FALL IN LOVE

FALL IN LOVE
Bab- delapan



Kini, Excel tengah berada di sebuah kafe yang menjadi tempat tongkrongannya. Excel duduk sendirian di meja yang terletak di atas rooftop. Ia masih memikirkan kembali tentang nama pena, serta kalung angsa yang berada di hadapannya.


Excek mencoba mengingat kapan, dan di mana terakhir kalinya ia pernah melihatnya? Serasa tidak asing, terlebih lagi bentuknya yang menyerupai angsa. Hewan itu adalah hewan kesukaannya.


Tak lama kemudian, secangkir teh susu hangat telah datang. Excel mengucapkan terima kasih kepada pelayan yang mengantarkan pesanannya, setelah itu Excel menyesap minuman tersebut.


"Aah...." Excel mendesah nikmat, rasa teh tersebut benar-benar mengejolakkan hatinya.


Saat Excel memejamkan matanya, sekelebat bayangan tiba-tiba muncul di pikirannya. Excel memegangi kepalanya sambil meringis, hingga ia kembali membuka kedua matanya.


"Kenapa bayangan itu lagi?" Excel menjadi heran sekali, setiap kali dirinya terpejam bayangan adegan yang asing baginya selalu saja muncul.


Namun, sekilas cuplikan dari bayangan tersebut yang baru saja Excel berhasil tangkap adalah seorang gadis dengan memakai kalung angsa.


Excel merasa teka-teki kembali bermunculan. Sebenarnya, ada apa dengan dirinya? Haruskah ia bertanya dengan Bunda? Mungkin iya.


Dengan bergegas, Excel beranjak dari duduknya dan bergegas untuk pulang. Excel merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Bundanya. Dan, hari ini Excel harus mendapatkan sebuah jawaban.


Sesampainya di rumah, Excel langsung mencari keberadaan Bunda. Ia juga memanggil-manggil Bundanya, namun tak ada sahutan.


"Eh, den Excel udah pulang." tiba-tiba seorang asisten rumah tangga di rumahnya datang.


"Bi, Bunda ke mana?" tanya Excel.


Asisten rumah itu terlihat mengingat sesuatu, dan –"oh, Nyonya tadi sih baru aja keluar, Den. Mungkin jenguk Tuan di rumah sakit."


Excel menghela napas sejenak. "Makasih, Bi. Kalau gitu Excel balik dulu."


"Den Excel nggak mau makan dulu di rumah?" tawar asisten rumah tangga itu.


Excel menggelengkan kepala. "Nggak, Bi. Excel mau langsung ke apartemen."


"Oh, ya udah, Den. Hati-hati."


Excel langsung berjalan keluar dari rumah. Rumah yang selama ini menolak kehadirannya, terlebih lagi saat sang Ayah membencinya. Yah, hubungan Ayah dan anak itu sudah renggang disaat Excel memasuki kelas satu smp. Entah apa yang membuat Ayah Excel membenci dia? Intinya sejak saat itu, Excel jarang di rumah. Ia lebih suka di apartemennya.


__________


Saat dirinya menatap ikan-ikan tersebut. Hati Imel merasa sedih, ia tiba-tiba merindukan kedua orangtuanya. Bagi Imel, mereka berdua terlalu sibuk hingga tidak sempat untuk menyempatkan waktu bersamanya. Imel tatkala menyendiri, disaat semua teman-temannya menghabiskan waktu bersama orangtuanya. Lain, hal dengan Imel yang selalu menghabiskan waktu di dalam kamar hanya untuk menulis dan membaca novel. Lama-lama Imel muak sendiri.


Imel mendengus. Lalu mengeluarkan ponsel dari sakunya, ia berniat untuk menelpon Mamanya.


Lama sekali Imel menunggu telepon tersebut diangkat. Sesekali Imel melemparkan pakan itu ke kolam. Imel mulai berdecak, suara manis dari operator membuatnya kesal. Lalu, Imel beralih untuk menelpon Ayahnya, Imel berharap kali ini diangkat.


"Halo."


Betapa girangnya Imel saat mendengar suara ayahnya dari seberang sana. Ia memekik senang.


"Ayah, Imel kangen. Ayah sama Mama kapan pulang?"


"Maaf, Imel. Ayah sedang ada meeting. Nanti ayah telepon lagi, ya."


Tutttt....


Belum selesai Imel menjawab. Panggilan tersebut telah dimatikan. Imel kecewa. Ia meletakkan ponsel di sebelahnya, dan menatap lurus ke depan dengan mata berkaca-kaca.


"Ayah sama Mama berubah."


"Imel rindu masa di mana kita menghabiskan waktu bersama."


Air mata Imel sudah tak bisa terbendung. Imel menangis terisak. Tangan mengepal erat. Tak lama kemudian sesuatu cairan kental berwarna merah keluar dari hidungnya. Sontak Imel terkejut. Ia menyentuh hidungnya dan matanya terbelalak.


"Tuhan... Kenapa harus sekarang?"


_______________


Tbc!


Vote+ komen.


Lovyuu...