
Alana mengeratkan pelukannya, ketika dirasa udara dingin masuk melalui pori-porinya. Alana yang mengenakan dress selutut berwarna hitam dan bordiran bunga mawar merah terlihat pas ditubuhnya. Rambutnya yang terurai dan curly bak princess dalam dongeng-dongeng anak kecil. Sangat cantik. Bahkan, kecantikannya mampu membuat seorang Marvel langsung menjatuhkan hatinya kepada perempuan yang tengah dipeluknya itu.
Tin! Tin! Tin!
Lagi, suara klakson menyadarkan keduanya.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Marvel cemas.
"Kenapa dengan dahi mu? Apa itu sakit?" Tanyanya lagi ketika melihat dahi Alana yang sedikit memar.
Alana menggeleng. Tampaknya ia masih syok dengan kejadian yang baru saja dialaminya.
Tanpa persetujuan Alana. Marvel menggenggam tangan Alana. Berjalan pelan, membawanya menuju sebuah bangku taman yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Kau mau membawaku kemana?"
Marvel tidak menjawab pertanyaan Alana. Ia mempersilakan Alana untuk duduk. Keduanya duduk dalam diam. Menikmati bangku yang dingin dan terpaan angin yang membuat beberapa anak rambutnya bergerak.
"Terima kasih, karena kau telah menyelamatkan ku" Ucap Alana membuka pembicaraan.
Marvel mengangguk. "Sama-sama"
"Siapa namamu?"
Marvel diam. Ia harus menjawab apa sekarang? Menyebutkan nama Marvel Aldebaran? Tidak! Bagaimana jika Alana tiba-tiba marah dan pergi begitu saja. Sementara dirinya ingin lebih dekat dengan Alana. Setidaknya untuk malam ini saja.
"Hey... Kau masih di situ kan? Kenapa diam?" Tanyanya lagi karena belum mendapat sahutan.
"Ah i-iya! Nama ku... A-..."
"A...?"
"A-alvaro! Yah, nama ku Alvaro"
Maaf Alana, aku tidak bermaksud membohongi mu. Aku hanya tidak ingin kau langsung pergi ketika kau tahu jika aku ini bukan Alvaro melainkan Marvel. Laki-laki yang begitu kau benci.
"Aku Alana, sekali lagi terima kasih ya. Alvaro."
Marvel hanya tersenyum simpul. Menundukkan pandangannya. Membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya setelah kebohongan malam ini.
Ia menoleh ke arah Alana yang merasa kedinginan. Memang udara malam ini tak seperti biasanya. Terasa lebih dingin.
Apa sikap Alana akan sedingin ini, terhadap ku?
Marvel melepaskan jasnya, memberikannya pada Alana. Sontak. Perempuan itu menoleh, kini wajah mereka begitu dekat. Dengan Alana yang menatap kosong ke arahnya. Jauh daripada itu Marvel menatap Alana lekat. Meski tatapan Alana terlihat kosong, tapi Marvel merasakan debaran dalam dirinya. Perempuan di hadapannya ini benar-benar cantik.
Beberapa anak rambut Alana menutupi sebagian wajahnya. Tangan Marvel terulur menyelipkan anak rambut Alana ke telinganya. Sementara Alana hanya diam. Membiarkan Marvel memberikan perlakuan manis terhadapnya.
Lama sekali. Sejak sang ayah benar-benar pergi dari kehidupannya. Perempuan berambut hitam pekat itu tidak pernah lagi merasakan perlakuan semanis dan sehangat ini.
"Ah! Maaf. Tadi rambutmu menutupi sebagian wajahmu."
Alana tersenyum. Mengangguk pelan.
Alana. Meski kau buta, tapi kau terlihat begitu cantik. Kau tampak sempurna di mataku. Aku tida akan membiarkan senyum mu padam begitu saja. Teruslah tersenyum untukku, Alana.
"Kenapa kau ada di sini Alvaro?" Tanya Alana menyadarkan Marvel dari lamunannya.
"Mencari udara segar" Jawabnya asal.
"Oo begitu ya..."
"Kau sendiri, kenapa seorang gadis keluar sendiri malam-malam begini?"
"Karena aku ingin" Tentu saja Alana berbohong. Mana mungkin ia mengatakan yang sebenarnya kepada seseorang yang baru saja ia kenal.
"Sudah larut malam, ayo! Aku antar kau pulang" Marvel yang hendak berdiri, kembali duduk ketika Alana mencekal pergelangan tangannya.
"Kenapa?" Tanya Marvel menatap Alana.
"Aku tidak ingin pulang. Boleh, aku menginap di rumah mu? Satu malam saja! Setelah itu aku akan segera pergi" Mohon Alana berharap Marvel mengiyakannya.
Marvel memang sangat ingin mengiyakan permintaan Alana. Namun, bagaimana kata orang-orang jika dirinya membawa pulang seorang perempuan malam-malam begini. Dan lagi, indentitas dirinya sebagai Alvaro akan terbongkar.
"Alana, tidak baik seorang gadis menginap di rumah pria yang bahkan kau baru mengenal ku beberapa jam yang lalu" Ujar Marvel sembari menangkup wajah Alana.
"Tapi aku tidak ingin pulang... Aku takut..." Tutur Alana, suaranya kini mulai bergetar.
"Hey hey! Tidak ada yang perlu kau takutkan Alana. Aku akan mengantarmu pulang sekarang. Ayo!"
Marvel kembali bangkit, mengandeng tangan Alana. Dengan terpaksa Alana menuruti ucapan Marvel. Semoga Grace tidak akan memarahinya.
Mereka berjalan di tepi jalan yang sepi, tidak begitu banyak orang dan kendaraan yang berlalu lalang.
"Astaga Alana! Ibu mencari mu kemana-mana, ternyata kau di sini"
Grace menghampiri Alana. Saat ingin menarik Alana, Marvel memberikan isyarat 'stop' dengan tangannya.
"Kau ini siapa?" Tanya Marvel penuh selidik.
"Aku Grace, orang tua Alana" Jawabnya mantap.
Marvel menoleh ke arah Alana. "Alana, apa yang dikatakannya itu benar?" Tanya Marvel lembut.
"I-iya" Jawab Alana merasa takut.
Grace langsung merampas Alana dari Marvel. "Ayo sayang. Kita pulang"
Grace membawa Alana menuju mobilnya. Menstarter mobilnya, melaju meninggalkan Marvel yang menatapnya heran.
"Kenapa perasaanku tidak enak, jika benar dia adalah Ibu Alana, lantas kenapa Alana seperti ketakutan saat menjawabnya"
"Sudahlah! Semoga kau baik-baik saja Alana"
● ● ● ●