
Siang itu, Lucky sudah siap untuk mengajak Verisa jalan-jalan ke tempat yang diinginkannya. Setelah semalam ia mengakui perasaannya pada Verisa, ada sedikit rasa lega dan rasanya siang ini ia sudah sangat merindukannya. Dan ia ingin segera bertemu dengan gadis itu.
Setelah menunggu di depan kamar gadis itu kurang lebih lima menit, setelah mengabarinya jika ia sudah di depan, akhirnya ia bisa melihat gadisnya itu. Lucky berusaha untuk kembali bersikap biasa saja dan lebih mencoba menenangkan jantungnya yang sudah mulai kacau.
Aroma harum parfum yang segar sudah lebih dulu menyambut Lucky. Ia menatap gadis yang sudah keluar dari kamarnya itu lekat. Mematung. Verisa menggunakan celana jeans panjang dan kaos putih bermotif tulisan yang terlihat santai. Gadis itu menggendong tas kecil di belakang punggungnya. Kenapa hanya dengan pakaian seperti itu, Verisa bisa terlihat sangat ... cantik?
“Kak!” senggol Verisa kesal. “Kok ngelamun? Ayo, berangkat,” tuntut Verisa.
Lucky yang tersadar dari pesonanya, mengangguk cepat. “Ayo, berangkat,” Lucky mengulang kalimat Verisa.
Di mobil, sesekali ia melirik Verisa yang tampak bersenandung riang. Seketika membuat Lucky tersenyum lega. Setidaknya gadis itu sudah tidak bersedih lagi karena masalah hidupnya.
“Ve, kita mampir makan siang dulu, ya?” tawar Lucky.
“Terserah Kakak aja,” balasnya riang.
“Kamu sesenang itu mau pergi jalan-jalan hari ini?” singgung Lucky.
Verisa menoleh, menatapnya dengan alis terangkat, sedangkan Lucky hanya tersenyum membalas tatapan itu.
Verisa mengangguk kuat. “Ya, aku senang. Karena akhirnya ... aku bisa ngerasain kebahagiaan lagi setelah semua kenyataan yang udah terjadi.”
Lucky tertegun mendengar ucapan Verisa. Gadis itu ... benar-benar sudah mulai menerima takdirnya.
“Ve, kamu nggak perlu mengingat-ingat lagi kejadian itu. Aku bakal selalu ada di samping kamu kapan pun kamu mau,” Lucky berkata.
“Ya, aku tahu. Karena Kakak udah berjanji, kan? Dan Kakak adalah orang yang selalu nepatin janji,” balas Verisa mantap.
Namun, kenapa mendengar Verisa menyebutkan tentang janji itu membuatnya terusik? Lebih dari sekedar janji jika Verisa ingin tahu. Seketika, Lucky teringat pengakuannya semalam. Ia sangat mencintai Verisa. Dengan sangat dalam.
***
Lucky membawanya ke sebuah restoran yang cukup mewah untuk makan siang. Ia juga memesan beberapa porsi makanan. Lucky selapar itu, sampai dia memesan bagitu banyak makanan?
“Kak,” panggilnya yang dijawab gumaman oleh Lucky. “Kenapa Kakak pesan banyak banget makanan? Kakak lapar banget?” tanya Verisa ketika makanan itu sudah tersaji di meja mereka.
“Bukan aku, tapi kamu.”
“Aku?” Verisa menunjuk dirinya sendiri, bingung.
“Hu’um. Makanan ini buat kamu,” jawab Lucky santai.
Verisa ternganga mendengarnya. “Kak Lucky nggak lagi bercanda, kan? Aku nggak makan sebanyak ini, omong-omong?” dengus Verisa, tak percaya.
“Sejak semalam dan pagi tadi, kamu makan sedikit banget. Jadi, sebelum kamu ngehabisin tenagamu buat bersenang-senang nanti, sebaiknya kamu isi dulu tenagamu. Ayo, makan,” tawar Lucky.
