
Aku mencintaimu seperti derai hujan
Yang tak terhitung berapa banyak air yang turun membasahi bumi.
Seperti itulah rasa sayangku kepadamu.
Tetapi aku juga tak mengerti, kapan rasa ini muncul dan tak tahu apa yang sedang kurasakan.
Apakah aku sedang kasmaran dengan dirimu atau hanya sebuah perasaan ku saja.
Aku tak ingin cinta hadir seperti pelangi yang datang sesaat dan pergi.
Dan janganlah kau seperti senja indah, tetapi hanya sesaat.
Sepulang dari sekolah. Imel kali ini tengah berada di dalam kamar, dan kembali menuliskan kata-kata dalam buku diari miliknya.
Setelah bergumul dengan buku diari, Imel beranjak menuju lemari baju, mencari sebuah dress yang cocok untuk acara ulang tahun Regi. Kriteria dress yang Imel inginkan adalah dress selutut yang lengannya terpotong se-sikut. Tidak terbuka, dan juga warna natural.
Akhirnya, pencarian Imel tertuju dengan dress selutut berwarna hijau tosca. Menurutnya sangat cocok, dan simple. Setelah menyiapkan dressnya, Imel terlebih dahulu memikirkan hadiah apa yang cocok untuk Regi?
"Mending aku ajak Derain ke mall aja, deh. Siapa tahu dia bisa bantuin aku," ucap Imel.
Imel mengambil ponselnya yang berada di atas nakas, lalu menghubungi nomor Derain.
"Halo, Imel. Ada apa?"
Sambungan tersebut sudah diangkat oleh Derain.
"Rain, anterin aku ke mall, yuk."
"Tumben, mel."
"Heheheh ... Mau cari kado buat Regi soalnya."
"Cie... Gamon." terdengar suara ledekan tawa dari Derain membuat Imel mendecak.
"Jangan gitu, ih."
"Canda doang kali."
"Jadi, gimana bisa nggak?"
"Ehhmm ... Maaf, Imel. Gue nggak bisa, di sini gue lagi bantuin nyokap. Jadi, gue nggak bakalan diizinin keluar rumah."
Helaan napas keluar dari mulut Imel.
"Ya udah, deh. Maaf, ya ganggu kamu."
"Gak masalah. Yaudah gue matiin, ya. Nyokap gue manggil terus."
"Iya, Rain."
Setelah sambungan telepon tersebut berakhir. Imel langsung berjalan ke kamar mandi, untuk berganti baju. Ia tak ingin berlama-lama, karena waktu untuk memilih sebuah hadiah tidaklah sedikit. Butuh waktu beberapa menit, guna mencari suatu barang yang cocok dijadikan sebuah kado.
________
Di sinilah Imel berada, di sebuah mall yang tidak jauh dari daerah rumahnya. Waktu sepuluh menit sudah berlalu, namun Imel masih bingung mencari hadiah apa yang cocok untuk Regi. Jika ada Derain di sini, mungkin Imel tidak akan pusing mencari hadiahnya.
"Selamat sore, selamat datang. Ada yang bisa saya bantu?" seorang pegawai wanita datang dan menyambut kehadiran Imel.
Imel menanggapi dengan tersenyum. "Maaf, Mbak. Saya lagi cari jam tangan yang cocok buat teman saya. Hemm kira-kira model apa, ya, yang cocok buat dia?" tanya Imel.
"Teman kakak cowok atau cewek?" tanya Mbak pegawai tersebut.
"Cowok," jawab Imel.
"Oh, mari ikuti saya, kak." Mbak pegawai tadi mengajak Imel masuk ke tempat di mana hanya ada jam cowok.
Di bagian jam cowok, Imel terkagum oleh desain jam-jam yang terpampang di kaca etalase. Berbagai jenis jam, dijelaskan oleh Mbak pegawai tadi.
Hingga akhirnya Imel terpesona oleh desain jam yang trend saat ini. Imel meminta Mbak pegawai tadi, memperlihatkan jam yang menjadi pilihannya.
Setelah melihat desain jam tersebut. Imel tersenyum, ia berpikir ini akan cocok sekali untuk Regi.
"Saya ambil, yang ini ya, Mbak. Tolong dibungkus sama kertas kado juga," ujar Imel.
Mbak pegawai tadi melenggang pergi sambil membawa jam tadi. Sementara Imel menunggu sambil melihat-lihat jam cewek yang tak kalah bagusnya dengan desain jam cowok.
Mata Imel berbinar bahagia ketika melihat sebuah jam tangan berwarna dark brown bertengger di tempatnya. Bentuk jam tersebut sangat simple dan elegan. Rasanya Imel ingin membeli jam itu.
Tak lama kemudian, pegawai yang membawa jam Imel tadi datang.
"Permisi, kak. Jamnya udah selesai. Kakak bisa melakukan pembayaran di kasir."
Imel menerima bungkusan kado tersebut, dan mengangguk.
"Mbak, jam itu berapa harganya?" tanya Imel dengan menunjuk jam tadi.
"Kalau itu sih lumayan mahal, kak. Karena keluaran baru juga," jelas Mbak pegawai.
Imel mendesah. Mungkin lain kali saja dia membeli jam itu. "Oh.. Ya udah, mbak. Makasih."
Sehabis melihat jam yang menjadi keinginannya. Imel berjalan menuju kasir, dan membayar jam terlebih dahulu. Setelah selesai membayar Imel berjalan keluar dari toko, dan langsung pulang ke rumah.
Namun, dibalik pilar toko, ada seseorang yang sedari tadi melihat gerak-gerik Imel. Setelah melihat kepergian Imel. Orang tersebut masuk ke dalam toko jam, dan menghampiri Mbak pegawai.
"permisi Mbak," ucap orang itu.
"Iya, kak? Ada yang bisa saya bantu?"
"Mbak tahu jam cewek yang tadi dilihat sama cewek yang baru aja keluar?"
Mbak pegawai itu mengangguk, dan berjalan menuju kaca etalase menunjukkan jam yang dimaksudkan tadi.
"Ini, kak."
Orang tersebut meneliti desain jamnya. Ia tersenyum. "Saya ambil ya, Mbak. Tolong dibungkus yang cantik."
"Kakaknya pacarnya, Mbak yang tadi, ya?"
Orang itu lantas hanya tersenyum. "Doain aja, Mbak. Lagi otw soalnya."