Ending Scene

Ending Scene
Amarah



Di depan ruang rawat Verisa, Lucky duduk bersandar di dinding sambil menangis pilu. Ia menjambak rambutnya sendiri kesal. Karena lagi-lagi Lucky merasa telah gagal menjaga Verisa. Gadis yang dicintainya itu yang ternyata mencintainya juga, harus terbaring tak berdaya karena kecerobohannya meninggalkan gadis itu sendirian di rumah.


Lucky sungguh merasa tidak lagi pantas ada di sisi gadis itu, setelah apa yang sudah terjadi. Ia bahkan tidak akan pantas menerima cinta dari Verisa. Kini, ia juga tidak berani ada di dalam sana bersama Verisa. Tak pantas lagi.


“Hey, kamu baik-baik aja, Ky?” tanya Putra yang baru saja datang. “Kamu kelihat kacau banget, kamu tahu?” Putra sudah ikut duduk di sebelahnya.


Ya, ia akui, jika pikirannya sudah sangat kacau. Bahkan ia juga sudah mengacaukan hidup Verisa dengan membuatnya ikut terancam seperti ini. Tapi, meski begitu, ia tak bisa menanggapi ucapan Putra. Lucky hanya mengusap wajahnya kasar.


“Istirahatin dulu tubuhmu, Ky. Sejak semalam, kamu sama sekali nggak tidur, kan? Aku akan gantiin kamu jagain Nona Verisa selama kamu tidur,” Putra berkata seraya menepuk bahunya.


“Apa menurutmu ... aku masih pantas ada di sisi Verisa?”


“Apa maksudmu?” bingung Putra.


“Kamu lihat, apa yang terjadi sama gadis itu sekarang, kan?Aku udah gagal jagain Verisa. Karena kebodohanku, Verisa celaka kayak gini. Aku nggak bisa lagi ada di sisinya,” sesalnya dengan menyedihkannya.


“Kenapa kamu mikir gitu, hah? Aku tahu, sekarang tanggung jawabmu besar setelah dilimpahi semua urusan perusahaan milik Pak Veri, juga tanggung jawab atas Nona Verisa. Tapi, nggak seharusnya kamu nyerah kayak gini, Ky. Apa kamu tahu, siapa pelaku yang nyebabin semua kejadian ini?” tanya Putra tampak kesal.


“Siapa pun dia, aku bakal bikin pelakunya nyesal karena udah nyentuh Verisa dan bikin Verisa terluka kayak gini!” janjinya sarat ancaman dengan tangan terkepal.


“Berarti itu tandanya, kamu harus tetap ada di samping Nona Verisa buat jagain dia sampai Jodi ketangkap,” sebut Putra yakin.


Lucky terbelalak, terkejut, lalu menatap Putra yang kini sedang menatapnya. “Kamu bilang, Jodi? Jodi Andito yang ngelakuin ini?” tuntut Lucky.


Putra mengangguk. “Proyek yang lagi kamu kerjain ini, salah satu perusahaan yang hampir 40% sahamnya adalah milik Jodi. Dia tahu kalau perusahaan Pak Veri yang ngerjain proyek pembangunannya di sini. Dan, Jodi ngambil kesempatan itu buat balas dendam sama kamu dan nyelakain kamu. Tapi, kayaknya Jodi ngelihat peluang lain. Dan, inilah yang terjadi. Jodi pakai Verisa buat ngehancurin kamu dan perusahaan Pak Veri.


“Setelah aku tahu perusahaan kita kerjasama sama perusahaan Jodi di proyek ini, aku udah duga kalau orang licik itu bakal manfaatin situasi ini buat balas dendam sama kamu. Terlebih, setelah kita pernah ketemu dia di hotel waktu itu.


“Dan, dia juga tahu tentang Verisa yang adalah anak satu-satunya Pak Veri. Dari situ, aku minta orangku buat ngawasin gerak gerik Jodi. Tapi, orangku sempat terkecoh sama rencana Jodi sebelumnya. Karena awalnya, Jodi berniat mau buat perusahaan Pak Veri turun dengan menyabotase proyeknya sendiri.