“Yang benar aja! Kakak ini sengaja mau buat aku kekenyangan dan nggak bisa jalan-jalan atau gimana?” tuduh Verisa, kesal.
“Udah, habisin aja makananmu atau kita nggak akan pergi ke Surabaya Carnival Park?” ancam Lucky.
Verisa mendesis kesal. Mau tidak mau ia mulai memakan makanan yang sudah dipesan Lucky itu. Ia menatap semua makanan yang ada di depannya. Mulai dari appatizer, salad, main course, dan dessert, semua tersaji. Ia baru sadar jika semua yang dipesan ini adalah makanan kesukaan Verisa. Bagaimana bisa Lucky menemukan restoran yang menyajikan makanan kesukaannya ini?
Ia tidak tahu nama menu ini, tapi yang paling menggoda adalah seafood ini yang terlihat sangat enak. Ada Lasagna juga. Pria ini juga memesan minuman dengan rasa jeruk kesukaan Verisa.
Ia menatap Lucky yang sudah melahap beberapa makanan yang sama dengannya. Lucky benar-benar tahu semuanya tentang Verisa. Pria itu juga begitu peduli dan memerhatikannya layaknya keluarga sesungguhnya. Hanya saja, Lucky tidak akan pernah tahu tentang isi hatinya, kalau dia tidak mengungkapkannya secara langsung pada Verisa. Bukan ketika tidur seperti semalam. Verisa bertekad akan mengatakan isi hatinya juga, jika Lucky sudah lebih dulu mengatakannya pada Verisa. Dalam keadaan sadar.
Membayangkan kejadian itu, membuatnya mendengus geli.
“Kenapa? Ayo dimakan.” Lucky mengedik ke piringnya ketika memergoki Verisa masih menatap pria itu lekat.
“Ah, iya.”
Dalam acara makan mereka, tak ada yang berbicara lagi. Ia mulai memakannya perlahan. Verisa menatap Lucky yang pergi menjauh untuk mengangkat telepon dari seseorang, tepat ketika makanannya habis. Dari tempat duduknya, ia sama sekali tak melepaskan pandangannya dari Lucky yang masih menjawab telepon. Itu pasti urusan pekerjaan. Dan, setelahnya pria itu pamit pergi ke toilet.
Verisa kembali menatap meja, semua piring-piring ini sudah benar-benar hampir ludes. Ia tidak menyangka jika semua makanan ini bisa mereka habiskan. Ia memasukan suapan terakhir *dessert-*nya. Habis sudah semua makanannya.
Ia duduk bersandar sambil menepuk perutnya yang terasa sangat penuh. “Wah, aku benar-benar ngabisin semua makanan ini,” ucapnya takjub pada diri sendiri. “Kenyang banget.”
“Kenapa, Ve?” tanya Lucky setelah dia kembali dari toilet.
“Menurut Kakak?” ketusnya. “Lihat perutku, kayaknya celanaku mulai kesempitan, deh,” dumalnya pada Lucky, tapi pria itu hanya tersenyum geli.
“Sumpah, ini nggak lucu, Kak. Aku benar-benar kekenyangan ini,” keluhnya.
“Kalau begitu kita pulang aja?” goda Lucky sambil tersenyum geli.
Verisa merengut dan menatapnya tajam. Ia tahu Lucky hanya menggodanya, tapi ia tak sanggup membalas pria itu karena Verisa benar-benar merasa perutnya begah.
Dan ia hanya bisa pasrah melihat Lucky yang tergelak melihat kekesalannya.
***
Masuk ke area Surabaya Carnival Park, Lucky bisa melihat tatap antusias gadis di sebelahnya itu. Gadis itu bahkan sudah merasa baik-baik saja setelah sepanjang jalan mengeluh karena kekenyangan. Gadisnya ini benar-benar menakjubkan.
