Ending Scene

Ending Scene
Ending Scene



“Verisa!” teriak Lucky, mencoba memanggil Verisa ke pintu masuk boarding. Ia ingin menerobos masuk, tapi dua petugas di sana menahannya.


Lucky kembali berteriak memanggil nama Verisa, tapi tak ada yang kembali dari dalam. Verisa tak mendengar panggilannya. Dia sudah akan pergi.


“Ky, dia mungkin udah masuk ke pesawat,” Putra berkata santai.


Lucky menatap Putra datar, lalu ia berjalan ke arah dinding kaca yang memperlihatkan landasan dan pesawat yang akan dinaiki Verisa. Lucky benar-benar terlambat.


Dunia Lucky seolah runtuh ketika melihat pesawat itu melaju, lalu terbang. Verisa telah pergi meninggalkannya karena kebodohannya. Ia sudah tak bisa menahan Verisa. Semua sudah terlambat dan itu karena kebodohannya.


Lucky benar-benar bodoh karena melepaskan Verisa begitu saja.


Lucky terduduk lemas di lantai, lalu ia berteriak marah seraya meninju lantainya dengan keras. Meski tangannya terasa sakit, tapi itu bukan apa-apa. Hatinya jauh lebih sakit daripada ini. Ia benar-benar marah pada dirinya sendiri. Ia benci dirinya sendiri.


“Aku benar-benar bodoh banget,” Lucky mengakui, seraya menjambak rambutnya sendiri. Ia benar-benar menyesal dengan keputusan yang dibuatnya. Keputusan bodoh yang membuatnya kehilangan Verisa.


“Semua udah terjadi, Ky. Kamu harusnya pikirin itu sejak awal. Aku bahkan udah peringatin kamu, kan? Bukan cuma kamu yang pakai perasaan di sini. Kalau kamu di sini terluka kayak gini, terus menurutmu Nona Verisa gimana? Dia juga pasti terluka karena perasaannya, kan?” Putra berkata.


Lucky mengangguk pelan seraya menutup wajahnya dengan kedua tangannya, lalu kembali mengakui kesalahannya, “Kamu benar, Putra. Aku yang salah karena ngelepasin Verisa gitu aja. Dan, aku baru sadar kalau lagi-lagi aku nyakitin dia. Aku udah nyakitin perasaannya.”


“Sebaiknya kita pulang, Ky. Luka di perutmu belum sembuh benar. Tadi, kamu udah lari-lari kayak orang gila buat ngejar Nona Verisa, aku khawatir lukamu belum kering dan ....”


“Sakit di perutku bukan apa-apa dibanding rasa sakit yang mungkin Verisa rasain sekarang, Putra,” sela Lucky. “Ngebayangin Verisa harus ngerasain sakit hati karena kebodohanku, aku ngerasa udah kayak pembunuh. Aku benar-benar nyesel,” sesalnya.


“Bodoh.”


Lucky mendongak mendengar suara itu. Dan, ia terkejut melihat apa yang dilihatnya, atau tepatnya siapa yang dilihatnya.


“Kalau kamu tahu itu bakal nyakitin, harusnya kamu nggak ngelakuin ini. Apa kamu tahu, gimana rasanya kehilangan orang yang kita cintai buat kesekian kalinya?!” gadis itu berkata tajam, juga bergetar.


Lucky berdiri seraya berjalan menghampiri gadis itu. Ia tidak sedang bermimpi, kan? Itu benar-benar dia, kan?


“Sekarang kamu baru nyesel setelah bikin rasa sakit dan kecewa yang dalam di sini?” gadis itu menunjuk dadanya, hatinya.


“Verisa ....” gumam Lucky pelan ketika sudah berdiri tepat di depan gadis itu.


Lucky melihat mata Verisa berkaca ketika tatapan mereka bertemu. Lalu, Lucky menarik Verisa ke pelukannya. Merengkuhnya erat seolah melepaskan rindunya setelah beberapa lama tidak bertemu.


