
“Siapa anak laki-laki tadi?”
Kenapa tiba-tiba Lucky menyinggung hal itu lagi? Membuat nafsu makannya hilang saja. Ia benar-benar tak mau mengingat atau membahas itu kini.
“Bukan siapa-siapa,” balasnya datar.
“Tapi, dia keliatan khawatir sama kamu tadi.” Lucky masih belum menyerah juga.
“Dia kan, udah ngaku kalau dia yang udah bikin aku luka gini,” suara Verisa mulai sedikit meninggi.
Lucky mengangkat kedua alisnya, tampak heran.
“Siapa namanya?” Lucky bertanya sambil memasukkan sesendok makanan ke mulutnya.
“William,” jawab Verisa, datar.
“Temanmu?”
“Bukan,” sergahnya cepat.
Lucky hanya mengangguk-angguk tanpa menatap Verisa.
Perbincangan macam apa ini? Untuk apa juga Lucky menanyakan tentang William? Apa itu bahkan penting?
“Udah deh, Kak. Jangan bahas tentang William lagi. Bikin nggak nafsu makan aja, tahu,” dengusnya kesal. “Sekarang aku yang tanya, Kak Lucky udah baca kertas dariku tadi belum?” singgung Verisa.
“Ya.”
Ya? Hanya itu? Apa pria ini tidak bisa menjawab dengan kata-kata lain selain hanya kata ‘Ya’. Verisa bertanya, ‘Sudah’ atau ‘Belum’, bukan ‘Ya’ atau ‘Tidak’. Kenapa Lucky jadi menyebalkan begini?
Lalu, sekarang Verisa harus bertanya apa lagi? Verisa hanya ingin tahu, pria itu bisa pergi dengannya atau tidak. Ia tidak mau memaksa Lucky untuk menuruti keinginannya, tapi jika pria itu tidak bisa, seharusnya dia bilang saja. Bukannya malah .... Ugh, mendadak Verisa kesal juga pada pria di hadapannya ini.
Dengan kesal, ia melahap makanannya dengan terlalu cepat. Bahkan ia enggan memotong daging steak-nya dan langsung melahapnya. Tapi, tak lama ia justru tersedak.
Lucky yang melihatnya terbatuk, terlihat panik, dan menepuk punggungnya pelan. “Pelan-pelan, Ve, makannya.”
Verisa masih terbatuk sampai terbungkuk-bungkuk.
“Minum, Ve.” Lucky menyodorkan segelas air putih.
Namun, Verisa justru beranjak dari duduk dan pergi ke kamar mandi untuk memuntahkan makanannya. Setelah makanan yang sempat tersangkut di tenggorokannya keluar, Verisa sedikit lega meski tenggorokannya terasa sangat perih. Matanya juga berair.
Dengan sedikit lemas, ia keluar dari kamar mandi. Lucky sampai menunggunya di depan kamar mandi dengan panik. Bahkan ia masih memegang segelas air putih yang langsung di berikan padanya.
“Kamu nggak apa-apa kan, Ve?” Lucky bertanya.
“Nggak apa-apa, Kak,” jawabnya serak, sambil menerima minum dari Lucky.
Mereka kembali duduk.
“Masih mau makan lagi?”
Verisa menggeleng. “Aku mau minuman hangat aja, Kak,” pinta Verisa. Tenggorokannya benar-benar perih kini.
“Aku bikinin dulu. Kamu istirahat aja,” ucap Lucky.
Melihat meja makannya masih berantakan, ia hendak merapikan meja makan itu, tapi Lucky lebih dulu menahannya, “Biar aku aja yang beresin, Ve.”
Lucky menyodorkan teh hangat buatannya.
“Nggak pa-pa, Kak. Aku bisa bantu Kakak beresin ini, kok,” balas Verisa seraya menerima teh itu.
“Nggak perlu, Ve. Tanganmu masih sakit, kan? Jangan lupa minum obatmu dulu, terus tidur,” perintah Lucky, membuat Verisa merengut. Mau tidak mau menurut.
Mulai dari meminum obatnya, lalu naik ke tempat tidur, tapi tidak untuk tidur. Ia justru duduk bersandar sambil memerhatikan Lucky yang masih merapikan bekas makan mereka. Melihat pria itu, entah mengapa membuat jantungnya berdetak tidak karuan. Lagi.
Seumur hidup, ia baru merasakan perasaan seperti ini. Bahkan Verisa sendiri tak sadar entah sejak kapan perasaan ini muncul. Awalnya, ia hanya mencoba percaya pada Lucky karena janjinya itu. Lalu semakin lama, ia mulai terbiasa dengan adanya Lucky di sisinya. Tapi, ketika Lucky berkata akan pergi ke luar kota waktu itu, Verisa benar-benar takut kehilangan pria itu. Sampai-sampai ia pergi ke makam orang tuanya untuk meminta mereka tidak mengambil Lucky darinya. Verisa benar-benar takut, jika waktu itu Lucky pergi tanpanya, pria itu tidak akan kembali lagi.
