Ending Scene

Ending Scene
Sesuatu yang Terlewatkan



Setelah perjalanan dari Surabaya ke Jakarta bersama Bi Minah, akhirnya Verisa sampai juga di rumahnya. Selama perjalanan itu, Verisa sama sekali tak ingin bicara. Ia hanya berpikir tentang bagaimana hidupnya selanjutnya?


Verisa mendesah berat ketika duduk di tempat tidur di kamarnya. Seharusnya, jika Lucky tidak berniat untuk bertanggung jawab atasnya, pria itu tidak perlu memaksakan diri. Bahkan jika pria itu juga mencintainya, seharusnya dia tidak pernah mengatakannya.


Jika sejak awal hanya tahu Verisa yang memiliki perasaan, ia tidak akan seberharap ini pada Lucky. Sungguh, jatuh cinta kenapa rasanya semenyakitkan ini?


“Non, ini kotak apa?”


Verisa mendongak ketika Bi Minah menyodorkan sebuah kotak hadiah yang mungkin dari William itu. Ia baru ingat jika kotak itu belum sempat dibukanya. Kotak itu bahkan selamat dari kebakaran karena tertinggal di mobil Lucky.


Verisa kembali mendesah berat ketika kembali teringat Lucky. Ia menggeleng pelan, tak ingin mengingat Lucky dulu untuk saat ini. Lalu, Verisa menerima kotak itu dan membukanya.


Verisa mendengus pelan ketika melihat isinya. Verisa mulai mengeluarkan satu persatu isi kotaknya. Mulai dari topi berwarna putih. Jika ini benar dari William, lalu untuk apa William memberinya topi dan bukannya boneka? Harusnya pria itu tahu kesukaan seorang wanita itu sesuatu yang lucu.


Kemudian, ada beberapa bungkus cokelat. William benar-benar berniat membuatnya gemuk dengan memberinya cokelat sebanyak ini?


Lalu, benda terakhir yang membuatnya terbelalak kaget sebelum mendengus geli. Selembar foto bergambarkan William yang sedang tersenyum lebar seraya melambai sambil memeluk papan skateboard-nya. Dasar bodoh. Tapi, ia tersenyum melihat itu. Dan tebakannya benar.


Ketika ia akan meletakkan fotonya, ia melihat coretan di belakang foto itu. Penasaran, ia membacanya.


Hai, Teman Galak,


Gimana kabarmu? Pasti masih galak, deh. Aku mau nawarin diri jadi temanmu, nih. Kalau butuh teman, hubungi aku di nomor ini, ya?


Dari calon teman barumu,


William


0857xxxxxxx


Selama beberapa saat, Verisa hanya menatap kata-kata di pesan singkat William. Apa sebaiknya ia memberi kesempatan William untuk berteman dengannya?


Jika dipikir-pikir, William tidak pernah berniat jahat padanya. Di pertemuan pertama mereka di restoran hotel pun, William berkata hanya ingin menemaninya. Lalu di pertemuan kedua di Taman Bungkul, kejadian itu juga tidak sengaja. Bahkan bukan salah William. Verisa bahkan melihat bagaimana William mencoba menghindar agar tidak menabraknya. Dan pertemuan ketiga di lobby hotel pun, William hanya menanyakan kabar dan meminta maaf.


Verisa mengambil ponselnya dan menghubungi nomor William.


***


“Butuh waktu dua minggu buat bikin kamu nerima aku jadi temenmu, hm?” William berkata ketika Verisa baru menyapanya dengan menyebut nama William. “Jadi teman kan, kita?” William memastikan.


Verisa berdehem pelan. “Aku nelepon kamu karena aku ngehargain pemberian kamu aja. Beruntung aku nggak buang kotak hadiah itu, kan?” balasnya ketus.


Terdengar William tertawa kecil di seberang sana. “Kamu tuh, masih aja galak.”


“Kamu juga tuh, masih seenaknya ngatain aku galak,” balas Verisa tak terima.


William tertawa semakin kencang. “Aku anggep kita udah sah jadi teman karena kamu udah telepon aku.”


Verisa menghela napas seraya mendengus geli mendengar ucapan William.


“Verisa?” panggil William.


“Kenapa?”


“Nggak. Cuma ngetes doang. Beneran itu namamu atau bukan,” jawab William membuat Verisa mendesis kesal.


“Oh iya, kamu di mana sekarang?” tanya William.


“Aku udah balik ke Jakarta tadi siang,” balasnya.


“Oh, sama kakakmu juga?”


“Kakakku?” Verisa mengulang dalam tanya.


“Iya, laki-laki yang sama kamu itu. Yang kesal pas lihat aku bikin kamu luka waktu itu,” William menjelaskan maksudnya.


Lucky maksudnya? Jadi, William mengira Lucky adalah kakaknya? Kenapa harus bahas Lucky lagi, sih?


“Dia sibuk sama kerjaan, makanya aku pulang duluan,” ucap Verisa kesal.


“Kamu yakin?”


