
Kurindu, seseorang dibalik
Lipatan pesawat kertas ini.
_________________________
Mentari bersinar terang. Cahayanya terasa menyengat, padahal jam masih menunjukkan pukul sembilan pagi. Itu berarti dua puluh menit lagi, bel istirahat akan berdering.
Di bangku yang berada di dekat loker. Terlihat Excel tengah duduk sendirian, sembari membawa sebuah buku tebal.
Helaan napas beberapa kali keluar dari mulut Excel. Cowok itu terlihat gusar, matanya selalu menengok kanan dan kiri, seperti menunggu seseorang.
Yah, Excel menunggu kiriman puisi di dalam pesawat kertas. Sehari tanpa membaca tulisan tersebut. Membuat hati Excel merasakan kegundahan. Selain itu, keberadaan Excel di sini juga ingin mengetahui siapa dibalik pesawat kertas itu?
"Ngapain lo duduk sendirian di sini?"
Excel mendongak, menatap Derka yang berdiri dihadapannya. Lalu, cowok itu ikut duduk di sebelah Excel. Sambil menyenderkan kepala di dinding.
Kenalin, Derka namanya. Anak jurnalistik, sekaligus teman sohibnya Excel. Derka ini cowok yang kalem, lebih suka menghabiskan waktu di ruang jurnalistik hanya untuk mengecek kiriman puisi atau cerita bersambung. Selain itu, Derka juga yang bertanggungjawab atas isi mading di sekolah. Jadi, jika ada siswa yang hendak mengirim karyanya, mereka harus menyetor ke Derka sebelum karya itu ditempel di dalam mading.
Oke, kita balik ke topik awal.
"Gue abis dari perpus, terus nyantai bentar di sini," ujar Excel santai.
Derka menjawabnya dengan ber-oh ria.
"Ruang jurnalistik sepi, kalau nggak ada adek kelas yang lucu itu nyetor karyanya ke gue," curhat Derka, mencurahkan rasa bosannya.
Alis Excel lantas terangkat. "Emang siapa adek kelas yang lo maksud?" tanyanya.
"Biasa, anak kelas sebelas. Imelda, namanya," jawab Derka, sambil memijit tulang pangkal hidungnya.
"Gue suka baca karyanya, ngena banget. Terlebih lagi isi dari puisi yang dia buat seakan-akan ngode seseorang," jelas Derka.
Excel terdiam menyimak, entah mengapa nama itu tidak asing baginya. Excel mencoba mengingat-ingat, siapa Imelda itu? Lalu, pikirannya teringat akan seorang cewek.
Imel? Cewek yang gue tolongin semalam? Batin Excel menebak.
Untuk sesaat Excel menyadari sesuatu yang baru saja ia tangkap. Hatinya merasa bahwa Imelda ada kaitannya dengan pesawat kertas misterius yang selalu ada di dalam lokernya. Terlebih lagi Derka mengatakan bahwa cewek itu juga selalu mengirim karyanya ke mading.
Jika memanglah Imelda yang melakukan hal itu, Excel akan segera menemuinya. Namun, mengapa dirinya berpikiran itu Imelda? Bisa saja orang lain.
Untuk memastikan hal tersebut, Excel berniat melihat karya buatan Imelda. "Der, gue boleh tau karya yang biasanya dia setorin ke elo."
Kening Derka mengerut, menatap Excel dengan heran. "Buat apa?"
Excel mendengus. "Karena gue mau tau inisial nama yang dia pakai di karya-karyanya."
Derka memincingkan mata, dan terlihat menimbang-nimbang permintaan Excel, lalu sesaat Derka mengangguk.
Wajah Excel seketika berbinar, namun rasa senang itu dia sembunyikan dibalik wajah cool-nya. Ia harus bersikap sewajarnya, agar Derka tidak curiga.
Akhirnya mereka berdua langsung menuju ruang jurnalistik. Excel berharap, apa yang dia pikirkan itu salah. Sesampainya di ruang jurnalistik. Derka langsung mengambil berkas yang Excel maksud.
"Nih, data yang lo mau." Derka memberikan map itu.
Excel menerimanya, dan langsung membuka. Matanya meneliti setiap data dari Imel.Namun, saat Excel membaca nama pena milik Imel, mata Excel seketika membelalak.
i.m-
Nama pena itulah yang Imel gunakan. Excel menggelengkan kepala tak percaya. Ia masih berpikir jika ini hanyalah ketidaksengajaan.
"Bro, lo oke?" tanya Derka menyentuh bahu Excel.
Excel menaruh kembali map tersebut, dan menatap sekilas ke arah Derka. "Gue oke, kok."
"thanks, ya, gue mau balik duluan," pamit Excel tiba-tiba.
alis Derka terangkat satu, menatap heran ke temannya. "oke, deh. Gue juga mau balik."
Akhirnya, mereka berdua bersama-sama keluar dari ruang jurnalistik. Dan berjalan menuju parkiran.
Excel masih bergelung dengan pertanyaan demi pertanyaan yang saling bertabrakan di otaknya. namun, satu yang mengganjal yaitu, kalung Imel yang tak sengaja terbawa olehnya. saat Excel melihat kalung itu, entah mengapa sangat tidak asing baginya?
Kalung dengan liontin berbentuk angsa tersebut, serasa Excel pernah melihatnya. tapi– di mana? ini juga yang menjadi teka-teki untuknya. selain, menemukan siapa seseorang dibalik pesawat kertas ini.