
Entah mengapa
Hati ini menjadi khawatir karenamu.
_________________
Tubuh Imel dibaringkan di pinggir kolam. Orang yang menyelamatkan Imel langsung menekan dada Imel, berusaha agar gadis itu mengeluarkan air kolam yang ditelannya. Tak ada respon dari Imel membuat dirinya cemas. Dia sedang mencoba mengingat materi pertolongan pertama pada korban tenggelam.
Cowok itu mendesah frustasi. Akhirnya, ia akan melakukan hal yang menjadi prosedur pertolongan pertama selain menekan dada korban. Salah satu tangannya menompang ke bawah leher Imel, sambil sedikit mengangkat dagu cewek itu. Ia mengambil napas dalam-dalam, lalu meniupkannya ke mulut Imel sambil menutup hidung cewek itu. Ia mengulangi pemberian napas buatan tersebut. Sudah ketiga kalinya, ia beralih kembali menekan dada Imel. Akhirnya, cowok itu bernapas lega, saat Imel mulai memuntahkan air kolam yang terminum olehnya.
Imel terbatuk-batuk, dan mencoba menghirup napas yang terlihat kesulitan.
"Bawa dia ke kamar gue," ujar Regi.
Tanpa berpikir panjang. Cowok tadi membopong tubuh Imel, dan membawanya masuk ke dalam. Regi, dan Derain juga membuntuti Imel.
Sebelum Derain membututi langkah Regi. Ia mendekati Luna yang berdiri tak jauh darinya.
"He, lo cewek bar-bar."
Luna menoleh ke arah Derain.
"Kalau sampai Imel kenapa-napa. Lo bakalan kena sama gue! Camkan itu!" hardik Derain, lalu ia melangkah pergi.
Sementara, cowok tadi mendengus kesal. Untung saja dirinya bisa menyelamatkan Imel, jika tidak. Mungkin sesuatu yang tidak diinginkan akan terjadi.
Semua yang menyaksikan kejadian tadi tentu terpesona oleh aksi heroik cowok tersebut. Mereka hanya membicarakan si penyelamat, tak memandang Imel yang hampir saja tenggelam.
Benar-benar membuat si penyelamat tersebut kesal. Seharusnya mereka membantu, bukan menikmati sebuah tontonan.
___________________
Imel mengerjap-ngerjapkan matanya saat cahaya lampu menyoroti dirinya. Ia mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam kornea. Saat Imel membuka kedua kelopak matanya, hal yang ia rasakan adalah rasa pusing yang mendera.
Imel mengamati sekelilingnya, kamar yang bernuansa maskulin dan aroma parfum, menyeruak di indera penciumannya, membuat Imel tersadar bahwa ia berada di kamar lelaki.
"Lo udah sadar?" suara berat membuat Imel terlonjak kaget.
Imel menoleh, matanya membulat saat mengetahui siapa yang bertanya kepadanya. Mata yang dingin, nan tajam serta raut wajah yang benar-benar tampan seakan-akan berusaha menerkam dirinya.
Imel lantas hanya mengangguk.
"Tunggu."
Ucapan Imel seketika membuat langkah orang itu terhenti, dan berbalik menatap ke arah Imel. "Ya?"
"Maaf aku ngerepotin kalian semua. Seharusnya aku nggak usah datang," ujar Imel menunduk sendu. Air matanya ingin mendobrak keluar.
"Nggak usah nyalahin diri lo, semua ini bukan salah lo."
Imel mengusap air matanya. "Kak Excel, boleh minta tolong?"
Excel mengangguk.
"Aku haus, boleh ambilin air minum," cicit Imel malu-malu.
Excel mengangguk dan berjalan mendekati meja, membawakan segelas air minum untuk Imel.
"Mau gue bantu buat minum?" tawar Excel dengan gelas yang masih dipegangnya.
Imel terkejut. Apa dia tidak salah dengar? Mengapa detak jantung ini tidak bisa terkontrol? Imel benar-benar sesak seketika, bayangkan saja. Ditawari oleh seseorang yang kalian kagumi, rasanya benar-benar deg-degan.
"Ehmm–iya," jawab Imel lirih.
Excel langsung membantu Imel duduk bersender dengan bantal, lalu menyodorkan gelas itu ke mulut Imel dengan pelan-pelan.
Dirasa sudah cukup, Excel membaringkan Imel kembali, dan menyelimuti tubuh Imel sampai leher.
Imel yang diperlakukan manis oleh Excel hanya bisa menahan napas. Bolehkah Imel berharap lebih jauh pada Excel? Imel merasa kebahagiaannya kali ini. Tak akan bisa ia tuangkan dalam bentuk apapun.
"Lo istirahat dulu, aja. Gue keluar sebentar buat ngasih tau ke yang lain," ujar Excel dibalas anggukan Imel.
Tak mengeluarkan sepatah kata lagi, Excel melenggang pergi meninggalkan Imel sendirian.
Dalam hati, Imel menjerit dan berteriak. Dia masih tidak menyangka, merasa tadi hanyalah mimpi belaka.
"Kak Excel, kakak bikin jantung Imel sakit."
"Kakak harus tanggungjawab."
Imel menjadi gemas sendiri, pelampiasannya berakhir dengan meremas guling di sebelahnya.