FALL IN LOVE

FALL IN LOVE
Bab- dua



Rasa suka itu kayak gulali.


Awalnya manis, namun makin lama terasa menghilang dengan seiringnya waktu.


Semoga itu tak terjadi denganku...


________________


Excel berjalan menuju kelas dengan tangan yang masih memegang sebuah pesawat kertas yang ia temukan di dalam lokernya. Awalnya Excel merasa risih dengan surat-surat yang selalu tertuju untuk dirinya. Namun, berbeda dengan pesawat kertas ini. Bagi Excel surat ini cukup unik, terlebih lagi isinya selalu menunjukkan teka-teki.


Saat melangkah menuju kelas. Excel tiba-tiba merasa ingin untuk melihat mading sekolah. Ia menantikan sebuah karya yang setiap harinya terpampang di dalam mading tersebut.


Dengan senyuman yang terbit di lengkungan bibir. Excel mendekati papan mading.


Dan di sinilah Excel berada, di depan mading sekolah. Matanya menyapu di segala kertas-kertas yang bertumpuk dalam mading tersebut. Berharap apa yang ia inginkan ketemu.


"Gotcha!" Excel tersenyum senang saat dirinya melihat lembaran kertas karton berwarna biru berada di antara kertas-kertas yang tertempel di mading.


Bibirnya menggumam pelan saat membaca tulisan tentang puisi yang membuatnya selalu menunggu kelanjutan rangkaian tulisan tersebut.


Dalam sebuah genggaman angan.


Aku selalu berusaha menggapai dirinya.


Ia yang selalu tersenyum,


Dikala membaca secarik puisi ini.


Membuat jiwaku menari di atas langit.


Inginku menggapai sang bulan, dan berkata,


bahwa aku telah berhasil membuat wajahnya tersenyum binar.


Bila kau tahu, perasaan ini semakin mendebar. Terlebih lagi disaat kau memegang sebuah pesawat kertas.


Yang menjadi saksi, awal perjuanganku.


I.m-


Kening Excel berkerut disaat dia membaca satu kalimat yang menjelaskan tentang pesawat kertas


Ditatapnya kembali pesawat kertas itu. "Jangan-jangan, yang nulis puisi di mading sama yang ngirim gue pesawat kertas ini adalah orang yang sama?"


Di balik tembok seorang gadis berambut sebahu tengah mengintip Excel yang tengah berada di depan mading. Bibirnya melengkung ke atas, membentuk senyuman yang tipis. Dalam hati ia berharap bahwa usahanya tak akan berakhir sia-sia. Bolehkah dia berharap yang lebih? Dari sekedar secarik kertas yang dibaca oleh Excel?


________________


Bell istirahat sudah menggema sekitar lima menit yang lalu. Seperti jam istirahat pada umumnya. Kebanyakan semua murid menghabiskan waktu istirahat untuk makan di kantin, atau melakukan kegiatan yang lainnya.


Sementara  Imel menghabiskan waktu istirahatnya di dalam kelas, sedangkan Derain tengah berada di kantin.


Di dalam kelas, Imel tengah mencari bahan untuk membuat karya puisinya. Dengan memakan bekal dari rumah, Imel kembali menulis dan membayangkan imajinasi yang tengah bermain-main di otaknya.


Hanya butuh waktu lebih dari lima menit. Kertas berwarna biru tersebut, sudah dipenuhi oleh goresan tinta hitam.


Imel tersenyum senang, disaat karyanya sudah siap untuk dikirim kembali. Sebelum itu, Imel terlebih dahulu melipat kertas biru tadi menjadi sebuah burung bangau.


"Mel."


Merasa namanya terpanggil Imel langsung menoleh ke arah sumber suara.


"Ya, Regi?" sahut Imel saat seorang cowok memanggil namanya.


Cowok yang bernama Regi tadi, langsung duduk di sebelah Imel. "Nggak ke kantin?" tanya Regi.


