Epoch Evanescent

Epoch Evanescent
Bab 11



"Hey! Kau mau kemana? Hari ini kau ada presentasi"


"Marvel!"


"Shit! Kau bahkan tak menghiraukan aku."


Marvel meninggalkan kantornya. Memasuki mobil Bugatti La Voiture Noire berwarna hitam yang bertengger di parkiran. Menyalakan mesinnya, menginjak pedal gas lalu mobil itu melaju membelah jalanan kota London yang ramai.


"Hah! Kenapa dari semalam perasaan ku tidak enak ya" Marvel memijat dahinya pelan.


Kemana gadis itu. Satu hari tak bertemu saja sudah membuatku resah.


"Alana... Alana... Begitu dahsyat efek mencintai mu" gumamnya sambil terkekeh.


Marvel mengedarkan pandangannya. Mencari sosok Alana yang sedari tadi melayang di pikirinnya. Berharap hari ini ia menemukan gadis itu. Ingin memeluknya erat. Dan sedikit memberi kecupan pada pipinya.


"Sudah berapa kali aku mengitari kota ini? Kenapa belum juga menemukan mu Alana."


Sampai pada akhirnya Marvel memutuskan untuk berhenti di salah satu danau. Menuruni Bugatti La Voiture Noire . Melepaskan kacamata hitamnya, memasukannya pada saku jasnya.


Menyandarkan punggungnya pada pohon besar ditepi danau. Tangannya bergerak mengambil benda berbentuk persegi panjang dari saku celananya. Membuka kunci layar dengan sidik jarinya. Mencari galeri, dan ia mendapati foto Alana yang tengah menoleh dengan rambutnya yang hampir menutupi wajahnya. Marvel mampu membidik foto Alana dengan sempurna. Marvel tersenyum, memandangi foto gadis itu.



Alana.. kau tampak cantik mengenakan dress berwarna hitam itu. Bisakah aku memilikimu Alana?


Marvel kembali memasukkan hpnya. Ketika tiba-tiba telinganya menangkap suara isakan yang ia yakini suara itu berasal tak jauh dari tempatnya duduk.


Suara itu semakin jelas. Marvel berusaha mencari sumber suara itu. Hingga dirinya terlonjak kaget mendapati seorang gadis dengan dress tanpa lengan terduduk di bawah pohon. Rambut gadis itu berantakan. Kakinya yang tanpa alas. Serta ada beberapa bekas luka yang terlihat jelas di kakinya yang berkulit putih.


Dengan ragu. Marvel mencoba untuk mendekatinya. Memastikan kalau yang ada dihadapannya ini adalah manusia.


Marvel mengulurkan tangannya. Bermaksud menyentuh pundak gadis itu yang terus bergetar.


"H-hey..."


Tak ada sahutan dari gadis itu.


"Jawab aku kalau kau manusia"


"Jangan mendekat! Pergi dari hadapanku!"


"Syukurlah... Ternyata kau manusia" Marvel mengelus dadanya.


Tunggu. Suara itu begitu familiar bagi Marvel.


"Alana?"


Gadis itu diam. Dirinya kembali terisak. Meringkuk, menenggelamkan wajahnya di atas lipatan tangannya.


"Kau kah itu Alana?"


"Jangan dekati aku Alvaro! Pergi! Cepat pergi!"


Marvel berjongkok di hadapan Alana. Menatap gadis itu. Berantakan sekali. Apa yang sudah terjadi dengan mu Alana?


Ketika Marvel ingin menyentuh gadis itu. Dengan cepat Alana menepisnya. Menjauhkan tangan Marvel darinya.


Ditatapnya seorang Alana yang kini wajahnya sudah basah karena air mata. Terlihat sangat kacau.


"Alana... Kau kenapa?"


"Pergi Alvaro! Aku tidak ingin kau melihat ku yang seperti ini..."


"Tidak! Aku tidak akan pergi. Kau ada masalah apa? Ceritalah dengan ku"


"Kau tidak akan mengerti Alvaro... Pergilah! Jangan dekati aku lagi... Hiks... Pergi Alvaro... Cepat pergi!" Ucapnya sembari terisak.


"Jangan sentuh aku!" Bentaknya tepat dihadapan Marvel.


Marvel bingung. Ia tak tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi dengan gadis ini. Ada masalah apa sampai-sampai begitu marah kepada dirinya.


Bahkan aku terlalu kotor dan hina untuk laki-laki sebaik kau Alvaro. Aku terlalu malu untuk berada di dekatmu.


Marvel berusaha memeluk Alana kembali dengan erat. Meski Alana terus memukulinya, Marvel sama sekali tak berniat ingin melepaskannya.


"Lepaskan aku Alvaro! Lepaskan..."


"Tidak Alana! Aku tidak akan melepaskan mu. Kau tidak sedang baik-baik saja"


Tangisnya pecah. Air matanya terus mengalir dari pelupuk matanya. Membasahi kemeja putih milik Marvel.


"Aku... Hiks... S-sudah kotor..."


"Aku manusia hina... Hiks... Aku... Malu padamu...."


Pukulan Alana mulai melemah. Marvel memeluk Alana sembari mengelus rambutnya.


"Kau ini bicara apa! Siapa yang mengatakan itu padamu?"


"PRIA ITU SUDAH MERENGGUT KEHORMATAN KU ALVARO! DIA TELAH MENGAMBILNYA! Hiks.. hiks..!" Teriaknya dengan Marvel yang masih memeluknya.


Rahangnya mengatup. Dengan tangannya yang sudah mengepal. Hatinya tertohok saat mendengar ucapan Alana. Pria mana yang tak kecewa melihat seseorang yang begitu ia cintai direnggut kehormatannya oleh lelaki tak bertanggung jawab.


Marvel berusaha meredamnya. Memegang bahu Alana. Merapihkan rambutnya sembari mengusap air matanya yang terus mengalir. Marvel dapat melihat dengan jelas begitu sedihnya Alana saat ini karena lelaki tak bertanggung jawab telah merenggut kehormatannya.


"Siapa laki-laki itu Alana?" Ucapnya selembut mungkin.


Alana menggeleng. "Aku tidak tahu..."


"Apa ada seseorang yang memaksa mu? Menyuruh mu melakukan perbuatan maksiat itu?"


"G-grace..."


Marvel tampak berpikir. Nama itu, pernah ia dengar sebelumnya.


"Siapa dia?"


"Ibu kandung ku. Dia yang telah menjualku Alvaro! Menyiksa ku... Lalu memaksa ku untuk melayani nafsu kaum adam"


Marvel menghembuskan napasnya kasar. Kembali membawa Alana ke dalam pelukannya. Membiarkan gadis itu menangis sejadi-jadinya.


● ● ● ●


'


'


'


'


'


'


'


'


Happy reading:)