
Bau alkohol menyeruak diseisi ruangan. Tampak seorang pelayan tengah berjalan dengan membawa dua gelas dan satu botol wine, di atas nampan yang dibawanya.
"Selamat menikmati Tuan" Ucapnya sangat ramah.
"Bukankah pelayan tadi itu cantik?" Tanya Alvaro setelah pelayan itu pergi.
"Ya, tapi tak menarik"
"Lihatlah! Begitu banyak wanita cantik dan bertubuh sexy di sini. Kau tinggal memilih wanita seperti apa yang kau inginkan. Marvel" Ia menunjuk beberapa wanita yang dimaksud dengan dagunya.
Marvel hanya bergeming.
Menghembuskan napasnya kasar. Kini iris matanya mulai bergerak ke kanan dan kiri, mengedarkan pandangannya. Sama sekali tak ada yang menarik bagi seorang Marvel Aldebaran. Ia kembali menatap segelas wine yang dipegangnya.
"Tampak biasa." Ucapnya, lalu menempelkan ujung gelas itu pada bibir menawannya. Meneguknya dengan tenang.
"Huft! Padahal kau bisa mendapatkan semuanya jika kau mau" Alvaro mengikuti Marvel. Meneguk wine yang sedari tadi tak lepas dari tangannya.
"Tidak Bu! Jangan tinggalkan aku di sini! Aku mohon..." Teriak seseorang dari sudut ruangan.
Cantik...
Grace menarik lengan Alana. Mendekatkan tubuhnya dengan dirinya. "Jadilah sedikit berguna untuk ku! Layani dan jangan melawan!" Bisiknya.
Beberapa kali Alana menggeleng-gelengkan kepalanya. Memberi isyarat bahwa dirinya tidak ingin mengikuti kemauan Grace.
Grace tersenyum. "Mana uang yang kau janjikan Tuan?"
Laki-laki itu menyerahkan amplop berwarna coklat yang berisi cukup tebal. "Ini, sesuai keinginan mu Nyonya"
Grace membuka amplop itu, ada beberapa lembar uang di dalamnya. Grace menghitung uang itu lalu tersenyum puas ketika dirasa cukup. Grace memasukkan kembali uang itu ke dalam amplop coklat.
"Baiklah. Malam ini dia milikmu Tuan. Kau dapat menikmatinya" Grace menghempaskan tubuh Alana kepada laki-laki berjas hitam dengan badan gemuk dan berkumis sedikit tebal itu.
"Cantik sekali. Aku akan menghubungi kau lagi, jika aku merasa puas" ucapnya menatap Alana lekat.
Grace tersenyum lebar. "Asal aku mendapatkan lebih dari ini" Grace mengangkat amplop coklatnya lalu menepuk-nepukan pada telapak tangannya.
"Hahaha! Itu perkara mudah Nyonya. Aku bahkan bisa memberimu lebih dari yang kau inginkan"
"Lepaskan aku!" Teriak Alana masih meronta. Namun tak dipedulikan.
"Senang bekerja sama dengan anda Tuan. Kalau begitu saya permisi. Terima kasih dan selamat bersenang-senang"
Grace meninggalkan Alana yang masih meneriaki dirinya. Bahkan Grace sama sekali tak menoleh ke arahnya. Kejam.
Sayang sekali bila kecantikan mu harus ternodai oleh laki-laki brengsek itu.
"Tidak Bu! Ibu! Kau tidak bisa meninggalkan aku di sini!"
"Diam! Jangan membuatku malu. Ayo ikut denganku,"
"Tenanglah sayang, malam ini kita akan bersenang-senang. Hahaha..." Laki-laki itu menarik Alana kasar, membawanya ke suatu pintu kayu dengan nomor '12'. Dengan tangan kanannya berusaha membuka pintu. Sementara, tangan kirinya masih memeluk Alana, tak memberi dirinya celah untuk lepas.
Klek!
"Ayo sayang. Kita nikmati malam ini berdua" Ia kembali menarik Alana, menutup pintunya kembali.
Menghempaskan Alana di atas tempat tidur berukuran king size. Sementara ia melepas jas dan melonggarkan dasinya.
Alana meraba sekitarnya. Tempat tidur? Apa yang akan dilakukannya? Tidak! Aku harus segera keluar dari sini!.
Alana bangkit dari duduknya, berjalan seperti vampir dalam film boboho. Di ayunkannya tangannya ke atas, bawah, kiri, dan kanan.
"Aduh!" Pekik Alana karena kakinya tersandung sesuatu.