
Judulnya serem banget guys....
Oiya jangan lupa tandai typonya ya.. ;)
---o0o---
Cewek itu kalo udah sayang suka lupa kalo masih jadi manusia...
Aurora F.
Aurora dibuat kebingungan dengan keadaan bangkunya hari ini. Kenapa banyak sekali sampah tisyu bekas dan gumpalan kertas berserakan dilaci, diatas meja dikursi bahkan dilantai bawah mejanya.
Ia melihat sekeliling, hanya mejanya saja yang kotor.
Dengan sedikit rasa jijik ia mengambil kertas lusuh yang bertuliskan tinta spidol warna merah.
Heh Auora bitch, lo tuh sok kecakepan banget ya. Maen rebut pacar orang. Lo gak bisa cari cowok yang jomblo?? atau lo merasa gak laku sampe godain pacar gue!!!!
Isi surat itu, Aurora hanya meneguk ludahnya kasar. Ia meremas kertas itu. Dadanya perih membaca kata bitch yang dilayangkan untuknya.
"Ya ampun aurora, ini kenapa???" suara ais berteriak kaget.
"Tau deh, baru juga berangkat udah kek gini. Bantuin bersihin dong Ai" Ucap aurora sambil mengeluarkan semua sampah dari lacinya.
Tak lama, juan masuk dengan tampang kaget.
"Rora??? siapa yang ngelakuin ini semua???" tanya juan menggeram marah. Bahkan kukunya terlihat memutih karena ia mengepalkan tangannya dengan erat.
Aurora cuman diem.
"Kok lo diem aja sih?" gemas juan
"Heh, kalo gue tau siapa pelakunya udah gue samperin kali" jawab aurora kesal. Sejak kapan juan jadi bego?
"Hehehe"
Juan mengambil kertas yang tadi diremas aurora. Ia membaca dan mengerutkan kening.
"Lo, ada deket sama cowok?? Atau punya musuh gitu" tanyanya.
Sedangkan yang ditanya hanya mengendikan bahu acuh.
Juan hanya diam memikirkan kemungkinan-kemungkinan siapa pelaku ini semua.
"Heh, lo kalo cuman mau jadi patung lebih baik di museum sana lebih bermanfaat" sindir aurora. Entahlah kenapa ia jadi sentimen sama juan.
"Hehe, mo bantuin bersihin lah" jawab juan cengar-cengir sambil membersihkan sampah dimeja aurora.
Tiba-tiba entah datang dari mana, Rendy dan Arya sudah membantu membuangkan sampah-sampah ini.
"Eh eh, rendy kapan lo masuk?" tanya rora.
"Barusan kok, tadi liat lo keknya sibuk banget makanya gue masuk. Ini kenapa bisa gini meja lo" tanya rendy.
"Lo orang keseribu satu yang udah tanya ini kenapa" jawab rora bercanda.
Rendy tertawa mendengar jawaban rora yang padahal tidak lucu sama sekali.
"Lo bisa aja" ucap rendy sambil mengusap-usap rambut rora.
Rora hanya mendengus. Sedangkan Juan??? Jika telinganya bisa mengeluarkan asap maka itu yang akan terjadi sekarang. Entah hatinya tiba-tiba panas.
Ia menendang kaki meja Aurora dan bergegas keluar tanpa mengatakan sepatah katapun.
Aurora kaget, ia kemudian duduk dibangkunya yang sudah bersih.
"Gue ke kelas dulu ya ra" pamiy rendy
"Oik, thanks ya ren, ar" ucap aurora saat mereka sampai dipintu.
Rendy dan Arya hanya memberikan jempolnya.
"Eh si juan napa ya tadi kek sensi banget" tanya ais curiga. Ia yakin Juan pasti cemburu.
"Bego dipiara lo" Ucap Ais sambil menggetok pelan kepala Rora dengan pulpennya.
Jam pelajaran pertama dikelas rora adalah olahraga. Artinya mereka harus mengganti seragam mereka dengan pakaian olahraga yang ada diloker masing-masing.
Saat membuka lokernya, Rora dibuat kaget. Pasalnya seragam olahraga yang awalnya berwarna biru muda bersih kini banyak bercak-bercak merah dan anyir. Ini DARAH????
"Aaaaaaa" teriak aurora.
Semua yang ada diruang ganti buru-buru keluar mendengar teriakan rora.
"Ada apa ra?" panik ais.
"Ini baju gue kok banyak darahnya" jawab rora dengan nada ketakutan.
Ia sering membaca novel yang diteror seperti ini. Ia merasa ini sedikit creepy.
Ais dan teman-teman yang lain melihat isi loker rora. Seketika mereka menutup hidung mereka karena bau yang diciptakan darah itu.
Seseorang berlari memanggil pak Anton, Guru olahlaraga mereka.
Dengan terburu-buru pak anton segera mengecek isi loker Rora.
"Kenapa bisa begini? Rora apa kamu tidak mengunci lokermu?"
"Sudah pak, ini tadi saya bukanya juga pakai kunci" jawab rora pelan. Ia masih terlalu syok.
"Saya akan urus ini, kita olahraga dulu. Kamu bisa pinjam seragam di-"
Ucapan Pak Anton terpotong dengan ucapan juan
"Aurora biar pakai seragam saya saja pak. Maaf memotong ucapan bapak" tawar juan.
"Yaudah, gak papa. Rora segera ganti pakaianmu. Yang lain bisa kelapangan sekarang" Ucap pak anton kemudian meninggalkan yang lain
Rora mengambil pakaian olahraga dari tangan Juan dan masuk ruang ganti.
Saat keluar dari ruang ganti, ia masih melihat juan berdiri menyandar tembok dekat pintu.
"Ngapain lo disini?" tanya rora.
"Nungguin lo lah, Yaudah sana cepet ditunggu tuh"
"Terus seragam putih gue gimana?"
"ck" Juan membuka lokernya dan merampas seragam putih Rora kemudian memasukannya ke lokernya. Ia menutup pintu loker dan tak lupa menguncinya.
"Udah kan? sana cepet. Ntar kalo udah selesai olahraga lo temuin gue"
Aurora hanya mengangguk dan bergabung bersama dengan temanya di Lapangan.
Sedangkan juan menatap nanar kearah loker milik sahabtanya itu.
Siapa sebenarnya pelaku teror ini. Ini sudah keterlaluan, Juan tidak bisa diam saja.
Kemudian ia mengambil sesuatu kecil disaku celanaya. Dan menaruhnya ditempat dimana orang-orang tak akan menyadari keberadaan benda itu.
Kemudian ia mengangkat sudut bibinya sebentar dan meninggalkan ruang ganti.
Kita liat siapa sebenarnya elo dibalik ini semua? ucap juan dalam hati.
-----ooo----
Hai readersssss yang baik hati...