FALL IN LOVE

FALL IN LOVE
Bab- sembilan



"Imelda!! Ya Allah, gue kangen banget sama lo."


Suara Derain yang nyaring membuat Imel meringis, telinganya terasa sakit saat Derain memekik seperti tadi.  Baru saja dia masuk sekolah, tetapi disambut oleh suara Derain yang benar-benar membuat telinga sakit.


Derain langsung memeluk Imel yang baru aja hendak duduk di bangkunya. Tubuh Imel sedikit terhuyung akibat Derain, untung saja Imel bisa menahannya jika tidak, mungkin mereka berdua akan terjatuh dalam keadaan konyol.


"Derain, sakit," cicit Imel merasa kehabisan napas saat Derain memeluknya dengan begitu erat.


Derain lantas melepaskan pelukannya, dan menyengir kuda pada Imel. "Hehehe..., lagian gue kangen sama lo. Yah, walau cuman dua hari nggak masuk. Tapi– gue kesepian."


Imel menggelengkan kepala heran. "Ada-ada aja kamu. Paling selama aku nggak masuk, kamu asik ngapelin Geri kan? Hayo ngaku."


Derain melongo dan menggeleng cepat. "Eh— enggak kok. Kurang kerjaan apa nemuin tuh cowok."


Imel memincingkan mata mengintimidasi. Ia merasa jika Derain berbohong. Tidak mungkin Derain munafik akan hatinya. Mulut mungkin bisa berdusta, namun mata dan hati tidak akan bisa berdusta. Geri, adalah cowok kelas sebelah yang Derain kagumi secara diam-diam. Kata Derain, Geri itu pacarable, dan terlebih lagi orangnya kalem-kalem manis. Hal ini yang membuat Derain terpesona oleh cocok itu.


"Mata kamu mudah ketebak Derain, udahlah kalau suka buruan bilang nanti diambil orang lo," ujar Imel.


Derain mendesis, lalu mencubit hidung Imel gemas. "Lo juga kali, Imel. Buruan bilang ke Kak Excel. Kalau lo suka dia. Makai acara buat pesawat kertas segala lagi."


Imel meronta, lalu mengelus hidungnya. "Sakit tahu," decak Imel.


"Bilang suka itu nggak mudah, terlebih lagi Kak Excel keliatan cuek banget." Pikiran Imel melayang saat kejadian di koridor waktu itu. Waktu di mana dia dan Regi hendak ke kantin, dan berpapasan dengan Excel.


"Cuek sih nggak masalah, Mel. Lagian cowok cuek itu lebih menantang, deh," ujar Derain tersenyum.


"Terserah, deh. Aku mau nulis lagi, sekalian mau ke ruangan jurnalistik. Lama enggak ke sana," ucap Imel dan duduk dibangkunya, lalu ia mengeluarkan sebuah buku dari dalam tas.


"Nggak ngirim ke Kak Excel lagi?" tanya Derain.


"Abis nulis ke mading baru ke Kak Excel," jawab Imel.


"Nulis terus, sampai nama lo sama nama kak Excel tertulis dibuku nikah," celetuk Derain.


"Aaminn," sahut Imel cekikikan.


"Astaga, nih anak emang bucin."


Imel menanggapi ucapan Derain dengan menjulurkan lidah, mengejek. Lalu, ia kembali ke aktivitasnya. Pulpen Imel menari-nari di atas kertas, sesekali Imel mengetuk-ngetukkan pulpen itu ke dahi. Ia tengah memikirkan kembali ide-ide yang cocok untuk puisinya kali ini.


Dalam senja, kuukir sebuah kisah.


Bukan kisah cinta maupun dusta.


Ini semua tentang hidupku,


yang tak lagi sama.


Semua berubah dengan seiringnya waktu.


Aku hidup dalam derita, dan sandiwara.


Teringat olehku, masa-masa di mana aku masih merasakan kehangatan.