Seketika itu pula, Verisa menangis keras. Ia menumpahkan seluruh tangisnya, sakitnya, kecewanya, marahnya di dada Lucky. Sesekali Verisa memukul dadanya pelan untuk melampiaskan emosinya. Dan, Lucky hanya terus mendekapnya erat. Tak ingin melepaskan Verisa lagi.


“Maafin aku, Ve. Maafin aku,” ucap Lucky berkali-kali. Meski beribu-ribu maaf terucap, rasa sakit yang dibuatnya untuk Verisa pasti tak bisa sembuh dengan mudah.


“Kenapa Kakak jahat banget sama aku? Kakak tahu nggak, kalau aku tuh kangen sama Kakak. Aku selalu nungguin Kakak pulang, tapi Kak Lucky tega nggak pernah pulang, Kakak tega nggak nemuin aku,” ungkap Verisa diiringi tangisnya.


“Maaf, Ve. Aku yang salah. Maafin aku.”


“Dan tadi ... kenapa Kakak ngomong gitu ke Ayah sama Ibu? Kenapa Kakak malah minta buat ngejauhin aku? Kalau emang Kak Lucky nggak mau ngurusin aku, sejak awal ....”


“Karena aku cinta kamu, Verisa. Aku cinta sama kamu,” potong Lucky, masih memeluk Verisa erat.


Verisa menangis semakin keras, membuat Lucky bingung. “Ve, maafin aku. Aku nggak ada maksud buat nyakitin kamu. Tapi, aku ngelakuin itu karena ....”


“Aku juga cinta sama Kak Lucky,” ganti Verisa yang menyela, membuatnya mematung di tempat. Terkejut.


Namun setelahnya, Lucky tersenyum dan mengeratkan pelukannya, seraya mengecup puncak kepala Verisa.


***


“Bikin mereka sadar sama perasaan mereka sendiri tuh, susah juga, ya?” ucapan William membuat Lucky dan Verisa melepaskan pelukannya hanya untuk menatapnya tajam.


William yang sudah berdiri di sisi Putra, mengangkat tangan hanya untuk ber-high five ­bersama Putra. Lalu, tersenyum geli melihat Lucky dan Verisa yang tampak bingung melihatnya.


“Apa maksudnya itu tadi?” Lucky mengedik ke arahnya, juga Putra.


“Sesuatu seperti, selebrasi kemenangan,” William menjawab santai.


Lucky menyipit tajam. “Apa ada sesuatu yang kalian sembunyiin dari aku?”


William hanya mengedik cuek, tak berniat membalasnya. Karena memang semua yang ia lakukan adalah rencananya. Lucky dan Verisa tak perlu tahu.


William menatap Verisa yang kini menatapnya dengan senyum haru. Ia membalas senyum gadis itu, lalu mengangguk pelan.


“Pak Putra, kayaknya kita harus istirahat panjang setelah nyelesaiin drama ini?” ucap William pada Putra.


Putra mengangguk. “Ya, Tuan William benar. Ternyata kerja begini lebih susah dibanding kerja dengan file yang numpuk.”


Putra tergelak lalu merangkul William. “Just kidding, Boy.”


William tersenyum juga sebelum pergi meninggalkan mereka.


***


Putra berdeham, menarik perhatian Lucky dan Verisa.


“Mau sampai kapan kalian jadi tontonan orang di sini?” Putra berkata.


Lucky yang masih memeluk Verisa untuk menyembunyikan wajah gadis itu yang tampak malu, menatap Putra protes.


“Ve, kita pulang?” Lucky berkata pada Verisa, yang dijawab anggukan gadis itu.


“Tunggu, Kak. Aku pengen tahu alasan Kakak, kenapa ngehindarin aku semenjak kebakaran itu?” tanya Verisa penasaran.


“Ve, kita bahas itu nanti, ya?” Lucky membalas.


Verisa mendecak kesal dan justru mendorong Lucky untuk menjauh. Namun, dorongan Verisa tak sengaja mengenai luka tembak di perutnya, membuat Lucky mengerang kesakitan.


“Kak Lucky, kenapa?” panik Verisa.


Lucky memegangi perutnya sambil meringis, tapi ia menggeleng menjawab Verisa.


