
Pagi itu setelah sarapan dalam diam, Verisa dan Lucky akhirnya pergi menuju penginapan yang Lucky bilang sudah disewanya untuk beberapa hari. Dalam perjalanan ini pun tak ada yang bicara. Dan yang membuatnya tidak berani berucap bahkan menatap pria itu karena apa yang sudah terjadi semalam. Tepatnya, apa yang sudah ia lakukan dengan sangat memalukannya.
Verisa memejamkan mata ketika mengingat kejadian semalam. Ia yang awalnya marah-marah dan berteriak pada Lucky, setelahnya malah tertidur ketika menangis di pelukan pria itu.
Ia melirik sedikit ke arah Lucky yang masih fokus menyetir. Apa yang ada dipikiran pria itu sekarang setelah melihat Verisa berteriak padanya, menangis sambil memeluknya, lalu tertidur di pelukannya?
Huh, Verisa sungguh sangat malu sekarang. Verisa memutar kepalanya ke arah jendela hanya untuk menyesali perbuatannya. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, lalu menghela napas pasrah. Benar-benar memalukan.
Masih menghadap jendela mobil, ia menikmati pemandangan yang ada di luar sana. Mencoba mengalihkan pikirannya tentang semalam. Sudah banyak kendaraan yang melaju dengan kecepatan kencang. Di gerbang tol tadi juga sudah cukup banyak kendaraan yang mengantri. Kota Surabaya ini memang kota yang sibuk.
“Ve?” panggil Lucky sambil menyentuh pundaknya, membuatnya terlonjak kaget.
“Eh!”
“Maaf, Ve. Kamu kaget, ya? Soalnya aku panggil beberapa kali kamu nggak jawab,” Lucky memberi alasan.
Pikirannya memang sedang ramai. Tapi, ia meringis juga menanggapinya.
“Tentang semalam ... kamu masih marah?” singgung Lucky.
Verisa hanya menggeleng pelan. Ia tidak benar-benar marah semalam, ia hanya kesal dengan sikap Lucky yang mendadak berubah itu.
“Trus, kenapa kamu diam aja?”
Kenapa juga Lucky membahas kejadian semalam itu? Padahal, ia sudah berusaha mengalihkan pikirannya tentang kejadian itu. Verisa merengut. Ia tidak mungkin mengatakan alasan sebenarnya. Itu hal yang akan membuatnya semakin tidak punya muka di depan Lucky.
Verisa berdeham. “Ehm, aku masih ngantuk aja, Kak,” ucapnya sambil pura-pura menguap.
“Kalau gitu, tidur lagi aja. Nanti aku bangunin kalau kita udah sampai.”
Verisa mendesah lega karena Lucky tidak bertanya macam-macam lagi. Sungguh ia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri kini. Rasanya sangat canggung jika ingin mengobrol dengan Lucky karena kejadian semalam. Ah, kenapa ia terus saja mengingat kejadian itu? Membuat jantungnya berdetak tak karuan saja.
Tapi, semalam memang ia merasa begitu nyaman ketika memeluk pria itu. Ketika tangisnya pecah, Lucky justru dengan sabar menenangkannya, dan membuatnya tidak sadar tertidur di sana. Ah, lagi-lagi Verisa mengingat-ingat kejadian itu. Hentikan Verisa. Mukanya pasti sudah memerah kini. Ia mengusap mukanya kasar sambil mendesis.
“Kamu kenapa sih, Ve? Ada yang ganggu pikiranmu?” Pertanyaan Lucky membuat Verisa sadar akan apa yang dilakukannya. Ah, bodoh, bodoh, bodoh.
Lagi, ia meringis dan menggeleng menanggapi tanya Lucky.
“Oh ya, kotak kemarin itu ... dari siapa?” singgung Lucky.
Oh, Verisa baru ingat tentang kotak itu.
Verisa mengedik cuek. “Aku nggak tahu. Niatku mau ngajak Kakak buka itu sama-sama semalam. Mana tahu itu isinya bom, kan?” jawab Verisa asal.
Lucky mendengus geli. “Kamu kebanyakan nonton film.”
“Kan, mana tahu? Lagian semalam itu, aku juga mau minta Kakak ngebantu aku bukain kotak itu, tapi ngelihat sikap Kakak semalam, aku udah kesal duluan. Sebentar baik, sebentar galak,” sindir Verisa.
“Aku cuma kecapekan, Ve,” sanggah Lucky.
Verisa mendengus tak percaya. “Kakak ini pintar ngeles, ya?”
Lucky tertawa kecil.
