FALL IN LOVE

FALL IN LOVE
bab- sepuluh



Seseorang yang selama ini kupandang dari jauh.


Bagaimana kabarmu?


Kuharap kau baik-baik saja.


Aku ingin mengatakan sesuatu.


Kini aku lebih mengagumi sang senja dibandingkan dirimu.


Jika kau tanya mengapa?  Tentu saja karena memiliku begitu sulit bagiku.


Di sini peranku hanya seorang penikmat,


Penikmat segala senyum yang terukir dibibir manismu.


Bagiku ini sudah cukup.


Aku hanya menunggu waktu..


Dan — sebentar lagi waktu itu akan tiba.


I.m-


"Jadi lo yang selama ini kirim pesawat kertas buat gue?"


Imel masih bungkam sembari menundukkan kepala tak berani menatap wajah Excel. Kini mereka berdua, tengah berada di belakang sekolah.


"Kenapa lo harus sembunyi kayak gini?"


"Karena aku nggak berani." akhirnya Imel membuka suara juga.


Excel melepaskan cekalannya, dan kedua tangan Excel berada di bahu Imel. Ia memandanginya dengan tajam. Sontak, Imel mengalihkan pandangannya. Dia tidak berani membalas tatapan Excel.


Lalu, tangan kanan Excel merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah benda dari dalam sana. Excel menunjukkan benda tersebut, tepat di wajah Imel.


"Lo tahu tentang kalung ini?" tanya Excel.


Melihat kalung yang ada dihadapannya. Imel terkejut, benda itu adalah miliknya. Dan, sekarang itu berada di tangan Excel. Dia harus bagaimana?


"Kok ada di kakak?" tanya Imel.


"Karena kalung ini datang ke gue sendiri," jawab Excel, sekenanya.


"Bagaimana mungkin?"


"Semua terasa mungkin disaat takdir kembali mempertemuka kita, Rani."


Deg!


Degup jantung Imel terasa berenti seketika. Nama itu benar-benar tidak asing baginya, nama tersebut membuatnya merasa sesak di dada. Imel berusaha menelan salivanya kasar.


"Rani... Nama panggilan buat lo, saat gue masih kecil," ungkap Excel.


Mata Imel membulat sempurna. Apakah ia tidak salah dengar?


"Masih ingat anak cowok yang nyelametin lo saat di danau?" tanya Excel, memancing.


Bagaimana tidak ingat? Tentu saja Imel ingat. Tidak mungkin ia melupakan seseorang yang berhasil menyelamatkan nyawanya.


"Itu gue, Mel," tambah Excel membenarkan.


"Gue, yang selama ini tiba-tiba menghilang dari lo semenjak gue memberikan kalung ini," jelas Excel.


Imel hanya terdiam. Sungguh, semua ini benar-benar mengejutkannya.


"Takdir itu lucu. Buktinya kita kembali dipertemukan lagi, setelah sekian lamanya kita berpisah."


"Gue masih nggak nyangka aja, ternyata orang yang dibalik pesawat kertas ini adalah lo. Seorang yang selama ini gue cari di dalam ingatan masa-masa  kecil kita." Excel menjauhkan tangannya yang bertengger di bahu Imel.


Sedangkan, Imel sendiri rasanya ingin menangis. Menangis karena ia kembali bertemu dengan sang penyelamatnya di waktu kecil.


"Kalung dan pesawat kertas ini yang membuat kita bertemu. Haruskah gue meluk lo?" tanya Excel, ia juga terharu sekaligus masih tidak menyangka.


Tanpa menunggu jawaban dari Imel. Excel langsung menarik tubuh Imel, dan memeluknya dengan erat. Menghantarkan segala rasa rindu yang membelenggu.


Imel tentu terkejut bukan main. Kini degupan jantungnya kembali berirama lebih cepat. Astaga, bisa-bisa dia kena serangan mendadak.


Excel mengusap rambut Imel dengan lembut. Sesekali ia mengucapkan kata 'akhirnya kita bertemu'


Hati Imel menghangat. Dirinya juga tidak menyangka, jika Excel adalah cowok kecil yang menyelamatkan hidupnya.


