
Deru napasku.
Sebagian dari dalam dirimu.
________________
Akhirnya malam yang ditunggu-tunggu telah tiba. Imel sudah rapih dengan dress yang ia pilih tadi sore. Tak lupa juga dengan polesan make up natural di wajah, membuat penampilan Imel semakin cantik.
"Udah cocok belum, sih?" Imel berdiri di depan kaca, sambil mengecek apakah dandanannya sudah cukup, atau malah berlebihan.
Imel melirik ke arah jam dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh, dan acara akan dimulai tiga puluh menit lagi. Dengan segera Imel menyambar high hels yang haknya tidak terlalu tinggi, lalu ia langsung memakainya. Tak lupa juga kado yang telah ia siapkan.
Sebelum turun dari lantai atas. Imel terlebih dahulu mengabari Derain agar menjemputnya di rumah. Setelah selesai, barulah Imel turun ke bawah. Menunggu kedatangan Derain di ruang tamu.
Hanya memerlukan waktu tak kurang dari lima belas menit. Dari luar rumah terdengar bunyi klakson mobil. Dengan segera Imel keluar rumah, menghampiri mobil Derain dan mereka langsung melesat menuju rumah Regi. Jika kalian bertanya-tanya, mengapa Imel tak berpamitan terlebih dahulu dengan orangtuanya. Jawabannya, orangtua Imel sedang berada di luar kota. Jadi, sebelum berangkat Imel sudah terlebih dahulu berpamitan dengan orangtuanya.
_____________
Dan di sinilah Imel dan Derain berada. Di halaman rumah Regi. Terlihat acara akan segera dimulai. Dengan segera Imel dan Derain menuju sisi kolam, di mana semuanya berkumpul untuk acara tiup lilin.
"Selamat, malam semuanya," sapa Regi membuka pembicaraan.
"Malam," jawab mereka semua dengan serempak.
"Terimw kasih buat kalian yang sudah menyempatkan diri untuk datang di acara sweet seventeen gue. Jujur, gue terharu karena kalian datang. Sekali lagi gue mengucapkan banyak terima kasih," ujar Regi tersenyum ke semua teman-temannya.
"Eit.. Guys, sebelum kita mulai acara-Pestanya. Terlebih dahulu untuk Regi, kawan kita untuk mengucapkan wish sambil meniup lilin, dan memotong kue untuk diberikan ke seseorang yang menurutnya spesial untuk hari ini," jelas Rangga, selaku sahabat Regi.
Mereka semua mengangguk. Lalu, semuanya menyanyikan lagu ulang tahun dengan diiringi tepuk tangan.
Regi yang berada di depan meja kue juga ikut bernyanyi. Tak lupa juga ia didampingi oleh kedua orangtuanya.
"Tiup lilinnya, tiup lilinya, tiup lilinya sekarang juga, sekarang ju-ga ... Sekarang juga..."
Sebelum meniup lilin, dalam hati Regi mengucapkan wish dan berdoa. Setelah itu
ia menundukkan kepala ke arah kue tar, dan meniup lilin yang berbentuk angka. Setelah lilin padam mereka semua bertepuk tangan dengan riuh.
"Potong kuenya, potong kuenya, potong kuenya sekarang juga, sekarang ju-ga... Sekarang juga..."
Tangan Regi mengambil pisau kue, dan sedikit memotong kuenya, lalu diletakkan di piring kertas.
"Hari ini adalah hari kebahagiaan gue. Dan, kue ini gue persembahkan terlebih dahulu untuk nyokap dan bokap. Karena tanpa mereka, gue nggak akan ada di dunia ini." Setelah mengatakan itu Regi, mendekati kedua orangtuanya dan menyuapi mereka berdua.
"Selamat ulang tahun, jagoan mama. Sehat selalu, dan sikapnya lebih dewasa lagi," ucap Mama Regi. Lalu, beliau mengecup pipi Regi.
"Selamat ulang tahun, ya, Kak. Ayah selalu berdoa yang terbaik buat kamu," ucap ayah Regi sembari memeluk anaknya dengan jantan.
Setelah orangtua Regi disuapi, mereka berdua melenggang pergi. Dan, kini hanya ada Regi bersama teman-temannya.