Sebelum pergi ke Surabaya Carnival Park tadi, Lucky sengaja mengajak Verisa berkeliling kota Surabaya dulu. Yang sebenarnya, hanya untuk mempersiapkan dirinya masuk ke dalam area permainan itu, sekaligus menunggu waktu buka tempat itu. Tapi, kini justru Lucky yang ingin mengeluh. Ia sama sekali tidak pernah pergi ke tempat hiburan seperti ini. Bahkan untuk menaiki, melihat wahana-wahana seperti itu saja sudah membuatnya pusing. Dan, ia tidak tahu reaksi apa yang nanti akan ia alami selama mengikuti Verisa menaiki wahana-wahana itu.
Lucky mendesah berat. Sejujurnyaa, ia sudah merasa sedikit panik melihat wahana dengan ketinggian seperti itu. Tapi, ini untuk Verisa, Lucky bisa apa?
Lucky tersentak pelan, lalu berkata cepat, “Ya!”
“Kakak bersemangat juga,” komentar Verisa, lalu menarik Lucky ke arah wahana pertama. Verisa benar-benar tidak mau menyia-nyiakan waktunya.
Lucky hanya menarik napas dalam dan mengikuti ke mana gadis itu membawanya.
“Karena kita datang pas tempat ini baru buka, jadi mendingan kita naik wahana yang paling seru dulu, dong. Menurut Kakak antara Ferrish Wheel, Keliling Angkasa, Bledeg Couster, dan Gondal Gandul itu, yang mana dulu yang harus kita coba? Kalau aku lihat dari internet, keempat wahana itu yang paling ekstrim dan paling banyak peminatnya,” cerocos Verisa antusias.
“Terserah ... kamu aja,” jawab Lucky, tegang, sambil melihat obstacle wahana yang Verisa tunjuk tadi.
“Oke. Kalau gitu kita naik yang itu dulu aja,” putus Verisa seraya menunjuk wahana bernama Bledeg Couster.
Di sini memang belum terlalu banyak yang mengantri. Karena mungkin hanya orang-orang yang memiliki keberanian lebih untuk menaiki permainan kereta yang relnya melingkar ke atas dan berputar-putar itu.
Seketika keringat dingin sudah mengucur di sisi keningnya. Ketika sudah gilirannya untuk naik ke wahananya, Lucky menahan Verisa.
“Kenapa, Kak?” tanya Verisa.
Verisa tidak terlihat takut sama sekali, bahkan wajahnya tampak sangat ceria. Melihat ekspresi Verisa yang sepertinya memang sangat senang, ia mengurungkan niatnya untuk menolak ajakan gadis itu. Sebenarnya Lucky takut ketinggian, tapi melihat Verisa sesenang ini berada di sini, apa tega Lucky meninggalkannya bermain sendiri?
“Oh, nggak apa-apa.”
Akhirnya mereka masuk dan duduk di keretanya. Dan permainan dimulai. Lucky mencoba menenangkan dirinya agar tidak terlalu panik, tapi mungkin gagal. Ketika kereta itu berjalan semakin kencang dan berputar, Lucky berteriak keras. Sepanjang permainan itu berjalan, Lucky sama sekali tak menghentikan teriakannya. Dan ketika permainan itu berakhir, Lucky bisa bernapas lega.
Sungguh, nyawanya seperti hampir lenyap. Namun, ketika akan turun, ia sadar jika Verisa sudah menggenggam tangannya. Entah sejak kapan gadis itu menggenggamnya.
Menyadari itu, Lucky tersenyum juga. Setidaknya ia bisa menyelesaikan permainan itu tanpa pingsan.
***
Verisa tidak pernah sesenang ini berada dalam tempat bermain. Apa karena ada Lucky yang menemaninya? Verisa menoleh menatap Lucky yang terlihat pucat, tapi tetap menemaninya. Bahkan dia tetap tersenyum ketika Verisa menatapnya.
Ia yang masih menggenggam tangan Lucky, menarik pria itu ke tempat duduk di dekat wahana Beskop 360. Verisa mengeluarkan minum dan menyodorkannya pada Lucky. “Nih, Kak, minum dulu.”