“Kayaknya, karena dia ngelihat Verisa bareng sama kamu di kota ini, makanya dia bikin rencana lain dengan manfaatin keberadaan Verisa. Dan benar aja, orang itu ternyata punya hati iblis sampai tega ngebakar rumah yang kamu sewa itu buat ngehancurin kamu.


“Tapi, kamu tenang aja.” Putra menepuk bahu Lucky. “Aku udah punya bukti kejahatan Jodi yang ini. Ternyata dia nggak sepintar yang aku bayangin. Mungkin juga, dia masih belum tahu kalau aku udah tahu dia pelakunya. Karena kalau ngelihat dari CCTV yang ada di rumah sewamu itu, jelas dia udah ngerusak semuanya.


“Cara yang paling mudah buat ngilangin barang bukti. Tapi, bodohnya dia nggak ngelihat CCTV yang berasal dari rumah lainnya. Satu bukti yang sangat jelas nampakin wajah Jodi dan anak buahnya. Juga, satu saksi, penjaga rumahmu yang bakal nguatin buktimu,” Putra tersenyum menang saat mengatakannya.


 “Kabarnya malam ini, dia bakal berangkat ke luar negeri buat liburan. Jadi, ini kesempatanmu buat bawa dia liburan yang sesungguhnya, ke penjara,” Putra mengakhiri kalimatnya dengan memberi semangat pada Lucky.


“Kurang ajar! Dia nggak akan bisa lolos lagi dari tanganku,” geram Lucky.


Tak menunggu waktu lagi, Lucky berlari untuk menyusul Jodi. Ia akan membunuh orang itu dengan tangannya sendiri. ******** sialan itu.


***


Setelah Putra memberitahu lokasi di mana Jodi berada kepada Lucky, ia langsung memacu kencang mobilnya ke tempat itu. Ia sengaja pergi sendiri karena tidak mau meninggalkan Verisa sendiri tanpa penjagaan di rumah sakit.


Lucky berteriak sambil memukul setir. Aku akan buat kamu ngebayar semua perbuatanmu, Jodi, geramnya dalam hati.


Setelah sampai di bandara, tempat yang Putra beritahu tadi, ia turun dan berlari dengan langkah lebar untuk mencari Jodi. Belum jauh dari ia memarkirkan mobilnya, matanya sudah menemukan ******** licik yang dicarinya sedang bersama seorang wanita.


“Dasar ******** Licik! Anda harus bertanggung jawab atas apa yang udah Anda lakukan!” geram Lucky.


“Ap-apa maksud Anda, hah?!” elak Jodi yang tampak terkejut.


Satu pukulan jatuh ke wajah Jodi dengan keras. “Nggak perlu ngelak. Karena saya udah tahu kejahatan Anda, Brengsek!” Tangan Lucky sudah terangkat untuk meninju Jodi, ketika dari belakang tangannya ditahan oleh dua sekuriti bandara.


“Lepas! Saya harus bawa orang ini ke penjara!” berontak Lucky dari kedua jegalan sekuriti itu. Tapi, kedua sekuriti tak melepaskan tangannya, membuat Jodi yang sudah terlepas dari cengkeraman Lucky, kabur. Sial!


Terpaksa, Lucky mulai menendang salah satu sekuriti itu untuk melepaskan pegangannya, lalu satunya lagi ia banting dengan bantingan bahu. Setelah itu, ia berlari mengejar Jodi.


Ia sempat melihat Jodi berlari ke luar. Dengan cepat, Lucky berusaha mengejar dan mencari Jodi, tapi sial, ia kehilangan jejaknya. Lucky masih berdiri di sana sambil menyapu pandang, melihat setiap orang yang lalu lalang dan mobil yang berhenti untuk menurunkan penumpang.


Sialan, Lucky kehilangan jejaknya. Lebih baik ia meminta bantuan Putra. Ketika ia akan menghubungi Putra, ada sebuah mobil hitam yang melintas di depannya, dan dari kaca mobil, ia bisa melihat Jodi mengemudi di dalamnya. Seketika ia memasukkan kembali ponselnya dan berlari ke arah mobilnya untuk mengejar mobil hitam itu.


