Ending Scene

Ending Scene
Sesal



“Kamu udah kasih suratku ke Verisa?” tanya Lucky ketika Putra datang ke apartemennya. Ia baru akan makan siang ketika Putra datang.


“Udah. Dan kamu dapat pesan balik juga dari Nona Verisa,” sebut Putra seraya duduk di kursi seberang Lucky.


“Apa? Mana?” buru Lucky tak sabar.


Lucky mengerutkan kening ketika Putra tak menjawab dan malah mengeluarkan ponselnya.


“Jadi, apa yang ....”


“Maaf, Nona. Lucky masih ... ada pekerjaan di Surabaya.”


Itu suara Putra. Lucky menatap Putra lekat.


“Kalau emang Kak Lucky mau fokus sama kerjaannya, bilang sama dia buat nggak ngurusin aku lagi. Karena aku juga bukan anak kecil lagi. Aku bisa urus diriku sendiri. Dan satu lagi, minggu ini aku bakal pergi ke Jerman bareng William. Aku udah mutusin buat kuliah di sana sama William. Jadi ... kasih tahu itu juga sama Kak Lucky.”


“Apa ... Nona yakin mau pergi ke Jerman bersama William saja? Apa perlu saya juga ....”


“Aku bukan anak kecil lagi. Dan, aku bisa urus diriku sendiri.”


“Itu tadi ... Verisa. Dia ... benar-benar mau pergi sama William?” Lucky terbata.


Putra mengangguk seraya memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jasnya.


“Jadi, dia udah mutusin buat pergi,” ulang Lucky lemas.


“Kenapa sih, kamu harus minta aku buat bohong lagi ke Nona Verisa? Kamu udah tiga hari ini balik dari Surabaya, tapi kamu malah sembunyi kayak gini dan bukannya nemuin Nona Verisa. Ky, kamu bisa balik dan temui dia. Kamu bisa jelasin semuanya ....”


“William lebih pantas buat Verisa dari pada aku,” potong Lucky.


“Apa?” kaget Putra.


“Aku bukan siapa-siapa di sini, Putra. Aku cuma diminta buat ngejalanin perusahaan Pak Veri dan jagain Verisa. Kalau nanti Verisa udah mampu buat mimpin perusahaan ayahnya, aku bakal pergi. Dan William, dia dengan latar belakang keluarganya bisa ngebantu Verisa buat ngembangin perusahaan ayah Verisa,” ungkapnya seraya berdiri hendak kembali ke kamarnya. Mwngurungkan niatnyabmakan siang.


“Aku makin nggak ngerti sama jalan pikiranmu, Ky. Kalau emang kamu punya perasaan sama Nona Verisa, harusnya kamu perjuangin. Kejar dia. Kamu juga pasti udah tahu kan, perasaan Nona Verisa kayak gimana ke kamu?” ucap Putra, menghentikan langkah Lucky.


“Aku ngerasa nggak pantas buat dia, Putra.”


Putra mendengus pelan. “Aku harap kamu nggak akan nyesel ketika Nona Verisa benar-benar pergi ninggalin kamu sama orang lain,” cibir Putra.


Lucky kembali melangkah ke kamarnya, mencoba mengabaikan ucapan Putra. Meski sebenarnya menyakitkan ketika harus mengatakan itu semua. Jauh dari Verisa dan merelakan dia untuk orang lain, entah Lucky akan sanggup atau tidak. Meski itu semua akan membunuhnya, jika Verisa bisa bahagia, ia akan lakukan.


***


Verisa merasa kaki dan hatinya sungguh berat harus pergi dari sini dengan perasaan seperti ini. Tapi, ia tak bisa berbuat apa pun. Pria sialan itu benar-benar sukses membuat hatinya hancur berkeping-keping.


Verisa memejamkan mata dan menunduk dalam, menyembunyikan sesak di hatinya.


“Kenapa, Ve?” tanya William yang kini duduk di sebelahnya di mobil dalam perjalanan menuju bandara.


“Nggak pa-pa.”


