Father to My Son

Father to My Son
Part 2



Part 2


Kediaman Arsad


Jenazah rizki pun dibawa pulang keluarganya untuk dikebumikan. Dirumah Mama Sinta banyak para pelayat berdatangan, dari sanak saudara mama Sinta dan papa Arsad. Dan rekan kantor tempat rizki bekerja. Ibu Lisna, orangtua Putri langsung bergegas datang saat mendengar kabar bahwa menantunya meninggal dalam kecelakaan.


Ibu Lisna saat ini sedang mendampingi Putri yang terbaring dikamar. Saat itu Putri terjatuh pingsan disaat jenazah sang suami sampai dirumah, karena tak kuasa melihat jenazah sang suami.


"Eugh ..." Suara Putri tersadar dari pingsannya. Sambil memegang kepalanya yang terasa pening.


"Nak, kamu sudah sadar?" Tanya Ibu Lisna kepada Putri


Dengan tatapan yang kosong, Putri mengingat keadaan suaminya.


"Bu, mas rizki Bu! Mas rizki pergi ninggalin aku Bu." Ucap Putri terisak, memeluk ibunya dengan erat.


"Yang sabar ya nak, kamu harus kuat, kamu harus mengikhlaskan suamimu pergi." Ucap ibu sambil menepuk-nepuk pelan punggung putrinya, menguatkan Putri.


"Ini salah Putri Bu, kalau Putri tidak menelpon mas rizki saat dijalan, mungkin mas rizki nggak akan pergi ninggalin Putri Bu hiks hiks." Tutur Putri


"Ini bukan salah kamu nak, ini sudah suratan takdir nak rizki dari tuhan. Hidup didunia sampai diumurnya yang saat ini."


"Ibu bagaimana dengan Putri Bu?"


"Sabar ya nak. Ayo kita turun kebawah, suamimu akan segera dimakamkan. Kamu tidak mau melihat suamimu yang terakhir kalinya." Ucap Ibu Lisna mengajak Putri melihat jenazah suaminya untuk terakhir kalinya.


"Baik Bu. Ayo kita turun kebawah."


Ibu Lisna pun sedikit merapikan penampilan anaknya yang terlihat acak-acakan. Menghapus airmata yang ada dipipi sang anak dan merapikan rambut Putri yang acak-acakan dengan menguncir rambut Putri dan memakaikan kerudung hitam di kepala Putri.


Ibu Lisna menggenggam tangan Putri saat menuruni tangga, saat melihat Putri berjalan dengan tatapan kosong melihat jenazah sang suami dari kejauhan.


*****


Selesai memakamkan rizki, sebagian orang pergi dari pemakaman menyisakan Papa Arsad, Mama Sinta, Ibu Lisna dan Putri. dari proses pemakaman sampai selesai pemakaman Putri tak henti-hentinya menangis, bahkan Putri sempat terjatuh pingsan kembali saat proses pemakaman berlangsung. Diatas gundukan tanah yang berwarna coklat dan masih basah tersebut, Putri kembali menangis.


"Mas, kenapa kamu pergi meninggalkan aku mas?"


"Maafkan aku mas, semuanya ini salah aku mas. Seharusnya aku tidak menelpon kamu saat itu."


Mama Sinta yang mendengar perkataan Putri, terheran dengan maksud perkataan Putri.


"Apa maksudnya?" Gumam Mama Sinta dalam hati


Sesampainya dirumah mertua Putri, Mama Sinta pun langsung menanyakan perihal perkataan Putri saat dipemakaman tadi.


"Putri, Mama mau bicara sama kamu! Kemari, duduklah." pinta Mama Sinta


"Iya Ma, ada apa Ma." Putri pun duduk disofa disamping Mama Sinta.


"Apa maksud kamu saat dipemakaman tadi."


tanyanya kepada Putri


"Yang mana Ma?"


"Menelpon."


Putri tak langsung menjawab pertanyaan mertuanya, karena merasa bersalah atas kejadian yang menimpah rizki.


"Putri ..."