“Maksudmu apa? Kamu nggak percaya sama aku? Yang nyuruh aku pulang dan ngurus semua keperluanku itu dia, tapi dia malah nggak mau nemuin aku karena kesibukannya,” sembur Verisa dengan suara sedikit bergetar.


“Verisa, kamu baik-baik aja, kan?” William memastikan.


“Maaf, Will. Aku mau istirahat dulu. Aku capek.” Setelah mengatakan itu, Verisa menutup teleponnya dan berbaring di tempat tidurnya. Hingga semakin lama rasa kantuk mulai menyergapnya, membawanya ke alam mimpi.


***


William menatap heran ponselnya ketika panggilan itu tertutup. Kenapa dengan Verisa? Ada yang gadis itu lewatkan sepertinya.


Memasukkan ponselnya ke dalam saku, William lanjut bermain skateboard bersama teman-temannya lagi di Taman Bungkul hingga malam. Sebelum ia pulang ke rumah, ia sempat menghubungi seseorang.


“Udah dapet informasi yang aku minta?” tanya William pada orang di balik teleponnya.


William tersenyum mendengar jawaban yang diinginkan. Lalu, ia menutup teleponnya sebelum pergi ke mobilnya. William melempar papan skateboard-nya ke kursi belakang, lalu masuk ke kursi kemudi, menuju tempat yang disebutkan orang yang diteleponnya tadi.


Sampainya di tempat itu, rumah sakit, William mencari kamar rawatnya. Di depan kamar rawat itu, ia bisa melihat orang yang dicarinya masih belum sadarkan diri. Pria bernama Lucky yang sempat dianggapnya sebagai kakak Verisa itu ternyata bukan. Pria itu adalah orang kepercayaan dari orang tua Verisa.


William membuka pintu itu dan masuk. Ia melihat seorang pria lain yang duduk di depan laptop tampak terkejut ketika melihatnya.


“Siapa kamu?” tanya pria itu.


“William. Teman Verisa,” balasnya.


“Nona Verisa nggak ada di sini. Dia udah pulang ke Jakarta. Jadi, kamu ....”


“Verisa nggak tahu kalau dia dalam keadaan gini, kan?” sela William, menebak dengan santai.


Pria itu terkejut. “Apa maksudmu?”


“Sebenarnya, siapa kamu?” tuntut pria itu.


“Darwin. William Darwin,” sebut William.


***


“Darwin. William Darwin.”


Putra terbelalak ketika mendengar nama belakang anak itu. Jadi, dia adalah anak dari Jhony Darwin, pemilik dari JD Company, salah satu perusahaan properti terbesar di negara ini.


“Jadi, aku nggak perlu jelasin apa-apa lagi,kan?” William berkata.


“Sebenarnya, ada perlu apa kamu ke sini?” Putra masih penasaran dengan maksud anak ini datang menemui Lucky. Dengan semua yang William tebak tadi, ia yakin anak itu sudah menyelidikinya.


“Aku cuma mau nengok Pak Lucky aja. Karena aku kira, Verisa juga ada di sini buat nemenin dia. Tapi, ngelihat dia nggak ada di sini, tebakanku tadi benar, kan? Kalau Verisa nggak tahu tentang keadaan Pak Lucky yang koma?” William mengangkat sebelah alisnya, tampak yakin.


Putra benar-benar terkejut dengan semua tebakan anak ini yang tepat. Padahal, ia sudah mencoba menghubungi semua stasiun TV dan semua media untuk tidak menayangkan berita tentang kebakaran, tabrakan, dan penembakan itu. Tapi, anak ini bisa tahu dengan tepat.


“Terus, apa maumu sekarang?” Putra menatap tajam anak itu. Sepertinya ada maksud lain atas kedatangannya ke sini.


Anak itu mengedik cuek. “Aku cuma penasaran aja, kalau aku kasih tahu Verisa keadaan Kak Lucky-nya itu, gimana reaksinya, ya?”


“Jangan berani-berani kamu ....”


“Jadi, memang sengaja nggak dikasih tahu.” William mengangguk-angguk.


Sialan, William! Dia benar-benar berniat mengancamnya. Tapi, untuk alasan apa dia ikut campur? Atau, jangan-jangan William juga ... menyukai Verisa?


“Lucky yang minta untuk nggak ngasih tahu Verisa tentang hal ini karena Lucky nggak mau bikin Verisa khawatir,” Putra menyebutkan alasannya.


“Ternyata sedalam itu perasaannya,” sebut William. Lagi-lagi dia tahu tentang itu. Sebenarnya apa saja yang sudah anak ini selidiki tentang Lucky dan Verisa?


“Jangan bilang kamu juga ....”


William menoleh menatapnya seraya tersenyum miring. “Iya, aku juga.”


Ia terkejut mendengar jawaban William.


“Sampaiin ke Pak Lucky kalau dia sadar nanti. Aku udah mulai ngedeketin Verisa, dan aku berniat mau ngajak dia kuliah bareng di luar negeri. Aku juga nggak bisa janji buat nutup mulut tentang hal ini. Kalau emang Verisa nanya sama aku, aku bakal kasih tahu yang sebenarnya.”