“Kalau kamu masih perlu sesuatu atau ada hal yang pengen kamu lakuin, kamu bisa lakuin dulu. Penerbangan masih dua jam lagi,” William memberitahu.


Sesungguhnya ia ingin sekali bertemu dengan Lucky sebelum ia pergi ke Jerman, tapi ia tak tahu di mana pria itu sekarang. Dan, entah apa yang bisa keluar dari bibirnya jika nanti bertemu pria itu. Mengakui perasaannya lagi atau memaki pria itu.


“Aku mau ke makam orang tuaku dulu,” sebut Verisa akhirnya.


“Oke, kita ke sana,” William menyetujui.


Selama perjalanan menuju pemakaman, Verisa berusaha menahan emosinya agar tetap stabil. Ia tidak mau menangis di depan William. Anak ini pasti akan menggoda dan menertawainya jika itu terjadi.


“Kita udah sampai, Ve,” sebut William.


Verisa mengangguk dan keluar dari mobil. Ketika ia baru berjalan beberapa langkah ke arah makam, ia menoleh ke belakang dan mendapati William mengikutinya.


“Kamu di sini aja,Will. Aku cuma mau ngomong bertiga aja sama orang tuaku,” pinta Verisa.


“Apa kamu nggak mau ngenalin aku ke mereka sebagai teman barumu?” William mengangkat alis.


Verisa menghela napas berat, lalu mengangguk, mengijinkan William mengikutinya lagi. Ketika hampir sampai di makam kedua orang tuanya, Verisa sempat melihat seseorang yang sudah lama ia rindukan. Dia ada di sana, berdiri di antara makam kedua orang tuanya.


Lucky, untuk apa dia ada di sana?


“Maafkan saya, Pak Veri, Bu Risa. Saya sudah lalai menjalankan amanah kalian. Saya sudah gagal menjaga Verisa. Malah justru karena saya, Verisa lebih sering menangis dan terluka. Saya merasa nggak pantas terus ada di samping Verisa. Mungkin bukan saya orang yang seharusnya ada di samping dia, saya ngerasa nggak pantas. Saya nggak bisa lagi ada di sisi Verisa karena saya ....”


Verisa berlari menjauh dari sana. Ia tak sanggup lagi mendengar ucapan Lucky itu. Jadi, perasaan yang diungkapnya waktu itu hanya sebatas janji dan amanah dari orang tuanya, bukan benar-benar dari hatinya. Dan Verisa sudah bodoh karena bisa-bisanya jatuh sedalam itu di hati pria kurang ajar seperti Lucky. Ia benci perasaannya yang sakit karena mendengar Lucky tak lagi mengharapkannya.


Air matanya mengalir deras tanpa bisa dibendungnya. Hatinya hancur. Verisa benar-benar benci pada Lucky. Sangat membenci Lucky.


***


“Maafkan saya, Pak Veri, Bu Risa. Saya sudah lalai menjalankan amanah kalian. Saya sudah gagal menjaga Verisa. Justru karena saya, Verisa lebih sering menangis dan terluka. Saya merasa nggak pantas terus ada di samping Verisa. Mungkin bukan saya orang yang seharusnya ada di samping dia, saya ngerasa nggak pantas. Saya nggak bisa lagi ada di sisi Verisa karena saya ... terlalu mencintai Verisa dan nggak bisa melihat dia terus-terusan terluka karena saya. Jadi, sekali lagi, maaf.”


Lucky berbalik dan terpaku di tempat ketika melihat siapa yang ada di sana. Tatapannya kini bertemu dengan tatapan William yang berdiri bersedekap di bawah pohon tak jauh dari makam kedua orang tua Verisa. Dan Verisa juga, Lucky melihat gadis itu berlari pergi. Sial, apa gadis itu mendengar ucapannya?


Lucky kembali menatap William yang kini masih menatapnya dengan senyum miringnya.


“Jadi, nyerah?” cibir William.


