
Part 3
Putri yang sedang didalam kamar, termenung mengingat sang suami, tiba-tiba merasakan mual.
"Hmph ..." Putri menutup mulutnya saat sesuatu yang ada di tenggorokannya hendak keluar, Putri buru-buru menuju kamar mandi.
Hoek ...hoek ...hoek ..
Suara Putri memuntahkan sesuatu, namun yang keluar hanya cairan bening. Putri terduduk lemas dilantai kamar mandi, sambil memijit keningnya yang terasa berdenyut.
Ibu Lisna yang hendak menuju kedapur dan harus melewati kamar Putri, pun khawatir saat mendengar suara Putri yang sedang muntah dan saat masuk kedalam kamar Putri Ibu Lisna terkejut melihat Putri terduduk dilantai kamar mandi.
"Astagfirullah, kamu kenapa nak?" Tanya Ibu Lisna khawatir
"Aku tidak apa-apa Bu." Jawab Putri yang masih terduduk lemas
"Ayo berdiri nak, ibu bantu." Ibu Lisna menggenggam tangan Putri, membantu Putri yang terduduk lemas.
"Kamu pucat sekali Put, kamu sakit nak?"
"Nggak ko Bu, Putri tidak sakit. Mungkin ini faktor Putri sedang hamil Bu." Ucap Putri
"Maksud kamu?"
"Putri sedang hamil Bu, usia kandungan Putri sudah 9 minggu." Putri menjelaskan kepada Ibunya bahwa Putri sedang mengandung.
"Alhamdulillah, kamu hamil. Selamat ya Nak sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ibu."
"Hmmphh ...Apa almarhum suami mu tau Nak, kamu sedang mengandung?" Tanya Bu Lisna ragu
Wajah Putri pun langsung bersedih saat mengingat almarhum suaminya. Tanpa terasa airmatanya pun mengalir dipipinya.
"Mas rizki sudah tau Bu. Sebelum kecelakaan terjadi Putri sedang berbicara dengan Mas rizki, Putri memberi tau Mas rizki kalau Putri sedang hamil Bu...hiks, Mas rizki sangat bahagia saat Putri beritahu Bu...hiks. Tetapi kenapa Mas rizki malah tinggalin aku Bu...hiks!!" Tutur Putri terisak saat menjelaskan pada Ibunya. Putri langsung memeluk ibunya.
"Ya tuhan, kenapa kau berikan cobaan yang berat untuk anakku!" Gumam Ibu Lisna dalam hati
"Sabar ya Nak, Ibu yakin kamu pasti kuat menghadapinya. Nanti kita rawat sama-sama anak yang ada dalam kandungan kamu setelah bayi ini lahir." Ucap Ibu sambil memeluk Putri, kemudian mengelus perut Putri yang masih rata.
"Iya Bu."
"Apa mertuamu tau kamu sedang hamil, Nak?" Tanyanya
"Tidak Bu, mama sinta belum tau."
****
Disaat usia 23 tahun, Putri Melani Alfiana yang biasa dipanggil Putri harus menyandang status janda beranak satu. Keseharian Putri hanya didalam kamar, Putri yang selalu mengingat mendiang suaminya membuat Putri selalu menyalahkan dirinya atas kejadian naas yang menimpah suaminya. Ibu Lisna yang melihat anaknya semakin kurus dalam kehamilannya, membuat ibu Lisna bersedih karena Putri tidak seperti wanita hamil lain umumnya saat mengandung. Hari demi hari, minggu demi minggu dan bulan demi bulan pun terlewati. Kandungan Putri saat ini sudah mencapai usia 9 bulan.
Putri yang baru saja terbangun dari tidur siangnya, menuju kamar mandi untuk membasuh mukanya. Namun kesadaran Putri yang belum terkumpul sepenuhnya, membuat Putri terjatuh dilantai kamar mandi yang licin.
Brrukkk
Aakh ...
"Isshh ...akh!" Rintih Putri memegangi perutnya yang terasa sakit
"Bu ...tolong Putri Bu!" Teriak Putri didalam kamar mandi
Ibu Lisna yang saat itu berada didalam kamar, terkaget saat mendengar teriakan Putri. Ibu Lisna pun menuju kamar Putri, namun Putri tak ada didalam kamar. Setelah mendengar kembali teriakan Putri yang berada dikamar mandi, ibu Lisna bergegas menuju kamar mandi. Ibu Lisna terkaget saat melihat Putri duduk dilantai kamar mandi sambil merintih memegangi perutnya.
