
Verisa berteriak memanggil nama Lucky ketika sadar dari tidurnya. Napasnya terengah dan matanya terbelalak. Ketika itu juga seorang pria tinggi yang tidak asing masuk dengan wajah panik.
“Nona, kenapa?” tanya Putra.
Verisa menggeleng. “Di mana Kak Lucky? Dia nggak apa-apa, kan? Aku pengen ketemu dia,” Verisa berkata.
Putra tampak terkejut, lalu menunduk sedih. Apa terjadi sesuatu pada Lucky? Tidak, kan?
“Kak Putra, di mana dia?!” tuntut Verisa tak sabar.
“Lucky sedang istirahat, Nona. Makanya, saya yang menggantikan dia jagain Nona sekarang,” ucap Putra, masih menunduk.
Kenapa Putra terlihat bingung dan panik seperti itu? Mendadak Verisa merasa seperti ada yang sedang ditutupi oleh Putra. Apa Lucky benar-benar sedang istirahat? Dia benar-benar baik-baik saja, kan?
“Dia istirahat di sini, kan? Aku mau ngelihat dia, kalau gitu,” putus Verisa, seraya turun dari brankarnya.
“Maaf, Nona. Nona juga harus istirahat,” tahan Putra.
“Aku cuma mau ngelihat dan mastiin dia nggak apa-apa, Kak. Aku nggak akan gangguin istirahatnya, kok,” kesal Verisa.
“Tapi ... ini sudah cukup malam, Nona. Nona juga baru sadar. Saya akan panggil dokter untuk memeriksa Nona lebih dulu.” Putra berbalik dan pergi.
Ish, kenapa dengan pria itu dan cara bicaranya yang kaku itu? Menyebalkan sekali. Apa masalahnya ia melihat Lucky? Lucky tidak akan terbangun hanya karena dilihat, kan? Berlebihan sekali Putra itu.
Tak lama dokter pun datang dan memeriksa Verisa.
Selama diperiksa, Verisa tak melepaskan pandangannya dari Putra yang sedari tadi berdiri kurang lebih dua meter di belakang dokternya. Ia mengerutkan alis, menelisik wajah Putra yang terlihat melamun. Dari ekspresi pria itu sekarang, Verisa yakin Putra sedang memikirkan banyak hal. Karena pria itu tampak sedang berpikir. Bahkan ketika dokter memanggilnya sekali, Putra tak mendengar. Hingga ia harus membantu dokter mengulang panggilannya.
“Kak Putra!” seru Verisa sedikit keras, mengejutkan Putra.
“Nona, kenapa?” balas Putra cepat.
“Dokter dari tadi manggil Kak Putra. Kenapa ngelamun? Lagi mikirin apaan, sih?” ketus Verisa.
“Oh, maaf.” Putra menunduk minta maaf pada Verisa. “Bagaimana keadaan Nona Verisa, Dok?” tanya Putra pada dokter itu.
“Nona Verisa sudah baik-baik saja. Tidak ada luka yang serius. Dia hanya butuh istirahat saja,” dokter itu berkata.
“Kalau gitu, aku udah boleh pulang, kan?”
“Kita lihat besok, Nona. Kalau kondisi Nona jauh membaik besok, Nona bisa pulang,” dokter itu menjawab.
“Oke.”
Dokter itu pamit dan Putra mengantarnya ke luar. Tak mau menunggu Putra, Verisa turun dari tempat
tidurnya untuk mencari Lucky, tapi Putra yang kembali masuk, terkejut ketika melihatnya.
“Nona mau ke mana?”
“Tadi aku udah bilang, kan? Aku mau lihat Kak Lucky. Awas!” Verisa mendorong Putra agar menepi, tapi pria itu justru menahan tangannya.
“Nona, besok,” Putra berkata, membuatnya menatap pria itu tajam. “Tadi dokter bilang, Nona masih harus istirahat, kan? Ini juga udah malam. Sebaiknya besok saja, Nona.”
“Kenapa aku ngerasa ... Kak Putra lagi nutupin sesuatu dari aku?” tuduhnya curiga, tepat menatap Putra.
Putra terkejut dan wajahnya tampak tegang kini. Melihat reaksi Putra itu, Verisa semakin yakin jika pria itu sedang menutupi sesuatu darinya.
“Nona, saya ... tidak berbohong. Sebaiknya, Nona istirahat,” ucap Putra sedikit gagap.
“Oke. Aku bakal istirahat. Tapi, aku mau besok pagi Kak Lucky harus udah ada di sini pas aku bangun,” Verisa kembali meminta dengan egoisnya.