William mengangguk-angguk. “Sayang banget, aku dapet lawan saing yang nggak seberapa. Aku kira dengan sengaja bawa Verisa pergi ke luar negeri, kamu bakal nahan dia. Tapi, kayaknya aku ketemu sama seorang ... pengecut,” ucap William merendahkan.


Lucky menggeram kesal mendengar ucapan William, tapi ia menahan diri.


“Apa kamu udah yakin sama keputusanmu buat mundur atas Verisa?” tanya William santai.


Sial, ditanya seperti itu rasanya ia .... Lucky mengepalkan tangannya erat, ingin menjawab tidak, tapi ia kemudian berkata,


“Ya. Karena udah ada kamu. Aku milih mundur.”


William tergelak, membuat Lucky mengerutkan kening bingung. Anak ini sedang mempermainkannya, meledeknya, atau apa? Jika dia juga menyukai Verisa, harusnya dia senang karena Lucky memilih mundur dengan suka rela.


“Ternyata kamu emang pengecut,” dengus William seraya berjalan mendekat ke arahnya.


“Sialan, kamu ....”


“Karena kamu udah milih buat mundur,” William berkata seraya menatap Lucky lekat. “Mulai dari saat aku dan Verisa ninggalin negara ini, aku minta kamu buat nggak muncul lagi di depan Verisa. Lupain dia dan jangan pernah berharap bisa kembali sama dia lagi,” lanjutnya syarat ancaman, sebelum William pergi meninggalkan area makam.


Seolah ditusuk dengan pedang tepat di jantungnya. Lucky merasakan sakit yang teramat di dadanya. Dia harus benar-benar meninggalkan Verisa. Melupakan Verisa dan ....


“Hey!” seru William memotong pikiran Lucky. “Satu setengah jam dari sekarang, waktu buat kamu mutusin buat nahan Verisa atau tetap nyerah. Kalau kamu tetap sama pendirian pengecutmu itu, kamu harus ingat peraturannya. Lupain Verisa dan jangan pernah temui dia lagi.”


Lucky terkejut mendengarnya, tapi ia sempat melihat senyum geli di wajah William sebelum anak itu berbalik dan pergi. Kenapa anak itu harus memberinya kesempatan? Jika dia memang menginginkan Verisa, kemunduran Lucky harusnya jadi kemenangan telak untuk dia, tapi ... kenapa?


Verisa tadi ... apa dia benar-benar mendengar ucapannya di depan makam orang tuanya? Melihat gadis itu berlari tadi, itu benar-benar mengusiknya. Dengan bodohnya, lagi-lagi Lucky membuat Verisa terluka. Lucky mengacak rambutnya asal, lalu mengusap wajahnya kasar. Apa yang harus ia lakukan sekarang?


***


Sampai di bandara, Verisa merasa hatinya semakin berat. Mengingat apa yang Lucky katakan tadi benar-benar membuatnya sedih, marah, kecewa. Pria sialan itu benar-benar sialan.


“Jadi, kamu sama dia ....”


Verisa menoleh menatap William tajam, sekaligus menghentikan kalimat William. “Jangan bahas dia lagi.”


“Semarah itu kamu sama dia? Atau secinta itu kamu ....”


“Aku bilang jangan bahas dia lagi! Kamu denger nggak, sih!” seru Verisa, kesal.


“Sori, sori. Nih, buat kamu.” William menyodorkan sebotol minum padanya. “Kamu udah nangis kayak tadi di mobil, pasti capek, kan? Minum dulu,” tawar William.


Verisa memejamkan mata ketika mengingat bagaimana ia menangis di mobil tadi. Bahkan ia mengabaikan William, supirnya, dan satu orang William yang memang ikut bersamanya.


“Nih, ambil. Tanganku pegel, nih,” keluh William, membuat Verisa mndesis kesal, tapi mengambil botol minum itu juga meski dengan kasar.


“Satu jam lagi kita masuk, kamu yakin nggak apa-apa pergi jauh dari sini dan tinggal lama di sana?” William tiba-tiba bertanya.