“Kamu nggak akan bisa lolos dariku, Jodi!” geram Lucky yang sudah menginjak pedal gas dan melajukan mobil dengan kecepatan penuh.


Di sepanjang jalanan kota, dengan lincah Lucky menyalip beberapa mobil untuk mengejar mobil Jodi yang sudah jauh di depan sana. Dengan penuh emosi, Lucky tak mengurangi sedikit pun kecepatan mobilnya, hingga mendapat teguran dengan klakson dari mobil yang disalipnya.


Namun, ketika Jodi mengambil jalan yang lebih sepi, Lucky tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menyusul mobil Jodi. Kini, ia berada tepat di belakang mobil Jodi. Lucky menekan klakson mobilnya berkali-kali, memberitahu ******** itu jika Lucky sudah ada di sana. Ketika melihat mobil di depannya sedikit oleng, Lucky tersenyum sinis.


Lucky berusaha menyalip mobil Jodi, tapi terus saja dihalanginya. Ketika Lucky sudah menjajari di sisi kiri mobil Jodi, ia tidak menyangka jika Jodi akan menabrakkan mobilnya dengan mobil Lucky, membuat mobilnya sedikit oleng dan menabrak pembatas jalan. Seketika ia menginjak remnya.


Marah, Lucky mencoba memundurkan mobilnya yang terlihat penyok di kedua sisi badan mobil, lalu berusaha menyusul mobil Jodi lagi. Jika ia harus mati untuk membuat Jodi mati, maka ia akan lakukan. Karena ia tidak akan membiarkan Jodi hidup dengan tenang setelah ini.


Kini, Lucky berhasil menjajari mobil Jodi lagi. Saat Lucky akan membuka jendela untuk meminta Jodi berhenti, ia justru melihat Jodi sudah menodongkan senjata ke arahnya. Dengan cepat ia menghindar dan memelankan lajunya, nyaris saja membuat mobil di belakang menabraknya juga.


Namun, jika ia terus di belakang, Jodi bisa saja kabur. Jalan satu-satunya ia harus mencegat mobil Jodi. Ketika di depan sana ada penutupan sebagian jalan karena pembangunan jalan layang, Lucky mengambil kesempatan itu. Bersyukur jalan ini sepi.


Lucky menginjak gasnya dan mendahului mobil Jodi. Ia berusaha menghalangi laju mobil Jodi agar tidak mengambil jalan lain dan membuatnya kesulitan menyalipnya. Hingga dirasa waktunya tepat, Lucky melajukan mobilnya lebih cepat, lalu berputar, dan menghentikan mobilnya untuk menghadang mobil Jodi. Namun, dengan gilanya Jodi menabrak mobilnya dan membuat Lucky terguling beberapa kali.


Lucky mengerang kesakitan, ia bahkan merasakan darah mengalir di kepalanya. Lucky mencoba keluar dari mobil perlahan dan berjalan sempoyongan menjauh dari mobilnya. Namun, ia melihat Jodi dengan santai bersandar di mobilnya sambil bersedekap.


“Masih hidup juga?” sinis Jodi.


“Yang harusnya mati itu Anda, ********!” umpat Lucky, membuat Jodi tampak geram.


“Sebaiknya kamu berhenti atau ....”


“Apa?” tantang Lucky, menyela Jodi sambil berjalan ke arah Jodi. Pandangan matanya sudah mulai kabur karena benturan di kepalanya, tapi Lucky belum bisa berhenti sebelum Jodi bisa ia tangkap.


“Kamu akan mati di tanganku!” Jodi menodongkan pistolnya.


Lucky menghentikan langkahnya, waspada, sebelum ia melompat dan menerjang Jodi. Namun, ketika ia bisa mencengkeram Jodi, suara tembakan juga terdengar. Lucky terbelalak ketika rasa panas menembus perutnya. Tak memedulikan rasa sakit itu, dengan marah Lucky membabi buta menghajar Jodi. Ia bahkan menendang Jodi hingga pria itu terlempar dan tidak sadarkan diri.


Kemudian, Lucky merasa tubuhnya tak memiliki tenaga lagi. Pandangannya kabur dan semakin lama berubah gelap.


***