kami turut berduka Tuan dan Nyonya." Pamit dokter, meninggalkan IGD menuju ruangannya.
Saat Putri mengetahui keadaan suaminya, Putri pun langsung masuk keruangan tersebut. Disusul Papa Arsad dan Mama Sinta.
Putri berteriak histeris saat melihat keadaan suaminya. Putri langsung menggenggam tangan suaminya yang terbujur kaku dibrankar.
"Mas, bangun mas hiks."
" Jangan tinggalkan aku mas hiks."
"Kalau kamu pergi, aku bersama siapa mas? Aku nggak bisa hidup tanpamu mas hiks hiks!"
Mama Sinta yang melihat anaknya terbujur kaku tak bernyawa, menangis histeris dipelukan suaminya. Papa Arsad menepuk-nepuk punggung Mama Sinta, menenangkan istrinya.