Lagi-lagi ekspresi terkejut Putra membuatnya curiga. Bibirnya terbuka hendak berbicara, tapi kembali tertutup. Wajahnya kini terlihat ragu. Jika Lucky baik-baik saja, harusnya Putra tidak bersikap aneh seperti ini. Meminta Lucky datang ke sini, itu bukanlah hal yang sulit. Kecuali, jika memang terjadi sesuatu. Dan itu hal terakhir yang Verisa inginkan. Ia berharap Lucky baik-baik saja.
“Bisa?” ia memastikan, membuat Putra tergagap saat mengiyakan.
Mendengar jawaban Putra, Verisa akhirnya kembali ke tempat tidurnya. Entah sudah berapa lama ia tertidur sejak kejadian kebakaran itu. Tapi, ia bersyukur karena ia masih hidup. Berkat Lucky. Dan kini, Verisa sangat ingin tahu, apa yang dirasakan Lucky ketika pria itu sudah tahu tentang perasaannya.
Verisa ingin melihat Lucky. Ia sungguh sangat merindukan pria itu. Ia juga ingin memastikan Lucky baik-baik saja. Karena mimpi buruknya tentang Lucky tadi, entah mengapa begitu mengusik pikirannya.
***
Pagi itu, Verisa terbangun dengan keadaan lebih baik. Namun, ketika ia membuka matanya, orang yang ingin dilihatnya tidak di sana.
“Oh, Non Verisa udah bangun,” pekik Bi Minah. “Bibi lagi siapin sarapan buat Non Verisa.”
Ya, Verisa melihat makanan-makanan itu di meja, tapi nafsu makannya yang tidak ada. Salahkan Lucky karena ini.
“Non Verisa kenapa?” tanya Bi Minah seraya membawa nampan berisi makanan itu.
Kecewa. Jika ditanya kenapa? Jawabannya hanya satu, kecewa. Verisa memalingkan wajah ke arah lain. Enggan memperlihatkan wajah sedihnya pada siapa pun.
“Non, mau Bibi suapin makannya?”
“Aku belum lapar, Bi,” balasnya tanpa menatap Bi Minah.
Kalimat Bi Minah terhenti ketika terdengar suara pintu. Bersamaan dengan Verisa yang menoleh ke arah pintu, berharap orang yang ditunggunya yang datang. Namun, lagi-lagi kecewa yang didapat. Verisa terlalu banyak berharap sepertinya.
“Nona Verisa udah bangun? Bagaimana keadaan Nona sekarang?” Putra bertanya ketika sudah berdiri di sisi tempat tidurnya.
“Kenapa Kak Lucky nggak nemuin aku?” tanya Verisa penuh tuntutan, mengabaikan pertanyaan Putra.
Putra mendesah berat sebelum menjawab, “Lucky masih harus menyelesaikan proyeknya, Nona. Jadi, dia belum bisa menemui Nona. Maafkan saya, Nona.”
Verisa menunduk sesaat, lalu kembali mendongak hanya untuk berkata tajam, “Kalau gitu, jangan pernah datang temui aku kalau Kak Lucky nggak ikut.”
Setelahnya, Verisa kembali memalingkan tubuhnya, memunggungi Putra, juga Bi Minah, hanya untuk menangis. Kenapa Lucky menjadi sulit ditemui? Dia ke mana? Verisa hanya ingin melihat, bertemu, kenapa sulit?
Dan, kenapa dadanya terasa sakit hanya karena tak bisa melihat Lucky?
***
Jika Lucky melihat ini, pasti dia akan sedih. Tapi, Putra tak bisa berbuat apa-apa? Lucky sudah memintanya untuk tak mengatakan apa pun tentang keadaannya pada Verisa. Kini, yang bisa ia lakukan hanya harus berbohong sedikit lagi sampai Lucky sadar dari komanya.
Ya, ia sendiri masih tak yakin dengan pikirannya kini. Lucky, teman yang selalu terlihat kuat dan bersemangat dalam pekerjaan, sekarang harus terbaring koma.
Setelah Putra mendapat kabar dari polisi, jika terjadi kecelakaan dan penembakan terhadap Lucky, Putra tak bisa berpikir jernih. Ia terkejut, juga marah. Seharusnya, ia tak membiarkan Lucky pergi sendiri mengejar Jodi. Ia tahu, Jodi adalah orang licik yang akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkan.
Sedangkan Lucky ... ia tahu, Lucky sudah memiliki perasaan pada Verisa. Dan dia melakukan ini untuk Verisa. Ia bahkan tak pernah meninggalkan Verisa sedikit pun, meski pekerjaannya menumpuk. Lucky lebih memilih tidak tidur, daripada tidak ada waktu untuk Verisa. Dari sanalah Putra tahu perasaan Lucky.
Kemarahan Lucky pada dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga Verisa dengan baik pun, karena rasa cintanya yang terlalu besar. Karena Verisa, Lucky bahkan mau melakukan hal nekat seperti itu untuk membalas apa yang sudah diperbuat Jodi pada Verisa.
Putra menatap sedih pada Verisa yang berbaring memunggunginya.
