
Laki-laki berkumis itu menoleh ke sumber suara. Dan benar saja, terlihat Alana yang sedang berusaha melarikan diri. Dengan segera ia menggendong Alana seperti aksi penculikan dalam sebuah drama. Alana terus memukul punggungnya namun, laki-laki itu kembali menghempaskan Alana di atas tempat tidur.
"Ahh! Kau mau apa?!" Sentak Alana.
Laki-laki itu diam.
Dengan kemeja yang masih terpakai di tubuhnya dan Alana yang masih mengenakan dress selututnya telentang di atas tempat tidur dengan kaki menjuntai ke bawah.
Kedua tangan laki-laki berkumis itu mengunci pergelangan tangan Alana sejajar dengan kepalanya. Mendekatkan wajahnya namun, Alana berusaha memalingkannya.
"Tolong!"
"Percuma, tak akan ada yang datang"
"Brengsek!"
Bugh!
"Arrgghhh!"
Alana berhasil menendang aset berharganya. Mengerang kesakitan sembari memeganginya.
Baru selangkah Alana berjalan, kakinya sudah lebih dulu dicekal. Membuat Alana kehilangan keseimbangan. Dan terjatuh tepat di depan laki-laki itu.
"Beraninya kau!"
Plak!
"Dasar j****g! Aku membayar kau mahal bukan untuk ini. Kau benar-benar membuatku marah!"
Ia mendekat. Kini posisinya begitu dekat. Laki-laki itu menyentuh wajah Alana dengan jemarinya. Menelusuri setiap lekuk wajahnya.
"Tapi aku tak akan menyakiti mu. Kau begitu cantik untukku lukai" ucapnya pelan bahkan terdengar seperti bisikan. Memegang rambut Alana dan menghirupnya dengan mata terpejam. "Bahkan rambutmu begitu harum"
Alana diam tak bergeming. Perempuan itu benar-benar merasa takut.
"Ah!" Alana menjerit, reflek tangan kanannya memegang tangan laki-laki itu yang kini tengah menarik rambutnya kuat.
"Ini balasan karena kau sudah kurang ajar!" Ucapnya dengan gemeletak.
"Lepaskan aku brengsek!"
"Kau tak lebih dari seorang b******n!"
Kesal. Laki-laki itu kembali menarik Alana dan lagi menghempaskan dirinya di atas tempat tidur dengan posisi sebelumnya. Kali ini tangan kirinya mengunci pergelangan tangan Alana. Sementara, tangan kanannya bergerak bebas menyusuri wajah cantik Alana.
"Arrghh! Lepaskan aku! Brengsek!"
Perlahan ia mendekatkan wajahnya dengan wajah Alana, membuat Alana mampu merasakan hembusan napasnya. Beberapa kali Alana menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan bermaksud menghindari seseorang yang berada di depannya.
Perlahan ...
Mendekat ...
Dan ...
Brak!
Seseorang menendang pintu, lalu menarik paksa laki-laki berkumis itu, membenturkan tubuhnya ke tembok, menguncinya dengan lengan kekarnya. Membuat laki-laki berkumis itu sedikit sulit untuk bernapas.
"S-siapa k-kau? Berani menganggu kesenangan ku!"
"Kau tak perlu tahu siapa aku. Yang harus kau tahu adalah serahkan gadis itu padaku!"
"Tidak akan! Aku sudah membayar mahal untuk ini"
"Baiklah, akan aku ganti tiga kali lipat. Bagaimana?"
"Baiklah. Tapi tolong lepaskan aku"
"Argh!"
Seseorang itu menekan lengannya.
"Apa yang sudah kau lakukan?!" Tanyanya memastikan.
"A-ak-u.. uhuk!" Jawabnya terbata.
Seseorang itu kembali menekan lengannya, membuatnya semakin sulit bernapas.
"Jawab!" Tegasnya.
"Le-lepaskan d-du-lu..."
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!"
Laki-laki berkumis itu memgangi lehernya yang sedikit sakit. Setelah seseorang melepaskannya.
"Aku menunggu."
"Baiklah, aku belum sempat melakukan apa-apa pada wanita itu." Ucapnya cepat tanpa melihat ke arahnya.
Ia melepaskan lengannya dari laki-laki berkumis itu dan kemudian menyuruhnya pergi.
Alana mengubah posisinya menjadi berdiri. Seseorang itu berjalan mendekati Alana yang sudah mulai ingin melangkah. Tepat saat Alana ingin mengayunkan kakinya dan...
Cup!
Dirinya kembali terjatuh di atas tempat tidur dengan laki-laki yang menindihnya. Menimbulkan suara dentuman yang menghiasi keheningan diantara keduanya.
Alana diam tak percaya. Begitupun dengan laki-laki yang menatapnya dengan mata terbelalak.
Kini kedua tangan Alana masuk ke dalam ruas-ruas jari seseorang yang berada di atasnya. Dengan ujung bibir mereka yang menempel sempurna.
Marvel! Marvel! Ternyata kau lebih cepat dari dugaanku.