Ending Scene

Ending Scene
Tiba-Tiba Marah



Lucky tidak bermaksud untuk membalas kejailan Verisa. Hanya saja, ia penasaran seberani apakah gadis ini? Dengan segala permainan yang menurutnya bisa membuat jantung setiap orang keluar dari rongganya itu, apa sama beraninya mereka dengan wahana seperti ini?


Namun, ia nyaris menyesal karena membawa Verisa ke dalam rumah hantu itu. Pasalnya gadis itu kini masih menangis keras sambil memeluknya erat.


Ketika masuk ke dalam rumah hantu tadi, Verisa sudah memegangi lengannya erat. Gadis itu bahkan tidak membuka matanya, tapi ikut berteriak ketika mendengar teriakan dari pengunjung lain. Lucky dengan santai membawa Verisa berjalan menyusuri ruangan gelap itu, sambil sesekali meminta Verisa membuka mata untuk melihat orang-orang yang berdandan layaknya hantu sungguhan. Tapi, ketika Verisa menuruti kata-katanya untuk membuka mata, ia justru berteriak sangat kencang dan mencengkeram lengannya lebih erat lagi.


Tidak tega, Lucky akhirnya membawanya cepat-cepat keluar dari sana. Ketika di luar, gadis itu bahkan masih memejamkan matanya dan ia bisa melihat bekas air mata di pipi gadis itu.


“Maaf ya, Ve. Aku nggak bermaksud nakutin kamu, tapi tadi itu seru,” ucap Lucky mencoba menenangkan Verisa dengan menggodanya.


“Seru dari mana? Itu seram, kak,” rungut Verisa tak terima, tapi masih memeluk Lucky.


Lucky menepuk pelan bahu Verisa yang ia rangkul. “Kita makan malam aja, ya?”


Verisa mengangguk sambil mengusap bekas air matanya dengan kaos Lucky.


Lucky hanya mendengus geli melihat tingkah gadis ini. Jika saja semua ini terjadi di atas perasaannya, pasti ia akan sangat bahagia. Lucky lagi-lagi memikirkan kemungkinan yang tidak mungkin terjadi. Ia menarik napas dalam dan mengembuskannya pelan. Berusaha kembali pada kenyataan yang sebenarnya.


“Kamu senang hari ini?” tanya Lucky, menarik fokus Verisa, ketika sudah berada di dalam kafe.


Gadis itu tersenyum. “Ya, aku senang, Kak. Tapi, minus rumah hantu itu, ya,” dengusnya, membuat Lucky tersenyum geli. Setelah menangis ketakutan, senyumnya bisa kembali dengan cepat juga.


“Oh ya, besok kita harus keluar dari hotel,” sebut Lucky.


“Kenapa? Kerjaan Kakak udah selesai?” tanya Verisa, tampak terkejut.


“Ya, pekerjaanku di sini udah selesai, tapi masih ada proyek di daerah lain. Apa kamu mau tetap ikut aku di sini atau pulang duluan?” Lucky menawarkan.


“Kayaknya aku masih pengen di sini deh, Kak. Toh, di rumah aku nggak bisa kabur ke mana-mana, kan?” goda Verisa, sambil melirik ke arah Lucky.


Ia mengacak-acak rambut Verisa sebagai balasannya, lalu berkata “Kalau gitu, besok kita bersiap buat pindah penginapan, ya. Aku udah minta Reni cariin rumah yang bisa disewa. Kamu nggak apa-apa, kan?”


“Nggak masalah, Kak.” Verisa mengedik cuek. “Selama aku nggak sendirian, aja. Gara-gara Kakak nih, aku masih kebayang hantu jelek tadi,” dengus Verisa.


Lucky tergelak. “Maaf. Aku kira kamu pemberani. Ngelihat sebegitu beraninya kamu naik wahana ekstrim tadi, harusnya rumah hantu bukan wahana yang perlu ditakuti, kan?”


“Wahana-wahana tadi emang seru, tapi nggak dengan rumah hantu nyebalin itu. Bikin aku makin takut aja,” protes Verisa.


“Oke. Oke. Aku nggak bakal tidur dan nemanin kamu kalau kamu takut tidur sendirian,” goda Lucky dengan santainya.


“Deal!”


Lucky terkejut dengan jawaban cepat Verisa. Ia hanya menggodanya tadi, tapi kenapa Verisa menyetujuinya begitu cepat? Jika seperti ini, yang ada Lucky harus membuat benteng yang kokoh untuk pertahanan dirinya. Lagi. Satu ruangan dengan gadis yang dicintainya sungguh bukan sesuatu yang baik untuknya. Tepatnya untuk jantung dan akal sehatnya. Ah, dasar bodoh.


***


“Ah, capek banget rasanya.” Verisa meregangkan badannya ketika turun dari mobil di depan hotel. Setelah menghabiskan waktu seharian di luar dan bermain banyak wahana hingga malam, kini tubuhnya terasa pegal.