"Kenapa sekarang gue sadar akan hal ini?" lirih Excel. Jika kalian tahu, Excel menitihkan air matanya. Jangan bilang, jika seorang lelaki tidak akan menangis. Jika pun seorang lelaki menangis, itu berarti hatinya benar-benar setia.


Excek lantas melepaskan pelukannya. Dan, menangkup wajah Imel. "Mel, lo suka gue?"


Kening Imel mengernyit bingung. Mengapa Excel melontarkan kalimat tanya semacam itu?


"Mel, lo udah nggak bisa ngelak lagi. Karena selama ini, bahkan dua tahun ini. Hanya lo yang selalu ungkapin isi hati lo ke gue lewat cara unik ini," terang Excel.


"Mungkin ini terlalu cepat bagi gue. Lo mau jadi pacar gue? Meski gue terlambat untuk menyadari semua ini." Excel beralih menggengam kedua tangan Imel.


Imel jadi kikuk sendiri, sedikit canggung saat Excel menyentuh tangannya. Dalam hati, tentu aja ia senang. Imel tidak bisa membohongi rasa bahagianya.


"Hanya ada dua jawaban antara yes dan iya. Lo pilih salah satunya," ujar Excel tersenyum manis.


"Bukannya itu sama, ya," ucap Imel terlihat bingung.


"Yes atau iya," kata Excel.


"Kak.. Tapi–"


"Kita bisa mulai semua dari awal. Gue akan belajar memahami lo yang sekarang," jelas Excel menyakinkan.


Imel gugup, ingin menjawab tetapi untuk mengatakannya serasa keluh. Dan, Imel hanya mengangguk samar-samar sambil menunduk malu. Imel sudah memastikan bahwa pipinya sudah memerah padam. Imel malu sekali rasanya.


Excel terkekeh saat Imel menunduk malu-malu. Lelaki itu malah mengacak rambut Imel dengan gemas.


"Terima kasih, karena lo kembali hadir. Semua ini akan terasa manis, hidup gue tidak akan kembali monoton setelah bertemu kembali dengan lo, Imelda Maharani."


"I-imel juga seneng ketemu lagi sama kakak," ujar Imel tergugup.


"Lo lucu, sebenarnya gue udah sering mergokin lo di ruang jurnalistik. Awalnya gue nggak mikir sampai ke sini. Ternyata, benar-benar mencengangkan."


Imel hanya tersenyum.


"Btw, gue termasuk penggemar karya lo di mading. Boleh gue minta tanda tangan lo?" kata Excel tertawa geli.


"Boleh kok," jawab Imel senang.


"Gue harap lo bisa menghasilkan suatu karya dalam bentuk buku. Agar, semua orang tahu akan kemampuan lo," ujar Excel memberi saran.


Imel mengangguk. Namun, dalam hati berkata lain. Masih bisakah Imel meraih semua itu?


Excel langsung kembali memeluk Imel. Hatinya benar-benar bergejolak tidak karuan, sesuatu di dirinya ingin memeluk Imel lebih erat.


"Aku sayang kamu, koala kecilku," ujar Excel mengecup puncak kepala Imel.


"Imel juga sayang, Kak Angsaku."


Dan, detik itu juga, di hari itu pula. Semesta alam menjadi saksi di mana dua hati kembali terikat dan bersatu. Semilir angin menyambut kehangatan yang kembali tercipta di keduanya.


Semoga takdir tetap mempersatukan mereka berdua.


Di dalam hati mereka juga mengucapkan hal tersebut.


___________


Terima kasih sudah membaca.


Gimana?


Komen dong tentang bagian ini:*


Oh iya, aku mau mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya untuk readers.. Karena aku telah lama tidak update cerita ini.


Bukan malas yang menjadi alasan mengapa diriku tidak update.


Tetapi, saat itu aku sedang jatuh sakit dan membuatku harus mendapatkan perawatan intensif:") alhamdulillah skrg sudah lumayan sehat, bahkan aku bisa kembali mengetik.


Terlebih lagi, saya juga ikit casual:") yang memungkinkan waktu saya untuk mengetik itu sangat singkat.


Sekali lagi aku minta maaf:)


Dan terima kasih karena masih menunggu cerita ini.


Saya benar-benar terharu...


Ingin tahu kelanjutannya?


Ketemu lagi di bab Selanjutnya...


babay....