Epoch Evanescent

Epoch Evanescent
Bab 8



Alana teringat saat dimana dirinya memecahkan kaca yang berada di hadapannya. Membuat kaca itu hancur berkeping-keping. Alana yang waktu itu benar-benar putus asa.  Selalu merasa takdir tidaklah adil baginya.


Memperlakukan dirinya sebegitu pedihnya. Alana kecil meraba sekelilingnya, mengambil pecahan kaca yang tergeletak di sebelahnya. Ia ingin menggoreskannya pada pergelangan tangannya.


Berniat mengakhiri hidupnya detik itu juga. Menurutnya untuk apa ia hidup dengan kondisi seperti ini. Bahkan seorang ibu yang seharusnya bisa menguatkan dirinya justru membuat mentalnya semakin down.


Ricko sang ayah segera berlari menuju kamar Alana ketika mendengar suara kaca pecah. Memutar kenop pintu lalu pintu pun terbuka. Memperlihatkan Alana yang sedang terduduk dengan wajah yang dibasahi air mata.


Ia menghampiri Alana. Duduk di sampingnya. Perlahan meraih tangan Alana. Mengambil pecahan kaca yang sedari tadi dipegangnya.


Ricko sang ayah berhasil menjauhkan pecahan kaca itu dari Alana kecil. Ia mengelus puncak rambut Alana lembut. Memberi nasihat dan semangat hidup untuk Alana.


Alana kecil memeluknya begitu erat. Rasanya orang yang ia punya di dunia ini hanya lah Ricko.


Begitu banyak kata-kata yang bahkan menjadikan Alana lebih kuat dari sebelumnya.


"Aku sudah berniat ingin melakukan itu sejak umurku 17 tahun. Tapi aku tidak selemah itu"


"Kalau begitu, tunjukkan! Tunjukkan pada dunia kalau kau adalah gadis yang kuat. Yang tidak akan mudah menyerah pada keadaan, sekalipun tidak ada yang berpihak padamu."


"Jadilah kuat Alana. Kau harus yakin suatu saat nanti akan ada seseorang yang memberikan matanya untukmu"


"Kau berbicara seperti itu seakan-akan mudah sekali. Siapa yang mau memberikan mata untukku jika mereka harus kehilangan nyawa terlebih dulu"


Benar yang dikatakan Alana. Kalaupun ada belum tentu ia mau mendonorkan matanya pada Alana.


Marvel memegangi pundak Alana. Menatapnya lekat. "Dengarkan aku Alana. Kau harus lebih kuat dari sekarang. Kau harus yakin jika suatu saat nanti akan ada seseorang yang mau mendonorkan matanya untukmu. Jika saat itu tiba. Lihatlah hal yang ingin kau lihat pertama kali"


"Kau Alvaro!"


"Kaulah yang ingin pertama kali aku lihat."


Tanpa sadar, sudut bibir Marvel terangkat.


Tidak! Tidak! Yang ingin Alana lihat adalah Alvaro bukan Marvel.


"Alvaro boleh aku meminta sesuatu?"


"Boleh. Apapun itu Alana"


"Aku hanya ingin menyentuh wajahmu"


Marvel tersenyum mendengar permintaan Alana. Pria berumur 3  tahun lebih tua darinya itu membiarkan tangan Alana meraba wajah tampannya.


"Apakah kau sangat tampan?" Tanyanya lugu.


"Hahaha...." Tawa Marvel pecah ketika mendengar pertanyaan Alana.


"Kenapa kau malah tertawa?" Tanyanya bingung.


"Tidak... Hahaha... Kau ini sangat lucu Alana" Marvel memegangi perutnya yang terasa keram karena banyak tertawa.


Menyisir rambutnya ke belakang dengan jemarinya.


"Apa dengan meraba wajahku saja kau sudah tahu jika aku ini tampan?" Tanya Marvel dengan nada sedikit menggoda.


Seketika kedua pipi Alana merona. Marvel dapat menangkapnya dengan jelas. Pria itu benar-benar menyukai Alana. Di mata Marvel Alana memang berbeda dari gadis lainnya. Bukan. Bukan karena dirinya tunanetra, tapi karena keluguan gadis itu.


"A-aku hanya bertanya, bukan sudah tahu!" Elak Alana.


Jauh dalam benaknya. Alvaro adalah sosok pria tampan dan baik. Itu yang ada di pikiran Alana.


"Aku akui, aku memang tampan. Hahaha..." Jawab Marvel membanggakan dirinya.


"Apa kau selalu membanggakan diri seperti itu?"


"Iya, karena itu faktanya dan aku tidak pernah menyangkalnya"


Marvel menatap wajah Alana yang semakin cantik ketika rambut gadis itu menampar wajahnya sendiri karena udara yang berhembus kencang.


"Kau juga cantik Alana. Sangat cantik" Ucap Marvel dengan menyelipkan rambut Alana ke telinganya.


"Benarkah?" Tanya Alana memastikan. Dengan semburat merah di pipinya.


"Tentu saja"


"Jika kau bisa melihat. Lihatlah dirimu dicermin. Lihat betapa cantiknya dirimu"


"Aku hanya ingin melihat kau Alvaro"


Marvel mengacak rambut Alana gemas. "Kau pasti akan bisa melihatku Alana"


"Entahlah, aku tak yakin bisa mendapatkan donor"


"Kau harus yakin!"