
Bruk!
Dilemparnya Alana ke atas sofa putih berukuran besar. Tak cukup sampai di situ. Grace menarik rambut Alana kasar. Alana memegangi tangan Grace yang masih menarik rambutnya.
Wajah Grace yang merah padam. Memperlihatkan aura kebencian yang begitu besar kepada Alana.
"AKU MENYURUH KAU UNTUK MELAYANINYA! BUKAN BERUSAHA UNTUK KABUR!" Bentaknya. Grace menarik rambut Alana lagi. Membuat pori-pori rambut Alana ikut tertarik.
"Hiks! Aku tidak mau Bu... Tolong lepaskan aku..." Ucapnya dengan terisak.
"ANAK TIDAK BERGUNA!" Grace menghempaskan kepala Alana, membuat dirinya terhuyung ke belakang.
Grace mencengkeram wajah Alana kuat. "Apa kelebihan mu hanya menangis?"
"Kau tahu. Laki-laki itu sudah membayar mahal atas dirimu. Sementara kau tidak melayaninya! MEMALUKAN!"
"Ahhh! Hiks..."
"Aku ini anakmu Bu... K-kenapa kau tega menjual ku..."
"Kenapa kau bilang?"
Plak!
Satu tamparan cukup keras berhasil dilayangkan Grace. Alana memegangi pipinya yang berdenyut.
"Karena aku membutuhkan uang!"
"A-aku... Hiks... Bisa mencarikan.. uang untukmu.. Bu. Tapi tidak dengan cara seperti itu... " Ucap Alana begitu parau.
"Hahaha...! Apa aku tidak salah dengar? Kau ingin mencarikan aku uang?" Tawa meremehkan itu terdengar begitu nyaring pada telinga Alana.
Grace membungkukkan badannya, berbisik pada Alana. "Apa yang bisa dilakukan gadis buta seperti mu?"
Alana diam.
"Apa? Apa yang bisa kau lakukan Alana? KAU ITU BUTA! TIDAK BERGUNA! kau tidak lebih dari sampah!" Bentak Grace sarkas.
Cairan bening itu meluncur begitu deras membasahi pipi mulus Alana.
Memang benar yang dikatakan ibu, apa yang bisa dilakukan gadis buta sepertiku ini? Selain belas kasih yang ku dapat.
"Jangan selalu menganggap dirimu itu bersih! KAU SUDAH KOTOR ALANA!"
"Wajah cantikmu ditakdirkan untuk melayani nafsu kaum adam. Maka, turuti saja perintah ku! Dan jangan membantah lagi!"
"Besok, kau harus tampil lebih cantik lagi ya sayang, dan aku tidak mau mendengar kalau kau tidak becus melayani mereka."
"Mengerti?!"
● ● ● ●
Yang ku tahu hanyalah gelap. Hitam pekat. Hanya suara-suara dari alam yang menemani setiap langkahku.
♫ ♫ ♫ ♫
Alana berjalan seorang diri. Menelusuri setiap jalanan kota London. Entahlah... Alana juga tak tahu harus melangkahkan kakinya kemana lagi, pasalnya ia sudah kabur dari rumah Grace. Saat ini pasti Grace tengah mencarinya, dan bisa dipastikan ketika ia bertemu dengan Alana, Grace akan memukulinya lagi.
Sampai pada akhirnya Alana menabrak punggung seseorang. Ia berbalik menatap Alana yang terus meminta maaf.
"Kau mau kemana cantik? Ayo biar aku temani" Ucap laki-laki itu berniat menyentuh Alana.
Alana berjalan mundur. Sedikit menjauh dari laki-laki di hadapannya.
Laki-laki itu menarik paksa Alana. Menempelkan tubuhnya pada pohon besar yang berdiri tak jauh darinya.
Laki-laki itu mengunci Alana hingga tak mampu membuat dirinya bergerak. Kepalanya bergerak dari atas ke bawah ke kanan dan kiri. Memperhatikan tiap lekuk tubuh Alana.
Setelahnya, digerakkan jemarinya menyusuri wajah mulus Alana hingga menyentuh bibir sexynya dan tepi leher Alana.
Alana menutup matanya. Ia hanya berharap saat ini ada seseorang yang datang menolongnya.
Membuka matanya lalu berteriak. "TOLOOONG!" Teriak Alana sekeras mungkin.
