FALL IN LOVE

FALL IN LOVE
Bab- satu



Memang tak mudah mengenal yang namanya cinta.


Cinta bisa membuat orang berbeda


Bagi yang mengenalnya.


Cinta adalah anugrah dalam hidupnya


Bagi yang tak mengenalnya.


Untuk mengenal cinta.


Kita harus benar-benar siap


Siap menghadapi realita yang ada.


Tak mudah untuk mendapatkan cinta


Kita harus butuh perjuangan yang lebih.


*Maka dari itu,


Aku harus berjuang untuknya.


seseorang yang telah berhasil menarik hati ini.


kan ku biarkan pesawat kertasku terbang bersama anganku....


**********


Tiada hari tanpa secarik kertas. Mungkin akan membuat seorang gadis bernama Imelda Maharani merasa bosan. Setiap ada waktu luang, ia gemar menghabiskan waktunya guna menulis sebuah rangkaian


puisi yang akan ia kirim ke mading sekolah.


Selain menulis puisi, Imel juga gemar menghabiskan bermain gitar di ruang musik. Selagi hal itu membuat dirinya merasa senang. Bagi Imel musik dan puisi adalah obat dikala dirinya merasa jenuh. Lewat lagu dan irama, Imel selalu mencoba mencurahkan segala isi hatinya. Lewat untaian kata, Imel juga selalu mencurahkan segala perasaannya.


"Nulis puisi lagi, Mel?"


Imel mendongak menatap seorang gadis berambut panjang dan berponi piak tengah. Gadis itu berdiri di depan meja Imel sambil mencangklong tas berwarna hitam.


Imel menjawab pertanyaan tadi dengan tersenyum. "Iya, mumpung otakku masih seger buat berimajinasi."


"Berimajinasi sih gak masalah, yang terpenting jangan sampai berekspetasi yang berlebihan. Kasihan lo-nya nanti," jawab gadis itu dan meletakkan tasnya di meja yang bersebelahan dengan Imel.


"Derain, ih. Jangan gitu, dong. Nanti aku nggak fokus, nih jadinya," cemberut Imel menanggapi Derain.


Derain malah cengingisan. "Ya, maaf. Lagian lo masih aja makai acara kirim surat ke mading. Dahal ngode itu udah canggih, girl. Lewat wa juga bisa kali."


Derain kehilangan kata-kata jika Imel sudah mengeluarkan perkataan yang sederhana, namun maknanya benar-benar tajam menukik.


"Rain, anterin yuk, mumpung belum bel sekolah," ajak Imel sembari melipat kertas tadi menjadi sebuah bentuk pesawat.


Derain mengangguk. Karena, ia sudah terbiasa juga jika diajak oleh Imel untuk mengirim surat tersebut.


Akhirnya, mereka berdua berjalan keluar kelas menuju loker yang berada di ujung koridor kelas mereka.


Hanya memerlukan waktu kurang dari dua menit. Mereka berdua telah berada di antara loker siswa yang saling berhadapan berlawanan arah.


Derain bertugas menjaga situasi koridor, sementara Imel tengah mencoba memasukkan pesawat kertas itu ke dalam lubang loker.


Dengan rasa gugup, serta tangan yang bergemetar. Akhirnya, Imel berhasil memasukkan pesawat kertas tersebut.


Imel memekik senang sambil meninju ke udara. Dalam pikirnya, usaha ini tak sia-sia. Tetapi, perihal ini bukanlah mudah karena menjadi pengagum rahasia banyak rintangannya.


Derain yang tengah berjaga-jaga di dekat loker, matanya langsung membulat sempurna saat melihat seseorang tengah berjalan ke arah koridor loker.


"Sttt.. Sttt. Ada orang, Mel. Yuk, buruan," kata Derain panik sendiri.


Imel langsung menjadi grogi. Dan, menarik lengan Derain dengan sigap, lalu mereka berdua bersembunyi dibalik pilar koridor.


Di lain sisi, seseorang yang dimaksudkan oleh Derain tengah mencoba membuka loker miliknya. Tatapannya menyipit saat ia melihat sebuah pesawat kertas berwarna biru berada di antara baju olahraga.


Tangannya terulur untuk mengambil kertas tersebut. Diamatinya dengan teliti sambil membolak-balikan benda tersebut.


"Siapa lagi yang ngirim gue kayak beginian?" gumamnya.


Akhirnya, ia memilih untuk membawa pesawat kertas itu bersama baju olahraga miliknya. Setelah selesai, ia langsung melenggang pergi meninggalkan koridor loker.


Di balik tiang pilar, wajah Imel menjadi senang, dan menggeram gemas. Saking gemasnya ia tak sadar bahwa dirinya tengah meremas lengan Derain hingga cewek itu meringis kesakitan.


"Aww... Imel sakit bego," rintih Derain meleraikan cekalan tangan Imel.


Imel yang menyadari akan hal itu langsung tertawa meringis. "Maaf, Rain. Aku nggak sengaja."


Derain hanya mencebikkan bibir kesal. "Gimana? Diambil nggak?" tanya Derain.


Imel mengangguk cepat. "Akhirnya surat aku diambil sama kak Excel. Gila, nggak sia-sia." wajah Imel benar-benar berbinar bahagia.


"Wah, terus apa lagi selanjutnya?"


"Tetap sama, Derain."


"Pesawat kertasku, akan terus terbang." wajah Imel langsung bahagia.