
Marvel memasuki kamar Alvaro yang dibiarkannya terbuka. Membanting tubuhnya di atas tempat tidur milik Alvaro. Sudah tidak aneh lagi bagi Alvaro jika seorang Marvel datang tiba-tiba seperti ini.
Ya, orang tua mereka sudah berhubungan baik sejak mereka masih kecil. Karena memang sejak menduduki bangku sekolah, ayah Marvel dan Alvaro sudah bersahabat.
Kalau saja anak mereka sama sama bukan lelaki, pasti mereka sudah menjodohkannya. Sayangnya, keduanya sama sama memiliki satu putra.
"Ada urusan apa kau ke sini? Menyuruhku mencarikan wanita lagi? Tidak akan! Bahkan semua pilihanku sudah kau tolak." Jelas Alvaro; memalingkan wajahnya sembari memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Kau ini. Aku bahkan belum berkata apa-apa"
"Lagi pula, siapa juga yang ingin menyuruhmu mencarikan aku wanita. Kau tahu... Aku sudah menemukannya sendiri" Ucapnya, membaringkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar milik Alvaro.
"Hahaha... Jangan bercanda! Sejak kapan kau menyukai wanita?" Tanya Alvaro mengerlingkan bola matanya malas.
"Sialan! Aku masih normal. Bukan seperti kau yang selalu sibuk dengan laptop mu itu"
Marvel melempar bantal ke arah Alvaro yang tengah berkutat dengan laptopnya.
"Kau tidak lihat. Aku sedang menyelesaikan tugas untuk presentasi kau besok!" Jawabnya kesal.
Yah, Marvel adalah tipe orang yang malas mengerjakan hal semacam itu. Jadilah setiap kali ada presentasi ia selalu menyuruh Alvaro untuk menyelesaikannya. Tak jarang ia juga menyuruh Alvaro untuk mempresentasikan hasilnya, sementara dirinya pergi entah kemana.
"Nikahi saja laptopmu itu. Hahaha...."
"Kalau tidak ada kepentingan lagi silahkan bapak keluar!" Tegasnya.
"Hahaha... Aku bercanda"
"Kenapa kau ke sini?"
"Aku menyukai Alana!" Ucapnya mantap.
"Alana?" Alvaro tampak berpikir sejenak. Siapa yang dimaksud Marvel.
"Gadis yang kita temui di club tempo hari" Terang Marvel.
"Gadis buta itu?" Teriak Alvaro mulai teringat dengan kejadian malam itu.
"Tutup mulut mu! Meskipun dia buta, tapi sangat cantik dan dia begitu lugu"
"Yayaya. Aku lupa, jika kau lebih menyukai gadis lugu"
"Kalau begitu, nikahi saja. Mudah kan"
"Tidak semudah itu! Yang dia tahu aku adalah kau"
"Apa maksudmu?" Tanyanya dengan kedua alisnya yang menyatu.
"Aku berpura-pura menjadi kau"
"Apa? Kau gila! Jadi kau membohonginya?"
"Iya. Dia membenciku. Jika aku tidak mengatakan diriku adalah Alvaro maka Alana tidak akan sedekat ini dengan ku" Ujarnya; menyerobot cemilan milik Alvaro lalu melahapnya
"Hey! Itu cemilan ku!"
"Bagaimana menurut mu?"
Alvaro mengedikan bahunya acuh. "Akan ada sebab dan akibat. Akan selalu ada konsekuensi dari apa yang telah kita perbuat"
Benar yang dikatakan Alvaro. Selalu ada konsekuensi dari apa yang kita lakukan. Apapun itu, Marvel sudah siap menerimanya. Baik ataupun buruk ia sudah siap. Sekalipun harus kehilangan seseorang yang ia cintai.
"Kau ini seorang CEO. Pikirkan nasib perusahaan mu, jangan melulu memikirkan percintaan" Katanya menasehati.
"Dari awal, aku tidak ingin menjadi CEO, aku hanya ingin hidup bebas tanpa aturan dan dikejar-kejar tugas perusahaan yang membuatku jenuh."
"Lalu kenapa kau mengiyakan ketika ayah mu menyerahkan jabatan CEO pada mu, sementara kau belum benar-benar siap. Kau harus bisa mempertanggungjawabkannya"
"Ya... Aku hanya ingin membuat ayahku bahagia di sisa hidupnya. Dan aku sudah tahu siapa yang pantas untuk menjadi CEO di perusahaan ku"
"Kau akan menyerahkannya begitu saja? Kau gila! Kau tidak berpikir jika perusahaan mu bangkrut" omel Alvaro tak habis pikir dengan ucapan Marvel.
"Tidak. Jika perusahaan dipegang oleh tanganmu"
"Tidak, tidak! Marvel. Aku tidak bisa mengikuti kemauan mu yang satu ini"
"Why can not? you are a leader!" Ucap Marvel menunjuk dada bidang milik Alvaro.
"Lalu kau ingin kemana jika sudah menyerahkannya pada ku?"
Marvel mendongak ke atas. Menatap langit-langit kamar Alvaro yang biasa.
"Ke suatu tempat yang kau dan orang lain akan mendatanginya kelak"
● ● ● ●