"Tak akan ada yang mendengarmu sayang. Jalanan yang kau pilih terlalu sepi. Tak akan ada yang datang"
"Tenang lah, aku tidak akan macam-macam. Hanya sedikit menikmati bibirmu yang kelihatan manis ini"
"Tidak! Jangan lakukan itu! Aku mohon..."
Laki-laki itu memegangi bibir bawah Alana dengan ibu jarinya. Berniat menciumnya.
"K*****t! Jauhkan tangan kotormu darinya!"
"Hah! Rupanya ada pahlawan kesiangan di sini." Ucapnya mengurungkan niatnya.
"Lepaskan gadis itu!" Ucapnya menghampiri pria bertubuh besar dan berotot.
"Kau pikir aku akan melepaskannya? Cih! Jangan mimpi!" Balas pria itu kembali bergerak bebas menyentuh bibir sexy Alana.
Bugh!!
Geram. Satu pukulan berhasil dilayangkannya. Membuat pria itu jatuh tersungkur; memegangi sudut bibirnya yang mengeluarkan darah segar.
"Kau tidak apa-apa Alana?" Ucapnya dengan nada khawatir.
Alana mengangguk. "Aku tidak apa-apa. Kau kah itu Alvaro?"
Sempat saat pria itu ingin membalasnya. Dengan cepat ia menyembunyikan Alana di belakang punggung tegapnya. Menendang pria itu, memukulnya beberapa kali hingga membuatnya tak mampu untuk berdiri kembali.
Tanpa persetujuan dari Alana, dia meraih tangan Alana. Membawanya pergi dari tempat itu.
Alana diam. Mengikuti kemana laki-laki itu membawanya pergi.
Kini aku telah menemukan genggaman hangat itu. Mampukah tangan ini akan terus menggenggam ku. Berjalan beriringan, melewati duniaku yang berbeda.
"Tunggu!" Ujar Alana membuat langkah mereka terhenti.
Ia berbalik menghadap Alana dengan satu alisnya yang terangkat. "Ada apa Alana?"
"Kau belum menjawab pertanyaan ku"
"Aku kira suaraku sudah terekam jelas dalam ingatanmu"
"Aku hanya memastikannya saja"
"Iya, aku Alvaro. Ayo!"
Dalam dunia mu aku adalah Alvaro. Tapi tidak dengan duniaku. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksimu, ketika tahu kalau sebenarnya seseorang yang selalu menggenggam tanganmu adalah Marvel bukan Alvaro.
"Kau mau membawaku kemana?" Tanya Alana tanpa menoleh.
"Ke suatu tempat, dimana kau bisa melihat semuanya" Balas Marvel tak sadar.
Alana menundukkan pandangannya. Apa laki-laki ini belum juga tahu kalau Alana adalah seorang tunanetra? Ataukah bermaksud mengejeknya.
Marvel tersadar. Apa yang diucapkannya bisa saja menyinggung perasaan gadis itu. "Ah! Maaf, aku tidak bermaksud menyinggung perasaan mu Alana"
Alana tersenyum. "Tidak apa-apa. Sekalipun kau bilang aku tunanetra aku tidak akan menyangkalnya."
Mereka sudah sampai disebuah gedung milik keluarga Aldebaran. Yah, gedung itu milik orang tua Marvel.
"Nah! Kita sudah sampai. Ini tempatnya." Marvel memang sengaja tak menjawab ucapan Alana.
Ia membawa Alana masuk ke dalam gedung itu. Menaiki sebuah lift yang akan mengantarkan mereka ke suatu tempat.
Setelah sampai, Marvel mengarahkan kedua tangan Alana, meletakkannya untuk berpegangan pada dinding pembatas yang tingginya tidak lebih dari dada Marvel.
Alana mengeratkan pegangannya. Menghirup setiap oksigen yang masuk melalui lubang hidungnya. Lalu, menghembuskannya perlahan.
Sangat tenang di sini. Udaranya yang sejuk, mampu membuat Alana ingin berlama-lama berada di atas sini.
Dari atas sini Marvel dapat melihat seluruh kota London. Tapi tidak dengan Alana.
Mereka berdiri beriringan. Pandangannya yang menatap lurus ke depan. Dan pada akhirnya Alana memutuskan untuk bertanya.
"Kita ada di mana?"
● ● ● ●