
Keesokan harinya saat Putri baru saja tiba ditempat ia bekerja. Restu, sahabat baik Putri langsung memberondong begitu banyak pertanyaan kepada Putri terkait kejadian kemarin. Karena saat itu Putri dan Restu, tidak berada dalam satu shif kerja.
"Putri ..." panggil Restu
"Restu, kamu masuk pagi juga?" tanyanya
"Iya. Oiya Put ...aku dengar tadi dari teman-teman, kamu kemarin menabrak seorang wanita. Ko bisa? Lalu apa yang terjadi Put? pak Hamid marah-marah tidak? Kamu tidak dipecatkan?" tanya Restu dengan beruntun
"Ck, banyak sekali sih pertanyaan kamu Tu. Kalau nanya tuh satu-satu apa, bingung aku tau mau jawab yang mana." jawab Putri
"Hehe ... iya maaf! Lalu gimana ceritanya Putri, cerita dong sama aku."
"Hemm ...jadi gini ceritanya-!" saat Putri akan bercerita kepada Restu, perkataannya terpotong. Seorang rekan kerja Putri memanggilnya.
"Put, kamu dipanggil pak Hamid untuk keruangannya." Ucap seorang pria bernama Muklis, saat didekat Putri.
"Oh iya, saya kesana sekarang. Terimakasih ya sudah diberitahu." Ucapnya
"Sama-sama Put." Ucap Muklis, kemudian pergi dari hadapan Putri dan Restu.
"Put, kira-kira pak Hamid memanggil kamu kenapa ya? Semoga kamu tidak dipecat ya Put." Ucap Restu khawatir
"Semoga saja Tu." Ucap Putri yang merasa gelisah
****
Sampai didepan pintu ruang sang manajer, Putri mengetuk pintu menunggu dipersilakan masuk.
Tok tok tok
"Masuk ..." Suara pak Hamid dari dalam ruangan.
"Bapak mencari saya Pak?" Tanyanya
"Iya Put, silakan duduk dulu."
"Baik Pak." Putri duduk dibangku berhadapan dengan sang manajer.
"Hemm ...begini Put, saya ingin meminta maaf kepada kamu, dengan berat hati saya menyampaikan kepada kamu. Mulai hari ini kamu tidak bekerja disini lagi." Jelas pak Hamid
"Ma-maksud Bapak, saya dipecat?" Tanya Putri
"Maafkan saya Put, saya tau kinerja kamu baik, kamu telaten dalam mengerjakan sesuatu. Saya pun merasa keberatan harus kehilangan karyawan sepertimu. Namun saya tidak bisa berbuat apa karena saya disini sebagai manajer restoran." Ucapnya
"Pak, tolong jangan pecat saya pak?" mohon Putri
"Maafkan saya Put. Semalam pemilik restoran ini menelepon saya, dan meminta karyawan yang membuat masalah kemarin dipecat." Ucap pak Hamid tertunduk. Pak hamid sebenarnya merasa keberatan atas pemecatan Putri, karena pak Hamid menyukai kinerja Putri. Putri merupakan pekerja kerja, telaten, dan tepat waktu.
"Baiklah Pak. Tetimakasih sudah mau menerima saya bekerja disini." Putri beranjak dari tempat duduknya, saat ingin melangkah pak Hamid memanggil Putri kembali.
"Putri, tunggu sebentar."
"Iya pak, ada apa?"
Pak Hamid membuka laci mejanya, kemudian ia mengambil sebuah amplop berwarna coklat.
"Ini gaji kamu selama 3minggu ini, dan didalamnya juga ada pesangon untukmu. Bapak berdoa semoga kamu mendapatkan pekerjaan yang lebih baik lagi." Ucapnya
****
Diruang karyawan Putri sedang merapikan barang-barangnya yang hanya beberapa barang didalam loker kedalam tasnya. Putri hanya meninggalkan seragam bekerjanya, didalam loker. Saat sedang merapikan barangnya, Restu masuk keruangan tersebut. Restu terheran dengan apa yang sedang dilakukan Putri, pun menghampirinya.
"Put, kenapa kamu merapikan barang-barangmu? Jangan bilang kalau kamu dipecat?" tanyanya
Putri tersenyum getir, "Iya Tu, mulai hari ini aku sudah tidak bekerja disini lagi."
"Ya ampun, sabar ya Put." Restu langsung memeluk sahabatnya itu.
"Iya ...tidak apa-apa Tu, terimakasih ya sudah mau menjadi sahabatku selama aku bekerja disini." Putri balas memeluk Restu
"Aku pasti akan kesepian Put." Mata Restu berkaca-kaca, merasa kehilangan sahabat baiknya.
"Mainlah kerumah ku nanti, pintu aku selalu terbuka untuk dirimu." Hibur Putri, melihat mata Restu yang berkaca-kaca.
"Aahh ..so sweet, chayangnya aku!" Pekik Restu
"Ck, dasar Oneng."
"Ya sudah, aku pergi dulu ya." Pamit Putri
"Iya, hati-hati dijalan ya. Kapan-kapan aku mampir kerumahmu. Aku doakan semoga kamu mendapatkan pekerja yang lebih baik lagi." Restu memeluk Putri kembali
"Amin ..."
Putri meninggalkan ruangan tersebut dengan langkah yang gontai dan wajah yang bersedih. Putri cukup merasa kehilangan, meskipun baru satu setengah tahun bekerja disana. Putri merasa nyaman, ditambah teman-teman disana sangatlah baik.
****
Sesampainya dirumah, Putri mengucapkan salam dan mengetuk pintu, namun tidak ada yang menjawab dan membukakan pintu. Putri membuka pintu rumahnya dengan kunci cadangan yang biasa ia bawa saat bekerja shif siang. Karena bila putri bekerja shif siang, putri akan pulang malam, membuat putri membawa kunci cadangan. Agar saat Putri pulang tak mengganggu ibu dan anaknya yang sedang tertidur. Saat pintu terbuka Putri melihat ke arah jam dinding yang saat ini menunjukkan pukul 09.30 wib. Putri tau, ibunya saat ini sedang pergi kepasar bersama sakha. Biasanya putri yang berbelanja, karena stok makanan sudah habis dan Putri bekerja shif pagi, ibunya menggantikan Putri berbelanja dipasar. Putri langsung menuju kamarnya. sesampainya dikamar putri meletakkan tasnya dimeja rias. Kemudian Putri merebahkan tubuhnya diranjang, hingga tanpa sadar Putri terlelap.
Jam menunjukkan pukul 10.30 wib, Putri terbangun dari tidurnya. sakha membangunkan Bundanya yang tertidur pulas dengan menggoyangkan lengannya secara pelan.
"Unda, Unda, angun." ucapnya
"ehmm ...Bunda ketiduran Nak. Sakha habis pergi kemana dengan eyang?" tanyanya
"te pasal Unda!" jawabnya
"sakha beli apa, Nak. dipasar?" tanya Putri kembali
"tadi iang beli wotel (wortel), ayul (sayur),itan (ikan), OO sama endok Unda." jawabnya
"Bukan OO sayang tapi, ayam. Terus endok itu telur." jelas Putri
"OO Unda ..." rajuk sang anak, mengerucutkan bibirnya.
"Ya sudah, OO deh!" gemas Putri melihat putranya merajuk
"Ayo kita kedapur bantu eyang memasak."
"Ayuk ..." sakha menggenggam tangan bundanya menuju dapur, setelah Putri membasuh wajahnya.