“Berendam air hangat aja,” saran Lucky, ketika sudah kembali dari memberi kunci mobil pada petugas valet.


“Ide bagus. Tapi, ingat janji Kakak tadi, ya?” Verisa mengingatkan. Lalu, mereka berjalan masuk ke dalam hotel.


“Janji apa?” Lucky bertanya dengan alis berkerut. Verisa tahu jika pria ini sedang menggodanya.


“Kakak!” dengus Verisa kesal. “Karena siapa, aku jadi kebayang-bayang hantu jelek itu. Kalau nanti hantunya datang beneran, gimana?” tuntut Verisa, kesal. Memang tidak masuk akal, tapi mungkin saja, kan?


“Mana ada hantu kayak gitu di jaman modern gini? Kamu kebanyakan nonton film,” bantah Lucky.


“Ish, Kakak mau ngelak dari janji?” Verisa berbalik, matanya menyipit tajam sambil bersedekap dan menghalangi jalan Lucky.


“Baiklah, Gadis Kecil. Aku bakalan tepatin janjiku tadi,” balasnya sambil mengacak rambut Verisa, lalu berjalan lebih dulu meninggalkan Verisa.


“Ish, siapa yang gadis kecil? Dasar Kak Lucky nyebelin!”


Verisa hendak menyusul Lucky ketika namanya dipanggil oleh resepsionis. Lucky dan Verisa menoleh, lalu menghampiri meja resepsionis.


“Ada apa, Mas?” tanya Lucky pada resepsionis yang berjaga malam itu.


“Oh, ini Pak, ada titipan untuk Nona Verisa,” ucap resepsionis itu sambil mengeluarkan sebuah kotak hadiah dan memberikannya kepada Lucky.


“Buat aku? Dari siapa?” heran Verisa pada Lucky yang sudah menerima kotak itu.


Lucky hanya mengedikkan bahu, tapi sepintas ia bisa melihat perubahan di wajah pria itu. Wajahnya terlihat mengeras, tatapan matanya tajam melihat arah kotak itu. Tapi, kemudian pria itu menatapnya dan desahan berat lolos dari bibirnya.


Verisa mengerutkan kening. Apa yang Lucky pikirkan sekarang?


Verisa melihat nama pengirimnya. Teman baru. Siapa? Seingatnya ia tidak memiliki teman .... Ah, Williamkah? Ya, pasti dia. Verisa baru saja mau berbicara pada Lucky, tapi pria itu sudah lebih dulu berjalan ke arah lift.


“Kak, tunggu aku!”


Verisa memerhatikan sikap Lucky yang mendadak diam dan dingin ini. Perasaan tadi waktu turun dari mobil, Lucky masih biasa saja. Apa dia sudah sebegitu lelahnya sampai buru-buru ingin istirahat? Ya, mungkin saja.


Ketika sampai di depan kamar masing-masing, Verisa tak langsung masuk, ia ingin berbicara dulu dengan Lucky, tapi belum juga Verisa mengatakan apa pun, Lucky sudah mendahuluinya.


“Dalam tiga puluh menit, aku bakal langsung ke kamarmu. Jadi, pastiin kamu buka pintu pas aku tekan belnya.” Setelah mengatakan itu, Lucky masuk ke kamarnya.


Apa itu barusan? Lucky marah padanya? Karena apa? Ia salah bicara apa sampai Lucky berkata sedingin itu?


Verisa mendengus kesal. Di sini yang seharusnya labil itu siapa? Kenapa emosi pria itu berubah begitu cepat? Padahal Verisa ingin mengajaknya membuka ini bersama-sama. Memastikan dugaannya dan mencari tahu apa maksud orang yang mengiriminya kotak ini. Jika isinya bom atau teror, bagaimana?


Ah, entahlah. Tiga puluh menit dari Lucky sudah berjalan. Ia harus segera membersihkan diri sebelum pria itu datang ke kamarnya. Tubuhnya semakin pegal saja rasanya. Tiga puluh menit tidak akan cukup untuknya berendam. Dasar pria menyebalkan itu.


***


Entah mengapa Lucky tidak bisa menahan rasa marahnya tadi. Ketika melihat ada orang lain yang juga memerhatikan Verisa, itu membuatnya terusik. Bahkan sampai memberikan sesuatu padanya. Apa anak laki-laki itu yang memberikan kotak hadiah tadi untuk Verisa?


Memikirkan itu, rasanya Lucky ingin membuang kotak itu tadi. Tapi, tidak mungkin ia lakukan di depan Verisa. Ia tidak mau membuat Verisa benci padanya karena sikap kasarnya.


Sepertinya mandi memang jalan satu-satunya untuk mendinginkan emosinya, sebelum nanti ia harus kembali bersama dengan Verisa di ruangan yang sama. Huh, setelah seharian ia bisa membuat Verisa tersenyum dan bersenang-senang hanya bersamanya, kenapa harus ada orang lain yang muncul juga?


