Epoch Evanescent

Epoch Evanescent
Bab 4



Alana mendorong tubuh Marvel. Membuat keduanya berdiri dengan Marvel yang menatapnya sementara Alana yang entah menatap ke mana.


"Brengsek! Berani kau menyentuh ku! B******n!" Cerca Alana. Ia berusaha menampar wajah Marvel namun tak kunjung tepat sasaran.


"Hey! Wajahku di sini" Marvel meraih tangan Alana, menempelkannya pada pipinya.


Dengan segera Alana menarik tangannya. Malu. Dia benar-benar malu.


Marvel menggerakkan tangan kanannya, mengarahkannya ke kiri dan ke kanan tepat di depan Alana. Namun, perempuan di hadapannya ini hanya diam tanpa bereaksi sedikitpun dengan pandangannya yang masih menatap lurus ke depan.


Apa dia buta?


"Minggir! Aku ingin pulang!"


Marvel hanya mengikuti perintah Alana tanpa berkata apa-apa.


"Marvel! Kau sedang bersenang-senang ya? Kenapa tidak mengajakku?" Alvaro datang sembari merangkul Marvel yang masih diam tak memperdulikan kehadirannya. Yang menjadi fokusnya hanya Alana.


"Awas!" Marvel menarik Alana, membuat tubuh perempuan itu mundur beberapa langkah.


"Kau hampir saja menabrak pintu" Ujarnya


"Jangan menyentuh ku lagi!"


Marvel mengangkat kedua tangannya ke udara. "O-oke"


"Ah! Bagaimana jika kau aku antar?"


"Tidak perlu!"


"Nama kau Marvel kan?" Tanya Alana memastikan.


"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah melupakan kejadian ini dan namamu! Dan sampai kapanpun aku tidak akan pernah memaafkan mu, sekalipun kau sujud di kaki ku. Camkan itu! Marvel" Tegasnya.


"Kau salah paham. Kejadian sebenarnya bu-"


"Ah! Sial! Hey tunggu aku!"


Ketika Marvel ingin berlari mengejar Alana, Alvaro menarik bahunya. "Tidak perlu di kejar. Lebih baik kita pulang"


"Ini semua salah paham. Aku harus menjelaskan padanya."


"Aku mengerti, tapi sekarang aku sudah lelah. Lebih baik kita pulang lalu istirahat"


Di dalam mobil, ucapan Alana masih berkeliaran di dalam pikirannya. Kesan pertama yang buruk. Bagaimana jika dia benar-benar tidak mau memaafkan aku. Ah! Padahal aku hanya berniat membantunya.


Terkadang apa yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut orang lain.


"Apa yang kau pikirkan?"


Marvel menggeleng.


● ● ● ●


Saat dunia begitu gelap. Tak tahu harus melangkah. Saat itulah aku ingin enyah dari peradaban ini.


🍁🍁🍁


Alana berjalan di tengah malam yang larut. Entalah, ia sendiri tak tahu kemana ingin melangkah. Niat hati, ingin pulang ke rumah. Namun, ia belum sanggup jika harus bertemu Grace, bisa-bisa dia marah terhadapnya, lalu menyakitinya lagi seperti yang sudah-sudah. Sungguh membayangkannya saja sudah membuat Alana takut.


Jalanan cukup lenggang malam ini. Dikarenakan cuaca yang begitu dingin dan larut. Alana terus berjalan, berharap menemukan orang baik yang akan menolongnya. Setidaknya ia hanya ingin menginap satu malam saja. Tapi kemana? Ke rumah temannya? Bahkan sejak kecil Alana tidak memiliki seorang teman. Yah, dia hanya hidup sendirian, tanpa seorang teman pada umumnya. Saat ini yang ia punya hanyalah Grace.


Beberapa kali Alana terbentur tiang yang berada di depannya. Tak sedikit juga ia sering terjatuh karena tersandung. Tapi itu tak membuat Alana menyerah. Ia terus melangkahkan kakinya. Membiarkan kakinya membawa dirinya entah kemana.


Alana berjalan di tengah jalan raya, bahkan sebelum lampu lalu lintas belum berubah warna menjadi merah.


Tiiiinnn! Tiiiinnn!


Suara klakson mobil yang ditekan berulang kali memekakkan telinga Alana.


Suara mobil! Tapi di mana? Aku harus kemana? Bagaimana ini? Siapapun tolong aku!.


"Hey! Awas!"


Seseorang menarik tangan Alana. Membawanya ke dalam pelukannya. Laki-laki itu dapat mendengar dengan jelas detak jantung Alana yang berpacu begitu cepat serta napasnya yang bergemuruh.


Untuk beberapa saat mereka diam.


Hangat.


Dirinya kembali merasakan pelukan hangat seorang Ayah. Begitu tenang dan damai. Sangat nyaman.


Biarkan aku lebih lama mendekapnya.