Dan di makam orang tuanya, ia pun mengakui perasaannya. Meski ia sendiri masih belum yakin dengan prasaannya itu. Tapi, dalam hatinya ia sungguh tak ingin kehilangan Lucky, tak ingin jauh dari Lucky, dan tak ingin Lucky pergi darinya. Mungkinkah itu perasaan sukanya pada Lucky?
Verisa menghela napas. Entahlah, Verisa pun tak tahu harus melakukan apa pada perasaannya ini.
Verisa sadar akan kenyataan bahwa ia dan Lucky berbeda. Usianya mungkin nyaris terpaut belasan tahun. Ia juga sadar akan keberadaan Lucky ada di sini karena apa. Lagi, jika ini benar-benar perasaan suka, betapa bodohnya Verisa karena sudah menggunakan perasaannya. Namun, ia sungguh ingin tahu bagaimana perasaan Lucky.
“Hey?” Lucky menggoyangkan tangannya di depan wajah Verisa, membuatnya mengerjap kaget. Sejak kapan pria ini selesai merapikan bekas makannya?
“Kenapa malah ngelamun dan bukannya tidur?” Lucky menatapnya lembut.
Tatapan itu, lagi-lagi membuat jantungnya berdetak kencang.
“Oh, itu ....” Verisa hanya menggeleng akhirnya.
“Cepat tidur. Aku bakal temenin kamu di sini sampai kamu tidur. Aku harus mastiin sendiri kalau kamu benar-benar tidur dengan nyenyak,” putus Lucky.
“Sekalian ada yang mau aku omongin sama kamu. Nggak apa-apa, kan?” Lucky memastikan.
Verisa akhirnya mengangguk.
***
Lucky masih diam setelah ia meminta menemani Verisa hingga tidur. Bukan itu alasan sebenarnya. Lucky hanya terlalu merindukan Verisa dan tak mau jauh dari gadis ini dengan menyedihkannya. Ia pun rindu melihat wajah tidur Verisa.
Oh, jangan mulai lagi. Pikirannya benar-benar sudah sangat dipenuhi Verisa hingga tak bersisa untuk hal lain.
“Jadi, apa yang mau Kakak omongin?” tanya Verisa, terlihat penasaran.
“Hm ... itu,” Lucky berpikir keras, mencoba memikirkan hal lain selain Verisa. “Tentang liburanmu. Apa cuma Surabaya Carnival Park yang pengen kamu kunjungi?” Lucky menghela lega ketika tanya itu muncul.
“Ya. Aku pengen jalan-jalan ke sana aja,” sebut Verisa.
Tiba-tiba Lucky teringat tangan kiri Verisa yang tadi membuatnya curiga.
“Tentang sakitmu ....” Lucky menatap Verisa ketika melihat keterkejutan di mata gadis itu.
“Apa kamu masih ngerasain gejala-gejala aneh di tubuhmu?” tanya Lucky. Beberapa hari ini, Lucky memang terlalu sibuk dengan pekerjaannya, sampai ia tidak memperhatikan Verisa dan perkembangan kesehatannya.
Verisa mengerjap, tak langsung menjawab. Tapi, kemudian dia menunduk dan menjawab, “Nggak ada, Kak. Aku baik-baik aja.”
Lucky menatap Verisa lekat. Seperti ada sesuatu yang ditutupi olehnya. Tapi, mendengar Verisa berkata baik-baik saja, harusnya ia merasa tenang, kan? Itu harapannya. Ya, Lucky harus meyakini Verisa akan baik-baik saja. Bahkan harus baik-baik saja. Dan lagi, Lucky harus lebih baik lagi dalam menjaganya. Karena lebih baik ia yang terluka, jangan Verisa.
“Ve, aku boleh minta tolong sama kamu?” ucap Lucky lembut.
Verisa mengangguk.
“Tolong, bilang apa pun yang kamu rasain sama aku. Jangan tutupi apa pun dari aku. Kalau kamu ngerasa terjadi sesuatu sama tubuhmu, bilang. Aku nggak mau sakitmu makin parah. Aku pengen lihat kamu kembali sehat. Kembali ceria. Dan, kembali bahagia. Begitu juga sama perasaanmu.”
Lucky sempat melihat keterkejutan di mata Verisa, lagi.
“Kalau kamu marah, kamu boleh maki aku. Kalau kamu sedih, kamu boleh nangis di depanku. Kalau kamu bahagia, aku juga akan ikut bahagia sama kamu. Aku cuma minta kamu buat terbuka sama aku. Lakuin semua itu di depanku, biar aku tetap bisa jagain kamu,” Lucky berkata tulus.
***
“Aku ngantuk, Kak. Aku tidur dulu, ya?”
Verisa membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dan menarik selimunya hingga dagu. Menutupi rasa erkejutnya. Tangannya menyentuh dada dan merasakan jantungnya sendiri berdetak kencang. Verisa sungguh tidak bisa menjawab ucapan Lucky tadi. Ia justru nyaris mengatakan apa yang kini ia rasakan. Dan, ia rasa itu salah. Verisa bahkan masih belum yakin akan perasaan yang dirasanya ini.
