
~Aurora POV~
Pagi-pagi gue udah kesel setengah mampus, bayangin aja ditengah jalan ban motor gue bocor hingga akhirnya gue dorong sampai bengkel. Gak sampai disitu, gue telpon si Juan kampret buat nebeng malah diriject dan akhirnya gue jalan kaki dari bengkel ke sekolah. Awas aja lo juannnnn.
"ishhh, kesel" ucap rora saat sudah duduk dikursinya
"Napa ra? lo kesel liat snapgramnya si Hani ya" tebak ais sambil cengengesan.
"Apasih lo. Snapgram apa coba? orang gue gak follow dia" jawab gue gak santai.
"Lah, lo belum tahu? satu sekolah tadi pagi dihebohin sama berita jadianya si Juan ama hani" Ais mulai ngegosip
"Tau ah kesel gue ama playboy itu. Bisa-bisanya disaat gue butuh bantuan gue dia malah riject telpon gue. Rasanya pen gue banting tuh handphonenya. Biarin aja gue diemin baru tahu rasa lo" ucap gue menggebu-gebu.
Aisyah hanya memberikan minumannya ke Aurora karena kasihan melihat keringat bercucuran didahi dan pelipis rora. Ia tau kali ini Aurora benar-benar akan marah dengan juan.
-Pov end-
Juan mengambil handphone yang sedari tadi disita hani. Sejak berangkat menjemput hani dirumahnya hingga ke sekolah tadi handphonenya dipegang hani.
"Siniin handphone gue" rebut Juan
Ia lantas membuka locksecreen dan melihat banyak notif WA dan juga telpon dari Rora.
Ban gue bocor, tolongin gue
Gue udah dorong sampai bengkel nih jun, pegel jemput dong
Juan, masa gue mesti jalan kaki kesekolah?
Juan jemput please 🙇
Incoming call 15 by Aurora
"Lo ngeriject panggilan dari Aurora?" tanya juan panik.
"Apa? aku gak salah dengerkan kamu manggil aku dengan lo? segitu pentingnya ya aurora buat kamu sampai kamu kek gini sama aku? salah kalo aku riject telpon dia? salah kalo aku cemburu sama dia?"
"kamu harus tau situasi dong, kamu boleh cemburu tapi dia dalam keadaan sulit. Kamu harus bisa tempatin kecemburuan kamu itu."
"Hah? disini kamu salahin aku? seharusnya kamu salahin dia. Emang temenya cuman kamu, iya? Cuman kamu yang ada dikontak hpnya?" marah hani
"Aurora pasti marah" Ucap Juan dan meninggalkan Hani yang semakin menangis. Mereka baru jadian tetapi rasanya hani sudah tidak kuat.
Juan menemui Aurora dikelasnya, Ia melihat aurora menidurkan kepalanya dimeja dan terpasang earphone ditelinganya. Hari ini jam kosong, hingga Juan bisa masuk kelas rora.
"bsttttt... Jun diem lo dia capek banget" ucap Ais lirih.
"Kenapa?" tanya juan
"Katanya dia dorong motor sampai bengkel, terus dia mesti jalan kaki kesekolah" jelas
Juan yang mendengar penjelasan Ais merasa sangat bersalah. Ia lantas duduk didepan Aurora dan membelai rambut rora.
Aurora yang merasa tidurnya diganggupun bangun dan melihat siapa pengganggunya.
Ia memincingkan matanya sambil mengumpulkan nyawanya, setelah 100% sadar ia memasang wajah paling dingin yang ia bisa.
Melihat wajah juan, membuat ia ingat kejadian menyebalkan tadi pagi.
Memang sih, ini bukan salah juan. Tetapi lelaki ini sendiri pernah berjanji akan membantu apapun masalah dari Aurora. Dan untuk pertama kalinya ia mengingkari janji yang ia buat sendiri.
"Ra" panggil Juan pelan.
"Ra, sorry gue gatau kalo lo telpon"
samar-samar Aurora mendengar itu, seketika ia mematikan musicnya dan melepas earphonenya.
"Apa? gatau? gatau kok bisa riject" ucap Aurora sambil tersenyum remeh
"Serius, gue gak tau lo nelpon soalnya handphone gue dibawa hani. Dia juga yang ngeriject, Kalo gue tau lo minta jemput pasti gue jemput" ucap Juan berusaha menjelaskan.
"Oh lo jemput hani? pantesan." Aurora meninggalkan juan dan berjalan kekantin.
Juan mengejar aurora dan memegang tanganya.
"Maksud gue hani minta jemput katanya bannya bocor ra. Sorry gara-gara gue lo jadi kecapean"
Aurora hanya melepaskan tangannya dari juan dan melanjutkan jalanya.
Ia merasa telah salah marah dan meminta pertolongan dari juan. Benar apa kata ais, Juan udah jadian dan Ada cewek lain yang dipriotasin dia.
"Kasian banget sih lo ra, ngarepin sama cowok yang bahkan gak ada perasaan apapum ke elo" batin rora menertawakan dirinya sendiri.
Sedangkan Juan hanya melihat kepergian rora tanpa mengejarnya lagi. Ia akan meminta maaf lagi kalo suasana hati Aurora lebih baik. Karena kalo lagi ngambek aurora suka tak terkontrol.
Rora memilih tempat duduk yang lumayan pojok, kemudian ia dihampiri Rendy.
"Hai ra, boleh gabung?" tanya rendy
Auroa hanya menganggukan kepalanya. Jujur ia sedang tak ingin diganggu siapapun, tapi mengingat kebaikan rendy ia jadi agak sungkan menolak.
Rendy duduk dan bertanya,
"Napa muka lu? lecek amat"
"Gapapa"
"PMS?"
"Gk"
Rendy yang paham situasipun tidak lagi bertanya dan memakan makanannya dengan tenang.
Tak lama, seorang cowok tersenyum semanis madu membawa nampan makanan turut bergabung.
Iya dia Juan. Aurora yang melihat itu lantas berdiri dan pergi membayar makanannya kemudian pergi meninggalkan kantin.
Juan menatap kepergian aurora dengan tatapan sendu.
"ditinggal lagi?" Batin Juan membeo.
************************************
Hai hai..... Welcome back🙌🙌