
Prank!!!
Suara piring yang dilempar di atas lantai membuatnya pecah berkeping-keping. Alana gadis berumur 22 tahun itu terduduk di atas lantai yang dingin. Di depannya berdiri seorang wanita berumur 37 tahun dengan dandanan nyentriknya.
Kedua tangannnya bersedekap dengan raut wajah yang menunjukkan kekesalan. Wajah cantik Alana tertutupi oleh sebagian rambutnya. Menunduk takut.
Wanita itu menangkup wajah Alana dan mencengkeramnya kuat, menegakkan wajah Alana agar ia bisa dengan jelas melihat wajahnya. Alana yang mengerang sakit pun sama sekali tak dihiraukannya.
"Kau tahu Alana, apa penyesalan terbesar dalam hidupku? Adalah memiliki anak cacat seperti mu!" Ucapnya pelan, namun begitu menusuk.
"Jika aku sudah tahu lebih dulu akan memiliki anak buta seperti mu, aku tidak akan pernah membiarkan mu ada di dunia ini! Cih! Menyusahkan!" Wanita itu menghempaskan wajah Alana kasar, membuat rambutnya yang terurai mengikuti gerak kepalanya.
"Kau sama sekali tak terlihat seperti ibu kandung yang menyayangi anaknya. Kau bahkan lebih mirip ibu tiri yang kejam!" Ucap Alana lantang.
"Anggap saja begitu. Karena aku tak pernah menyayangimu, Alana Florencia..." Ujar wanita itu tepat di telinga Alana. Membuat dirinya mendengar dengan jelas.
"Kenapa kau begitu membenciku Bu? Kenapa?!" Teriak Alana dengan suaranya yang mulai bergetar.
"Kenapa katamu? Hahaha... Karena kau adalah anak yang tidak berguna!"
Wanita itu kembali bersedekap dengan senyum meremehkan. "Kehadiran mu di dunia ini hanya menambah beban saja!" Ucapnya lagi dengan penuh penekanan.
Hiks!
"Kenapa kau tidak membunuhku saja Bu? Dengan begitu aku tak perlu membebani mu lagi..."
Wanita itu menyunggingkan bibirnya. "Asal kau tau, dari awal aku memang berniat ingin membunuhmu. Hanya saja terhalang oleh ayahmu."
Lagi. Beribu-ribu benda tajam seolah menghantamnya, sakit tapi tidak berdarah. Ucapan ibunya terlalu menyakitkan. Alana berusaha mencerna setiap kata yang keluar dari mulut ibunya. Meski sesak tapi Alana mencoba untuk mengerti.
Yah, mengerti karena selama ini ibunya tak mau menerima kehadirannya. Itu semua karena Alana bukanlah anak sempurna pada umumnya.
Tapi, pantaskah seorang ibu kandung melontarkan kata-kata seperti itu pada anaknya? Pantaskah seorang ibu kandung membenci anaknya? Dan pantaskah seorang ibu kandung berniat ingin membunuhnya setelah susah payah mengandung dan melahirkannya?
"Anak baik," pujinya dengan menepuk-nepuk pelan pipi Alana.
"Kau merelakan dirimu mati di tangan ibu kandungmu sendiri? Menarik sekali"
Alana menarik napasnya lalu menghembuskannya perlahan. "Jika itu bisa menghilangkan penyesalan terbesar dalam hidupmu,"
"Percuma saja aku dilahirkan tapi kau tak pernah menginginkan kehadiran ku" Lanjutnya.
"Yah! Kau benar. Aku sama sekali tak menginginkan kehadiran mu,"
"Tapi saat ini aku sedang tidak ingin membunuhmu," wanita itu memegangi dagu Alana dengan sudut bibirnya yang terangkat.
"Wajah mu yang begitu cantik dan tubuh sexy mu ini sangat disayangkan bila terlalu cepat menjadi bangkai. Hahaha!" Ia melepas tangannya dari dagu Alana dengan tawa meremehkan.
"Bi!" Serunya memanggil kepada seseorang yang mengenakan seragam hitam putih.
"Ada yang bisa saya bantu Nyonya?" Tanya pembantu itu kepada Grace-Ibu Alana.
"Kau bawa anak tidak berguna ini ke dalam kamarnya." Titahnya sembari menunjuk Alana dengan telunjuknya.
Pembantu itu mengangguk paham. "Baik Nyonya!"
Pembantu itu mulai membantu Alana untuk berdiri. Menuntunnya, membawanya seperti apa yang diperintahkan Grace.
"Ah! Tunggu Bi" Grace kembali memanggil pembantunya.
"Jangan lupa kunci kamarnya"
"Baik Nyonya."
● ● ● ●