"Astagfirullah ...kamu kenapa, Nak?" Tanyanya
"Bu, perut Putri sakit Bu." Ucap Putri. Ibu Lisna langsung membantu Putri berdiri. Dan mengajak Putri kerumah sakit.
"Ayo ...kita kerumah sakit Nak!"
Bu Lisna memdudukkan Putri dibangku teras rumah, ibu Lisna berniat mencari bantuan kepada tetangganya. Karena jarak rumah bu Lisna menuju jalan raya cukup jauh, dan tidak memungkinkan untuk Putri berjalan saat ini. Beruntung saat itu pak Bagas sedang berada diteras rumahnya, bu Lisna pun meminta tolong kepada pak Bagas.
"Assalammualaikum ..." Ucap salam bu Lisna didepan pintu pak Bagas
"Ada apa bu Lisna?" Tanyanya
"Pak Bagas, saya boleh meminta tolong?"
"Tolong apa ya Bu?" Tanya pak Bagas
" Pak, tolong bantu saya kerumah sakit. Putri terjatuh dari kamar mandi, Putri harus segera dibawa kerumah sakit pak."
"Astaga, ayo Bu segera kita kerumah sakit." Ucap pak Bagas, beliau langsung kedalam rumah untuk mengambil kunci mobil, sebelumnya pak Bagas berpamitan kepada istrinya untuk mengantar Putri kerumah sakit.
Didalam mobil Putri merasakan sakit diperutnya, ibu Lisna yang duduk disamping Putri berusaha menenangkan Putri yang merintih kesakitan.
"Bu, perut Putri sakit sekali Bu." Ucap Putri sambil meringis merasakan sakit diperutnya.
"Sabar ya Nak, sebentar lagi kita sampai dirumah sakit." Balas bu Lisna
"Bu, ini air apa ya Bu?" Tanya Putri, saat Putri merasa tubuh bawahnya merasakan air yang mengalir dibawah kakinya.
"Astagfirullah, air ketubannya pecah Nak."
"Pak Bagas, bisa cepat sedikit. Air ketubannya sudah pecah pak." Ucap bu Lisna kepada pak Bagas
"Ini Bu, sebentar lagi kita sampai."
Sesampainya didepan rumah sakit, pak bagas meminta izin kepada bu Lisna untuk menggendong Putri.
"Suster, tolong anak saya ingin melahirkan." Ucap bu Lisna saat melihat suster
Putri pun langsung dibaringkan dibrankar, dan dibawa keruang bersalin. beberapa jam pun berlalu, akhirnya Putri melahirkan seorang bayi yang sangat tampan. setelah itu Putri dipindah keruang rawat yang berisikan beberapa orang yang telah melahirkan juga.
Pak Bagas yang masih menemani bu Lisna saat Putri melahirkan, berpamitan untuk pulang.
"bu Lisna, saya pamit pulang dulu ya." pamit pak Bagas
"oh iya pak, terimakasih banyak pak Bagas sudah mau menolong saya."
"Sama-sama Bu, kita ini kan tetangga Bu jadi harus tolong-menolong." ucap pak Bagas. "kalau begitu saya permisi dulu bu Lisna."
"Baik pak, sekali lagi terimakasih banyak."
****
Setelah kepergian pak Bagas, tak lama kemudian anak yang baru dilahirkan Putri dibawa oleh suster ketempat ruang rawat Putri berada untuk diberi asi.
"Selamat malam bu Putri." sapa seorang suster
"Selamat malam sus." balas Putri
"Ini bayi ya Bu, tolong diberi asi." ucap suster
"Baik sus."
Putri yang sedang memberi asi kepada putranya, meneteskan airmatanya saat melihat putranya yang begitu mirip dengan mendiang suaminya.
"Mas, lihatlah putra kita begitu mirip denganmu." ucap Putri dalam hati
Putri pun berjanji untuk bangkit dari keterpurukannya dan mengikhlaskan kepergian almarhum suaminya. putri bertekad untuk merawat dan membahagiakan putranya dengan cinta dan kasihnya.
**Hai reader semua ...
ini novel pertama saya, maaf bila alur berantakan dan typo bertebaran dimana-mana.
mohon dukungannya, jangan lupa like, komen dan votenya.
terimakasih ...🙏🙏**