“Aku tebak kotak itu dari William. Anak laki-laki yang waktu itu ketemu kita di lobby hotel,” sebut Verisa seketika menghentikan tawa Lucky.
“Dia teman barumu?” tanya Lucky, datar.
Verisa menoleh menatap perubahan yang dirasakan pada pria itu, lagi. Kenapa mendadak nada bicaranya sedatar itu? Ish, mulai lagi.
“Aku baru ketemu dia tiga kali. Pas di restoran hotel, di Taman Bungkul, dan terakhir pas di lobby itu,” beritahu Verisa. “Tapi, kayaknya dia baik, Kak. Soalnya pas dia hampir nabrak aku di taman itu, aku lihat dia berusaha buat ngehindar. Dan karena penonton di sana juga panik, takut tertabrak, aku kedorong dan jatuh. Dia bahkan ngejatuhin diri, biar ....”
“Berhenti ngomongin pria lain!” sela Lucky keras.
Verisa menoleh terkejut mendapati suara Lucky yang keras. Ada apa dengan pria ini sebenarnya? Setelah dia terlihat sudah baik-baik saja, kenapa mendadak dia membentak Verisa? Sadarkah dia akan sikapnya yang seperti bunglon?
Lucky menyebalkan.
***
“Maaf, Pak Lucky. Terjadi kecelakaan kerja di proyek.”
“Gimana bisa terjadi?” Wajahnya mendadak tegang.
“Itu ... itu karena salah satu alat tidak berfungsi secara mendadak, Pak. Saya sedang menyelidiki penyebabnya.”
“Baiklah. Saya akan ke sana sebentar. Kamu urus korban dan pastikan keadaannya baik-baik saja,” perintah Lucky sebelum memutuskan teleponnya dengan mandor di proyek itu.
Lucky memijat pelipisnya. Kenapa harus ada masalah malam ini? Ia dan Verisa bahkan baru saja sampai di penginapan. Namun, ia harus pergi ke proyek untuk melihat keadaan di sana. Bagaimana dengan Verisa? Ia juga tidak mungkin meninggalkan Verisa sendirian di rumah ini.
Lucky melihat jam yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Sejak makan malam tadi, gadis itu sudah ada di kamarnya dan tidak keluar sama sekali. Gadis itu pasti masih marah padanya karena sikap kerasnya tadi. Lucky memang salah karena sudah berteriak padanya. Sebaiknya ia melihat Verisa di kamarnya.
Lucky mengetuk pintu kamar Verisa beberapa kali sambil memanggilnya, tapi tidak ada jawaban dari dalam. Lucky mencoba membuka kenop pintu yang ternyata tidak dikunci oleh Verisa. Lucky masuk dan mendapati Verisa sudah tertidur dengan remot TV masih di tangan. Sekilas Lucky memerhatikan wajah tidur Verisa yang begitu tenang, tapi tiba-tiba hatinya mencelos ketika melihat jejak air mata di wajahnya.
Verisa pasti sangat membenci Lucky karena sudah bersikap keras padanya. Gadis itu bahkan masih menangis. Lucky hanya bisa mendesah berat, menyesali sikapnya. Tak mampu melihat Verisa lebih lama lagi, akhirnya ia membungkuk untuk membenarkan posisi tidur Verisa dan menyelimutinya. Ia mematikan TV, melihat Verisa sesaat, lalu berkata, “Mimpi indah, Princess.”
Sebelum benar-benar meninggalkan Verisa, Lucky berusaha meyakinkan diri jika tidak akan terjadi apa-apa pada Verisa selama ia tinggal. Lucky akan pulang sebelum Verisa bangun supaya gadis itu tidak khawatir dan takut. Ia juga sudah meminta penjaga rumah untuk menjaga Verisa dengan baik. Dengan pikiran itu, Lucky akhirnya pergi ke proyek.
***
Verisa tiba-tiba terbatuk beberapa kali saat tidur karena tiba-tiba napasnya terasa sesak. Perlahan ia membuka mata, menyapu pandang, dan terduduk ketika melihat banyaknya asap memenuhi kamarnya. Kebakaran!
Dengan cepat, Verisa berlari ke arah pintu untuk menyelamatkan diri, tapi pintunya tidak bisa dibuka. Kuncinya juga tidak ada di pintu. Seingatnya, semalam ia tidak mengunci pintunya. Karena kesal pada Lucky, ia langsung melompat ke atas tempat tidur dan menangis, hingga ketiduran. Lalu, siapa yang mengunci pintunya?
Verisa mencoba menggedor pintunya dan berteriak meminta tolong. Ia memanggil Lucky beberapa kali, tapi tak ada balasan dari luar. Di mana pria itu? Apa dia juga terjebak dalam kebakaran ini?