“Kamu mikirin apa, sih?” tanya Lucky yang kini sudah ada di depan wajahnya. Duduk di lantai seraya tersenyum ke arahnya.
“Kakak ngagetin, deh!”
Lucky mendengus geli. “Maaf-maaf.” Pria itu menggaruk rambutnya. “Kamu bilang, kamu mau tidur, tapi aku lihat kamu kayak lagi mikirin sesuatu.”
“Aku cuma ... lagi bayangin hal indah aja, biar nggak mimpi buruk lagi,” dusta Verisa.
Lucky mengangguk-angguk. “Ya udah, tidur gih. Aku bakal nungguin kamu di sini sampai kamu benar-benar tidur. Aku harus mastiin kamu tidur nyenyak, biar besok kamu bisa jalan-jalan sepuasmu,” Lucky berkata yang diakhiri senyuman.
Verisa mengangguk dan memejamkan mata. Tidak benar-benar tidur. Sepertinya, ia harus ber-acting pura-pura tidur lagi supaya Lucky bisa segera kembali ke kamarnya dan beristirahat.
Sambil memeluk guling, Verisa mencoba mengatur napasnya agar tenang. Hingga beberapa lama, ia masih belum mendengar suara apa pun. Itu berarti, Lucky masih ada di sana. Ia harus menghitung sampai berapa lagi sampai Lucky bisa pergi dari kamarnya.
Tak lama, ia merasakan usapan lembut di puncak kepalanya. Lucky. Oh, jantungnya kini berdegup kencang, lagi.
“Aku nggak pernah tahu, ada di sampingmu bisa bikin aku sebahagia ini,” pria itu berkata pelan. “Cuma dengan ngelihat kamu senyum dan baik-baik aja, aku bisa ngerasa setenang ini, Ve.”
Lucky tidak tahu jika Verisa belum benar-benar tidur, kan?
Ia mendengar Lucky menarik napas dalam sebelum kembali berkata, “Aku ngerasa aku jadi pengecut sekarang. Karena aku ngakuin ini di saat kamu udah tidur.” Lucky tertawa kecil.
“Maafin aku, Ve. Karena selama ini ... aku masih belum bisa jagain kamu dengan baik. Aku ngerasa, aku nggak pantes ada di sini buat jagain kamu, tapi aku juga nggak bisa ninggalin kamu. Aku ... udah terlanjur janji buat terus jagain kamu sampai waktunya kamu bisa mandiri dan bisa tanpa aku.
“Apa kamu tahu, Ve? Dengan adanya kamu sekarang di hidupku, aku ngerasa ... utuh. Aku bener-bener ngerasa kayak punya keluarga. Semenjak ngelihat kamu jatuh karena kepergian ibumu, aku juga ikut ngerasa sedih. Ngelihat air matamu, itu juga bikin aku sedih. Ngelihat kemurunganmu, pun bikin aku sedih. Karena itu semua, aku pengen bikin kamu bahagia lagi. Aku pengen bikin kamu tersenyum lagi. Aku nggak suka ngelihat kamu terus-terusan sedih.
“Aku ... sayang sama kamu, Ve. Aku nggak mau sesuatu yang buruk terjadi sama kamu. Kamu dan keluargamu udah ngubah hidup aku jadi lebih baik. Aku nggak tahu, gimana caranya harus balas budi kebaikan keluargamu. Yang bisa aku lakuin cuma jagain kamu dan perusahaan ayahmu, mastiin kamu baik-baik aja, dan ada di samping kamu. Dengan nyawaku, aku siap buat ngelindungin dan jagain kamu. Dengan nyawaku, aku siap berkorban apa pun buat kamu."
Lucky menarik napas dalam. "Kamu nggak perlu tahu, kalau aku ... sebenarnya cinta sama kamu, Verisa. Ya, aku cinta kamu. Mimpi indah, Princess.”
Ia merasakan kecupan lembut di keningnya. Lucky mencium keningnya. Lalu, ia mendengar langkah kaki menjauh dan suara pintu. Pria itu sudah pergi.
Verisa tak bisa lagi menahan air matanya setelah mendengar pengakuan Lucky tadi. Ia menangis dalam diam kini. Tapi, ia senang. Lucky menyayanginya, Lucky mencintainya, dia bahkan mengatakan rela mengorbankan nyawanya untuk Verisa. Jadi, pria itu juga menyukainya. Ah, tidak, Lucky bilang Lucky mencintainya. Ya, dia mengatakan itu tadi.
Sungguh, Verisa nyaris membalas pengakuan Lucky padanya tadi. Ia sadar akan perasaannya kini. Ia juga merasakan perasaan yang sama dengan Lucky. Hatinya juga sudah memilih dia. Perasaan yang awalnya Verisa rasa salah, ternyata Lucky pun merasakannya. Pria itu ... benar-benar mencintainya?
Air matanya terus menetes, tapi bibirnya tersenyum. Verisa juga menyayangi Lucky. Bukan hanya sekedar sebagai keluarga, tapi lebih. Ya, Verisa juga mencintai Lucky. Dengan sepenuh hatinya.
***