Lucky menerimanya dan meneguk isinya setengah.
Verisa mendengus geli melihat pria itu. Sebenarnya, ia melihat kepanikan Lucky sejak akan menaiki wahana yang pertama tadi, tapi pria itu tidak mengatakan apa pun dan tetap mau menemaninya bermain. Bahkan hampir ke semua wahana yang menurutnya cukup ekstrim itu.
Ketika menaiki Ferrish Wheel saja, Lucky terlihat sangat tegang. Padahal dia hanya cukup duduk dan melihat pemandangan kota Surabaya dari ketinggian ini, tidak ada rel yang berputar atau mengontang-antingkannya.
Verisa tersenyum dan menggenggam tangan Lucky lagi, membuat pria itu menoleh menatapnya dengan alis terangkat.
“Kalau Kakak setakut itu, kenapa maksa ikut naik?” tanya Verisa.
Lucky tampak terkejut. Lalu dengan tangannya yang bebas, ia menggaruk tengkuknya. Verisa tersenyum geli. Lucky bisa terlihat lucu juga jika sedang bingung seperti itu.
“Sekarang kita mau naik wahana apa lagi, ya?” goda Verisa.
“Kamu nggak capek?” tanya Lucky.
Verisa menggeleng. “Nggak. Aku senang malahan. Kakak capek emangnya?” Verisa bertanya balik.
“Nggak juga. Cuma ... bisa kan, kita naik wahana yang biasa-biasa aja? Maksudku yang nggak terlalu tinggi,” pinta Lucky, gugup.
Verisa ternganga. Apa Lucky takut ketinggian? Pria ini benar-benar terlihat berbeda dengan yang biasa Verisa kenal. Melihat Lucky panik karena takut naik wahana yang tinggi, membuatnya ingin menjailinya lagi.
“Tapi, aku suka wahana-wahana itu, Kak. Ayo, kita coba lagi,” goda Verisa sambil menunjuk ke wahana Ferrish Wheel.
“Lagi?” panik Lucky, reflek membuat Verisa tergelak puas.
“Ve, kayaknya aku harus ke toilet dulu, deh,” pamitnya seraya melepas genggaman tangan Verisa, lalu berlari pergi ke toilet. Verisa yang terkejut, ikut berlari ke arah Lucky berlari tadi.
Beruntung toilet tidak terlalu jauh dari tempatnya. Verisa menunggu di luar. Ketika melihat Lucky keluar dengan mata merah dan berair, Verisa panik juga. Pria itu juga mengusap mulutnya. Apa dia baru saja muntah?
“Kakak nggak apa-apa?” panik Verisa.
Lucky mengangguk pelan.
Verisa menyodorkan lagi minuman Lucky tadi, dan pria itu menghabiskannya.
“Kamu mau naik apa lagi?” tanya Lucky, seolah pria itu baik-baik saja.
“Kita istirahat dulu aja, Kak.”
Lucky mengangguk patuh. Lalu, duduk di kursi sambil memandang sekeliling. Verisa sedikit merasa bersalah ketika melihat Lucky sampai seperti ini. Ia tidak bermaksud untuk membuatnya ketakutan seperti ini. Toh, jika pria itu takut ketinggian, dia bisa menolaknya sejak awal. Tapi, Lucky tidak mengatakan apa pun.
Verisa mendesah berat. “Wahana mana yang pengen Kakak coba?” Verisa bertanya. Ia ingin mengikuti keinginan Lucky kali ini karena sedari tadi, Lucky yang selalu menuruti keinginannya.
“Hmm ... Rumah Hantu.”
Seketika Verisa terbelalak mendengar jawaban Lucky. Tolong, jangan ke sana. Verisa takut gelap. Apalagi ditambah hantu-hantu jelek itu. Meski itu hantu bohongan, tapi tetap saja mereka sangat jelek dan mengerikan. Tapi, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk mengikuti keinginan Lucky. Dan, ia tidak bisa menolak.
Berharap ia tidak pingsan di dalam nanti.
***