"Oh," balas Regi singkat.


"Kenapa emangnya?" tanya Imel.


"Nggak, gue cuman mau ngajak loh makan berdua. Itung-itung sebagai tanda traktiran gue," jawab Regi tersenyum.


Imel menjadi kikuk sendiri saat melihat lengkungan bibir Regi yang membentuk senyuman, ditambah lagi ada dua lesung pipi yang menambah kesan manisnya. Fyi, Regi adalah seseorang yang pernah Imel suka, namun dengan seiringnya waktu. Rasa suka kepada cowok itu menguap. Karena, menurut gosip yang beredar, Regi sudah memiliki kekasih dan kekasihnya tersebut berada di luar negeri. Daripada dikira mencoba merebut, lebih baik Imel mundur. Hingga akhirnya, ia kembali merasakan jatuh cinta. Siapa lagi, kalau bukan seseorang yang selalu Imel kirim pesawat kertas.


"Terima kasih, Regi. Mungkin kapan-kapan aja," jawab Imel.


Regi mengangguk mengerti. Lalu, ia merogoh saku celananya, dan mengeluarkan sebuah undangan yang cantik bentuknya.


"Mel, nanti malam datang, ya. Di pesta ulang tahun gue." Regi memberikan undangan tersebut, dan Imel menerimanya.


"Dresscode'nya ada di dalam undangan," jelas Regi memberitahu.


"Regi, ulang tahun?" wajah Imel menjadi berbinar.


Regi menggaruk tengkuknya. "Heheheh ... Iya, jadi tadi gue ngajak lo makan bareng. Karena, yah ini."


"Wah, jadi aku nyia-nyiain kesempatan pajak ulang tahun dong," ucap Imel memasang raut wajah sedih.


"Kalau mau ayo ke kantin. Gue laper banget," ajak Regi menawari lagi.


Imel terlihat menimbang-nimbang tawaran dari Regi. Dalam hati, jika ia menolak, rasanya tidak enak hati sendiri pada Regi.


"Ya udah, deh. Aku mau," putus Imel.


"Ayo, dah. Gas, keburu masuk," kata Regi bersemangat.


Imel mengangguk. Sebelum itu, ia terlebih dahulu membereskan semua barang-barangnya. Setelah selesai, mereka berdua segera berjalan menuju kantin.


Di tengah perjalanan menuju kantin. Secara tak sengaja, mereka berdua berpapasan langsung oleh Excel.


"Oy, Cel." Regi meneriaki nama Excel, membuat cowok itu menghentikan langkahnya.


"Ya?" sahut Excel, dan berjalan mendekati Regi.


"Eh kunyil. Nanti jangan lupa datang ke pesta gue," ujar Regi sambil memberikan Excel sebuah undangan.


"Oh, oke," jawab Excel singkat.


Imel yang berada di antara kedua cowok tersebut, merasa tegang sendiri. Dada Imel berdegup kencang disaat Excel berada tak jauh dari dirinya.


Diam-diam Imel mencoba curi pandang. Dalam hati, Imel menjerit girang. Dirinya merasa gemas sendiri, secara perlahan pipinya terasa memanas.


"Kenapa lo lihat  gue senyum-senyum kayak gitu?"


Glek! Imel terkejut saat dirinya tertangkap basah oleh seseorang yang ia pandangi diam-diam.


"Engghh– nggak kok, aku nggak ngeliatin kamu. Jadi, jangan geer," elak Imel.


Lantas Imel, menarik pergelangan tangan Regi. "Ayo, Regi. Keburu masuk."


Badan Regi terhuyung sedikit oleh tarikan tangan Imel.


"Gue duluan, Cel," ucap Regi.


Excel mengangguk. Sekaligus merasa heran dengan kelakuan Imel.


"Cewek aneh. Orang jelas-jelas tadi dia ngeliatin gue." Excel menggelengkan kepala heran. Dan, kembali berjalan menuju kelasnya.