William beralih menatap Lucky. “Jadi, segera bangun dan temui Verisa, sebelum aku lebih dulu bawa dia pergi jauh dari sini.”


***


Verisa mendesah berat untuk yang kesekian kalinya. Semenjak pulang dari Surabaya minggu lalu, duduk sambil menatap luar dari jendela kamarnya ini, seperti menjadi kebiasaan barunya. Entah sudah berapa lama hari ini ia duduk melamun di sini. Yang ia tahu, di luar sana sudah gelap.


Verisa menarik napas, bersamaan dengan air matanya yang menetes. Dadanya tiba-tiba terasa sesak hanya karena teringat Lucky. “Kamu di mana sih, Kak?” gumamnya penuh harap. “Kenapa ... setelah tahu perasaanku, kamu malah ngilang dan nggak nemuin aku lagi? Kenapa?”


Ia memejamkan mata dan menunduk, ketika air matanya kembali menetes. Mau bagaimanapun caranya ia membuat ini semua seolah baik-baik saja, tapi hatinya tetap saja terasa sakit. Ia hanya ingin bertemu Lucky. Jika memang pria itu sibuk, Verisa mengerti. Tapi, setidaknya sekali saja Lucky menemuinya atau biarkan ia yang menemui Lucky agar tahu keadaannya.


Sebelumnya pun, pria itu selalu ada untuknya, kan? Kenapa sekarang justru sulit hanya untuk melihatnya? Jika Lucky tak mau menerima perasaannya, juga tidak masalah. Ia tidak memaksa itu pada Lucky, tapi ....


“Non, makan malamnya sudah siap,” ucap Bi Minah sambil mengetuk pintu, menghentikan lamunannya.


Tanpa membalas, Verisa beranjak dari tempatnya, keluar dari kamarnya, dan makan. Sepanjang makan malam sendirinya itu, Verisa berusaha untuk tidak terlihat lemah. Ia makan dalam diam dan hanya memasukkan makanannya ke dalam mulut sampai makanan di piringnya habis.


Bangkit dari duduknya, Verisa hendak kembali ke kamar.


“Non Verisa kenapa?” tahan Bi Minah ketika menghampiri Verisa. “Sudah hampir  seminggu ini, semenjak Non Verisa pulang dari rumah sakit di Surabaya, Bibi lihat Non Verisa selalu murung?” lanjut Bi Minah.


Sekarang, ia harus jawab apa jika ditanya seperti itu?


Verisa menatap Bi Minah yang kini sedang menatapnya lembut. Bi Minah pun tampak menatapnya sedih. Jadi, semenyedihkan itu Verisa di mata orang-orang?


“Bi ...”


“Iya, Non.”


“Apa ... aku semenyedihkan itu?” tanya Verisa seraya menatap sendu Bi Minah. “Aku pasti ngerepotin banget, ya?”


“Kenapa Non Verisa berkata begitu?” Bi Minah tampak terkejut, bingung. “Non Verisa nggak boleh berpikir diri Non Verisa begitu. Bibi kenal Non Verisa sejak Non masih bayi. Non Verisa itu baik, kuat, selalu ceria. Non Verisa selalu jadi kebanggaan dan kebahagiaan Tuan dan Nyonya. Jadi, jangan sebut diri Non Verisa seperti itu lagi,” terang Bi Minah.


Verisa menarik napas dalam, lalu mengembuskannya.


“Lupain apa yang aku omongin tadi, Bi. Aku mau ke kamar,” sebutnya seraya berjalan, tapi baru beberapa langkah Verisa kembali berhenti dan berkata, “Besok Bibi nggak perlu bangunin aku pagi-pagi. Aku mau tidur sampai siang.”


“Baik, Non,” balas Bi Minah patuh.


Verisa baru akan melanjutkan langkahnya ketika mendengar suara pintu depan terbuka, membuatnya reflek menoleh dan berlari ke depan dengan penuh harap. Namun, ia tiba-tiba berhenti ketika melihat siapa yang masuk. Membuat orang itu pun terkejut.


“Nona?” sebut Reni ketika melihatnya.


Verisa menunduk lalu berbalik tanpa berniat membalas tanya sekretaris Lucky itu.


“Nona, tunggu,” tahan Reni, membuatnya berhenti melangkah. “Saya diminta Pak Lucky untuk mengantarkan ini pada Nona Verisa,” Reni berkata seraya mendekat dan menyodorkan sebuah amplop cokelat.


“Apa?” tanyanya singkat, tanpa berniat menerima itu.


“Ini data perguruan tinggi yang Pak Lucky pilihkan untuk Nona,” beritahu Reni.


Verisa mendengus pelan, lalu melirik Reni tajam. “Bilang sama dia, kalau aku ... bakal cari perguruan tinggi buatku sendiri.”


Setelahnya, ia berjalan cepat dan masuk ke kamarnya, membanting pintu, dan menguncinya. Di balik pintu, ia bersandar hanya untuk terisak menahan sakit dan rindunya pada Lucky. Ia benci ketika harus merindukan pria itu di saat pria itu mungkin tak ingin menemuinya lagi.


“Aku benci Kak Lucky,” lirihnya dalam isak.


***