Putri yang terdiam menundukkan kepala menatap lantai, sambil meremas tangannya pun terkaget mendengar suara Mama Sinta yang naik 1 oktaf.


"Maafkan Putri Ma!!"


"Untuk?"


"Maafkan Putri. Seharusnya Putri tidak menelpon mas rizki saat mas rizki sedang mengemudi saat itu. Maafkan Putri Ma!" Ucap Putri terisak kembali


"APA!!!"


Plakkk


Ibu Lisna yang sedang duduk, terkejut dengar suara tamparan yang begitu kencang. Apalagi saat melihat Putri yang terkena tamparan dari mertuanya. Memegang pipi kanannya yang terasa perih.


"Kenapa Ibu menampar Putri?" Tanya Ibu Lisna kepada Mama Sinta


"Cih, tanya saja anakmu yang sudah membunuh suaminya sendiri."


"Apa maksud Ibu?"


"Dasar wanita pembawa si all. Pergi kamu dari rumah ini."


"Bu, tolong Bu, kita bicara baik-baik. Ini murni kecelakaan Bu, bukan salah Putri. ini sudah jalan nak rizki menghadap sang illahi."Ucap Ibu Lisna menangis, melihat anaknya dihina.


Papa Arsad yang sedang berada dikamar untuk mengganti baju, pun langsung keluar saat mendengar suara teriakan dari istrinya.


"Apa apa Ma? Kenapa Mama teriak-teriak." Ucap Papa Arsad saat sampai dibawah.


"Ini Pa. Menantu kita pembawa si all. Dia yang sudah membunuh anak kita."


"Apa maksud Mama? Kenapa Mama berbicara seperti itu, Putri menantu kita Ma."


"Cih, menantu. Tidak sudi aku mempunyai menantu pembunuh. Dia yang menyebabkan putra kita meninggal Pa. Sudah tau rizki sedang mengemudi, kenapa dia menelpon rizki Pa."


"Cukup Ma, rizki meninggal karena kecelakaan bukan karena Putri."


Putri yang mendengar perkataan mama mertuanya, membuat Putri bertambah menyalahkan dirinya.


Mama Sinta yang tak menerima kematian anaknya, menyalahi Putri atas kematian rizki. Mama Sinta mengatakan Putri menantu pembawa si all. Saat itu juga Putri diusir keluar dari rumah mertuanya.


"Dasar menantu pembawa si all, kamu sudah membunuh anakku rizki. Pergi kamu dari sini, jangan pernah kamu menginjakkan kakimu disini lagi." Kelakar Mama Sinta penuh emosi. Sambil menarik-narik tangan Putri, menyeret Putri keluar pintu. Kemudian menghempaskan tubuh Putri dengan sangat kencang kelantai. Tanpa tau saat itu Putri sedang mengandung.


Putri yang dihempaskan Mama mertuanya secara reflek memegangi perutnya melindungi janin yang ada diperutnya.


"Maafkan aku Ma, aku tidak bermaksud membuat mas rizki celaka Ma." Ucap Putri memohon ampun dengan kedua tangan didepan dada kepada Mama Sinta, dengan deraian airmata dipipi Putri. Namun Mama Sinta tak mengubris ucapan Putri sedikitpun.


"Mah, jangan seperti ini Ma. Putri itu menantu kita Ma, tanggung jawab kita."


"Sekarang Papa pilih, Mama yang pergi atau perempuan itu yang pergi!!"


"Biar Putri yang pergi Ma." Ucap Putri, karena tak ingin melihat mertuanya bertengkar.


"Bagus bila kamu sadar diri."


Ibu Lisna hanya mampu menangis saat anaknya dicaci maki oleh mertuanya. Karena saat ingin berkata Putri melarang Ibunya mengucapkan sepatah katapun.


Saat itu juga Putri dan Ibunya pergi dari rumah mertuanya. Ibu Lisna mengajak Putri pulang kerumah yang Ibu Lisna tempati selama ini. Rumah sebelum Putri menikah dengan rizki.