Epoch Evanescent

Epoch Evanescent
Bab 7



"Rooftop"


"Apakah di bawah sana sangat indah?" Tanyanya dengan senyum mengembang.


Marvel diam sejenak. Menatap Alana yang masih mengembangkan senyumnya. Bagaimana bisa Alana bertanya dengan raut wajahnya yang terlihat bahagia?


"Ya... Di bawah sana sangat indah"


Marvel mendekatkan dirinya dengan Alana. Meraih tangan Alana. Mengepalkan beberapa jari Alana kecuali jari telunjuknya.


Sementara tangan kanan Marvel menggenggamnya. Mengarahkan tangan Alana ke kanan dan kiri. Menunjuk beberapa rumah, gedung dan pepohonan.


"Lihatlah. Itu adalah gereja tua yang masih beroperasi hingga saat ini"


"Dan di sana ada sebuah gedung"


"Nah kalau ini, rumah-rumah yang dihiasi dengan cerobong asap"


"Li-"


Alana menarik tangannya dari genggaman Marvel. Sedari tadi hanya Marvel yang menikmatinya sementara Alana hanya diam. Menggerakkan tangannya dengan pandangannya yang gelap.


"Ada apa Alana?" Tanya Marvel heran.


Alana menggeleng. "Yaa... Di bawah sana sangat indah."


"Tapi hanya kau yang menikmatinya, Sementara aku tidak bisa menikmati apa-apa di sini"


Alana menghembuskan napasnya pelan. Sejenak Marvel tak bergeming. Membiarkan Alana mengeluarkan semua yang dirasakannya.


"Tak ada warna lain selain hitam"


"Tak ada gereja tua, gedung, atau bahkan cerobong asap sekalipun"


"Semua tampak sama. Gelap!"


Marvel mencoba meraih tangan Alana. Dirinya memang tidak tahu apa yang dirasakan Alana. Yang ia tahu, saat ini gadis itu tengah menumpahkan apa yang ia rasa.


"Alana... Maaf, aku hanya ingin membuat kau bahagia. Tapi ternyata caraku salah"


Lagi, Alana menurunkan tangannya dari genggaman Marvel.


Memalingkan tubuhnya. Menempelkan lengannya pada dinding pembatas, sembari memainkan jemarinya.


"Sejak aku lahir hingga saat ini yang pertama kali aku lihat adalah gelap. Aku kira karena waktu itu aku masih bayi. Ternyata karena mataku tak seperti kau Alvaro. Yang mampu melihat betapa indahnya ciptaan Tuhan," Alana memberi jeda pada ucapannya.


Menghembuskan napasnya kasar. "Senja itu seperti apa? Sampai semua orang menyukainya. Aku bahkan tak pernah tau langit itu sebiru apa. Jauh daripada itu, aku sendiri tak tahu seperti apa wajah kedua orang tua ku,"


"Dulu... Aku selalu berharap dapat melihat wajah ayahku. Tapi Tuhan berkata lain, sebelum aku dapat melihat wajahnya, ia sudah lebih dulu pergi..."


Pertama kali dalam hidup Marvel. Hatinya dibuat tersentuh dengan semua ucapan Alana. Dibalik sifatnya yang berani ternyata Alana adalah gadis yang rapuh.


"Ah maaf! Aku tidak harus menceritakan ini semua pada mu" Alana berniat ingin mengusap air matanya. Namun, Marvel sudah lebih dulu mengusapnya dengan lembut.


"Alana, bagiku kau adalah gadis yang sempurna"


"Jangan menghiburku seperti itu"


"Sungguh! Aku berkata jujur"


"Kau hanya terlalu iba padaku. Bukan begitu Alvaro?"


Marvel diam. Apakah benar dirinya hanya iba melihat keadaan Alana seperti sekarang. Itu artinya dirinya tak benar-benar mencintai Alana.


"Tak apa, wajar bila semua orang iba. Karena aku memang pantas untuk dikasihani" ucapnya tersenyum masam.


"Tidak Alana! Berhenti berbicara seperti orang yang putus asa."


"Kau yang berhenti! Sudah 22 tahun aku hidup dalam kegelapan! Kau tak akan mengerti apa yang aku rasakan karena matamu normal Alvaro! Kau tidak buta seperti ku!"


Tidak. Alana tidak bermaksud marah kepada Marvel. Ia hanya marah pada takdir yang dengan mudahnya mempermainkan dirinya seperti ini.


"Kalau kau seperti ini kenapa kau tidak mengakhiri hidup mu saja?" Tukasnya.


● ● ● ●