Ending Scene

Ending Scene
Sooner or Later



Setelah koma lima hari, akhirnya semalam Lucky sadar juga. Satu hal yang ia ingat ketika baru sadar. Verisa. Menyadari ia sudah lima hari tak melihat Verisa, ia merindukan gadis itu juga. Bagaimana kabar Verisa sekarang? Apa dia baik-bik saja?


Lucky menoleh ketika mendengar suara deham dari pintu. Putra baru datang. Ia menatap Putra yang menghampirinya dengan wajah tampak lega. Seketika membuatnya tersenyum. Melihat Verisa tidak ada di sini, Putra pasti sudah menepati janjinya untuk tidak memberitahukan pada Verisa tentang kondisinya.


Ia sudah akan bertanya pada Putra tentang Verisa, ketika Putra sudah berkata lebih dulu, “Apa arti senyuman itu?”


“Makasih, karena udah nepatin janji,” balasnya.


“Jangan buru-buru, Ky. Kamu belum tahu kan, masalah apa yang kamu buat selama kamu nggak sadar? Kalau Bu Risa masih hidup, kamu pasti udah dimaki-maki karena bikin anak gadis satu-satunya nangis tiap hari,” terang Putra, sinis.


Lucky mengerutkan kening, bingung. “Verisa ... nangis? Kenapa?” tanyanya seraya bangkit, tapi nyeri di perutnya


membuatnya meringis sakit.


“Apa lagi kalau bukan karena kamu,” sebut Putra, seraya membantu menyetel brankarnya ke posisi setengah duduk. “Gara-gara kamu, aku harus terus-terusan bohong sama Nona Verisa. Setiap kali aku datang buat lihat kondisinya, aku selalu ngelihat harapan di matanya. Dan rasanya, aku makin nggak tega kalau harus ngebohongin dia terus, Ky.” Putra menghela napas berat.


Lucky tertegun mendengar ucapan Putra. Verisa, dia ... seberharap itu?


Tiba-tiba ingatannya kembali ke saat Verisa mengatakan tentang perasaannya. Apa Verisa ... benar-benar mencintainya juga?


Putra duduk di kursi seraya bersidekap, “Karena sekarang kamu udah sadar, aku balikin semua tanggung jawab jagain Nona Verisa ke kamu lagi. Aku udah nggak berani muncul di depannya karena udah bikin dia nangis. Dan, itu salahmu,” tuduh Putra.


Lucky menghela napas berat seraya mengangguk pelan, membenarkan ucapan Putra. “Aku cuma nggak mau bikin dia khawatir kalau tahu aku begini. Dia juga pasti masih syok karena kebakaran waktu itu, kan?” Lucky berkata.


Ganti Putra yang menghela napas berat seraya menatapnya lekat. “Dengan kamu ngilang gini seolah sibuk sama pekerjaan, nggak nemuin atau hubungin dia, itu juga bikin dia khawatir. Di mana kamu udah terbiasa ada di samping dia, kan? Apa kamu nggak mikirin itu?” dengus Putra.


“Walaupun Nona Verisa masih tujuh belas tahu, tapi dia juga punya perasaan, Ky. Dia baru aja kehilangan orang tuanya, dia dicelakai dan dikhianatin teman sekolahnya, dia juga baru jadi sasaran balas dendam pesaing perusahaan orang tuanya. Sekarang, dia harus kehilangan kamu di saat kamu udah nempatin diri buat jadi seseorang yang bertanggung jawab atas dirinya. Itu juga pasti bikin dia sedih. Harusnya kamu tahu itu, kan? Bukan cuma kamu yang pakai perasaan di sini, Ky, Nona Verisa juga,” sebutnya, membuat Lucky melebarkan mata terkejut.


Putra juga berpikir seperti itu. Tentang perasaan Verisa ... apa Putra juga tahu?


“Maksud kamu Verisa juga pakai perasaan itu ....”


Putra mengangguk yakin. “Sebenarnya, malam di hari kecelakaanmu itu, Nona Verisa maksa aku buat bawa dia nemuin kamu. Dia mimpi buruk tentang kamu dan dia pengen tahu gimana kondisimu langsung. Tapi, aku nggak bisa berbuat apa-apa selain nahan dia dengan berbagai alasan. Dan kamu tahu kan, itu gara-gara siapa?” tuduh Putra.


Seterusnya, cerita Putra tentang Verisa mengalir begitu saja. Lucky mendengarkan setiap kalimat Putra tentang bagaimana Verisa tampak sedih, murung, berharap, dan terluka. Dan, ia sadar itu karena dirinya. Membayangkan itu semua yang Verisa rasakan, membuat dadanya seolah tersayat. Sakit.


“Jadi, kamu tahu kan, gimana perasaan Nona Verisa sebenarnya? Lebih baik kamu telepon dia sekarang deh, Ky, sebelum dia pergi sama orang lain,” saran Putra setelah menyelesaikan ceritanya.


“Orang lain? Siapa?” tanya Lucky, seraya mengerutkan kening.


“William Darwin.”


Mendengar nama itu, Lucky sontak terkejut. William ... Darwin? Jadi, anak laki-laki bernama William itu ...


 utra Jhony Darwin?