“Nona, saya ke sini cuma mau memastikan kondisi Nona, sebelum Nona pulang ke Jakarta,” Putra berkata. “Saya sudah menyiapkan penerbangan siang ini untuk Nona dan Bi Minah.”
Verisa masih diam, tak beraksi apa-apa.
“Bi, tolong jagain Nona Verisa, ya. Semua sudah saya siapkan, kalian hanya tinggal ....”
Putra menghentikan kalimatnya dan menoleh menatap Verisa yang menyela tajam, “Kamu ... kenapa seenaknya ngatur hidupku?”
“Nona, bukan begitu. Saya cuma ....”
“Apa?!” raung Verisa yang kini sudah menatapnya dengan marah.
Putra mencoba menahan emosinya sekuat tenaga. Ia tak ingin terpancing dan keceplosan mengatakan yang sesungguhnya. Ia sudah berjanji pada Lucky. Putra menarik napas dalam untuk kembali berkata sopan,
“Maafkan saya, Nona. Saya melakukan ini karena perintah dari Lucky dan untuk kebaikan Nona juga. Saya harap Nona bisa mengerti.”
Verisa mendengus sinis. “Buat kebaikanku, ya? Terus, kenapa kamu nggak bawa Kak Lucky ke sini, ketika itu juga keinginanku? Kenapa?” tuntutnya.
Air mata Verisa jatuh. “Kenapa Kak Lucky nyuruh aku pulang, tapi nggak mau nemuin aku? Aku punya salah? Kasih tahu aku, apa salahku,” ucap Verisa, penuh emosional.
“Nona tidak salah,” sebut Putra.
“Kalau aku nggak salah, trus apa alasannya? Kenapa dia nggak dateng nemuin aku?” Verisa menutup wajahnya dengan kedua tangan ketika tangisnya tak terbendung, tapi masih melanjutkan, “Semerepotkan itu, aku?”
Putra menggeleng pelan dan akan menjawab, tapi Verisa kembali berkata lebih dulu, seraya menatapnya, “Kak Putra juga mikir aku ini ngerepotin, kan? Setelah orang tuaku pergi ninggalin aku sendiri, Kak Lucky yang harus urus semuanya. Dia pasti capek kan, karena harus ngurus aku dan perusahaan juga?”
Verisa mengangguk-angguk. “Aku ngerti. Aku ngerti. Aku ngerti,” ucapnya berulang-ulang, hingga gadis itu kembali berbaring.
Putra kembali mendesah berat. Lucky harus bertanggung jawab atas kebohongan ini nanti.
***
Verisa tak tahu, apa alasan Lucky tak menemuinya. Yang Verisa tahu, Lucky selalu ada untuknya, di sisinya. Itu janjinya. Bahkan pria itu sudah mengatakan perasaannya, meski di saat Verisa tertidur, tepatnya pura-pura tidur. Lalu, kenapa Lucky kini seolah menghilang tanpa kabar?
Jika memang Lucky mencintainya, menyayanginya seperti apa yang dikatakannya waktu itu, seharusnya Lucky tidak pergi ketika kini perasaannya berbalas. Verisa pun mencintai Lucky. Ia tak pernah membayangkan sebelumnya, jika ia akan memiliki perasaan ini pada pria yang usianya terpaut jauh darinya, tapi inilah perasaannya. Hatinya sudah memilih.
Sekarang, Verisa harus apa?
Ia pikir, mencintai seseorang akan selalu berakhir bahagia. Seperti cerita yang dibacanya di novel atau komik romantis, jika pasangan saling mencintai, maka mereka akan berakhir bahagia. Tapi, yang Verisa rasakan tidak seperti itu. Apa cerita-cerita itu bohong belaka?
Sungguh, ia tak ingin memikirkan tentang ini lagi di saat Lucky mungkin tak memikirkannya juga. Verisa mendesah berat.
“Nona, kenapa? Ada yang mengganggu pikiran Nona?” tanya Bi Minah, ketika sedang merapikan barang-barang Verisa sebelum keberangkatan kembali ke Jakarta.
Verisa hanya menggeleng pelan.
“Non, Bibi tahu Pak Lucky itu orang yang baik dan bertanggung jawab. Dia pasti punya alasan, kenapa dia tidak bisa datang untuk menemui Nona sekarang? Tanggung jawabnya besar ketika harus menjalankan perusahaan milik Tuan Veri.
“Bahkan sejak Pak Lucky tinggal di rumah Non Verisa, setiap Pak Lucky sudah memastikan Non Verisa tidur, Pak Lucky akan melanjutkan pekerjaannya sampai tengah malam. Bibi lihat sendiri, bagaimana dia bekerja dengan sangat keras untuk menjaga perusahaan, juga menjaga Nona,” urai Bi Minah.
Lucky ... begitukah?
***