Kehangatan dari sebuah keluarga.


Di sini aku hanya ingin bercerita, dan mengatakan, bahwa aku merindukan kehangatan kedua orangtuaku.


Karena, tak ada lagi tempat sehangat dari keharmonisan keluarga.


I.m-


_______________


Kini Imel tengah berada di ruangan jurnalistik. Seperti biasa, Imel akan menyetor hasil karyanya agar dipajang di mading sekolah. Selain itu, Imel ingin semua tahu, bahwa dunia literasi harus ditingkatkan, mengingat bahwa zaman sekarang tingkat baca di era millenial sangat jarang kebanyakan anak sekarang lebih suka bermain game online ketimbang membaca.


"Astaga, Mel. Gue mau nangis baca tulisan lo yang ini. Tumben banget lo kirim ke kita tulisan kek gini. Biasanya kan lo nulis cinta-cintaan." Derka begitu hebohnya saat membaca tulisan Imel yang dikirim ke ruang jurnalistik.


Imel hanya tersenyum malu. Menurutnya, Derka agak berlebihan. "Kak, biasa aja kali. Lagian Imel juga iseng nulis kayak gitu."


"Keisengan yang membawa faedah namanya," sahut Derka.


Imel tertawa geli menanggapi ucapan Derka. "Kak, mungkin ini yang terakhir buat aku kirim karya lagi."


Derka terkejut saat Imel tiba-tiba berkata seperti itu. "Loh... Mel. Kenapa? Bukannya lo suka sama hobi lo ini?"


"Nggak kok, Kak. Imel cuman mau vakum dulu, sebentar doang kok," ujar Imel tersenyum memaksa.


"Lo ada masalah, Mel?" tanya Derka khawatir.


Imel menggelengkan kepala. "Enggak kok, Kak. Imel mau istirahat doang dari dunia literasi dan jurnalistik. Tenang aja, Kak, Imel pasti balik kok. Karena dengan nulis, Imel bisa ngungkapin segala hal yang terpendam di hati aku."


Derka hanya terdiam, dia sedang mencoba menelaah ucapan Imel. Jika itu yang Imel inginkan, Derka juga tidak bisa memaksa. Toh, itu adalah hak Imel.


"Kalau itu keputusan lo. Gue mah nggak bisa ngelarang. Tapi– sering-sering ke sini, ya. Ruang jurnalistik akan selalu terbuka buat lo," ucap Derka tersenyum.


Imel tersenyum. Ia bersyukur jika masih ada orang yang baik kepadanya. "Makasih, Kak. Kak Derka baik banget."


"Ya udah, Kak. Imel balik, ya. Ada urusan yang belum kelar," imbuh Imel.


Derka menganggukkan kepala. "Iya, Mel. Makasih karena lo selalu ada untuk mading sekolah."


"Iya, Kak. Imel duluan, dadah." Imel beranjak dari kursi, dan berjalan keluar.


Saat ini, Imel berniat menuju loker sekolah. Lebih tepatnya, ke loker Excel. Rutinitas yang biasa ia lakukan, mengirim pesawat kertas dan berharap agar Excel selalu membacanya.


Imel menoleh ke sekitar loker. Ia harus memastikan bahwa tak ada orang lain selain dia. Dengan cepat, Imel mengeluarkan pesawat kertas itu dari saku roknya. Sebelum memasukkan benda tersebut ke dalam celah loker, Imel terlebih dahulu mengecek pesawat kertasnya. Aman, tidak lecet sedikitpun.


Namun, saat Imel hendak memasukkan benda berbentuk pesawat itu. Tangannya tiba-tiba dicekal oleh seseorang. Tentu saja Imel terkejut dan menjatuhkan pesawat kertasnya.


"Akhirnya, gue ketemu sama orang dibalik pesawat kertas ini."


Seketika juga mata Imel membulat sempurna. "Kak Excel...."


____________


tbc!


vote+komen


lovyuu..