Panik, Verisa menatap keliling mencari cara untuk keluar. Ketika melihat jendela, ia berlari ke arah jendela dan mencoba membukanya. Namun, ketika ia berhasil membuka jendela itu, api tiba-tiba menyambar masuk dan membakar tirainya. Seketika membuat Verisa melompat mundur untuk menghindari api itu. Verisa terjatuh dan keningnya membentur sudut tempat tidur. Sakit sekali.
Bagaimana ini? Verisa tidak bisa keluar dari tempat ini.
“Tolong! Tolong!” Verisa berteriak keras. Terus berteriak berkali-kali hingga terbatuk-batuk, tapi tidak ada yang menjawab.
Kak Lucky, batinnya memanggil ketika tubuhnya mulai lemas. Mendadak kehilangan tenaga. Napasnya juga sesak. Kepalanya yang terbentur tadi membuatnya semakin pusing. Ia jatuh terduduk sambil menutup hidung dan mulutnya. Lagi, ia masih berusaha berteriak meminta tolong sambil memanggil nama Lucky.
Namun, asap serasa semakin menghimpitnya. Tidak ada oksigen yang bisa ia hirup. Di saat tubuhnya sudah terbaring lemah karena kehabisan napas, seketika ia terbayang wajah Ayah dan Ibu. Apakah ini adalah waktunya? Apakah Verisa akan menyusul orang tuanya sekarang?
Tiba-tiba, ia tersenyum kecil. Hal itu yang sempat ia harapkan ketika di pemakaman ibunya. Ayah, Ibu ... inikah waktunya kita berkumpul lagi di dunia yang berbeda? benaknya berbicara.
“Verisa!”
Ia mendengar Lucky memanggilnya. Verisa hendak menjawab, tapi tak ada kata yang keluar dari bibirnya selain batukyang membuat dadanya semakin sesak. Tak ada lagi tenaga yang bisa ia keluarkan meski sekedar untuk membalas panggilan Lucky. Kak, aku di sini, Verisa berbicara dalam hati.
Seolah bisa mendengar suara hatinya, ia bisa mendengar Lucky berteriak memanggilnya dengan panik, seraya mendobrak pintu kamarnya. Pria itu masuk dan berlari ke arahnya, lalu menggendong dan membawanya keluar.
Kini ia tersenyum karena melihat wajah cemas Lucky. Pria yang dicintainya ini bahkan menangis. Andai saja Lucky tahu, jika Verisa pun memiliki perasaan yang sama seperti perasaannya. Ia dan Lucky pasti bisa bahagia bersama.
“Kak ...” panggilnya lirih.
Lucky menggeleng dan memintanya untuk tidak mengatakan apa pun. Kemudian, ia merasa Lucky meletakkan tubuhnya di atas brankar dan membawanya masuk ke ambulance. Beberapa orang memasangkan alat-alat di wajahnya. Sedangkan, Lucky masih ada di sisinya, menggenggam tangannya.
Melihat kecemasan Lucky, membuat Verisa ingin menangis. Ia tak pernah merasakan begitu besarnya rasa cinta seseorang untuknya, selain kedua orang tuanya. Ia benar-benar bahagia bisa mendapatkan cinta itu, tapi melihat Lucky menangis seperti ini karenanya, juga membuatnya sedih.
Verisa memberi isyarat pada Lucky dengan menggenggam tangan pria itu erat. Lucky menatapnya dengan mata basah. Lucky masih menangis. Verisa mencoba menarik oksigen yang terpasang di mulutnya, tapi Lucky mencegahnya.
“Aku mau bicara,” pintanya lemah.
“Nanti aja, Ve. Kamu masih harus dirawat,” tolak Lucky, menggeleng.
Verisa pun ikut menggeleng. “Sebentar aja.”
Lucky menarik napas dalam sejenak, lalu mengangguk.
Verisa menarik turun alat bantu pernapasan di mulutnya dan berkata pelan, “Makasih buat semua yang udah Kakak lakuin buat aku. Aku cuma mau Kakak tahu, kalau aku ... juga cinta sama Kak Lucky.”
Verisa tersenyum dan mengangguk menatap pria itu. Entah mengapa, hatinya terasa lebih tenang dan ringan kini. Verisa tersenyum ketika melihat keterkejutan di mata pria itu dan ia tidak peduli apa pun yang ada di pikiran Lucky saat ini. Ia hanya ingin Lucky tahu, jika cintanya tidak hanya miliknya sendiri, tapi juga Verisa.
***