Verisa sempat melihat Lucky yang memegangi perutnya dan bertanya, “Perut Kakak kenapa? Sakit?”


Verisa mencoba membuka kemeja Lucky, tapi Lucky menahannya.


“Nanti aku jelasin semuanya di rumah.


“Kenapa sih, Kakak nggak mau terbuka sama aku? Apa karena aku masih anak-anak? Karena aku anak manja? Atau karena apa?” sembur Verisa kesal.


“Maaf, Ve. Bukan gitu maksudku. Aku cuma nggak mau bikin kamu khawatir,” balasnya kalem.


“Justru yang Kakak lakuin ini yang bikin aku khawatir. Apa Kak Lucky tahu, kalau aku sempet nyerah karena nggak punya alasan lagi buat hidup? Setelah semua orang yang aku cintai pergi ninggalin aku, Kakak yang datang dan nawarin diri buat jagain aku, juga pergi. Bahkan setelah tahu perasaanku sebenernya.


“Aku pikir Kakak nggak benar-benar cinta sama aku. Terus, buat apa aku ada di sini kalau Kakak juga nggak ada?” Verisa menunduk sedih.


Lucky menarik dagu Verisa dan menatapnya lekat. “Maafin aku lagi ya, Ve. Salahku udah ngelakuin semua keputusan bodohku ini. Dan, aku nyesel. Aku cuma takut, pas kamu pakai perasaanmu buat lebih percaya sama aku, aku takut ngecewain kamu. Sebelumnya juga, aku selalu bikin kamu sedih, sakit, makanya aku takut kalau terus ada di sisi kamu dan terus-terusan bikin kamu terluka,” terangnya penuh sesal.


Lucky menarik napas dalam seraya menangkup wajah Verisa lembut.


“Aku cinta sama kamu, Verisa. Aku nggak akan ninggalin kamu dan pergi jauh dari kamu lagi. Aku nggak bisa hidup tanpa kamu. Aku cinta kamu,” aku Lucky tepat ke mata Verisa.


“Kakak ... janji?”


Lucky mengangguk. “Aku janji.”


“Meski aku cuma seorang gadis delapan belas tahun yang masih labil?” Verisa memastikan.


“Meski kamu gadis delapan belas tahun yang masih labil,” ulang Lucky.


“Meski usia kita terpaut jauh?”


“Meski usia kita terpaut jauh.”


“Meski aku bakal manja dan ngerepotin Kakak?”


“Meski kamu bakal manja dan ... tunggu, kapan kamu ngerepotin aku?” Lucky bertanya bingung.


Verisa tertawa kecil. “Aku juga cintai kamu, Kak.” Verisa berjinjit untuk mencium pipi Lucky, membuat pria itu terbelalak kaget akan apa yang gadisnya lakukan.


Verisa sudah berjalan lebih dulu ke mobil. Lucky sempat melihat wajah Verisa memerah malu. Gadisnya itu sungguh menggemaskan. Lucky menyusul Verisa dan membukakan pintu mobil untuk Verisa. Tapi, sebelum Verisa masuk ke dalam mobil, Lucky lebih dulu menarik Verisa untuk memeluknya dan berkata, “Aku cinta sama kamu, Ve. Sangat.”


“Bisa tolong hentiin drama kalian, hm?” sindir Putra terdengar jengah.


“Maaf, Bro. Aku nggak bisa menahan perasaanku sekarang,” balas Lucky santai.


“Maaf, Kak Putra. Aku juga nggak bisa nahan,” Verisa ikut menanggapi, membuat Lucky tergelak.


Begitulah cinta bermain. Tidak ada yang pernah tahu akan berlabuh ke mana hati seseorang. Lucky tidak menyangka, jika ia akan mencintai seorang gadis berusia delapan belas tahun. Begitu pun Verisa yang bisa mencintai Lucky yang usianya sudah kepala tiga. Cinta memang tak mengenal logika. Karena ia tidak menyangka jika akhir pelabuhan hatinya benar-benar pada gadis ini. Verisa.


***