“Lucky, William Darwin pernah ke sini buat ngelihat kondisimu. Dia bahkan nyelidikin kita. Dia tahu semua kejadiannya dan ngancam bakal kasih tahu ini ke Nona Verisa. Tapi, kayaknya dia belum ngelakuin itu. Cuma yang perlu kamu tahu lagi, dia udah janji kalau dia bakal bawa Verisa pergi jauh dari kamu. Jadi, kayaknya kamu harus segera balik dan ....”


“Aku belum bisa nemuin Verisa dengan keadaan kayak gini, Putra,” sela Lucky. Ia benar-benar tak bisa melihat Verisa melihat kondisinya yang tidak berdaya ini.


“Terserah kamu, Ky. Meski kamu terus-terusan nahan dan nutupin semua ini, cepat atau lambat, Nona Verisa pun bakal tahu, dan kamu juga pasti ngerti kan, apa yang bakal dia rasain kalau dia tahu yang sebenarnya.


“Itu semua keputusanmu. Aku cuma peringatin kamu sebelum kamu nyesel sama keputusanmu sendiri.” Setelah mengatakan itu, Putra pamit. Meninggalkan Lucky dengan pikirannya tentang Verisa, juga rasa rindunya.


William Darwin. Jadi, anak itu memang sedang mendekati Verisa. Melihat bagaimana latar belakang William dan Verisa, juga usia mereka yang sama, mereka mungkin bisa menjadi pasangan yang cocok. Meski ia sudah mendengar sendiri pengakuan Verisa tentang perasaannya, tapi ia tidak yakin apa ia pantas untuk Verisa?


Ia sudah berjanji akan terus menjaga dan ada di sisi Verisa, meski hanya sekedar menjaganya. Ia tak berharap akan bisa hidup berdampingan dengannya. Memilikinya. Ia sadar akan siapa dirinya di sini. Jika dibandingkan dengan William, anak itu jauh lebih cocok dengan Verisa, meski Verisa sudah mengatakan gadis itu juga mencintainya. Tapi, Verisa masih terlalu kecil untuk mengerti cinta. Dan, ia tak mau memaksakan keinginannya pada gadis itu.


Lucky memejamkan mata. Mencoba menerima semua keputusan dan kenyataan yang sebenarnya. Meski ini sungguh sangat menyakitkan.


***


“Apa lagi sih, Will? Kamu tuh, udah kayak tukang teror, tahu nggak?” kesal Verisa ketika dalam sehari itu sudah menerima panggilan telepon dari William yang ke lima kali. Ya, lima kali. Dan ini bahkan masih sore.


“Tapi, kamu nggak akan ngelaporin aku ke polisi karena ini, kan?” goda William di seberang sana.


Verisa mendesis kesal. “Yang keenam, aku bakal lakuin itu,” ucapnya yakin.


“Wow, serem.” William tergelak.


“Kamu mau apa lagi? Seharian ini kamu udah bahas banyak hal yang bahkan nggak masuk akal buat dibahas. Kalau sampai ini juga sama, aku nggak bakal angkat lagi telepon dari kamu,” ancamnya.


“Kamu tuh, masih aja tetap galak, ya?” dengus William. “Aku telepon kamu kan, karena aku mau ngehibur kamu aja. Nggak boleh?”


Verisa tertegun mendengar alasan William, tapi dengan cepat ia kembali menyadarkan dirinya.


“Kalau mau ngehibur tuh, jadi badut aja sana,” ketusnya, tapi bibirnya menyunggingkan senyum kecil.


“Wah, wah, wah, jahat banget kamu. Masa pria ganteng kayak aku jadi badut, nggak cocok dong. Pantesnya jadi pacar kamu aja, gimana?” William bertanya, tepatnya menggoda.


“Makin nggak waras kamu, Will. Udah deh, kalau masih bahas hal nggak jelas, aku tutup aja,” putus Verisa.


“Tunggu dulu, Verisa. Kali ini aku mau nanya serius, nih. Ehm, kamu bakal ngelanjutin kuliah ke mana abis ini?” tanya William.


Verisa terkejut. Ia belum memikirkan tentang itu. Semalam, Reni juga sudah memberi data tentang beberapa perguruan tinggi untuknya, meski ia tolak. Tapi, ia sama sekali belum memikirkannya lagi. Ia juga bahkan belum mencari tahu apa-apa saja yang harus dipersiapkan untuk mendaftar kuliah.


Jika tidak terjadi masalah seperti ini, Lucky pasti sudah menguruskan semua untuknya. Tapi, pria itu juga sudah melakukannya melalui Reni. Tak ada yang Lucky lewatkan tentang kebutuhan Verisa. Hanya saja, ia merasa tak suka dengan cara pria itu sekarang.


“Woy, Gadis Galak!”


Verisa berjengkit dan reflek menjauhkan ponselnya dari telinga ketika mendengar teriakan William.


“Gila kamu ya, teriak-teriak gitu! Mau bikin kupingku tuli, hah!” semburnya, kesal.