"Guys, sebelum kalian menikmati pesta ini. Gue masih mau memberikan sepotong kue ini untuk seseorang yang sudah hadir dalam acara ini," ujar Regi membuat semua teman-temannya saling pandang. Menebak siapa yang dimaksudkan olehnya.
"Untuk cewek bernama, Imelda. Kue ini gue persembahkan buat lo yang udah datang ke sini."
Semua melongo disaat Regi menyebut nama Imel yang menjadi tamu spesial dalam acaranya.
Imel yang berada di antara kerumunan, langsung menundukkan kepala berjalan ke depan mendekati Regi.
Semua bertepuk tangan. Saat Imel berdiri di samping Regi.
"Mel, kue ini buat lo. Dan, terima kasih udah datang."
Imel mengangguk. "Iya, Regi. Sama-sama."
Setelah menerima suapan tersebut. Imel menyodorkan kotak kado berbentul kecil kepada Regi. "Regi, ini hadiah dari aku. Jangan dilihat nilainya, ya. Tolong dijaga baik-baik."
Regi pun mengangguk dan menerima kotak tersebut. "Seharusnya lo nggak usah repot-repot begini. Tapi, makasih."
Imel mengangguk tersenyum.
"Regi!!! Aku rindu kamu!!"
Teriakan yang cukup membuat semua orang menoleh tersebut. Seketika membuat raut wajah Regi terkejut bukan main.
"Luna?" gumam Regi.
Perempuan yang bernama, Luna itu berlari kecil dan langsung memeluk tubuh Regi dengan erat. Tak peduli dengan tatapan dari yang lain. Regi sedikit risih, ia melepaskan pelukan Luna.
"Ihh ... Regi, kok dilepas? Kan aku masih kangen," cemberut Luna.
"Tau kondisi, Lun. Banyak teman gue," jelas Regi.
Luna hanya mencebikkan bibir kesal, lalu tatapannya mengarah ke Imel yang berdiri tak jauh dari Regi.
Luna menatap Imel tidak senang. "Siapa lo? Kenapa lo megang kue itu?"
"Aku? Aku cuman temannya Regi."
Entah mengapa, kedatangan Luna membuat atmosfer sekitar terasa menegang. Semua sibuk melihat Luna.
"Halah, loh mau ngerebut Regi dari gue kan? Jawab?!" gertak Luna tersulu kecemburuan.
Imel langsung menggelengkan kepala. "Nggak kok. Aku sama sekali enggak ada niatan kayak gitu."
Luna menjadi kesal. Ia berjalan mendekati Imel. Semua yang di sana seakan menantikan sebuah drama yang akan dimulai.
"Lo kira gue buta? Jelas-jelas gue tadi lihat lo suap-suapan sama Regi."
"Tapi –"
"Halah, enggak usah ngelak loh. Mentang-mentang gue nggak di Indo, jadi loh ngecoba ngerebut Regi. Iya?"
"Enggak kok, aku cuman–"
"Dasar, pelakor!"
Dengan tiba-tiba, Luna mendorong bahu Imel hingga Imel kehilangan keseimbangannya, dan tubuh Imel terhuyung ke belakang. Dan– byurr!!
Tubuh Imel tercebur ke dalam kolam, membuat semua melongo terkejut.
"Luna! Kamu apa-apaan, sih?!" gertak Regi kesal.
Di dalam kolam Imel tidak bisa berenang. Rasa trauma di masa kecilnya kembali terbayang. Bak adegan triller, Imel menjadi kesulitan untuk bernapas tangannya mencoba menggapai udara namun sulit sekali.
"Tolong..." teriak Imel lirih, semua menjadi panik sendiri. Mereka bingung bagaimana untuk menyelamatkan Imel.
"Minggir!" sebuah teriakan membuat semua menoleh. Dan, langsung memberikan jalan.
Seorang cowok langsung meloncat ke dalam kolam. Tak memedulikan dengan jas yang ia kenakan. Tubuhnya langsung menangkap tubuh Imel yang mulai melemah. Mata gadis itu tertutup, membuat dirinya khawatir. Dengan sekuat tenaga ia membawa tubuh Imel ke pinggir kolam.
Dalam hati ia berdoa, agar Imel tidak kenapa-napa.
"Baru kali ini gue ngerasa khawatir lagi sama cewek."