Dalam tiga puluh menit yang ia janjikan pada Verisa, ia akan berada di kamar gadis itu untuk memastikan Verisa istirahat. Yang sebenarnya hanya alasan agar ia bisa jauh-jauh dari Verisa ketika emosinya sedang tidak stabil seperti ini. Lucky benar-benar tidak ingin menyakiti Verisa dengan sikap kasarnya. Ia sudah terlalu sering membuat gadis itu menangis dan karena itu pula, ia tak ingin menjadi penyebab Verisa menangis lagi. Lebih baik ia pergi dan menenangkan diri sebelum kembali.


Lucky menghabiskan benar-benar hampir tiga puluh menit itu di dalam kamar mandi. Mengguyur kepala hingga tubuhnya dengan air dingin. Berharap ia bisa lebih tidak emosi lagi. Meski sepertinya, lagi-lagi ia gagal. Entah mengapa, semua yang bersangkutan dengan Verisa mudah sekali memicunya dengan cepat. Sedalam itukah ia sudah mencintai Verisa?


Setelah dirasa sudah lebih tenang, Lucky langsung pergi ke kamar Verisa. Menekan bel dan tidak sampai satu menit, Verisa sudah membukakan pintunya.


“Kak,” Verisa langsung memanggilnya, ketika ia menutup pintu kamar gadis itu.


“Istirahat, Ve. Aku juga mau segera istirahat,” perintah Lucky.


“Tapi, ada yang ....”


“Udah malam, Ve. Kamu capek, kan? Aku juga capek. Kalau mau ada yang kamu omongin, besok aja!” sela Lucky sedikit keras. Bahkan tak berani menatap Verisa.


Ketika gadis itu diam, Lucky menoleh pada Verisa yang kini sedang menunduk dalam dengan bahu yang turun. Tidak tega sebenarnya, tapi Lucky tidak mau terlihat lebih emosi lagi ketika harus membahas hal yang ia tidak suka.


Duduk di sofa, Lucky melihat Verisa sudah berbaring di atas tempat tidurnya. Gadis itu bahkan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Lucky sadar yang dilakukannya tadi pasti membuat Verisa marah, tapi apa gadis itu tidak sesak napas karena menutup rapat tubuhnya seperti itu?


Ia berdiri dan menghampiri Verisa. Menarik sedikit selimut yang menutupi Verisa, tapi ia merasa Verisa menahannya.


“Ve, buka. Kamu bisa sesak napas kalau nutup tubuhmu kayak gini,” ucap Lucky lebih pelan. Tapi, sampai beberapa lama Verisa tidak menghiraukan ucapan Lucky. Akhirnya ia mengambil tempat sedikit di sisi tempat tidur Verisa.


“Kamu marah sama aku?” tanya Lucky, mulai membujuk Verisa.


Verisa tetap diam.


“Aku nggak bermaksud kasar sama kamu, tadi. Tapi, ini emang udah malam. Kita harus istirahat karena besok kita bakal pindah ke penginapan lain. Dan, jaraknya cukup jauh dari sini,” Lucky masih berusaha membujuknya dengan lembut.


Lucky mencoba menarik selimut gadis itu lagi dan kini Verisa tidak lagi menahannya. Tapi, gadis itu malah memutar tubuh dan membelakanginya. Lucky hanya bisa mendesah berat melihatnya. Tapi, ia sempat mendengar Verisa menyusut hidungnya. Lagi-lagi karena Lucky, Verisa menangis.


“Ve, maafin aku, ya. Kamu ....”


Gerakan Verisa yang tiba-tiba duduk, membuat Lucky terkejut dan tidak menyelesaikan kalimatnya. Gadis itu menatapnya tajam dengan mata yang basah karena air mata. Jadi benar, dia menangis.


“Kenapa?” Lucky menelengkan kepalanya.


Verisa seperti hendak menangis lagi, tapi ia justru mulai menyembur dengan kata-katanya, “Aku nggak tahu Kakak kenapa, tapi tadi itu aku cuma mau bilang, kalau Kakak nggak perlu nemanin aku di sini malam ini. Aku nggak akan takut dan aku pasti bisa tidur nyenyak.


“Tapi, belum juga aku ngomong, Kakak udah seenaknya nyuruh aku istirahat. Kalau Kakak capek, kenapa harus bela-belain ke sini dan  bukannya tetap di kamar Kakak aja, tidur di kasur yang empuk? Kenapa nggak biarin aja aku sendirian di sini?”


Verisa terengah-engah setelah mengatakan semuanya. Air matanya juga kembali menetes. Reflek, Lucky mengangkat tangannya untuk mengusap bekas air mata di pipi Verisa, tapi gadis itu berpaling.


“Lagi-lagi, aku yang salah. Maafin aku, ya?” pintanya sambil menangkup wajah Verisa lembut dan menatap lekat langsung ke mata Verisa.


Tiba-tiba, gadis itu justru menghambur memeluk Lucky dan kembali terisak. Lucky membuatnya menangis lagi. Dan ini adalah hal paling ia benci yang selalu Lucky perbuat.


***