“Jangan salahin aku, dong. Kamu tuh, yang dipanggil-panggil dari tadi, tapi diem aja,” balas William tak mau kalah. “Mikirin apaan, sih?”


“Kamu tuh, ish! Tadi tuh, aku lagi mikir kira-kira universitas mana yang cocok buat aku di sini,” dustanya, masih kesal.


William tergelak mendengar balasan Verisa, lalu berkata, “Kamu emang gadis galak, tapi lucu.”


Verisa mendesis kesal. “Dasar gila,” gumamnya.


“Ve ...”


“Hmm!” balasnya masih ketus.


“Udah sih, ngambeknya. Lagi PMS, hm?” goda William.


“Buruan deh, mau ngomong apa lagi? Aku mau mandi, nih,” buru Verisa.


“Aku mau ngajak kamu kuliah bareng di Jerman, gimana?” William bertanya.


“Jerman?”


“Ya,” singkat William.


Jika Verisa pergi ke Jerman, ia akan lebih sulit lagi bertemu dengan Lucky. Tapi, jika harinya terus-menerus seperti ini, ia juga tidak mau. Menahan rindu, tapi tak bisa melakukan apa pun. Apa Verisa menerima ajakan William saja? Toh di sana nanti, ia tidak sendirian. Ada William yang akan menemaninya. Ia tidak akan benar-benar sendirian, kan?


“Gimana, Ve?” William memastikan lagi.


“Aku pikirin dulu, deh. Kalau gitu, aku tutup ya,” balasnya seraya menutup telepon setelah mendapat persetujuan William di sana.


***


Dua minggu setelah Lucky menghilang dan tak pernah ada kabar, Verisa akhirnya memutuskan untuk menerima ajakan William. Anak itu bahkan langsung mempersiapkan tiket pesawatnya, ketika ia memberitahu William. Verisa benar-benar tidak bisa mencegah anak itu. Yang harus ia lakukan sekarang adalah memberitahu Putra atau Reni tentang rencananya ini.


Ketika Verisa keluar kamar untuk sarapan pagi itu, Bi Minah tiba-tiba menghampirinya.


“Ada apa, Bi?” tanyanya.


Bi Minah tak mengatakan apa pun, tapi wanita paruh baya itu menyodorkan secarik kertas pada Verisa. Ia mengerutkan kening melihat kertas itu. Apa ini?


Tanpa bertanya lagi pada Bi Minah, ia membuka kertas itu dan terkejut melihat isinya.


Untuk Verisa,


Maaf, karena selama ini aku belum bisa nemuin kamu. Aku masih harus ngurus banyak pekerjaan di Surabaya. Aku harap kamu ngerti, Ve. Nanti kalau aku pulang, aku janji bakal menuhin keempat sisa keinginanmu waktu itu.


Jangan lupa makan dan jaga kesehatan, ya.


Dari Lucky.


Verisa terdiam sambil menatap lekat kata-kata yang dituliskan dengan rapi oleh pria itu atau mungkin orang lain, ia tak tahu. Yang kini mulai kembali mengusik hatinya adalah janji pria itu. Untuk apa Lucky lagi-lagi memberinya janji, jika pria itu sendiri tidak bisa menemuinya atau menghubunginya sekali pun?


“Siapa yang ngasih surat ini, Bi?” tanyanya seraya meremas surat itu.


“Pak Putra, Non.”


“Di mana dia?”


“Di depan, Non. Biar Bibi panggil dulu,” pamit Bi Minah.


Sekembalinya Bi Minah dengan Putra di belakangnya, Verisa menatap pria itu lekat.


“Nona manggil saya?” Putra berkata.


“Buat apa dia ngasih surat ini ke aku? Kenapa dia nggak datang sendiri nemuin aku dan ngomong langsung sama aku?” tuntut Verisa.


“Maaf, Nona. Lucky masih ... ada pekerjaan di Surabaya,” ucap Putra.


“Kalau emang Kak Lucky mau fokus sama kerjaannya, bilang sama dia buat nggak ngurusin aku lagi. Karena aku juga bukan anak kecil lagi. Aku bisa urus diriku sendiri. Dan satu lagi,” Verisa memalingkan wajah dari Lucky dan melanjutkan, “minggu ini aku bakal pergi ke Jerman bareng William. Aku udah mutusin buat kuliah di sana sama William. Jadi ... kasih tahu itu juga sama Kak Lucky.”


Mungkin memang ini jalan yang terbaik. Ia pergi dan melepaskan diri dari tanggung jawab yang harus diemban Lucky. Pria itu pasti sudah sangat lelah menanggung beban mengurus perusahaan Ayah. Belum lagi tanggung jawab atas dirinya.


Ia menunduk ketika lagi-lagi harus memikirkan Lucky. Sungguh ini sangat menyakitkan ketika harus memutuskan pergi jauh dari orang yang dicintainya.


“Apa ... Nona yakin mau pergi ke Jerman bersama William saja? Apa perlu saya juga ....” Verisa menatap Putra, memutus ucapannya.


“Aku bukan anak kecil lagi. Dan, aku bisa urus diriku sendiri,” ucapnya penuh penekanan, meski sesak pun menghimpit dadanya ketika mengatakan itu.


***