Verisa mendesah berat. “Aku nggak punya siapa-siapa lagi di sini, kamu tahu, kan? Jadi nggak masalah dan nggak ada yang perlu dikhawatirin lagi,” jawabnya.


“Ngelihat kamu bersikap kayak gini pas ketemu Lucky tadi, aku ngerasa ada yang perlu kamu lurusin dulu sama dia sebelum kamu pergi,” William kembali berkata.


“Kenapa sih, kamu bahas dia lagi, dia lagi? Masalah aku sama dia, biar aku yang pikirin. Kamu nggak berhak buat ikut campur,” geram Verisa.


“Karena aku nggak mau kamu berhubungan lagi sama dia,” ucap William serius.


Kening Verisa berkerut bingung. “Maksudmu apa, sih?”


“Aku suka sama kamu dan aku nggak suka kamu masih berhubungan sama Lucky. Tapi meski kamu kelihatan benci sama Lucky, aku tahu sesuatu yang bikin aku sulit buat dapetin kamu nantinya.” William menatap lekat Verisa. “Kamu juga punya perasaan yang sama ke Lucky, kan?”


Verisa terbelalak terkejut mendengar tebakan William yang memang benar. Tapi, bagaimana bisa dia tahu tentang perasaannya pada Lucky? Dan, apa katanya tadi? William menyukainya? Tidak mungkin. William pasti hanya mengerjainya saja. Dia tidak mungkin ....


“Aku serius sama ucapanku, Ve. Aku mau kamu ngelupain dia. Karena sekarang aku yang bakal coba buat kamu bahagia,” ucap William serius, memotong pikirannya.


“Will, kamu ... nggak serius, kan?” Verisa masih tidak bisa percaya.


William menggeleng. “Kamu yang mutusin sekarang. Kalau kamu ngijinin aku buat bisa ada di samping kamu dan bikin kamu suka juga sama aku, aku minta kamu lupain Lucky selama-lamanya. Tapi, kalau kamu nggak bisa dan lebih milih Lucky, aku yang akan mundur. Aku cuma bakal jadi teman kamu aja. Gimana?” William memberi pilihan.


“Kenapa sih, kamu bersikap nyebelin kayak gini di saat aku udah setuju buat ikut pergi sama kamu? Buat apa, coba?” tanya Verisa pelan, frustrasi.


Lalu, panggilan penerbangan terdengar. Memotong tanggung jawab William untuk menjawab tanyanya.


“Sebaiknya kita masuk sebelum aku semakin marah sama kamu, Will.”


Meski pilihan dari William terdengar tidak masuk akal, tapi itu benar-benar bukan pilihan yang bisa ia pilih dalam waktu sesingkat ini. William pasti gila karena memberinya pilihan gila seperti itu. Untuknya berjalan masuk ke dalam saja sudah terasa menyakitkan. Harus pergi jauh meninggalkan orang yang dicintainya, kenapa sesakit ini?


Ia menguatkan hatinya, meski air mana sudah jatuh dengan lancang ke pipinya. Dengan kuat, ia terus melangkah tanpa menoleh ke belakang. Harapnya sudah sirna. Ia tidak mau terus menerus terbayang akan harap yang tidak pasti. Ia harus pergi karena Lucky tidak menginginkannya lagi. Ia harus pergi.


“Verisa!”


Langkahnya terhenti, samar ia seperti mendengar namanya dipanggil dari jauh. Itu seperti suara Lucky. Sebegitu rindunya ia sampai suara Lucky terdengar sejelas ini di telinganya?


“Kenapa Ve?” William bertanya, Verisa hanya menggeleng sebagai jawaban. Lalu, melanjutkan langkahnya.


Ketika akan masuk ke dalam pesawat, ia kembali ragu. Hatinya seolah menahannya untuk melangkah. Kenapa di saat-saat seperti ini, ia harus merasa ragu?


Verisa kembali memejamkan mata seraya mengepalkan tangannya. Dan, suara Lucky ketika memanggil namanya kembali terdengar di telinganya.


***